
“Kita makan dulu, setelah itu aku akan mengantarmu pulang, kamu tadi bilang suka makan ayam goreng kan, makan di sini gak masalah kan? Kamu gak pilih-pilih tempat makan kan?” ucap Ronggo yang sudah memberhentikan mobilnya di sebuah kedai pecel lele dan ayam yang terlihat lebih bersih dari warung pecel lele lainnya karena berada di sebuah warung seperti warteg.
“Wah, ceritanya aku mau ditraktir makan nih yah, Mas. Aku gak pilih-pilih tempat makan kok, Mas. Yang penting makanannya enak, hehe,” seru Davina saat mereka sudah turun dan menuju warung makan pecel lele tersebut.
“Mbak Erna, pecel ayam dua yah komplit, nasinya pakai nasi uduk, minumnya biasa.” Ronggo memesan dua porsi makanan dengan nada begitu akrab seakan ia sudah sangat mengenal mereka.
“Siap, Mas Ronggo. Tumben dua, datang sama teman yah?” tanya wanita bernama Erna.
“Datang sama gadis tomboi,” sahut Ronggo yang langsung berjalan menuju meja sambil diikuti oleh Davina di belakangnya.
“Kamu biasa maka di sini yah? Soalnya kayak yang sudah akrab gitu, dan juga tempatnya nyaman banget gak kaya penjual pinggir jalan gitu,” tanya Davina yang penasaran.
“Aku suka kebersihan, meski aku miskin dan hanya sopir taksi tapi kalau masalah makan aku akan memilih tempat yang bersih dan tidak dipinggir jalan,” sahut Ronggo jujur.
“Benar juga sih, kebersihan nomor satu memang, aku suka tempatnya, pasti ayam gorengnya enak deh, dan juga tadi kamu pesannya nasi uduk pasti enak, aku belum pernah makan nasi uduk soalnya, jadi gak sabar deh,” oceh Davina yang dari tadi gak berhenti bicara, Ronggo tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya karena tingkah Davina yang terlihat norak seperti gadis kampungan.
‘Memang sangat berbeda dari para gadis yang pernah kuajak makan ke sini, kalau mereka protes saat kuajak ke sini, tapi dia malah seperti tak sabaran ingin segera makan, dasar gadis tomboi,’ batin Ronggo yang membedakan Davina dengan para gadis yang pernah diajaknya.
Tak lama makanan yang dipesan oleh Ronggo datang, wanita bernama Erna menyuguhkan makanan tersebut di atas meja.
“Wah, Mas Ronggo bawa cewek lagi ke sini, awas nanti ceweknya ngambek lagi loh karena diajak makan di tempat seperti ini,” goda wanita bernama Erna.
__ADS_1
“Tenang saja, Mbak. Dia mah sudah jinak kok.” Ronggo menanggapi candaan Erna dengan melirik Davina yang sudah mulai memakan makanan yang siap untuk disantap.
“Okelah kalau begitu, Mas. Selamat menikmati yah.” Erna pergi meninggalkan keduanya agar bisa segera menikmati makanan itu.
Ronggo dan Davina menikmati makanan itu dengan sangat lahap terutama Davina yang seperti takut makanannya diambil oleh orang. Ronggo menggelengkan kepalanya melihat gadis tomboi yang duduk bareng satu meja makan dengan begitu lahapnya tanpa jaim sedikit pun.
“Pelan-pelan saja makanya, tak ada yang ingin berebut juga denganmu, kalau kurang aku bisa pesankan lagi tenang saja,” ucap Ronggo mengingatkan tapi Davina malah menyengir kuda.
“Abisnya ini enak sekali tahu, Mas. Apalagi sambalnya itu pas banget, sering-sering ajak aku makan di sini yah,” ocehnya dengan makanan yang masih ada di dalam mulutnya.
“Kalau di dalam mulut masih ada makanannya jangan bicara, nanti kamu bisa tersedak, habiskan makananmu setelah ini aku akan mengantarmu pulang.” Ronggo melanjutkan makannya.
“Wah kali ini Mas Ronggo hebat, cewek yang dibawa ke sini gak ngambek, malah makannya lahap banget lagi,” goda wanita bernama Erna yang tak melayaninya.
“Biasa saja, Mbak. Sudah jinak dia jadinya yang ngambek,” ucap Ronggo sambil memberikan selembar uang berwarna merah muda.
“Semoga langgeng dan awet yah, Mas. Jangan kayak yang sudah-sudah langsung ngambek dan gak balik lagi setelah diajak makan di sini, hehe.” Erna mendoakan agar Ronggo dan Davina langgeng selalu hubungannya, ia salah paham menganggap kalau di antara keduanya memiliki hubungan yang istimewa.
“Apanya yang awet dan langgeng, Mbak? Kami tak memiliki hubungan yang seperti itu, dia hanya pelangganku saja kok, lagi pula dia anak kuliahan gak cocok sama saya yang hanya sopir taksi online,” ucap Ronggo menjelaskan hubungannya dengan Davina.
“Ah, saya kira Mas Ronggo dan cewek tadi memiliki hubungan. Yah kalau begitu semoga berjodoh deh, Mas. Kalian berdua cocok kok, serasi banget, yang cewek cantik meski dandanannya tomboi dan Mas Ronggonya juga tampan pasti nanti anaknya kalau perempuan cantik dan kalau kamu ganteng banget deh,” doa Erna kembali memuji keduanya yang cocok jika memiliki hubungan.
__ADS_1
“Mbak Erna nih doanya ada-ada saja deh, yah sudah saya mau antar dia pulang dulu.” Ronggo pergi setelah berpamitan.
Saat Ronggo membuka mobilnya ternyata Davina sedang terlelap dengan sangat pulsanya. Ronggo tersenyum dan menggelengkan kepalanya sambil naik ke mobil. Ia kemudian menyelimuti tubuh Davina dengan sweter yang selalu dibawanya untuk persiapan kala dingin saat sedang narik.
“Dasar gadis ceroboh, selalu saja seenaknya seperti ini, siang tadi dia tidur dengan enaknya sambil pintu mobil dibiarkan tak terkunci, sekarang pula tahu-tahu sudah tidur saja,” gumam Ronggo, ia tanpa sadar hari ini bersikap lembut pada Davina, padahal hari-hari biasa ia akan bersikap ketua dan dingin.
Ronggo melajukan mobilnya untuk mengantar Davina pulang, ia sesekali melihat pada gadis tomboi tersebut dengan senyum hangatnya membuatnya terlihat sangat tampan. Tak lama mobil sudah berhenti di jalan biasa tempat ia selalu menunggu Davina saat akan kuliah dan menurunkannya saat pulang.
“Hei gadis tomboi, bangun sudah sampai, aku tak tahu rumahmu yang mana.” Ronggo mencoba membangunkan Davina yang masih terlelap dengan cara menekan pundaknya pelan, sebenarnya ia tak tega membangunkannya tapi karena tak tahu rumah Davina mau tidak mau Ronggo membangunkan gadis tomboi yang sedang bermimpi indah tersebut.
Merasa pundaknya ditepuk, Davina membuka matanya perlahan dan melihat tubuhnya yang diselimuti oleh sweter, ia tersenyum bahagia karena ternyata Ronggo peduli akan dirinya yang takut kedinginan karena angin malam. Davina melihat keluar mobil ternyata sudah sampai tempat biasa Ronggo menjemputnya.
“Kita sudah sampai, Mas?” tanya Davina yang nyawanya belum kumpul.
“Iya kita sudah sampai, sama pulang aku juga mau pulang mau istirahat,” sahut Ronggo mengusir Davina agar segera pulang.
“Iya-iya bawel, ish baru juga tadi bersikap lembut sekarang udah berubah jadi bawel lagi,” gerutu Davina membuka pintu mobil. “Bye, aku pulang, besok jangan telat jemputnya,” sambungnya mengingatkan, ia kemudian pergi meninggalkan Ronggo untuk pulang ke mansionnya.
Ronggo yang penasaran di mana Davina tinggal turun mengikuti Davina dengan sembunyi-sembunyi, ia sangat berhati-hati agar tak ketahuan oleh Davina. Saat melihat Davina masuk ke sebuah mansion mewah Ronggo terkejut bukan main.
“Ternyata.”
__ADS_1