Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)

Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)
BAB 50


__ADS_3

“Nona, ada kiriman dari Tuan Ronggo,” panggil Sri setelah mengetuk pintu kamar Davina.


Pintu langsung segera dibuka dan menampakkan wajah Davina yang penuh senyum antusias mendengar nama Ronggo.


“Terima kasih yah, Mbak.” Davina mengambil bag tersebut dengan wajah berseri, ia langsung kembali ke dalam kamarnya.


“Memang kalau sedang jatuh cinta tuh wajah selalu berseri-seri yah. Coba saja kalau lagi berantem, wajah pasti di tekuk mulu sudah kayak kanebo yang kering, hihi.” Sri terkekeh sambil kembali ke dapur melanjutkan membantu sang nyonya memasak.


Di dalam kamar Davina yang masih ditemani oleh sang kakak membuka bag yang dikirim oleh pujaan hatinya.


“Apa itu, Vin? Dari siapa?” tanya Devano yang penasaran.


“Dari Ronggo, Kak. Entah isinya apa, ini aku baru mau membukanya,” sahut Davina dan ia pun membuka bag tersebut.


Wajahnya berbinar kala melihat isinya. Bahagianya sesimpel itu, hanya dengan melihat kiriman makanan ringan dari kekasihnya saja sudah membuatnya berbinar, begitulah pikir Devano dengan senyum bahagia yang mereka melihat raut bahagia sang adik.


“Ini itu camilan kesukaanku, Kak. Ronggo selalu membuatkannya untukku, kamu mau,” seru Davina sambil menawarkan makanan yang dikirim oleh kekasihnya.


“Mau dong, aku kan juga ingin mencicipi seperti apa makanan buatan calon Adik iparku ini,” dengan wajah tersenyum karena melihat kebahagiaan sang adik, Devano ikut memakan camilan yang dikirim oleh Ronggo.


Padahal mereka baru saja makan jajanan pinggir jalan, tapi begitu makanan yang dikirim oleh Ronggo datang mereka langsung kembali ngunyah.


...


Beberapa hari berlalu, hari pernikahan Davina dan Ronggo tinggal satu hari lagi, esok keduanya akan melakukan ijab kabul, tapi bagi Davina rasanya begitu sangat lama.


“Mah, apa tak boleh untukku video call saja sebentar, ini sudah berapa hari loh, Mah,” rengek Davina ingin video call dengan pria yang esok akan sah menjadi suaminya.


“Boleh, tapi esok gagal menikah,” sahut Aberlie yang membuat Davina menekukkan wajahnya.


“Ish, Mamah ini kejam sekali sih jadi Ibu, gak kasihan dengan putrinya yang imut-imut ini,” gerutunya membuat Aberlie terkekeh.


“Hahaha, imut dari mananya kamu itu Vina, orang tomboi dan bar-bar begitu kok imut.” Devano yang baru datang langsung mengakak mendengar sang adik berkata pada dirinya sendiri imut.


“Kalian tuh memang hobi sekali membullyku, biar kuminta sama Daddy saja, Daddy pasti akan membawaku bertemu dengannya.” Davina menghampiri Bram yang sedang menikmati kopinya sambil wajah cemberut, sedangkan mamah dan kakaknya hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Daddy,” panggil Davina dengan manjanya, Bram menoleh pada putri kesayangannya.


“Ada apa, Sayang? Apa kamu ingin meminta hadiah dari Daddy untuk esok?” tanya Bram menyambut kedatangan putrinya.


“Mereka jahat padaku, mereka selalu membullyku,” rengek Davina mencari tempat mengadu.


“Siapa yang berani membully putri kesayangan Daddy? Katakan pada Daddy biar nanti Daddy beri pelajaran,” tanya Bram dengan wajah tak suka kala mendengar ada yang membully putrinya.


“Tuh mereka, istri dan putra Daddy.” Davina menunjuk pada Aberlie dan Devano seketika membuat Bram kembali pada korannya.


“Kalau sudah bersangkutan dengan Ibu negara, lebih baik kamu menuruti saja perkataannya yah, Sayang,” saran Bram membuat Davina semakin kesal dan Aberlie bersama putranya semakin terkekeh geli.


“Ish Daddy ini memang angkatan ISTI,” gerutunya dan Bram mengerutkan keningnya tak mengerti bahasa putrinya.


“ISTI? Apa itu?” tanya Bram bingung.


“Ikatan Suami Takut Istri, Daddy itu suami yang takut sama Mamah,” jelas Davina.


“Daddy bukannya takut sama Mamahmu, Daddy hanya terlalu mencintainya jadi membuat Daddy tak bisa untuk sedikit saja memarahinya. Jika rasa cinta Ronggo sebesar itu padamu, nantinya pun dia tak akan berani untuk menyakiti perasaanmu apalagi berkata kasar padamu,” ucap Bram dengan wajah bahagia membicarakan betapa ia sangat mencintai istrinya itu.


“Yes, Daddy memang bucin pada Mamahmu. Semua yang ada di keluarga kita pun mengetahui betapa bucinnya Daddy pada Mamahmu,” sahutnya mengakui tanpa rasa malu membuat Aberlie yang mendengarnya merasa bahagia, ia teringat kembali kenangan masa lalu di mana Bram sungguh sangat mencintainya padahal saat itu ia selalu menggunakan make up yang tebal sehingga terlihat seperti hantu.


“Semoga aku mendapatkan istri seperti Mamah yah,” ucap Devano mengatakan harapannya.


“Amiin, semoga saja jodohmu adalah wanita yang lebih baik dari Mamah,” doa seorang Ibu selalu ingin yang terbaik untuk anaknya.


...


Hari yang dinanti tiba, Davina sudah dirias dengan begitu cantiknya dikamar hotel. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan pujaan hatinya.


Pukul delapan Bram, Aberlie dan Devano datang untuk membawa dirinya menuju altar pernikahan tempat di mana Ronggo akan mengucapkan ijab kabulnya.


“Putri Mamah sangat cantik sekali,” puji Aberlie dengan haru melihat putrinya yang beberapa menit lagi akan menjadi istri seseorang.


“Mamah, aku deg-degan sekali, rasanya jantungku mau copot saking bahagianya,” ucap Davina sambil memegang dadanya membuat mereka terkekeh.

__ADS_1


“Ish lebai sekali kamu ini,” cibir Devano menggoda adiknya agar Davina tak terlalu tegang.


“Huh, Kak Vano tak tahu saja seperti apa rasanya. Makanya menikah nanti tahu bagaimana rasanya,” gerutu Davina kesal karena dibilang lebai.


“Ih kamu tuh, jangan bersikap seperti itu atau riasanmu akan menjadi jelek,” ucap Aberlie menakuti putrinya agar tak bersikap bar-bar mengingat ia akan melangsungkan pernikahan.


“Habisnya Kak Vanonya menggodaku terus, Mamah,” rengeknya meminta pembelaan.


“Biarkan saja dia, ayu kita menuju altar, penghulu dan Ronggo sudah menunggu.” Bram dan Aberlie menggandeng putrinya di kanan dan di kiri Davina, sedangkan Devano mengikuti dari belakang.


Sampai di altar terlihat Ronggo sudah menunggu, penampilannya yang gagah membuat Davina sangat terpesona, begitu juga Ronggo yang terpesona melihat Davina yang sangat cantik bak ratu mengenakan gaun pengantin.


Sampai di depan Ronggo, Bram menyerahkan putrinya pada pria yang ia sekolahkan sampai tinggi tersebut, Bram ikut bahagia atas hari bahagia putrinya tapi mimik wajahnya tetap datar seperti biasa, hanya istrinyalah yang mengetahui perasaan Bram, betapa Bram sangat bahagia atas kebahagiaan putrinya.


Ijab kabul dimulai, dengan perasaan yang gugup Ronggo melafalkan ijab kabulnya. Satu kali, dua kali dan bahkan tiga kali ia gagal untuk mengucapkannya karena gugup.


“Tarik napas yang dalam, lalu hembuskan, tenangkan hatimu dan kamu pasti bisa,” saran sang penghulu yang lalu diikuti oleh Ronggo.


Bram tak ambil bagian karena ia sedari pagi sudah gugup melebihi pengantinnya, ia yang dari semalam tak bisa tidur lantaran memikirkan pernikahan putrinya, pagi-pagi sekali tak hentinya keluar masuk kamar mandi.


Aberlie yang mengetahui hal itu pun ikut tak bisa tidur karena sang suami yang sebentar-sebentar memanggil namanya, ia memaklumi perasaannya, hal tersebut juga terjadi pada pernikahannya dulu.


Ijab kabul pun dilanjut, dengan tarikan napas yang dalam Ronggo mengucapkan ijab kabulnya.


“SAH!!!” seru para saksi akhirnya Ronggo dapat mengucapkan ijab kabul dengan benar.


Doa mengiringi keduanya, cincin saling bertukar dan Davina pun mencium punggung tangan Ronggo dengan takjim.


Rasa haru dan bahagia terpancar dari Aberlie, Bram dan juga Devano.


“Rasanya baru kemarin aku melahirkannya, tapi sekarang dia sudah menikah dengan pria lain,” gumam Aberlie menitikkan air mata bahagia.


“Aku pun merasa demikian, baru kemarin aku merasakan menjadi seorang Daddy, dan sekarang aku sudah berstatus mentua,” dengan wajah bahagia Bram mencium tangan sang istri mesra.


Acara dilanjut dengan sungkeman dan resepsi hingga malam menjelang, banyak tamu undangan yang datang menghadiri acara pernikahan mereka terutama dari kolega bisnis Bram dan Devano.

__ADS_1


Acara resepsi pun berakhir, tamu undangan sudah mulai sepi, mereka memutuskan untuk pulang ke kediaman masing-masing.


__ADS_2