
Ronggo menunggu Davina di samping mobilnya, ia bersandar di bagian pintu mobil dengan melihat foto gadis tomboi yang selama beberapa pekan ini membuatnya nyaman itu. Ternyata Ronggo memiliki foto Davina, entah kapan ia memotretnya.
Saat sedang asyik melihat foto tersebut, tiba-tiba saja seorang wanita memeluk lengannya dan menyandarkan kepalanya di lengan kokoh miliknya. Sontak Ronggo langsung terkejut dan mencoba melepaskan tangan wanita yang dipeluknya itu, tapi ternyata wanita itu malah memeluknya lebih erat sambil tersenyum dengan senang.
“Angel, apa yang kamu lakuin? Lepas, aku tak ingin menjadi pembicaraan orang,” bentak Ronggo dengan kesal karena wanita bernama Angel itu terus saja mengganggunya.
Di saat Angel memeluk lengan Ronggo, ternyata Davina melihatnya dengan mata kepalanya sendiri dan terbakar amarah. Ia langsung berjalan menghampiri Ronggo dengan langkah yang lebar meninggalkan Riris. Riris mengikutinya dari belakang.
“AW!” pekik Angel karena Davina melepaskan pelukannya dengan sangat kasar.
“Siapa sih kamu, kasar banget jadi perempuan, udah kaya bodyguard ajah.” Angel mengusap tangannya yang tadi dicengkeram oleh Davina.
Ronggo dan Riris terkekeh dengan perkataan Angel yang mengatakan Davina sebagai bodyguard, karena memang Davina tak ada sisi feminin dari penampilannya.
“Kenali, aku kekasihnya Mas Ronggo, putri dari Tuan muda Hanoraga, pebisnis terkaya di kota ini.” Davina mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya dengan jujur pada Angel membuat wanita itu sangat terkejut begitu juga dengan Ronggo dan Riris.
Riris terkejut bukan karena ia baru mengetahui identitas asli dari sepupunya itu, melainkan terkejut karena baru kali ini ia mendengar dan menyaksikan secara langsung kalau sepupu tomboinya itu mengatakan jati dirinya.
“Hahaha, kamu? Putri Tuan muda Hanoraga? Jangan berkhayal di sore hari gini, mana mungkin putri Tuan muda Hanoraga bentukannya seperti ini. Apa jangan-jangan kamu kesambet lagi? Hahaha.” Angel malah tertawa geli dengan pengakuan Davina yang mengatakan kalau dirinya adalah putri dari Tuan muda Hanoraga.
“Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang jelas jangan ganggu Mas Ronggo lagi karena dia kekasihku saat ini,” dengus Davina memeluk lengan Ronggo.
“Aku gak percaya semua perkataanmu. Lagi pula, Ronggo mana mungkin suka sama perempuan jadi-jadian sepertimu ini. Selera Ronggo itu wanita sepertiku yang cantik, modis dan seksi,” ucap Angel dengan percaya dirinya.
__ADS_1
“Hahaha, kamu kekurangan satu kata lagi, yaitu matre,” tawa Davina geli membuat Angel kesal.
“Kamu!” Angel menunjuk wajah Davina dengan penuh amarah.
“Apa? Kalau gak merasa gak perlu marah, karena kamu marah berarti kamu merasa kalau kamu itu matre. Sudah ah, yuk Sayang kita pergi, gak perlu meladeni wanita g*la seperti dia.” Davina menarik Ronggo untuk masuk ke dalam mobil, Ronggo menurutinya dan segera masuk disusul oleh Riris meninggalkan Angel yang masih dalam keadaan kesal.
“Dasar gadis jadi-jadian, awas saja nanti, aku akan membuat perhitungan denganmu, mau berebut pria denganku, heh mimpi saja kamu,” dengus Angel kesal.
...
Di dalam mobil, ketiganya masih saling diam.
“Apakah yang kamu katakan tadi itu benar?” tanya Ronggo yang penasaran.
“Kalau benar, kenapa kamu tak mengatakannya sedari awal?”
“Aku tak ingin dikenal karena orang tuaku, aku hanya tak ingin orang melihatku dengan sebelah mata karena aku putri dari Tuan muda. Apakah salah kalau aku ingin hidup sederhana dan berbaur dengan bebas bersama orang-orang yang kusayangi?” sahut Davina meminta penjelasan dari ucapannya.
“Bukan seperti itu juga, setidaknya kamu kan bisa jujur padaku.”
“Apakah kalau aku jujur kamu akan menerimaku?”
“Aku akan menjaga jarakku denganmu.”
__ADS_1
“Maka aku akan lebih mengejarmu kalau kamu berani melakukan itu.”
“Dasar tukang seenaknya.”
“Biarin, yang penting aku bukan gadis matre yang bergaya sosialita tapi isi dompet kosong seperti wanita dengan pakaian kurang bahan tadi.”
“Excuse me, please jangan jadikan aku obat nyamuk kemesraan kalian,” keluh Riris memohon dengan terlihat begitu kasihannya, keduanya langsung menoleh pada Riris sejenak dan menghadap ke depan kembali.
“Hei, kalian itu memang pasangan yang sangat serasi sekali, kejam dan dingin,” pekik Riris dengan kesal karena sepupunya tak menghiraukannya.
“Ssttt.” Davina dan Ronggo sama-sama menoleh dan meletakkan jari telunjuknya di bibir dengan bersamaan.
“Huh, dasar, kalian itu sebenarnya saling menyukai, tapi pihak pria ajah yang masih sok jual mahal, padahal si tomboinya udah berkali-kali ngejar. Dasar pasangan aneh,” dengus Riris yang kesal karena sedari tadi dicueki.
“Kamu tahu kan kalau dia membohongiku? Kamu kan sepupunya, karena kamu anak dari Adik Tuan muda,” tanya Ronggo.
“Begini yah Mas Ronggo. Vina itu dari dulu memang menutupi identitasnya pada semua orang. Data dari kedua anak Om Bram itu semuanya disembunyikan demi melindungi mereka. So, jadi bukan dengan Mas Ronggo saja dia tak mengatakannya, tapi pada seluruh dunia. Memangnya kalau Vina dalam bahaya karena identitasnya sebagai putri dari Om Bram diketahui, Mas Ronggo bisa melindunginya? Jadi menurutku, Mas Ronggo tak perlu merasa dibohongi, itu memang sudah menjadi kesepakatannya dengan Om dan Tante karena Vina tak ingin ikut sekolah keluar negeri dengan Vano. Saya berharap Mas Ronggo tuh memahami dunia bisnis yang kejam ini, lagi pula kalau Mas Ronggo mencari tahu identitas Vina yang sebenarnya pasti Mas Ronggo tak akan menemukannya karena memang dirahasiakan. Vina juga menutupi siapa dirinya karena tak ingin orang bermuka manis padanya karena identitasnya, saya berharap Mas Ronggo mengerti dengan keputusan Vina. Aku yakin sepupuku ini gak berniat membohongi Mas Ronggo, dia beneran suka sama Mas Ronggo, tulus apa adanya. Jadi aku berharap Mas Ronggo bisa menerima Vina juga tanpa ada embel-embel karena dia anak dari Om Bram.” jelas Riris yang memang benar adanya.
Di samping Davina sendiri yang ingin hidup sederhana, yang dikatakan Riris memang benar adanya. Bram memang menyembunyikan identitas kedua anaknya karena ia tak ingin nyawa kedua buah hatinya terancam kala bisnis yang dijalaninya mendapat masalah.
“Maaf, gak seharusnya aku bersikap begitu. Aku hanya masih trauma saja dengan wanita yang memandang pria sepertiku sebelah mata,” ucap Ronggo dengan kepala yang tertunduk.
“Mas, aku bukan gadis seperti itu, beberapa bulan kita saling kenal apakah ada sikapku yang begitu? Jangan samakan aku dengan wanita yang pernah menyakitimu, aku butuh pria yang tulus mencintaiku tanpa melihat identitasku dan aku juga tulus menyukaimu tanpa memandang statusmu. Aku berharap kamu mau mempertimbangkan perasaanku, kalau kamu masih ragu, kita bisa jalaninya dengan saling mengenal dulu,” tutur Davina mencoba meyakinkan Ronggo.
__ADS_1