
Saat sudah pulang ke kediaman Hanoraga, di dalam kamar Davina yang sudah dihias dengan begitu indahnya karena memang kamar pengantin.
Davina dan Ronggo yang baru saja menjadi sepasang suami istri yang sah beberapa jam lalu kini menjadi canggung karena mereka bingung apa yang harus dilakukan, keduanya bukanlah orang yang mahir dalam urusan ranjang karena memang belum pernah melakukannya meski hanya sekali.
Padahal selama satu minggu dipingit Davina selalu saja uring-uringan ingin bertemu dengan Ronggo, tapi saat kini sudah di depan mata ia malah jadi melempem bagai kerupuk disiram air.
“Aku akan mandi dulu, rasanya gerah sekali,” ucap Ronggo sambil berjalan menuju kamar mandi, sedangkan Davina hanya melongo menatap pada AC dan kamar mandi secara bergantian.
“Apakah kulitnya begitu tebal sampai merasa panas di dalam kamar ber-AC yang begitu dingin ini,” gumam Davina yang kebingungan.
“Ah sebaiknya aku segera melepaskan gaun ini dan bersiap untuk mandi juga, rasanya juga sudah lengket dan risih.” Davina tak ambil pusing lagi, ia segera melepaskan gaunnya dan berganti dengan kimono mandi karena setelah Ronggo selesai mandi ia akan mandi juga.
Saat ia sedang memakai kimono mandinya, tiba-tiba saja Ronggo muncul dan membuat mereka menjadi salah tingkah.
“Eh, anu, aku ... aku sudah selesai mandi, kamu bisa mandi kalau mau,” ucap Ronggo dengan nada terbata-bata.
“Ah, oh, iya, aku ... aku mandi sekarang.” Davina langsung berlari menuju kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dengan keras.
“Aish, kenapa jadi canggung begini sih,” gumam keduanya dari tempat yang berbeda.
Ronggo memilih memakai pakaiannya dan duduk di atas tempat tidur menunggu Davina, sedangkan Davina masih berdiri bersandar pada pintu kamar mandi sambil memegang dadanya yang berdegup begitu kencang.
“Huh, tenang Vina, tenang,” gumamnya sambil menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan mengusap dadanya yang terus saja berdebar kencang tak menunjukkan tanda-tanda akan kembali normal.
“Aku sangat gugup sekali, apakah malam ini aku dan Ronggo aakaaan ... ,” ucapannya terhenti dan pikirannya melayang membayangkan apa yang dilakukan oleh pasangan baru dimalam pertama.
“Astaga, apa yang kupikirkan, tentu saja hal itu akan terjadi, aku dan Ronggo sudah menikah dan ini adalah malam pertamaku dengannya.” Davina menepuk-nepuk kedua pipinya dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Huh, lebih baik aku cepat mandi, jangan membuatnya menunggu terlalu lama. Satu minggu aku tak bertemu dengannya dan sekarang dia ada di dalam kamarku mengapa aku harus membuatnya menunggu.” Davina bergegas berjalan menuju shower untuk membersihkan tubuhnya.
Sekitar tiga puluh menit lamanya ia berada dalam kamar mandi, akhirnya keluar juga dengan menggunakan kimono mandi dan rambut yang digulung oleh handuk.
Pemandangan tersebut sungguh membuat Ronggo menelan salivanya sulit, ia menghampiri gadis tomboi yang sudah menjadi istrinya itu.
“Biar aku bantu mengeringkan rambutmu,” ucapnya membuka handuk yang menggulung rambut istrinya itu.
Mereka berjalan menuju meja rias dan Ronggo mengeringkan rambut Davina menggunakan hairdyer.
Rambut sudah dikeringkan dan hairdyer pun sudah diletakan di atas meja, Ronggo membantu Davina untuk berdiri dan membalik tubuh gadis itu hingga mata mereka saling bertemu.
“Bersediakah kau menjadi milikku seutuhnya malam ini?” tanya Ronggo dengan suara lembut, Davina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Mendapat lampu hijau dari istrinya, Ronggo langsung memagut bibir Davina dengan lembut, ciuman itu perlahan menjadi panas dan entah sejak kapan mereka sudah dalam keadaan polos dan siap tempur.
“Kata orang memang akan sakit di awal, tapi itu hanya sebentar dan akan berganti nikmat. Aku akan sedikit lembut, tapi mungkin akan menyakitkan juga, kamu bisa tahan sebentar saja agar aku bisa memasukinya?” jelas Ronggo bertanya.
“Hm, aku akan menahannya untukmu,” sahut Davina tersenyum.
“Jika memang sakit dan tak sanggup untuk menahannya katakanlah maka aku akan menghentikannya dan menundanya sampai kau siap,” titah Ronggo.
“Aku akan menahannya, bukankah ini sudah menjadi kewajibanku? Dan semua wanita pasti akan merasakannya.”
Mendengar hal itu Ronggo tersenyum dan melanjutkannya dengan perlahan karena takut menyakiti istrinya, beberapa kali mencoba akhirnya berhasil juga Ronggo menjebol gawang milik Davina.
Ada bulir air mata yang menetes di pelupuk mata gadis tomboi itu, bukan air mata karena rasa sakit yang ia rasakan tapi air mata bahagia karena ia sudah memberikan mahkotanya yang sungguh sangat berharga pada pria yang tepat.
__ADS_1
Ronggo bermain dengan lembut, rasa sakit yang dirasa oleh Davina kini berubah menjadi rasa nikmat yang sungguh sangat membuat keduanya takjub.
“Terima kasih sudah menjaganya untukku, dan maaf sudah menyakitimu,” ucap Ronggo memeluk tubuh polos sang istri setelah mereka selesai dengan sesi penting dimalam pertama.
Pagi hari saat Davina akan bangun terasa sangat sakit sekali di bagian inti dari tubuhnya, ia perlahan bangun memakai selimut dan berjalan menuju kamar mandi dengan sangat pelan-pelan karena sangat sakit sekali.
Tak lama Ronggo bangun dan segera mengenakan celananya, ia menghampiri istrinya dan menggendongnya ala bridal style seketika membuat Davina terkejut.
“Ah!” pekiknya yang mendapati Ronggo tiba-tiba menggendongnya.
“Mengapa tak membangunkanku?” tanyanya lembut.
“Aku tak ingin mengganggu istirahatmu, lagi pula aku hanya akan ke kamar mandi saja,” sahutnya.
“Biar kubantu.” Ronggo menggendong tubuh Davina menuju kamar mandi, ia meletakkan perlahan tubuh polos berselimut itu di atas closet dan segera mengisi bak mandi dengan air hangat.
“Kamu mandilah dulu, nanti jika sudah selesai panggil aku yah, aku akan membereskan tempat tidur dulu,” ucapnya sambil menggendong kembali tubuh sang istri untuk dipindahkan ke dalam bak mandi.
“Aku bisa sendiri kok, tempat tidur biar nanti aku yang bereskan, lebih baik kamu mandi saja di situ,” tunjuknya pada shower.
“Enggak, aku mandi setelah kamu selesai dan setelah membereskan tempat tidur kita.” Ronggo pergi setelah mengusap kepala istrinya dan membuat rambutnya berantakan, Davina hanya bisa tersenyum dengan perhatian yang diberikan oleh pria yang saat ini sudah menjadi suaminya.
Sesuai permintaan Ronggo, Davina yang sudah selesai mandi pun memanggil suaminya dan tak lama pria itu pun datang.
Dengan penuh kasih sayang Ronggo membawa istrinya ke kamar dan membantunya berpakaian.
Setelah sang istri cantik, ia baru membersihkan tubuhnya dan setelah itu keduanya bergegas menuju dapur bersama.
__ADS_1