Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)

Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)
BAB 44


__ADS_3

Hari sudah berjalan seperti biasanya, Davina kini sudah sibuk di Cafe milik sang Mamah yang kini sudah berpindah tangan menjadi miliknya. Sore hari setelah pulang kuliah Ronggo akan membantunya di Cafe. Mereka memang terlihat sangat serasi sekali meski hanya berada di dapur.


“Bagaimana harimu, hari ini? Adakah yang membuatmu bahagia?” tanya Ronggo saat mereka sedang sibuk di dapur.


Meski sibuk di dapur mereka masih bisa mengobrol bersama, kesibukan tak menghalangi mereka untuk selalu bercengkerama.


“Biasa saja sebelum kedatanganmu, huft rasanya membosankan saat kita tak lagi bersama dengan teman-teman kita,” keluh Davina yang baginya menjalankan hari tanpa sahabat somplaknya dan juga kekasih hatinya sangatlah membosankan dan waktu berjalan lama sekali.


“Hehe, kan namanya juga baru awal, nanti kalau sudah lama juga terbiasa, sabar saja kan ada aku yang nemenin sepulang kuliah,” ucap Ronggo sambil terkekeh.


Mereka terus saja mengobrol sambil membuat hidangan untuk para customer penikmat masakan mereka.


“Lelahnya,” ucap Davina sambil meregangkan tangannya ke atas.


“Makan dulu sebelum banyak customer lagi.” Ronggo membawa dua piring makanan untuk mereka makan malam.


“Makasih, Sayangku.” Davina mengambil piring tersebut dan langsung menyantap makanannya bersama dengan Ronggo karena memang jam istirahat menjelang malam.


Setelah mereka selesai makan, keduanya melanjutkan pekerjaannya masing-masing hingga malam menjelang dan akhirnya jam pulang kerja pun tiba.


“Mau jalan-jalan malam dulu?” tanya Ronggo menawarkan Davina jalan-jalan malam.


“Mau dong, masa gak sih. Secara ayang mbeb yang ngajak masa ditolak, bisa gak tidur semalaman nanti, hehe,” dengan segera Davina menerima tawaran Ronggo tanpa berpikir lebih dulu.


“Dasar kamu ini.” Ronggo hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Akhirnya mereka memutuskan untuk jalan-jalan malam terlebih dulu karena malam juga belum larut.

__ADS_1


“Bagaimana kuliah kamu? Pasti banyak wanita yang mendekatimu cari perhatian deh,” tanya Davina tapi ia menjawabnya sendiri dengan mengerucutkan bibirnya membuat Ronggo terkekeh, saat ini mereka sedang berjalan-jalan santai di taman kota tak jauh dari Cafe tempat keduanya kerja.


“Kamu itu ada-ada saja deh, siapa juga yang mau melirik pria tak punya sepertiku.” Ronggo mengacak-acak rambut Davina yang dicepol ke atas.


“Ish kamu itu rese sekali sih, berantakan kan jadinya.” Davina merapikan rambutnya yang diacak-acak oleh Ronggo.


“Kata siapa tak ada yang melirikmu? Buktinya aku melirikmu,” sambungnya bertanya setelah merapikan rambutnya.


“Memangnya kamu wanita? Bukannya kamu gadis tomboi yah?” tanya Ronggo menggoda gadis tomboi itu.


“Terserah kamu ajah deh, yang penting kamu milikku.” Davina memeluk lengan Ronggo dengan erat.


“Waw, sudah jadi hak milik yah? Sejak kapan?” tanya Ronggo bergurau.


“Sejak aku menyukaimu.”


Davina tak pernah memprotes dengan apa yang dibelikan oleh Ronggo, baginya apa pun yang diberikannya asalkan Ronggo yang memberinya ia pasti akan menerimanya dengan senang hati.


Ronggo pun bersyukur karena gadis yang disukainya tak sama seperti dengan wanita yang selalu menuntut macam-macam padanya.


“Sudah malam, aku akan mengantarmu pulang. Kalau kemalaman nanti Tuan muda bisa-bisa tak menerima aku sebagai calon menantunya,” ajak Ronggo sambil bergurau, jam baru menunjukkan pukul sepuluh malam tapi bagi Ronggo anak gadis yang baik tak pulang terlalu larut.


“Baiklah, aku akan jadi gadis yang baik yang menuruti apa yang dikatakan kekasihku.”


“Memang siapa kekasihmu?”


“Sopir taksi online,” sahut Davina ketus.

__ADS_1


“Oooh, kukira Chef magang di Cafe istrinya Tuan muda,” ucap Ronggo masih dalam mode menggoda si gadis tomboi yang sedang memeluk lengannya itu.


“Ish, tau ah. Kamu mah hobi banget deh meledek aku,” gerutu Davina yang membuat Ronggo terkekeh geli.


Mereka saling bercanda dan mengobrol di sepanjang jalan pulang.


“Langsung istirahat yah, jangan tidur malam-malam, aku pulang dulu,” pamit Ronggo tak lupa mengingatkan Davina untuk segera istirahat.


“Hm, kamu hati-hati di jalan, dan tidurnya jangan lupa mimpiin aku,” sahut Davina dengan senangnya mendapatkan perhatian dari pria tercintanya.


Ronggo pun pergi dengan menggunakan sepeda motor miliknya setelah memasukkan mobil milik Davina ke dalam bagasi.


...


Beberapa bulan berlalu, kini Ronggo sedang mengerjakan skripsinya, ia sering tak datang ke Cafe karena sibuk dengan skripsinya dan Davina pun memaklumi itu.


Davina terkadang menemaninya agar Ronggo semangat mengerjakan skripsinya.


“Dua bulan lagi aku sidang, doakan semoga lulus dan mendapatkan yang terbaik,” ucap Ronggo, saat ini mereka sedang jalan-jalan bersama.


“Amiin, semoga saja. Tiga bulan lagi Kak Vano juga pulang, aku tak sabar untuk mengenalkannya padamu,” sahut Davina yang tak sabar ingin memperkenalkan saudara kembarnya pada kekasih hatinya itu.


“Iya, selama aku dekat dengan kamu, aku belum pernah bertemu dengan Kakakmu sekalipun,” ucap Ronggo mengingat-ingat.


“Itu karena Kak Vano belum pernah pulang setelah ia pergi dulu untuk lanjut study, padahal Mamah dan Daddy sering memintanya untuk pulang karena rindu, tapi Kak Vano tetap saja tak mau pulang, alhasil terkadang Mamah dan Daddy yang mengunjunginya di sana,” tutur Davina menjelaskan.


“Pantas saja aku tak pernah tahu.”

__ADS_1


__ADS_2