
Di kota J, setelah kepulangan Davina dan Ronggo dari bulan madunya mereka langsung sibuk dengan pekerjaannya kembali hingga beberapa bulan lamanya mereka sibuk dengan pekerjaannya karena semakin lama Cafe yang dikelola oleh Davina dan Ronggo semakin ramai saja pengunjung. Davina bahkan menambahkan menu comro dan jajanan pasar yang ia temui di pedesaan sewaktu ia berbulan madu dulu didaftar menunya dan ternyata banyak peminatnya.
Suatu pagi, Davina yang baru bangun dari tidurnya merasakan pusing pada kepalanya dan perutnya terasa mual seperti sedang dikocok-kocok. Ia langsung berlari bangun dari tidurnya menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya yang berupa cairan bening. Ronggo yang mengetahui hal itu langsung menghampiri istrinya.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Ronggo yang khawatir.
“Entahlah, mungkin aku masuk angin kali, kamu kan kerjaannya bikin aku tidur tak memakai baju mulu tiap hari,” sahut Davina sambil menggerutu.
“Hehe, maaf. Yah sudah, kamu cuci muka aku akan mengantarmu ke rumah sakit,” titah Ronggo dan Davina pun menurutinya.
...
“Selamat yah, kamu akan menjadi Ibu, dan ternyata usia kandungan kamu sudah berjalan empat bulan loh, Sayang,” seru Sandra, mamah Dan memberi selamat pada Davina.
“Hah, empat bulan, Tan?” tanya Davina terkejut, pasalnya ia tak mengetahui kehamilannya selama ini, dan ia juga tak memperhatikan siklus menstruasinya kapan terakhir datang karena sepulang dari bulan madu ia memang disibukkan oleh pekerjaan sehingga ia tak menyadarinya.
“Iya empat bulan, masa kamu tak menyadarinya sih? Kamu tak sadar kalau kamu tak datang bulan selama empat bulan?” tanya Sandra bingung, mengapa ada ibu hamil yang tak menyadari kehamilannya padahal ia tak datang bulan selama empat bulan.
“Aduh, Tan. Aku tak menyadarinya karena aku begitu sibuknya sepulang bulan madu di Cafe, Tan. Dan juga aku kan baru pertama kalinya, aku juga tak menyadari kalau aku tak datang bulan,” sahut Davina yang memang apa adanya.
“Haduh, ya sudah, mulai sekarang pokonya kamu harus menjaga diri kamu yah, jangan terlalu lelah. Dan kamu Ronggo, jaga istrimu jangan sampai dia kelelahan, suruh minum vitamin dengan teratur. Kamu harus menjadi suami siaga.” Sandra memberikan nasehat pada pasangan muda tersebut dengan nada galak.
__ADS_1
“Dih, mana ada coba dokter yang memberi nasehat pada pasiennya dengan nada seperti itu, kayaknya hanya Tante saja deh. Untung pasiennya gak kabur,” gerutu Davina membuat Ronggo dan Sandra terkekeh.
“Astaga, kamu itu memang mirip dengan Bram yah. Ya sudah, ini resep vitaminnya kamu bisa menebusnya di apotek.” Sandra memberikan resep vitamin untuk ditebus oleh Davina dan Ronggo dengan terkekeh.
“Terima kasih yah, Dokter Sandra,” ucap Ronggo.
“Sama-sama, sekali lagi selamat yah, kalian akan menjadi orang tua. Aberlie dan Bram kalau mendengar kabar ini pasti akan sangat bahagia sekali,” seru Sandra memberikan selamat.
“Terima kasih yah, Tan. Kami pamit dulu.”
Davina dan Ronggo pergi meninggalkan ruangan Sandra.
“Aberlie dan Bram sudah akan memiliki cucu, lalu kapan Dan dan Boy akan menikah. Mereka ingin wanita yang seperti apa sih,” gumam Sandra mengingat putra dan keponakannya yang belum juga ingin menikah.
“Mah, Dad, Vina hamil dan sudah empat bulan,” ucap Ronggo membuat Aberlie dan Bram sangat bahagia.
“By, aku akan menjadi Kakek,” seru Bram yang kelepasan memeluk Aberlie dengan begitu bahagianya karena mendengar kabat dari menantu dan putrinya.
“Iya, kita akan memiliki cucu. Vano kalau mendengar ini pasti akan sangat senang. Aku akan menghubunginya nanti agar ia pulang,” sahut Aberlie.
Devano sudah tak tinggal satu rumah lagi dengan kedua orang tuanya. Seperginya Davina dan Ronggo berbulan madu, Devano memutuskan untuk tinggal di rumahnya yang tak lama ia beli setelah pulang dari luar negeri.
__ADS_1
“Mah, Dad, rencana aku akan tinggal di pedesaan saat hamil, apakah kalian mengizinkannya?” tanya Davina mengutarakan keinginannya yang pernah ia ucapkan dulu.
“Mamah akan menemanimu, biar Ronggo yang mengurus Cafe dengan Papahmu. Sebulan sekali mereka bisa datang berkunjung.” Aberlie menawarkan diri untuk ikut Davina agar bisa mengurus putrinya yang sedang memgandung.
“Kamu mau meninggalkan aku, By?” tanya Bram dengan wajah tak terimanya.
“Kamu keberatan? Ini untuk kebaikan anakmu dan juga calon cucumu, kamu mau keberatan?” tanya Aberlie dengan tangan yang sudah diletakan di pinggangnya seketika membuat Bram langsung menggelengkan kepala.
“Mah, biar Nenek saja yang menemani Vina. Kasihan Daddy kalau Mamah tinggal, nanti kalau Daddy sakit karena merindukan Mamah bagaimana?” pinta Davina merayu sang mamah agar tak meninggalkan daddynya.
“Baiklah kalau begitu, Mamah akan menemui Nenek Ronggo siang nanti” akhirnya Aberlie menyetujui permintaan sang putri membuat Bram bernapas lega.
Bram memang sangat tak bisa berada jauh dari Aberlie, ia juga tak bisa memakan masakan orang lain, baginya masakan orang lain sangat tak enak. Mungkin masakan putri dan menantunya masih bisa ia makan, tapi kalau sudah masakan orang lain ia tak akan bisa memakannya karena menurutnya tak enak.
Sesuai dengan perkataannya, siang hari Aberlie langsung menemui Nenek. Ia mengutarakan maksud kedatangannya dan juga berniat menjemputnya untuk menginap di kediamannya hingga Davina berangkat ke pedesaan.
“Saya akan merawatnya dengan baik, Anda tenang saja Nyonya muda. Toh biar bagaimana pun Vina juga cucu saya dan dia sedang mengandung cucu buyut saya,” ucap Nenek yang menyetujui permintaan Aberlie.
Andai saja Bram tak seperti anak kecil bisa jauh darinya, ia pasti sudah memilih untuk ikut ke pedesaan menemani putri tercintanya.
“Maaf yah, Nek. Saya jadi merepotkan Nenek. Andai suami saya tak seperti anak kecil pasti saya yang akan menemaninya di sana,” tutur Aberlie merasa bersyukur Nenek bersedia menemani putrinya.
__ADS_1
“Bicara apa Anda ini. Ya sudah, saya berkemas dulu.” Nenek menuju kamarnya untuk membereskan pakaiannya, tak lama Nenek datang dengan membawa tas berukuran sedang berisi pakaiannya.
Mereka pergi meninggalkan kediaman Nenek menuju mansion karena lusa mereka akan berangkat mengantar Davina ke pedesaan.