
Satu bulan berlalu, Devano menjalankan perusahaannya dengan peraturannya sendiri. Ada beberapa yang tak menyetujui peraturan baru yang dibuatnya dan berakhir dengan pengunduran diri. Namun, banyak dari mereka yang malah bersemangat untuk menjadi lebih baik lagi dalam bekerja.
Hari ini adalah pengalihan jabatan presdir dari Bram ke Devano dan dimulainya peraturan baru serta pengumuman gaji baru. Banyak karyawan yang menetap merasa bersyukur dan senang karena gaji yang mereka dapatkan dimasa jabatan Devano lebih besar nominalnya dibanding saat jabatan Bram.
Devano memang menaikkan seluruh gaji para karyawan menjadi nilai yang tak pernah ada di perusahaan mana pun, tapi Devano pun tak hanya cuma-cuma memberikan gaji yang besar. Ia menginginkan kerja keras dari para karyawannya, jangan ada yang bermalas-malasan dan memakan gaji buta, tak ada karyawan kesayangan yang diinginkan Devano adalah karyawan teladan yang mematuhi peraturan yang ia buat.
Namun, dibalik itu semua ternyata ada peraturan mengerikan yang diberikan oleh Devano pada pelaku korupsi, yaitu kompensasi menggunakan tubuh sang koruptor. Devano akan meminta salah satu tubuh yang melakukan korupsi di perusahaannya, hal itu ia berlakukan karena untuk mencegah karyawan yang serakah melakukan penggelapan dana.
“Selamat yah, Kak. Kamu sudah sah menjadi seorang presdir dari Emerald Jewelry,” ucap Davina memberikan selamat pada sang kakak.
“Kamu juga selamat karena sudah menjadi Bos Cafe gaul terkece di kota J.” Devano balik memberikan selamat pada sang adik tercinta.
Saat ini mereka sedang melakukan makan malam bersama keluarga besar sebagai perayaan atas menjadinya Devano sebagai presdir menggantikan Papahnya. Tak banyak yang hadir, hanya keluarga dekat saja, tapi Aberlie meminta Ronggo membawa Nenek untuk turut hadir pada perayaan syukuran tersebut.
“Kapan kiranya Adikku yang tomboi ini menikah?” tanya Devano memberi sinyal sambil melirik Ronggo.
“Aku masih menunggu pria yang mau melamarku, Kak. Entah kapan dia siapnya untuk melamarku,” sahut Devina sambil menyindir pada Ronggo yang tak jauh darinya.
“Mengapa tak kamu saja yang melamarnya? Sekarang jaman sudah maju, sudah bukan jamannya wanita harus menunggu, sekarang jamannya wanita harus maju jadi aku sarankan kamu lamar dia sebelum ada wanita cantik lainnya datang melamarnya,” saran Devano membuat semuanya terkekeh.
“Apakah kamu akan membantuku, Kak?” Davina menaik turunkan alisnya.
“Jika itu yang kau mau, kenapa tidak.” Devano berjalan menuju di mana Ronggo berdiri.
__ADS_1
“Hei pria penakluk hati Adik tomboiku, apakah kau bersedia menikah dengan Adikku satu-satunya? Jika kau tak bersedia, maka aku akan membuatmu bersedia dengan caraku,” tanya Devano dengan nada mengancam membuat yang hadir terkekeh.
“Kak, mana ada orang mengajukan lamaran dengan cara mengancam seperti itu?” gerutu Davina kesal sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang.
“Kalau aku tak mengancam, sudah dipastikan dia tak akan mau denganmu. Mana selera pria melihat wanita tomboi model dirimu ini, aku saja tak selera melihatmu apalagi pria lain.” Devano bukannya merasa bersalah, dia malah lanjut menggoda adiknya itu.
“Kakak, kamu itu menyebalkan sekali. Aku benci padamu.” Davina merajuk dengan melipat kedua tangannya didadanya membuat Devano tertawa geli.
“Hahaha, baiklah Adikku sayang, maafkan Kakakmu ini yang sudah menggodamu. Ronggo, aku tak akan bertanya untuk kedua kalinya, jadi bagaimana jawabanmu. Apakah kamu bersedia menjadi pendamping hidup Adikku?” tanya Devano beralih pada Ronggo setelah menggoda adiknya.
Ronggo diam sejenak, ia menatap pada Davina yang seakan penuh harap pada jawaban dirinya, Ronggo juga menatap pada sang Nenek dan kemudian beralih menatap pada Aberlie dan juga Bram yang seakan memang menunggu jawabannya.
Ia menghela napasnya dalam, sejujurnya jantungnya saat ini sedang berpacu sangat cepat sekali, ia tak percaya kalau pria yang mewarisi kerajaan bisnis keluarga Hanoraga yang notabenenya perusahaan nomor satu di kotanya melamar dirinya untuk adiknya yang tak lain gadis yang sangat ia cintai itu.
“Wait, kami mencari keluarga bukan mencari rekan bisnis, jadi mengapa harus memikirkan masalah seperti itu. Adikku mencintaimu, kamu berniat membahagiakannya itu sudah lebih dari cukup. Daddyku membiayaimu kuliah itu karena keinginannya, jadi untuk apa kamu memikirkannya. Intinya saat ini aku melamarmu untuk Adikku tercinta, apakah kamu bersedia menerimanya atau kamu akan menolaknya. Tapi kamu harus ingat, aku tak menerima penolakan, jika kamu berani menolak maka kamu harus terima konsekuensinya,” ucap Devano seakan mengancam yang justru membuat yang lainnya terkekeh, yah secara kan yah mana ada orang melamar sambil mengancam agar tak ditolak.
“Aku sangat terharu dengan perlakuan baik kalian terhadapku. Jadi tak ada lagi alasan untukku menolaknya karena aku juga sangat mencintainya,” dengan air mata yang sudah menganak sungai serta raut wajah haru Ronggo menerima lamaran Devano untuk Davina. Semua yang menyaksikan tersenyum memasang wajah yang sungguh sangat bahagia.
“Nah begitu dong, itu baru calon Adik iparku. Selanjutnya untuk menentukan tanggal pernikahannya aku serahkan pada Mamah dan Daddy.” Devano merangkul dan memeluk Ronggo sudah seperti keluarganya sendiri.
“Kalian bisa percayakan itu pada kami,” sahut Aberlie.
“Terima kasih karena kalian begitu baik terhadapku yang bukan siapa-siapa ini, aku tak akan mengecewakan kalian,” seru Ronggo dengan penuh haru.
__ADS_1
Aberlie juga memeluk Nenek dengan rasa sayang seperti pada Ibunya sendiri.
“Terima kasih, Nyonya. Anda begitu baik pada Cucu saya. Saya tak tahu bagaimana harus membalasnya,” ungkap Nenek penuh haru.
“Nenek bicara apa sih, kita ini keluarga, jadi apanya yang harus dibalas. Lebih baik kita bicarakan tanggal pernikahan mereka biar mereka segera menikah dan memiliki anak, jadi kita bisa menggendong cucu,” ucap Aberlie mengalihkan pembicaraan.
Akhirnya mereka dalam mode serius dan membicarakan tanggal pernikahan.
“Maaf, Tuan muda, Nyonya muda. Apa tak terlalu cepat untuk melaksanakan pernikahan satu bulan kemudian? Bukannya banyak yang harus dipersiapkan? Jadi mengapa tidak tiga atau empat bulan kemudian saja dilaksanakannya,” tanya Ronggo menyela mereka yang sedang membicarakan persiapan pernikahannya.
“Kamu tak perlu mencemaskan apa pun, persiapan akan dilakukan oleh ahlinya. Kamu dan Davina hanya perlu mempersiapkan diri saja,” ucap Aberlie menjelaskan.
“Apakah itu tak apa-apa? Aku jadi merasa tak enak hati jika tak melakukan apa pun,” tanya Ronggo kembali.
“Sudah, kamu serahkan saja pada kami. Kamu lebih baik mengajak Adikku jalan-jalan saja sambil menunggu hari bahagia kalian tiba.” Devano ikut menimbrung.
“Eits, tak bisa begitu. Satu minggu sebelum pernikahan kalian harus dipingit agar tak keluar dan bertemu. Mamah dan Nenek akan melarang kalian untuk keluar rumah dan juga bekerja sampai hari pernikahan kalian dilaksanakan.” Aberlie menyela ucapan putranya membuat Devano tertawa tapi membuat Ronggo dan Davina lemas.
“Yah, Mah. Kok begitu sih, jahat banget gak sih kalau seminggu gak boleh ketemu,” protes Davina tak terima dengan peraturan sang Mamah.
“Biarkan, biar nanti pas bertemu kalian bisa langsung melepas rindu. Sudah, tak perlu protes lagi. Semuanya suda ditentukan kalau kalian akan melaksanakan pernikahan satu bulan dari sekarang,” sahut Aberlie tak bisa diganggu gugat.
Bram hanya diam tak ikut berkomentar, ia juga pernah mengalami hal seperti itu saat akan menikah dengan istri tercintanya dulu.
__ADS_1