Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)

Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)
BAB 26


__ADS_3

Di mall X Riris dan Boy sudah menunggu di area parkir mall dengan bersandar pada mobil Boy. Davina dan Ronggo yang baru saja sampai langsung menghampiri mereka.


“Sorry yah, aku kelamaan,” ucap Davina.


“It’s oke gak masalah kok,” sahut Boy dengan coolnya.


“Ehem, cie mau juga diajak jalan-jalan sama kamu, Vin,” goda Riris yang melihat Ronggo datang bersamaan dengan Davina.


“Diajak mau yah aku ajak ajah deh, sekali-kali gak apa-apa lah yah, Mas Ronggo,” sahut Davina menyengir kuda pada Ronggo, tapi Ronggo hanya tersenyum.


Meski terkadang ia bersikap dingin pada setiap perempuan yang mendekatinya, tapi ia akan bersikap ramah pada orang yang ramah pula padanya.


“Oh iya, kita belum kenalan meski kita sudah pernah bertemu sekali. Aku Boy, sahabat tertampannya cewek jadi-jadian yang sedang sekat sama kamu,” dengan gaya coolnya Boy mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Ronggo.


“Saya Ronggo, tapi saya tak sedang dekat dengannya, saya hanya mengantarkannya saja untuk jalan-jalan.” Ronggo menjabat uluran tangan Boy dengan ramah.


“Dekat juga gak apa-apa kok, dia meski tomboi tapi bukan cewek nakal, hanya penampilannya saja yang seperti pria tapi sebenarnya sangat manja,” tutur Boy dengan gaya berbisik ke telinga Ronggo di akhir kalimat membuat Ronggo tersenyum sangat tipis, ia juga senang karena teman-teman Davina sangat wellcome padanya meski mereka berasal dari keluarga yang berada.


“Hei jomblo tengil, kamu berbisik apaan sama Mas Ronggo? Perasaanku jadi tak enak nih, jangan berkata yang macam-macam tentangku yah, awas saja kamu kalau menghasutnya untuk tak menyukaiku, aku akan ku*uk kamu menjadi jomblo selamanya,” pekik Davina yang merasakan tak enak pada tingkah sahabatnya itu.

__ADS_1


“Hei tomboi, aku gak ngomong macam-macam, aku hanya bicara kenyataan saja sama Ronggo.” Dan mengelak mengakui apa yang ia bisikan pada Ronggo, Ronggo hanya tersenyum melihat tingkah Davina bersama dengan teman-temannya.


“Sudah-sudah, ayu kita masuk nanti keburu sore.” Riris menengahi kedua sahabatnya yang terkadang suka bertengkar kecil.


“Ayu, aku juga harus ke Cafe untuk kerja, kalau datang kesorean tuh man*sia kaku bakalan ngoceh-ngoceh,” sambung Davina mengedikan bahunya kala mengingat Satria yang suka ngoceh pada dirinya.


Akhirnya mereka berempat berjalan masuk mall dengan dua gadis berjalan di depan sedangkan dua pria tampan berjalan di belakang.


“Makasih yah sudah mau diajak sama sahabatku, dia sangat menyukaimu, aku harap kamu jangan mengecewakannya. Ini pertama kalinya dia menyukai pria, aku tak ingin dia terluka karena pria yang menyakitinya dan membuatnya terluka,” ucap Boy tiba-tiba dengan nada santai pada Ronggo.


“Sama-sama, aku hanya menemaninya saja karena dia meminta. Aku tak berharap dia akan menyukaiku karena aku bukanlah pria yang berduit, aku takut tak bisa memenuhi apa yang dia minta padaku, jadi kamu bisa sampaikan padanya untuk jangan berharap padaku,” tutur Ronggo seakan menolak Davina secara halus.


“Aku salut pada kalian anak orang kaya mau berteman dengan orang yang tak berada dan juga bersikap sopan padaku yang hanya seorang sopir taksi online,” ucap Ronggo merasa bangga dengan sahabat Davina yang tak memandang status.


“Yang kaya dan memiliki kedudukan adalah orang tua kita, aku dan teman-temanku sama sepertimu yang hanya orang tak punya karena memang aku tak memiliki apa pun, yang kugunakan saat ini hanyalah milik orang tuaku, jadi apa yang harus kusombongkan? Kami tak pernah memandang orang karena kedudukannya. Apakah kamu tak tahu kalau Ibuku adalah mantan karyawan di Cafe Tante Aberlie, tempat Davina kerja?” sahut Boy juga memberitahu kalau ibunya adalah wanita yang bekerja di tempat Davina juga bekerja, Boy tak memberitahu kalau Davina adalah pemilik Cafe tersebut.


“Oh yah, aku semakin salut pada kalian sekeluarga, kalian memang benar-benar keluarga berada sejati yang tak pernah memandang orang sebelah mata.”


Dua pria itu mengobrol sepanjang menemani dua gadis cantik di depannya jalan-jalan dan sesekali melihat-lihat ke dalam toko pakaian branded.

__ADS_1


“Ah lelahnya, kita cari stand minuman yuk, aku haus sekali, nih pegang aku lelah,” ucap Riris yang memberikan beberapa paper bag belanjaannya pada Boy, Boy dengan senang hati tak menolaknya, ia membawa belanjaan milik sahabatnya tanpa protes sedikit pun membuat Ronggo semakin bangga bisa mengenalnya.


“Biar kubawakan punyamu.” Ronggo mengambil paper bag yang dibawa oleh Davina karena melihat Boy yang rela membawa belanjaan milik sahabatnya padahal gadis itu bukanlah kekasihnya.


“Makasih.” Davina tersenyum bahagia karena Ronggo menunjukkan sikap pedulinya meski dengan ekspresi datar.


“Cari minum apa sekalian mau makan?” tanya Boy ingin memastikan.


“Cari minum saja, kan nanti mau makan di Cafe Tante Berl,” sahut Riris yang sudah duduk di kursi.


“Ya sudah kalian tunggu sini, aku carikan minuman di botol saja yah,” ucap Boy meminta sahabatnya untuk menunggunya.


“Oke.”


“Nih belanjaannya pegang dulu tapi.” Boy meletakkan belanjaan milik Riris di bagian kursi yang kosong.


“Biar kutemani.” Ronggo menawarkan diri untuk ikut bersama dengan Boy saat Boy sudah melangkah.


“Oke.” Keduanya pergi meninggalkan dua gadis cantik untuk mencari minuman.

__ADS_1


__ADS_2