
“Gaes, aku mau minta solusi nih,” ucap Davina pada ketiga sahabat tengilnya, saat ini mereka tengah berada di kantin kampus.
“Apa?” tanya Dan bersuara.
“Penting?” kini Boy yang bersuara.
“Infonya?” Riris pun ikut bertanya tentang info yang diminta sepupunya untuk mencarikan solusi.
“Jadi begini... .” Davina menceritakan apa yang dikatakan Daddynya semalam sewaktu perjalanan pulang dari Cafe, ketiga sahabat tengilnya menyimaknya dengan serius, sangat jarang geng somplak dalam mode serius seperti sekarang ini.
“Seriusan kamu, Vin?” tanya Boy yang tak menyangka akan mendengar kabar yang menurutnya sangat mengejutkan itu, Davina menganggukkan kepalanya.
“Serius, makanya aku bingung mau ngomong apa ke Mas Ronggonya, masa tiba-tiba aku bilang kalau Daddy menawarkannya melanjutkan sekolah sih, kan kalian tahu kalau aku ngakunya anak orang gak punya sama dia,” sahut Davina dilema.
“Yah lagian kamunya sih juga salah dari awal, kenapa harus gak jujur sama identitas sendiri begini sih, sekarang jadi bingung kan,” celetuk Riris seakan menyalahkan sepupu tomboinya itu, tapi kedua pria tampan dan tengil itu malah setuju dengan ucapan Riris dengan anggukkan kepala.
“Yah kan kamu tahu sendiri, aku tak ingin orang memandangku karena Daddyku, dan juga kan kalian tahu kalau Mas Ronggo anti sama cewek tajir,” keluh Davina yang memang benar adanya.
Andai saja Davina memperkenalkan dirinya sebagai anak dari pengusaha berlian sukses di kotanya, entah Ronggo saat ini akan bersikap baik padanya atau tidak.
“Yah kan kamu bisa memperlihatkan citra gak semua anak orang tajir itu memiliki sikap begitu, Vin. Kalau begini kan kamu juga yang bingung, padahal ini kesempatan emas banget buat Ronggo untuk meraih cita-citanya loh,” sela Dan sedikit bijaksana.
__ADS_1
“Nah kamu tahu kalau ini kesempatan emas buat dia, jadi tolonglah bantu aku.” Davina menaik turunkan alisnya merasa angin segar sedang lewat menghampirinya.
“Gini saja, kemarin di Cafe kan kita berdua nih yang ikut kamu, bagaimana kalau salah satu di antara kita yang bilang ke dia,” ucap Boy memberi solusi.
“Ngomong apa?” tanya Riris yang penasaran dengan diikuti anggukan dari Davina juga.
“Begini, Ris kamu kan ponakan dari Om Bram, kamu bilang yang ngomong sama dia begini... .” Boy memberitahu apa yang harus dikatakan oleh Riris pada Ronggo, mereka yang mendengarkan hanya menganggukkan kepala tanda mengerti.
“Kok jadi gak masuk akal yah,” ucap Davina merasa apa yang dikatakan sahabat tengilnya itu tak masuk diakal.
“Masuk akal atau gaknya itu mah gak penting, yang penting sekarang itu semoga apa yang kita rencanakan berhasil dan dia mau menerima tawaran dari Om Bram buat lanjut kuliah,” sahut Boy.
“Menurutku sih kita jalani saja dulu apa yang dikatakan oleh Boy, masalah itu masuk akal atau gaknya sih terserah dia mau pikir apa, yang penting dia setuju pun masuk akal gaknya udah gak penting lagi,” kini Dan menimpali menyetujui apa yang dikatakan oleh Boy.
“Okelah, aku yang akan ngomong apa yang disarankan Boy barusan, kalian harus temani aku nanti yah,” akhirnya Davina mengambil keputusan untuk bicara langsung dengan Ronggo.
“Nah itu lebih masuk akal, secara kan kamu yang dekat, kalau tiba-tiba aku yang ngomong otomatis dia berpikiran yang gimana gitu nantinya.” Riris merasa lega.
Jam kelas selanjutnya sudah tiba, mereka bergegas untuk mengikuti kelas selanjutnya. Sekitar jam setengah empat kelas mereka usai, geng somplak pun sudah berkumpul dan sudah siap untuk menjalankan misi. (Astaga misi gak tuh😂)
“Huh, kok aku jadi deg-degan gini sih, padahal kan Cuma bilang begitu doang, kenapa jadi kayak mau perang begini sih,” ucap Davina yang merasa gugup.
__ADS_1
“Nih, Aqua dulu biar gak tegang.” Dan memberikan sebotol air kemasan dengan merek terkenal nomor satu di Indonesia.
“Thankyou.” Davina mengambil botol berisi air mineral tersebut yang masih tersegel, lalu meneguknya hingga setengah setelah membukanya.
“Semangat, nanti kita bantu ngomong kok.” Riris memberi semangat pada sepupunya itu.
“Oke, aku akan membawanya ke Cafe dan bicarakan itu dengannya nanti saat makan, kalian harus bantu aku nanti, jangan diam saja, awas saja kalau gak bantu pas aku kesulitan,” sahut Davina dan ia pun berjalan menuju mobio yang sudah menunggunya.
“Ha-hai, maaf aku kelamaan yah,” sapa Davina dengan canggung saat ia membuka pintu mobil.
“Biasa ajah,” sahut Ronggo singkat.
“Ke Cafe yah,” pinta Davina.
“Hm,” mobil berjalan meninggalkan kampus menuju Cafe.
Sampai di depan Cafe, Davina sangat gugup untuk mengajak Ronggo untuk masuk dan makan bersama dengannya. Padahal kemarin ia dengan mudahnya mengajak pria pujaannya itu untuk makan, tapi sekarang ia malah merasa kaku untuk mengatakannya.
“Mas, temani aku makan yuk,” ajak Davina.
...
__ADS_1
Apakah Ronggo akan setuju untuk menemani Davina untuk makan di Cafe seperti kemarin?