Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)

Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)
BAB 43


__ADS_3

“Selamat yah, Sayang. Akhirnya Mamah bisa santai karena Cafe sudah berpindah pada pewarisnya. Tahun besok giliran Vano yang lulus.” Aberlie memeluk tubuh putri tomboinya karena kini Davina sudah lulus dari kuliahnya.


Saat ini di kediaman Bram Hanoraga sedang mengadakan syukuran atas kelulusan putri tomboinya. Banyak kerabat yang datang karena memang hanya mengundang kerabat terdekat dan para karyawan Stay With Me Cafe saja.


“Aku tak sabar ingin bertemu Kak Vano. Dia beberapa tahun ini tak kembali meski sedang cuti dan juga kalau di video call tak pernah mau mengangkatnya kecuali telepon biasa. Kira-kira seperti apa wajahnya yah,” ucap Davina yang sudah rindu dengan sang kakak laki-lakinya itu.


“Sabar, satu tahun lagi Vano akan kembali, Mamah dan Daddy juga tak sabar ingin bertemu dengannya. Terkadang kami ingin sekali berkunjung ke sana tapi yah kamu tahu sendiri kan kalau Kakakmu itu selalu melarang Mamah dan Daddy untuk ke sana,” tutur Aberlie yang menggambarkan raut wajah rindu pada putranya itu.


“Mamah sabar, nanti kalau dia pulang kita getak saja biar kapok sudah membuat kita rindu setengah m*ti seperti ini,” canda Davina membuat Aberlie terkekeh, memang ada saja tingkahnya yang membuat orang tertawa.


Syukuran atas kelulusan dan juga atas berpindahnya Cafe milik Aberlie pada Davina berjalan dengan lancar. Geng somplak dan Ronggo menikmati acara tersebut dengan mengobrol. Para orang tua pun asyik mengobrol juga hal itu dilakukan oleh karyawan Cafe pula.


“Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan, berhubung kalian semua berkumpul di sini maka sekalian saja saya akan katakan diacara ini,” ucap Bram yang ingin mengatakan sesuatu, semua orang menyimak apa yang ingin dikatakan oleh orang terkaya nomor satu di kotanya itu.


“Mulai bulan besok Cafe sudah bukan Nyonya Hanoraga lagi yang mengelola melainkan Davina Hanoraga. Saya minta kerja samanya untuk kalian semua agar membantunya. Satria juga akan mengundurkan diri karena ia akan membantu Riris untuk mendirikan Cafenya sendiri dan posisi Satria akan dimasuki oleh orang yang sangat aku percaya yaitu Ronggo. Meski dia masih kuliah tapi istri saya sudah yakin akan skil memasaknya. Makanan yang dibuat olehnya tak kalah enak dari masakan Satria maka dari itu saya bersedia melepaskan Satria untuk ditarik oleh keluarga saya sendiri karena saya mempercayai Ronggo bisa membantu putri saya untuk mengelola Cafe. Sementara waktu istri saya tak akan lepas tangan begitu saja, ia akan membantu Vina sampai gadis tomboi itu paham. Dan ada Ashana, Rean dan Kevin yang membantu. Sekali lagi saya minta kerja samanya pada kalian untuk membantu generasi baru kita yaitu Davina Hanoraga dan juga Ronggo Putra, apakah kalian semua bersedia?” ucap Bram panjang lebar memberitahu pengumumannya.


Serentak mereka sangat setuju pada apa yang diputuskan oleh Bram. Beberapa tahun ini Ronggo banyak belajar selama bekerja paruh waktu di Cafe. Ronggo dan Davina banyak berkembang dan juga mereka sesekali memasak menu mereka sendiri dan bahkan dimasukkan ke dalam menu Cafe.


Malam semakin larut, beberapa dari mereka sudah pulang ke kediamannya masing-masing. Hanya keluarga saja yang masih di mansion Bram. Aberlie meminta Ronggo dan juga Nenek untuk bermalam karena malam sudah semakin larut, kini mereka masih mengobrol.


“Tuan, Nyonya, saya benar-benar mengucapkan terima kasih banyak yang sebesar-besarnya karena sudah berkenan menyekolahkan Cucu saya ke jenjang yang tinggi. Entah dengan apa saya harus membalas kebaikan kalian, tapi saya berdoa semoga keluarga kalian semakin makmur dan bahagia selalu, kalian benar-benar orang baik yang tak memandang orang kecil seperti kami ini meski kalian berasal dari keluarga yang kaya raya,” ucap Nenek mengungkapkan rasa terima kasihnya.


“Ibu tak perlu sungkan seperti itu, sudah menjadi tugas kami yang sedikit mampu ini membantu yang membutuhkan.” Aberlie meraih tangan Nenek merendahkan hatinya.


“Cucu Ibu memiliki kualitas jadi sayang jika tak dikembangkan, saya hanya membantunya saja. Lagi pula di awal saya sudah memberikan syarat padanya kalau ia sanggup untuk mewujudkan cita-citanya maka saya akan membiayainya tapi kalau ia tak mampu maka saya memintanya untuk mundur. Terbukti beberapa tahun ini Cucu Ibu membuktikan kemampuannya dan sudah berkembang lebih baik lagi, saya yang mengeluarkan biaya untuknya tak menyesal dan merasa sia-sia. Maka dari itu saya memintanya untuk bekerja sama dengan putri saya untuk mengelola Cafe nantinya,” kini Bram yang angkat bicara.


Mereka mengobrol hingga larut.


“Sudah jam dua belas malam, sebaiknya kita istirahat. Sri, tolong antar Ronggo dan Neneknya ke kamarnya yah,” titah Aberlie pada asisten rumah tangganya.


“Baik, Nyonya,” sahut Sri. “Mari Mas Ronggo saya antar ke kamar kalian untuk beristirahat,” sambungnya meminta Ronggo dan Nenek ikut dengannya.


Ronggo sudah tahu siapa Sri yang menyamar diajak bekerja sama untuk menutupi identitas dari Davina.

__ADS_1


“Nenek istirahat yah, Ronggo juga mau istirahat,” ucapnya.


“Baiklah.”


Ronggo menuju kamarnya diantar oleh Sri.


“Terima kasih yah, Bu.”


“Sama-sama, Mas Ronggo.”


Setelah Sri pergi, ponsel Ronggo berbunyi tanda pesan masuk. Ia melihatnya dan ternyata dari Davina.


[Sudah tidur?] tanya Davina dalam pesannya.


[Baru masuk kamar. Kamu belum tidur?] tanya Ronggo balik.


[Sebentar lagi, soalnya mau minta ciuman pengantar tidur dulu dari Ayang mbeb, hehe] Davina


[Arigataou, Ananta. 💝💝💝] Davina pun mengirimkan tiga biah hati berpita kembali pada pria pujaannya.


Setelah mereka selesai berkirim pesan, mereka terlelap dalam tidurnya memasuki mimpi indah mereka masing-masing.


Pagi hari Nenek sudah berkutat di dapur. Aberlie yang sudah rapi menuju dapur terkejut karena semua hidangan untuk sarapan pagi sudah hampir siap.


“Bu, astaga seharusnya Ibu tak perlu melakukan semua ini. Ibu kan tamu, kalau mau apa Ibu bisa minta saja sama Sri.” Aberlie merasa tak enak hati pada Nenek.


“Nyonya ngomong apa sih, Ibu tak merasa direpotkan kok, lagi pula Ibu sudah biasa seperti ini, pagi-pagi bangun untuk memasakan buat Ronggo sebelum dia berangkat kuliah. Oh iya, masakan sebentar lagi siap, entah Nyonya dan Tuan muda akan suka atau tidak, Ibu berharap masakan yang Ibu masak ini cocok untuk kalian. Ibu tak bisa memasak seperti masakan di restoran bintang lima, ini hanya masakan kampung saja, semoga kalian suka sama masakan Ibu yah,” ucap Nenek memberitahu.


“Kami tak pilih-pilih makanan kok, Bu. Hanya saja Mas Bram tak pernah memakan masakan orang selain masakan saya, semoga Mas Bram suka yah,” sahut Aberlie menghargai kerja keras Nenek.


“Biar saya bantu yah.” Aberlie membantu Nenek untuk menata makanan di atas meja.


Tak lama Bram datang sudah rapi dengan pakaian kantornya. Ia langsung duduk di kursi biasa tempatnya. Aberlie menyuguhkan jus strawbery untuk suami tercinta seperti biasa.

__ADS_1


“Tumben kamu masak banyak pagi ini, By?” tanya Bram yang bingung mengapa pagi ini meja makan terlihat penuh, biasanya hanya akan ada susu, jus dan juga roti isi.


“Neneknya Ronggo yang masak semua ini, Dear. Jadi hari ini aku tak akan masak karena sebagian nanti aku akan bawakan untuk kamu makan siang. Eits kamu tak boleh menolaknya, tak perlu datang untuk makan siang, siang nanti oke,” sahut Aberlie yang tak bisa dibantah oleh Bram.


Bram memang pengusaha kaya raya, tapi ia juga tak bisa membantah perkataan istri tercintanya itu.


Tak lama Davina dan Ronggo datang, Nenek pun juga sudah selesai membereskan bekas masaknya yang dibantu oleh Sri.


“Maaf Tuan muda, Nyonya muda saya terlambat,” ucap Ronggo yang baru datang merasa tak enak karena ia datang terlambat dari tuan rumah.


“Hm.” Bram hanya ber hm ria saja.


“Tak perlu sungkan, lagi pula Nenek kamu sudah membantu saya masak,” ucap Aberlie ramah.


Tak lama datang pula keluarga kecil Haris dan Riris yang ikut bergabung dengan mereka di meja makan. Mereka sarapan bersama dengan sesekali mengobrol. Aberlie tak pernah lupa melayani suami tercintanya saat di meja makan.


“Cicipilah, ini enak loh, aku suda mencicipinya tadi.” Aberlie menyuguhkan nasi uduk beserta teman-temannya di dalam piring Bram.


Bram memakan tanpa membantah.


“Bagaimana? Enak kan?” tanya Aberlie kembali.


“Enak,” sahut Bram sambil menganggukkan kepalanya.


“Hanya enak saja?” tanya Aberlie kembali dan Bram meliriknya penuh makna tapi Aberlie hanya nyengir kuda saja.


‘Awas saja nanti kamu yah, By. Aku tak akan melepaskanmu ketika kita berdua nanti,’ batin Bram.


‘Apa yang mau kau lakukan, Dear? Apa pun itu aku akan menerima tantanganmu, hihi,’ batin Aberlie, mereka seakan berkomunikasi melalui telepati.


*****


Maaf yah beberapa hari gak up soalnya lagi fokus ke pf F 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2