
Dan mengantar Davina sesuai dengan janjinya menggunakan motor gedenya. Para wanita yang melihat hal tersebut sungguh sangat mengiri melihat pria tampan berkacamata calon dokter anak membonceng gadis tomboi yang tak terlihat femininnya sama sekali.
“Mau mampir dulu?” tanya Davina.
“Boleh, tapi traktir gua minum,” sahut Dan bergurau.
“Dah tenang saja, kayak sama siapa saja deh, aku traktir makan sekalian,” ucap Davina yang memang selalu royal terhadap teman-temannya.
Keduanya masuk disambut oleh Putri yang celingukan mencari seseorang yang selalu bersama dengan putri bosnya tersebut.
“Gak usah dicariin, dia gak datang,” seru Davina yang paham dengan siapa yang sedang dicari pelayan Cafe Mamahnya tersebut, Putri yang tertangkap basah karena ketahuan mencari Boy langsung merona wajahnya.
“Kamu mau minum apa? Coffe latte atau minuman lainnya?” tanya Davina pada Dan yang sudah duduk di meja tak jauh dari meja kasir.
“Ice coffe latte saja,” sahutnya sambil memainkan ponselnya.
Davina berjalan menuju meja barista menghampiri Kevin yang tengah membuat minuman untuk customer.
“Om, buatkan ice coffe latte untuk Dan yah, aku mau ke dapur dulu,” ucap Davina meminta Kevin untuk membuatkan Dan minuman.
“Oke.”
Davina berjalan menuju dapur, terlihat sangat sibuk di dapur karena Cafe memang sedang dalam keadaan rame.
"Mas Satria, buatin makanan doang untukku dan Dan,” pinta Davina dengan nada lembut agar Satria mau membuatkan makanan untuknya dan juga Dan.
“Di sana ada makanan, kamu bisa bawa itu untuk kamu makan bersama dengan Dan, aku sedang sibuk tak bisa untuk membuatkan kamu makanan, tapi sebaiknya kamu cepat karena sedang ramai pengunjung,” sahut Satria dengan nada khasnya yang datar dan juga tanpa melihat pada lawan bicaranya seperti biasa.
‘Cih, memangnya apa yang istimewa dari si kanebo kering ini sih sampai si Riris tergila-gila sama nih manusia kaku, menang tampang ganteng ajah kalo sikapnya kayak kanebo kering siapa yang mau naksir coba,’ gerutu Davina dalam hati.
__ADS_1
“Jangan mengumpatiku dalam hati, cepat makan setelah itu bantu di dapur,” seru Satria seakan tahu apa yang dipikirkan Davina.
‘Eh buset, nih orang bisa baca pikiranku kali yah,’ rutuknya kembali dalam hati.
“PD banget sih Mas Satria ini, siapa juga yang mengumpati, Mas Satria. Huh dasar, selain kaku kayak kanebo kering ternyata memiliki sikap PD yang tingkat akut juga yah.” Davina terus saja menggerutu sambil menuju rak piring untuk mengambil makanan untuknya dan juga untuk Dan. Setelahnya ia berjalan keluar meninggalkan dapur untuk makan bersama dengan Dan.
“Kamu ngoceh mulu kenapa sih?” tanya Dan yang sedari tadi memperhatikan Davina yang keluar dari dapur sambil menggerutu.
“Biasalah, calon kesayangan si Riris, kalo ketemu aku udah kayak lihat apa saja bawaannya ngegas mulu udah kayak bajai orange ajah,” sahut Davina yang menikmati makanannya, ia sudah sangat lapar sekali.
“Naksir kali dia sama kamu,” celetuk Dan seketika membuat Davina tersedak, Dan segera mengambilkan minuman untuk sahabatnya itu.
“Pelan-pelan makanya kalau makan, bisa-bisanya makan sampai tersedak, sudah seperti anak kecil saja,” tanpa sadar Dan menasihati sahabatnya itu.
“Kamu yang buat aku tersedak, tahu,” ketus Davina setelah ia rasa sedikit lega pada dadanya.
“Lah kok aku, kan aku hanya mengatakan kalau Mas Satria mungkin naksir sama kamu,” ucap Dan yang tak ingin disalahi.
“Jangan seperti itu, nanti malah kamu beneran naksir loh, kan ada yang bilang jika benci bisa menjadi cinta karena benci itu singkatan dari benar-benar cinta, hehe,” ucap Dan terkekeh dan seketika mendapat pukulan dari Davina di lengannya.
“Aku masih waras jika untuk menyukai manusia kaku macam dia itu, hanya Riris saja yang matanya sudah tak normal yang menyukai dia, tidak denganku,” serunya yang kesal memukul lengan Dan.
“Aw, sakit tahu. Lagian aku hanya bercanda pun kamu sudah emosi begitu, nanti jadi nyata beneran baru tahu rasa kamu,” pekik Dan masih terus menggoda sahabatnya.
“Jangan suka ngawur kalo ngomong,” lagi, satu pukulan mendarat di lengan Dan, seketika Dan langsung mengusap lengannya karena merasa pukulan tersebut perih serta panas.
“Ih kamu tuh tangan enak banget dah kalo mukul, udah kayak mukul samsak tinju ajah, sakit tahu,” pekik Dan menggerutu.
“Habis kamunya rese banget, aku doain kamu nanti dapat janda beranak satu baru tahu rasa,” sahut Davina mendoakan sahabatnya itu agar mendapatkan janda.
__ADS_1
“Biarkan, lagian janda lebih menggoda dari kamu yang tomboi dan gak enak dipandang,” sahut Dan yang mengamini doa sahabatnya itu.
“Sudah ah, aku mau mulai bantu yang lainnya, atau nanti tuh si manusia kaku bakalan ngedumel lagi kalo tahu aku mengobrol dan bersantai terus sama kamu.” Davina bangun dan membawa piring bekas dia berdua makan.
“Aku pulang yah, apa kamu mau aku tungguin sampai pulang kerja?” tanya Dan yang masih menikmati minumannya setelah makan.
“Terserah kamu saja. Bye, aku kerja dulu.” Davina berlalu sambil melambaikan sebelah tangannya menuju dapur.
Dan akhirnya memutuskan untuk pergi menemui Boy di apartemennya dan berencana ikut having fun dengan pria tengil yang suka nongkrong di Bar itu. Lagi pula pulang pun akan membuatnya bosan di apartemen sendirian. Dan dan Boy sudah tak tinggal satu rumah dengan orang tua mereka, keduanya memilih untuk mandiri dan tinggal di apartemen.
Davina mulai dengan pekerjaannya sebagai pelayan di Cafe milik Mamahnya. Dengan cekatan ia mengantar pesanan para customer dari meja kemeja hingga malam menjelang. Aberlie yang melihat putrinya bekerja dengan semangat hanya tersenyum senang karena putrinya mandiri dan tak pernah menyusahkannya.
“Dia selalu ceria dan tersenyum ke setiap customer saat sedang mengantar pesanan pelanggan,” ucap Ashana membuyarkan lamunan Aberlie yang sedang melihat pada putrinya.
“Hm, berbeda dengan Vano yang selalu memasang wajah dingin pada semua orang selain keluarganya sendiri. Aku penasaran, kira-kira wanita mana yang nantinya akan mampu meluluhkan gunung es dalam hatinya itu, kadang aku berpikir mengapa dia sangat mirip dengan Daddynya,” sahut Aberlie terkekeh mengingat sifat suami dan sikap putranya yang sangat dingin pada orang lain kecuali pada keluarganya.
“Aku yakin jika suatu saat nanti akan ada gadis yang mampu mencairkan si gunung es itu, kita tinggal tunggu saja waktunya nanti, apalagi dia pewaris tunggal keluarga Hanoraga, pasti akan banyak wanita yang mengantrinya,” ucap Ashana yang sangat terkagum dengan putra bosnya itu.
“Wanita pasti akan mengantri karena dia pewaris kerajaan bisnis berlian terbesar di kota ini, tapi yang menjadi pertanyaanku, apakah dia akan mendapatkan wanita yang mencintainya karena dirinya dan bukan karena hartanya,” ucap Aberlie yang sebenarnya sangat khawatir dengan wanita yang akan didapat oleh putranya.
“Dia adalah tipe pria yang melankolis, jadi tak akan mungkin mendapatkan wanita yang sembarangan. Setidaknya dia akan menginginkan wanita yang sempurna menurut standarnya,” ucap Ashana yang sangat paham benar dengan sikap dan sifat anak bosnya itu.
“Yah, kamu benar, dia tak mungkin akan mudah tergoda dengan sembarang wanita.”
...
Salam hangat dariku
Tetap somplak dan jangan waras
__ADS_1
Hai, like, komen, vite dan hadiahnya jangan lupa yah. Fav juga biar selalu dapat notif updatenya🙏😊