
“Kapan kamu akan siap menggantikan Daddy? Adikmu saja sudah menggantikan Mamahmu selama satu tahu,” tanya Bram, saat ini anak dan ayah itu sedang berada diruang kerja Bram.
“Kapan Daddy siap untuk menyerahkan perusahaan Daddy padaku?” Devano bertanya balik membuat Bram tertawa.
“Hahaha, kamu memang putraku. Datanglah ke perusahaan besok, pelajari seluruhnya tentang perusahaan, setelah kau menguasainya mala Daddy akan menyerahkan semuanya padamu,” pinta Bram.
“Oke, aku akan mempelajarinya dalam waktu satu bulan, setelah itu aku ingin Daddy menyerahkan semuanya padaku agar aku yang menangani semuanya sebagai Presdir yang baru.” Devano menyanggupi titah Daddynya, ia malah menantang dirinya sendiri dengan waktu satu bulan.
“Baiklah, satu bulan Daddy akan menunggumu, jangan sampai mengecewakan Daddy.”
Esok paginya Devano sudah siap untuk mulai beraktivitas dikantor sang Daddy, ia terlihat sangat tampan mengenakan setelan kemeja dan rompi berwarna serba gelap, Devano memang menyukai warna yang gelap.
“Morning, Mah, Dad.” Devano mencium pipi kedua orang tuanya.
“Morning, Sayang. Kamu sudah tampan, memang sudah tak lelah?” tanya Aberlie yang melihat putranya sudah rapi siap untuk ke kantor bersama sang Daddy.
“Aku sudah harus menggantikan Daddyku yang sudah tua ini, Mam. Kasihan dia, sudah bukan waktunya lagi memimpin perusahaan, pria tua ini seharusnya jalan-jalan berkeliling dunia bersama dengan istrinya. Biarkan aku, generasi muda yang menggantikannya, akan kubuat lebih sukses lagi Emerald Jawelry Group ditanganku,” sahut Devano dengan penuh percaya dirinya.
“Hei, aku belum setua itu sampai harus segera lengser dari jabatanku,” ketus Bram tak terima dikatakan tua oleh putranya.
“Haha, Daddy memang tidak tua, tapi old.” Davina yang baru datang langsung menimpali.
“Putriku kalau sudah bertemu dengan kembarannya memang suka sekali membuatku kesal,” gerutu Bram.
“Ouh Daddy, Daddy kalau merajuk tambah tampan dan berkarisma, Vina jadi semakin menyayangi Daddy. Muah ... muah.” Davina langsung memeluk Bram dari belakang dan memberikan ciuman sayang di kedua pipi Bram.
__ADS_1
“Putrimu memang pandai sekali merayu, By seperti kamu. Selalu saja membuatku luluh dan tak bisa marah padanya.”
“Yah karena aku Ibunya, makanya dia sama sepertimu. Seperti Vano yang juga sama sepertimu begitulah aku dan Vina. Sudah cepat sarapan, nanti keburu siang dan jalanan akan macet,” sahut Aberlie beralih menyuruh mereka untuk cepat sarapan.
Mereka pun sarapan dengan sesekali mengobrol sesuatu tak mempedulikan waktu yang terus berjalan.
Sekitar jam delapan, mereka selesai sarapan dan Aberlie hanya bisa menganggukkan kepalanya.
“Kalian ini tak melihat sudah jam berapa,” protes Aberlie.
“Aku Bosnya, jadi siapa yang akan keberatan,” dengan kompak Bram dan Davina berucap membuat Aberlie dan Devano saling pandang.
“Tak ada yang akan keberatan dengan kalian, tapi setidaknya beri contoh yang baik untuk karyawan kalian. Sudah sana berangkat, dan kamu,” tunjuk Aberlie pada putrinya. “Lihat, kasihan Ronggo sudah menunggu lama,” kini beralih pada Ronggo yang memang sudah menunggu di atas motornya, ketiganya kompak menoleh pada Ronggo membuat pria itu mengedip-ngedipkan matanya bingung.
Krik... krik... krik...
Mungkin itu yang dipikirkan oleh Ronggo saat ini yang tak mengetahui apa-apa tapi tiba-tiba saja Aberlie menunjuk dirinya, dan yang paling membuatnya bingung Bram, Devano dan Davina langsung menoleh pada dirinya secara serempak seperti barisan paskibra.
“Pagi, Tuan muda, Nyonya dan Kak Vano,” dengan senyum yang dipaksakan Ronggo menyapa mereka.
“Hm, pagi,” sahut Bram dengan ekspresi seperti biasa, cuek dan dingin, ia langsung masuk ke dalam mobil mewahnya, entah bagaimana perasaannya sebenarnya saat ini.
“Pagi calon Adik ipar. Jaga Adik tomboiku baik-baik yah, jangan sampai terluka, lecet sedikit saja maka kau akan menanggung akibatnya.” Devano memegang kedua pundak Davina dari belakang sambil menatap lekat pada Ronggo, Ronggo seketika bergidik ngeri mendengar apa yang dikatakan oleh Devano.
“Ba-baik Kak Vano,” sahut Ronggo dengan nada terbata-bata.
__ADS_1
“Hahaha, kau lucu sekali yah. Tenang saja, aku tak akan berbuat yang macam-macam pada pria yang disukai Adikku asalkan dia baik padanya. Sudah, aku pergi dulu yah, atau singa tua akan mengoceh,” gelak tawa Devano membuat Ronggo lega.
“Hei, siapa yang kau sebut singa tua?” seru Bram dari dalam mobil karena mendengar dirinya disinggung.
“Hahaha, tidak Daddy. Tak ada yang menyebutmu singa tua. Sudah, ayu kita berangkat atau akan keburu siang.” Devano langsung naik ke dalam mobil dan duduk di samping daddynya, tak lama mobil pergi meninggalkan mansion setelah berpamitan pada Aberlie.
Aberlie yang melihat mereka memijat keningnya.
“Maafkan mereka yah, Ronggo. Maklumi saja, dua pria gunung es itu kalau dengan keluarga sendiri pasti bagaikan pelawak, terkadang saya pun bingung mereka itu gunung es atau pelawak,” ucap Aberlie yang dibuat pusing oleh kedua pria gunung es yang selalu mencair jika berkumpul bersama dengan keluarganya.
“Tak perlu sungkan seperti itu, Nyonya. Saya senang kok Kak Vano tak menganggap saya orang asing, padahal baru saja bertemu kemarin tapi seperti sudah kenal lama,” sahut Ronggo bijak.
“Ya sudah, kita berangkat dulu, Mah. Sudah siang,” pamit Davina menengahi agar mereka tak melanjutkan berbincang rianya.
...
Dikantor, Bram langsung menyuruh Haris dan Aron untuk mengumpulkan seluruh karyawan agar mereka berkumpul diruang rapat.
“Apakah perlu pengenalan formal seperti ini, Dad?” tanya Devano yang memang tak menyukai banyak orang yang mengenalnya dengan sengaja, ia lebih menyukai orang mengenalnya dengan cara misterius.
“Tentu, kau adalah pewarisku jadi sudah sewajarnya mereka mengenalmu terlebih dulu. Daddy akan melihat kinerja kamu terlebih dulu dalam waktu satu bulan, kalau memuaskan maka Daddy akan langsung menyerahkan posisi Daddy padamu,” sahut Bram yang ingin melihat seperti apa putranya bekerja.
“Oke, tapi Daddy, dalam waktu sebulan juga aku akan menyingkirkan hama yang bersarang di perusahaan, jadi jika aku menghukum dan memecat lintah darat dengan tanpa ampun dan juga tanpa hormat Daddy tak boleh ikut campur. Perusahaan ini nantinya akan berada di bawah peraturanku, jadi Daddy hanya perlu melihat kinerjaku saja, jangan ikut turun tangan. Oke Pak tua,” ucap Devano menyampaikan cara kerjanya sendiri.
“Baiklah, Daddy akan serahkan semuanya padamu. Apakah kamu memerlukan asisten?” tanya Bram kembali.
__ADS_1
“Aku sudah memiliki orangku sendiri, jadi Daddy tak perlu repot-repot mencarikan orang untuk melayaniku. Nantinya akan ada beberapa orang yang aku ganti dengan orang-orangku,” sahut Devano memberitahu kalau dirinya memiliki orangnya sendiri.
“Tak salah memang, sikap tegasmu benar-benar membuat Daddy merasa yakin untuk menyerahkan perusahaan ini padamu. Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan selagi itu untuk perkembangan perusahaan menjadi lebih baik lagi, Daddy tak akan ikut campur dengan sistem peraturanmu kelak.” Bram merasa bangga dengan apa yang dikatakan oleh putranya.