Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)

Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)
BAB 12


__ADS_3

“Huh dasar cowok nyebelin, awas saja kamu nanti yah, aku bakal buat kamu cinta mati sama aku,” gerutu Davina sambil berjalan masuk ke dalam Cafe menuju meja kasir.


“Kamu kenapa, Sayang? Kok wajahnya kusut begitu dan juga pakai ngomel-ngomel,” tanya Aberlie yang bingung sekaligus penasaran tak biasanya putrinya yang tomboi juga tengil itu menekuk wajahnya dan menggerutu, Ashana yang juga melihat kedatangan Davina hanya menganggukkan kepalanya ingin tahu.


“Ada cowok nyebelin yang sok jual mahal sama aku, Mah, Tan,” sahut Davina yang sudah duduk di kursi dengan wajah masih kesalnya. Aberlie dan Ashana tersenyum saling lirik mendengar jawaban dari gadis tomboi itu.


“Wah, cowok mana yang berani bersikap sok jual mahal sama putri konglomerat yah, berani sekali dia,” goda Aberlie mengedipkan sebelah matanya pada Ashana sambil tersenyum nakal.


“Iya, Mbak. Berani sekali cowok itu bersikap sok jual mahal sama gadis kita ini.” Ashana mengikuti alur drama yang dibuat oleh bosnya itu.


“Au ah, lihat saja nanti aku akan buat dia bertekuk lutut dan bucin sama aku, huh seenaknya saja dia berkata kalau aku tak boleh menyukainya dan menganggapku gadis matre, memangnya aku tak memiliki pekerjaan dan penghasilan apa, gini-gini juga aku memiliki pekerjaan dan penghasilan meski bekerja di Cafe Mamahku sendiri.” Davina yang tanpa sadar sedang digoda oleh dua wanita cantik itu pun melanjutkan omelannya yang membuatnya geram kala mengingat perkataan Ronggo untuk jangan menyukainya karena takut kecewa kalau ia meminta sesuatu tapi Ronggo tak bisa memberinya.


“Kalau begitu kamu harus buktikan kalau kamu itu tak seperti itu, kamu harus membuktikan kalau kamu memiliki penghasilan kamu sendiri dan bisa membeli apa yang kamu mau tanpa meminta padanya, buat dia bertekuk lutut di hadapanmu dan memohon cinta padamu, Sayang. Enak saja kamu dianggap matre olehnya, Mamah tak terima gadis tomboi Mamah yang cantik ini dibilang matre, dia tak tahu siapa orang tua kamu,” sambung Aberlie mencoba memanasi putri tomboinya dengan nada yang dibuat kesal agar terkesan kalau dirinya membela putrinya itu.


“Iya betul, Mah. Aku harus membuatnya jatuh cinta sama aku. Apa! Oh my good, kenapa aku malah jadi curhat dan kasih tahu sama Mamah dan Tante Ana sih, pasti kalian yang macing-mancing aku deh,” sahut Davina bertekat membuat Ronggo menyukainya, tapi sepersekian detik kemudian ia tersadar kalau kedua wanita cantik tersebut sedang menggoda dirinya dan bermain drama, seketika Davina melihat pada keduanya tapi keduanya malah tersenyum tanpa bersalah sedikit pun.


“Tampan tidak dia? Sama Daddy dan Kak Vano tampan siapa?” Aberlie malah bertanya siapa yang lebih tampan, Ashana masih menyimak saja sambil menganggukkan kepala dan terkekeh.


“Kalau sama Om Rean gimana? Tampan siapa?” Ashana ikut bertanya membandingkan suaminya dengan Ronggo.


“Au ah, Mamah dan Tante Ana nyebelin banget deh, aku mau ke dapur saja, Mr. Kanebo pasti sudah menggerutu karena aku datang kesorean.” Davina langsung berlalu meninggalkan keduanya dan juga tasnya menuju dapur.


“Hei kamu, kenapa baru datang? Memang kamu tak lihat kalau sedang ramai apa?” ketus Satria yang langsung menyemprot Davina karena baru saja datang, Davina hanya memutar bola matanya malas.

__ADS_1


“Mr. Kanebo, jangan marah-marah mulu, nanti cepet tua dan kalau tua pasti cepet mati loh. Ini aku sudah datang, jadi tak perlu bersungut lagi oke, hati dan pikiranku sedang dalam keadaan tak baik-baik saja jadi jangan menambahkan kekesalan padaku lagi. Aku kerjakan pekerjaanku sekarang, meja nomor berapa ini.” Davina langsung mengambil nampan yang baru saja selesai di plating oleh Satria.


“Nomor lima belas,” sahut Satria singkat dan Davina pun langsung berlalu membawa nampan tersebut untuk diantar pada pemiliknya.


“Kenapa dia? Seperti habis putus cinta saja, tapi apa memang dia punya kekasih bisa putus cinta, dasar aneh datang-datang malah bersungut,” gumam Satria merasa tak sadar diri kalau ia juga bersikap seperti itu pada orang lain.


Davina mengerjakan pekerjaannya dengan diam tak seperti biasanya membuat Satria sangat penasaran. Tak seperti biasanya Satria pun merasa kepo dengan sikap Davina yang tiba-tiba saja berubah menjadi dingin. Biasanya gadis tomboi itu akan bersikap tengil dan banyak tingkah, tapi hari ini Davina terlihat dingin dan bagai tak tersentuh seperti Bram.


Malam menjelang, pekerjaan Davina pun selesai karena sudah tak ada lagi pengunjung yang datang. Semuanya bersiap untuk pulang ke kediamannya masing-masing tak terkecuali Davina. Setelah berganti pakaian ia sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil sang Daddy yang sudah datang menjemput dirinya dan juga Mamahnya.


“Are you oke, Honey? Kok kayaknya kamu terlihat kesal begitu,” tanya Bram yang seakan tahu kalau dirinya sedang kesal.


“Aku oke kok, Dad. Hanya lelah saja,” sahut Davina tak ingin Bram mengetahuinya.


“Jika kamu lelah, kamu bisa berhenti sebagai karyawan Mamah dan hanya fokus pada kuliah kamu saja, Honey. Daddy tak ingin putri Daddy terbebani dengan pekerjaan yang tak seharusnya kamu kerjakan,” ucap Bram dengan lembut pada putrinya itu, Bram yang dingin hanya akan bersikap lembut pada istri dan anak-anaknya saja, dengan orang lain ia akan bersikap dingin meski itu keluarganya sendiri.


“Baiklah kalau seperti itu, sampai rumah kamu langsung istirahat, jangan begadang,” pesan Bram yang menyuruh putrinya untuk beristirahat.


“Oke, Dad.”


Pembicaraan selesai ketika Aberlie datang dan mobil pun langsung melaju menuju mansion. Sampai di rumah, Davina langsung menuju kamarnya, ia ingin segera untuk mengistirahatkan tubuh, pikiran dan hatinya karena sepanjang pekerjaan dan perjalanannya ia selalu teringat dengan Ronggo. Aberlie yang melihat suaminya bingung dengan sikap Davina yang tak biasa langsung menjelaskan apa yang terjadi pada putrinya itu.


“Oh jadi dia sedang galau ceritanya,” ucap Bram yang sedang memeluk istri tercintanya itu, saat ini keduanya sudah berada di dalam kamar, lebih tepatnya di atas tempat tidur dengan posisi Aberlie berada dalam pelukan suaminya.

__ADS_1


“Yah seperti itulah yang terjadi pada putrimu.”


...


Di dalam kamar, Davina menelepon semua sahabatnya dengan panggilan video.


“Ada apa sih? Udah malem tau, aku ngantuk nih,” keluh Boy yang berkali-kali menguap.


“Kalian harus temenin aku begadang pokoknya, aku gak bisa tidur gara-gara galon nih,” ucap Davina yang tak mempedulikan Boy yang berkali-kali menguap karena sudah mengantuk.


“Yah tapi kamu kenapa? Gak biasanya galon sampe nyiksa orang begini suruh begadang, besok ada kelas pagi mana Dosennya Bu Siska lagi,” tanya Boy lagi yang memberitahu kalau besok mereka ada kelas pagi dengan Dosen yang mereka tak sukai.


“Eh iya, besok kelasnya Bu Siska yah, jangan sampe telat loh kalau gak bakalan kena hukum suruh nyatet materi sampe tangan pegel.” Riris menimpali dengan dramatisnya agar sahabatnya yang sedang galau itu mau mengakhiri panggilannya, Dan masih dalam posisi menyimak dan belum bersuara.


“Ih kalian itu gak punya simpati banget deh sama aku,” dengus Davina kesal karena dua sahabatnya tak ingin diajak berbagi kegalauannya.


Lah gimana mau diajak berbagi kegalauan, orang si Davina telepon mereka dalam keadaan mereka sudah berada di dalam mimpi dan juga jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam.


“Kalian berdua tidur saja, biar aku yang nemenin nih cewek tomboi curhat.” Dan memberi saran pada semuanya karena dia juga ternyata belum tidur.


“Dan kamu memang sepupu yang paling ter ter deh pokoknya. Oke Dan, Vin, aku caw dulu, udah ngantuk banget nih, lagi ngimpi eh kamu malah telepon.” Boy mematikan panggilannya setelah berucap tanpa menunggu Davina membuka suaranya.


“Dan, terima kasih banget yah, kamu memang penyelamat banget, pokoknya alapyu pul lah buat kamu, Vin aku tutup dulu yah, mau lanjutin mimpi, nanggung tadi.” Riris sang sepupu ikutan mematikan panggilan tersebut membuat Davina melongo sedangkan Dan hanya diam menahan senyumnya.

__ADS_1


“Ish, dasar mereka semua tuh,” gerutu Davina.


Davina akhirnya curhat dengan Dan malam itu hingga malam semakin larut dan tanpa terasa ia tertidur dengan sendirinya, Dan mematikan panggilan tersebut setelah memastikan sahabatnya itu terlelap dengan sangat pulas.


__ADS_2