Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)

Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)
BAB 32


__ADS_3

“Mas, temani aku makan yuk,” ajak Davina meminta Ronggo untuk menemaninya makan di Cafe milik sang mamah.


“Apa tak apa-apa kalau kamu mentraktir makan aku terus di Cafe ini? Walaupun kamu bekerja di sini tapi untuk makan enak seperti kemarin kamu pasti bayar? Tak mungkin kamu tak bayar kan?” Ronggo bukannya menjawab, ia malah bertanya balik.


“Gak apa-apa kok, kan bisa potong gaji. Ada yang mau aku bicarakan juga sama Mas Ronggo, ini penting banget,” sahut Davina mengatakan ada yang ingin ia bicarakan dengan pria pujaannya itu.


“Mau bicara apa? Kenapa pakai sungkan begitu sih? Biasanya juga kalau mau bicara kamu langsung ngomong ajah tanpa berpikir dulu, tapi kenapa sekarang kayak yang canggung begini?” tanya Ronggo yang bingung dengan sikap Davina sedari pagi.


“Kita bicarakan sambil makan ajah gimana?” ucap Davina mencoba bernegosiasi.


Ronggo bukannya menjawab, ia malah melajukan mobilnya kembali menuju suatu tempat membuat Davina bingung.


“Mas, kita mau ke mana?” tanya Davina bingung.


“Aku akan bawa kamu ke tempat yang bisa buat kamu nyaman bicara sama aku,” sahut Ronggo tanpa menoleh pada Davina yang duduk di sampingnya.


Tak lama mobil sudah berhenti di sebuah taman yang terlihat indah.


“Ayu turun.” Ronggo membuka pintu mobil dan keluar, Davina pun ikut turun dari mobil, ia berjalan mengikuti ke mana Ronggo melangkah.

__ADS_1


“Kamu duduk di sini dulu sebentar,” pinta Ronggo.


“Kamu mau ke mana?” tanya Davina tapi Ronggo tak menjawabnya, ia pergi meninggalkan Davina seorang diri.


Karena pria pujaannya pergi meninggalkannya, Davina memilih duduk di kursi panjang untuk menunggu pria itu kembali sesuai permintaannya. Tak lama Ronggo datang dengan membawa dua piring makanan ditangannya.


“Nih buat kamu, aku gak tau apalah kamu suka atau gak, tapi kalau kamu gak suka yah gak perlu dimakan.” Ronggo memberikan piring berisi makanan yang ia beli pada Davina.


“Suka kok, aku gak pernah menolak makanan pemberian orang lain, apalagi itu pemberian pria yang kusuka,” sahut Davina dengan senyum lebarnya.


‘Ternyata pria ini pergi untuk membelikanku batagor toh, hihi romantis sekali, yah kali aku gak suka secara yang belikan ajah pria yang kutaksir,’ batin Davina senang.


“Syukur deh kalau suka, biasanya cewek cantik gak bakalan mau kalau ditraktir makanan murah pinggir jalan begini,” ucap Ronggo memakan batagor miliknya.


“Percaya diri sekali kamu yah gadis tomboi. Sekarang, katakan apa yang mau kamu bicarakan padaku tadi,” tanya Ronggo seketika membuat Davina langsung teringat dengan apa yang ingin ia katakan, dirinya seketika menjadi gugup kala mengingat apa yang harus ia katakan.


“Mas, kalau ada yang membiayai kamu kuliah, apakah kamu bersedia buat kuliah?” tanya Davina dengan hati-hati agar Ronggo tak curiga.


“Siapa yang mau membiayai orang miskin sepertiku ini kuliah, lagian kamu itu tanyanya aneh ajah deh,” sahut Ronggo tak menganggap serius pertanyaan Davina.

__ADS_1


“Ada yang bersedia membiayai kamu kuliah, Mas. Asalkan dengan satu syarat,” ucap Davina membuat Ronggo langsing menoleh pada gadis tomboi yang sedang memakan batagor pemberian Ronggo.


“Kamu lagi ngimpi yah? Kamu gak lagi sembarangan bicara kan?” tanya Ronggo dengan wajah aneh penuh pertanyaan.


“Aku serius, aku tahu kalau kamu ingin melanjutkan kuliahmu, Mas. Kamu mau yah lanjut kuliah, syaratnya gampang kok,” sahut Davina mencoba meyakinkan pria yang ia sukai itu.


“Kamu jangan bercanda deh, siapa juga yang mau membiayai orang miskin sepertiku kuliah, kalaupun ada syaratnya paling ujung-ujungnya setelah sukses aku suruh membalikkan biaya yang kupakai untuk kuliah,” ucap Ronggo masih tak ingin mempercayainya.


“Kamu tuh pikirannya buruk ajah deh, aku ngomong serius juga kamunya begitu,” dengus Davina sedikit merajuk.


“Oke-oke, sekarang katakan padaku siapa yang mau membiayai aku kuliah, apa syaratnya dan apa alasannya dia mau membiayaiku kuliah?” tanya Ronggo mencoba mendengarkan apa yang ingin Davina katakan agar gadis tomboi yang sebenarnya sudah menggetarkan hatinya itu tak merajuk.


“Dia suami dari Bosku di Cafe, saat kamu datang ke Cafe kemarin dia sempat bertanya siapa kamu, tapi Riris dan Boy mengatakan pada Ibu kalau kamu adalah pria yang sedang kukejar. Lalu saat pulang, Ibu menceritakannya pada suaminya yang tak lain adalah Tuan muda Hanoraga, paman dari Riris. Entah bagaimana Tuan muda tertarik padamu dan mengatakan kalau dia ingin membiayaimu kuliah asalkan dengan syarat kamu harus rajin belajar dan sanggup meraih cita-citamu dan jangan mengecewakannya. Tuan muda juga yang membiayai kuliahku karena aku adalah putri dari pengurus rumahnya,” jelas Davina tanpa memberitahu kalau dirinya adalah putri dari Bram dan Aberlie.


“Kamu serius?” tanya Ronggo dengan wajah tak percaya.


“Serius, makanya aku tanya sama kamu, kamu mau melanjutkan kuliah untuk mencapai cita-citamu atau gak? Nanti kita bisa satu jurusan di kampus yang sama meski angkatan kita berbeda,” sahut Davina bertanya apa keputusan Ronggo.


“Tak bisakah aku memilih kampus yang biasa saja? Kampusmu terlalu mewah untuk aku yang miskin ini,” tanya Ronggo menginginkan kampus yang sederhana saja.

__ADS_1


“Tuan muda memintamu untuk berkuliah bersama denganku, lagian yang namanya kuliah itu semua sama ajah. Kalau kamu minder sama mereka, kamu bisa bergabung denganku dan teman-temanku saja setiap jam istirahat,” sahut Davina berdusta, karena sebenarnya Bram tak menargetkan di mana Ronggo berkuliah, hanya keinginan Davina saja agar ia bisa satu kampus dengan pria pujaannya. “Bagaimana? Apa kamu setuju?” tanya Davina kembali.


“Aku akan pikirkan dulu, besok akan kuberi jawabannya. Ayu, aku akan mengantarmu ke Cafe, kamu harus bekerja kan? Aku juga harus pergi jemput penumpang lagi,” sahut Ronggo meminta waktu untuk berpikir.


__ADS_2