Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)

Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)
BAB 36


__ADS_3

“Heh, kalian sudah lama menunggu.” Riris yang datang langsung merangkul sepupunya itu dan duduk di sampingnya, hal itu juga dilakukan oleh Boy pada Dan.


“Yah sekitar setengah jam lah, nanti aku pinjam catatanmu yah, ada tugas gak?” tanya Davina.


“Ada, nih.” Riris memberikan buku catatannya pada Davina.


“Kantin yuk, laper nih,” ajak Boy sambil mengusap perutnya yang sudah dangdutan.


“Ayu, tapi aku gak makan, udah makan tadi mau ke sini.”


Mereka pun pergi menuju kantin bersama karena sudah sangat lapar.


“Bagaimana misinya?” tanya Riris disela makannya.


“Beres pokoknya, Bokapmu yang akan mengurusnya. Doi juga bakalan kerja di tempat Mamah nantinya,” sahut Davina yang sedang menikmati minumannya.


“Wah, bakal ada yang semangat kerja nih nanti. Kayaknya bakalan susah diajak hangout nantinya nih, ada Doi yang nemenin kerja pasti bakalan milih Doi dari pada nongkrong bareng kita,” goda Riris.


“Gak gitu juga kali, Bucin. Yah kalo waktunya kuta nongkrong yah nongkrong lah, syukur kalo dia diajak mau yah cus ajak ajah lah, ajarin jadi anak nakal, hehe,” ucap Davina dengan senyum nakalnya.


“Parah kamu, Vin. Anak orang niat mau kamu ajarin nakal. Bagus deh, lanjotka pokoknya, hehe.” Boy menimpali dengan kekehan tengilnya.


“Astogel, kalian ini kadang-kadang yah, suka bikin seru ajah, aku mah ikut ajah dah pokoknya lanjot,” kini Dan yang menyumbang suara.


“Ish kalian ini bener-bener deh, bikin aku iri tau,” gerutu Riris.


“Makanya,” ucap Dan.


“Pakai ayam goreng,” sambung Boy dan mereka pun tertawa bersama karena sukses membuat Riris kesal.


“Ajaklah sekali-kali, pepet teros tuh Mr. Kanebo biar tunduk sama kamu. Masa kalah sama si Tomboi yang udah sedikit ada perkembangan,” ledek Boy memberikan saran.


“Nanti kalau dia mikir aku gadis gampangan gimana? Aku sih maunya begitu, pepet terus jangan kasih kendor, tapi kan kalian tahu sendiri dia tuh cueknya gak ketolongan lagi,” keluh Riris yang memang selalu tak pernah berhasil kalau mendekati Satria.

__ADS_1


“Biarin ajah dia mau mikir kek gimana, penting mah dia jadi milik kamu, dari pada nanti ke serobot sama pucuk daun teh, nangis bawang merah yang ada kamu,” ucap Boy menakuti sahabatnya itu.


“Ish kamu tuh, jahat banget sih pakai doain dia suruh kecantol pucuk teh. Huh kayaknya aku memang harus memulai serangan deh biar dia sedikit melirik padaku,” tekad Riris dengan mantap tapi entah hatinya semantap ucapannya atau tidak hanya Ririslah yang tahu.


Mereka mengobrol dengan seru sampai jam kelas berikutnya hampir dimulai. Semua anak-anak lampus sudah tak heran lagi dengan keseruan geng somplak yang memang selalu ramai kalau sudah berkumpul bersama.


...


Di tempat lain Ronggo yang baru selesai mengantar pelanggan memilih untuk istirahat sejenak dan mematikan aplikasi taksi onlinenya karena hari sebentar lagi akan sore dan ia harus menjemput Davina.


Saat Ronggo sedang menikmati es teh manisnya, datang wanita yang tak diharapkan dan tak ingin dilihatnya lagi. Wanita itu bernama Angel, wanita yang meninggalkan Ronggo pas lagi sayang-sayangnya demi pria yang lebih segalanya dari Ronggo. Udah kayak judul lagu ajah yah ditinggal pas sayang-sayangnya.


“Mau apa kamu ke sini? Aku sedang tak menerima orderan,” tanya Ronggo dengan nada ketus dan wajah dingin.


“Go, aku minta maaf oke, aku dan dia sudah tak ada hubungan apa pun lagi. Aku sudah meninggalkannya demi kamu, aku sadar kalau aku lebih mencintai kamu dari pada dia. Hanya kamu yang selalu mengerti aku, dia selalu egois dan tak bisa mengerti aku, dia jauh berbeda darimu, Go,” rengek wanita bernama Angel itu berharap Ronggo akan luluh.


“Heh, kamu bilang mencintaku? Kalau cinta gak dicampakkan demi uang, kalau cinta terima apa adanya, kalau cinta gak memandangnya sebelah mata dan kalau cinta gak bakalan membandingkannya dengan yang lebih memiliki kekuasaan. Kamu tahu sendiri kalau aku orang miskin dan hanya seorang sopir taksi online, tapi kamu berharap lebih bahkan berharap yang tak mungkin dariku. Maaf, cintaku sudah kuberikan untuk gadis lain yang lebih bisa menerimaku apa adanya, yang tak malu kalau diajak jalan dan makan di tempat sederhana. Jangan temui aku lagi dan anggap kita tak pernah saling kenal, aku tak ingin dia berpikir yang macam-macam padaku.” Ronggo bangkit hendak pergi untuk menjemput Davina.


Meski masih satu jam lagi dari jam pulangnya Davina, Ronggo lebih memilih untuk menunggunya di tempat biasa dari pada menunggu dengan diganggu oleh wanita yang amat ia benci.


“Jaga perilakumu, jangan sembarangan memeluk pria kalau kamu tak ingin direndahkan.” Ronggo pergi setelah berucap demikian meninggalkan Angel.


Angel yang ditinggal begitu saja oleh Ronggo tak kehabisan akal. Ia mengikuti mobil Ronggo dengan menggunakan ojek yang sedang mangkal tak jauh dari dirinya berdiri.


“Mau ke mana kamu, Ronggo. Aku tak akan melepaskanmu, kamu hanya milikku seorang,” gumam Angel dengan senyum liciknya.


Tak lama mobil yang dikendarai Ronggo berhenti di tempat biasa ia menunggu Davina. Masih ada waktu sekitar lima belas menit lagi, ia memutuskan untuk menunggu di luar di depan mobil. Entah mengapa ia sangat ingin menunggu Davina di luar, biasanya ia akan menunggunya di dalam mobil dengan membaca novel online atau dengan tidur sejenak.


...


Di dalam kelas, Davina yang sudah selesai dengan kelasnya sedang membereskan bukunya.


“Mau pada ke Cafe gak?” tanya Davina.

__ADS_1


“Aku ikut deh, Vin,” ucap Riris yang sudah selesai membereskan bukunya.


Mereka anak orang terpandang, tapi kuliah tak seperti mahasiswi lainnya yang isi tasnya kebanyakan hanya make up saja. Davina dan Riris lebih mementingkan buku ketimbang alat make up. Kedua gadis tengil itu tak tertarik untuk berpenampilan ala wanita modis yang banyak gaya tapi ternyata dompetnya kosong, begitu juga dengan Boy dan Dan.


“Aku gak deh, mau ke rumah sakit Bokap, tadi Bokap chat suruh ke sana.” Boy memberitahu kalau ia tak bisa ikut lantaran sang papah menyuruhnya untuk datang ke rumah sakit.


“Oke deh, kuy lah, Abang sopir ganteng gua udah nungguin pasti.”


Mereka keluar kelas bersamaan, Dan sudah menunggu di depan dengan gaya khasnya yang terlihat sangat cool sambil membaca buku. Kacamatanya menambahkan kesan tampan membuat setiap gadis yang melihatnya sangat terpesona.


Bagi yang tak tahu, mereka akan mengira Dan adalah pria yang dingin dan juga sombong, padahal mah dia sama tengilnya seperti ketiga sahabat somplaknya.


“Om nyuruh kita k rumah sakit, Boy,” ucap Dan saat ketiga sahabatnya sudah berada di dekatnya.


“Iya, dia juga chat aku tadi, yuk lah otw, mereka mau ke Cafe kita duluan,” sahut Boy mengajak Dan untuk duluan.


“Kita duluan yah, Vin, Ris,” pamit Dan pada kedua gadis cantik itu.


“Oke.”


Davina dan Riris berjalan menuju tempat di mana Ronggo sudah menunggu. Terlihat Ronggo sedang menunggunya dengan bersandar di pintu mobil dengan gagahnya membuat Davina seketika langsung meleleh hatinya.


“Tumben amat Doi nunggu di luar, biasanya juga di dalem mobil,” ucap Riris yang merasa bingung.


“Entahlah, lagi sedikit rada kali, hehe,” sahut Davina terkekeh.


“Emangnya kamu mau dia begitu?”


“Yah gak lah, enak ajah, ayang keren gua ganteng gitu masa rada sih.”


“Makanya.”


“Sama ayam goreng.”

__ADS_1


“Hahaha.” Keduanya tertawa terbahak-bahak dengan obrolan mereka.


Namun, sepersekian detik kemudian tawa itu terhenti berubah menjadi tatapan kesal dan marah untuk Davina saat melihat ke arah Ronggo.


__ADS_2