
“Ganti pakaianmu, aku tak ingin orang mengira aku memperkerjakan pelayan di bawah umur.” Satria pergi setelah berucap demikian, tentu saja hal itu membuat Riris terkejut sekaligus senang.
Riris tak membuang kesempatan, ia langsung bergegas untuk mengganti seragamnya. Setelah selesai dengan pakaiannya, ia bersiap untuk menghampiri Satria yang sedang menunggunya.
“Vin, Mas Ronggo, aku pulang duluan yah. Semuanya aku pulang duluan, bye.” Riris berpamitan pada sahabat dan juga karyawan Cafe lainnya.
“Oke.”
Riris pergi meninggalkan Cafe setelah berpamitan. Di luar Cafe, terlihat Satria yang ternyata masih menunggunya sambil duduk gagah di motor Ninja miliknya dan memainkan benda pipih di tangannya.
“Hai, Mas. Maaf yah lama,” sapa Riris dengan binar wajah yang begitu senang, Satria tak menjawabnya, ia menaiki motornya dan menyalakannya.
“Nih pakai.” Satria memberikan helm pada Riris.
“Wah, Mas Satria bahkan sudah menyiapkan helm untukku. Makasih, Mas,” seru Riris kegirangan karena ternyata Satria sudah menyiapkan helm untuk dirinya.
“Jangan GR dulu, aku pinjam helm Cafe,” alibi Satria.
Cafe memang selalu menyiapkan kebutuhan lain untuk karyawannya seperti helm, payung dan jas hujan karena takut-takut karyawannya membutuhkan maka mereka bisa meminjamnya terlebih dulu dan esok bisa dikembalikan.
“Apa pun alasan Mas Satria, sekali lagi makasih. Ayu pulang,” ajak Riris yang sudah naik ke motor milik Satria, tangannya berpegangan pada pinggang pria dingin itu membuat Satria sedikit gugup, pasalnya ia baru kali ini membonceng seorang gadis di motornya.
Motor melaju meninggalkan Cafe. Sementara Davina dan Ronggo juga sudah pulang begitu juga Aberlie yang dijemput oleh Bram. Meski ada Davina dan Ronggo, Bram tetap akan menjemput sang istri tercinta, bagi Bram itu adalah waktu berharganya untuk berduaan dengan istrinya.
...
Weekend tiba, selesainya Davina, Ronggo dan juga Riris dengan pekerjaannya mereka langsung bersiap karena kedua sahabatnya sudah menunggu.
“Cus gaes, malam ini kita hangout sampe pagi,” seru Riris yang sudah tak sabar ingin segera pergi ke Green Sky.
“Hei, aku tak setuju,” ucap Ronggo yang tak menyetujui keinginan Riris.
__ADS_1
“Gak sampe pagi matahari terbit juga kali, Mas Ronggo. Paling juga jam tiga atau jam empat kita sudah pulang,” sahut Riris.
“Jam dua belas kita pulang,” ucap Ronggo kembali membuat geng somplak terkejut melongo berjamaah.
“What! Jam dua belas? Mas, gak salah nyuruh kita pulang jam dua belas? Itu mah masih sore Mas, gak jam dua belas juga kali,” protes Riris tak terima kalau mereka harus pulang jam dua belas malam, Davina dan dua pria tampan sahabatnya hanya bisa terkekeh.
“Terserah kalian mau pulang jam berapa, tapi aku akan bawa pulang Vina jam dua belas,” ucap Ronggo tak bisa diganggu gugat.
“Ish gak asyik banget sih, masa jam dua belas udah pulang.”
“Jadi gak nih? Kalau gak jadi saya mau bawa Vina pulang.”
“Iya-iya, kalian pulang jam dua belas saja, aku dan yang lain akan pulang seperti biasa,” akhirnya Riris mengalah karena ia tahi kalau sepupunya itu tak akan bersuara untuk membela dirinya.
Mereka akhirnya pergi menuju Green Sky tempat di mana mereka sering nongrong have fun melepas penat dengan karaokean bersama. Meski Bar, mereka tak menyentuh bir sama sekali untuk saat ini, karena mereka menyadari status mereka yang masih sebagai mahasiswa dan mahasiswi.
Mobil berhenti di area parkir, mereka keluar dari mobil dan menuju Bar berkedok Cafe tersebut. Ronggo yang baru pertama kali datang merasa sangat terkejut dibuatnya saat ia memasuki pintu menuju Bar.
“Yah, ini Green Sky. Sekarang kamu percaya kan, Mas?” sahut Davina.
Boy pelanggan tetap yang setia memesan ruangan VIP yang biasa ia gunakan dengan teman-temannya. Setelah selesai, mereka langsung menuju ruangan tersebut untuk bersenang-senang. Mereka bernyanyi dan berjoget bersama dengan begitu bahagianya melepaskan penat yang bersarang diotak dan dirinya.
“Sudah jam dua belas, ayu pulang,” bisik Ronggo setelah ia melihat jam di ponselnya, Davina hanya menganggukkan kepalanya tak berani menolak karena takut Ronggo akan marah.
“Gaes, kalian have fun ajah yah, aku pulang dulu, tenang ajah semua aku yang bayar kok,” pamit Davina pada sahabatnya yang masih pada asyik bernyanyi.
“Oke, thanks yah, Baby.”
Davina dan Ronggo keluar dari ruangan tersebut.
“Kita kebagian kasir dulu yah buat tanya berapa biayanya,” ucap Davina sebelum pulang.
__ADS_1
“Biar aku yang bayar,” dengan gentlenya Ronggo kekeh ingin membayarnya, Davina hanya terkekeh dan berencana untuk membiarkan Ronggo tahu dengan sendirinya.
“Mbak, billnya yah, tapi ruangannya masih dipakai yah sampai jam lima,” pinta Davina pada sang kasir.
“Ruangan VIP atas nama Tuan Boy, yah Mbak.”
“Betul, Mbak.”
“Totalnya jadi tiga juta lima ratus. Mau cash, credit atau debit?” ucap sang kasir bertanya.
Ronggo seketika melongo karena ia tak menyangka hanya seperti itu saja menghabiskan nominal yang menurutnya banyak sekali. Davina melirik pada pria pujaannya itu dengan senyum geli. Ia bukannya mau mengejek prianya, tapi ia teringat bagaimana Ronggo selalu antusias dan kekeh ingin membayar.
“Pakai ini yah, Mbak.” Davina memberikan Gold card pada kasir membuat mata Ronggo terbelalak, ia merasa minder karena dirinya merasa tak ada apa-apanya.
Setelah membayar, mereka pergi meninggalkan Green Sky. Di dalam mobil, Ronggo diam membisu seribu bahasa karena merasa dirinya minder bersanding dengan Davina.
“Maaf yah, niatnya aku yang mau bayar eh malah kamu yang bayar,” ucap Ronggo setelah keheningan berlalu.
“Untuk apa meminta maaf, aku bukan gadis matre yang apa-apa harus dibiayai oleh pria. Tak perlu merasa sungkan begitu, toh lagi pula bukan kamu yang memaksa melainkan aku uang ingin untuk membayarnya,” sahut Davina.
Mobil berhenti di depan mansion tapi mereka tak segera keluar.
“Aku merasa minder bersanding denganmu,” ucapnya menundukkan kepala.
Davina meraih tangan Ronggo dan menggenggamnya erat.
“Lihat aku, Mas.”
Ronggo menoleh pada sosok wanita cantik bak bidadari meski berpenampilan tomboi.
“Jangan berbicara seperti itu lagi, kedudukan tak menjamin kita akan hidup bahagia. Aku cinta sama kamu, jadi jangan merasa minder berada disisiku,” ucap Davina dengan senyum manis merekah di bibirnya.
__ADS_1
Tatapan mereka saling bertemu, senyum Davina membuat Ronggo ingin menyesap madu yang bersarang di dalamnya dan merasakan apalah madu itu sudah siap panen atau belum. Perlahan kepala mereka semakin mendekat dan akhirnya untuk pertama kalinya mereka merasakan ciuman hangat dari satu sama lain.