
Hari-hari berlalu dengan indah, minggu berganti begitu juga dengan bulan. Kini Ronggo sudah memulai harinya sebagai seorang mahasiswa tingkat awal di kampus elit ternama tempat di mana Dania berkuliah. Sudah seminggu lamanya Ronggo berstatus sebagai seorang mahasiswa, geng somplak selalu menemaninya dan mereka menjadi sangat akrab dalam waktu singkat.
“Hei, kalian sudah beberapa bulan dekat tapi belum ada traktiran, kapan kalian akan mentraktir kita?” tanya Boy saat mereka sedang berkumpul di kantin saat sedang menikmati santapan siangnya.
“Iya nih, aku juga masih menunggu loh. Kan dulu waktu pertama aku sudah mengajak ke Green Sky buat ngumpul bersama, kita bisa karaokean di sana.” Riris menimpali mengungkit saat Davina dan Ronggo saling sepakat untuk menjalaninya.
“Kalian berisik banget sih. Iya-iya besok weekend kita nongkrong di Green Sky, aku yang traktir,” sahut Davina membuat geng somplak senang.
“Serius, serius, serius?” seru Riris dan Davina hanya menganggukkan kepalanya. “Ah my Baby, i love you so much.” Riris langsung memeluk sepupunya itu karena saking senangnya.
“Kamu tuh kayak abis menang lotre ajah tau senengnya, kan kita sering ke Green Sky,” ucap Dan menggelengkan kepalanya.
“Kan berapa bulan ini kita gak ke sana, Baby. Aku rindu kita nongkrong sambil karaoke seru-seruan, bete tau ngurusin tugas mulu,” tutur Riris memperlihatkan kelesuannya karena beberapa bulan ini ia tak pernah hangout dengan teman-temannya.
“Biar aku yang traktir kalian yah.” Ronggo yang tadi hanya diam kini bersuara.
“Yakin?” tanya Boy dengan wajah penuh tanya.
“Iya, memangnya kenapa?” tanya Ronggo balik.
“Nanti kita patungan ajah.” Davina menyela membuat Ronggo bingung.
“Memang ada apa sih?” Ronggo yang masih bingung bertanya.
“Bro, nanti pas di sana kamu juga akan tahu kok.” Boy merangkul Ronggo.
Kelas sudah akan dimulai, mereka memutuskan untuk bergegas sebelum dosen pengajar datang lebih dulu.
Sampai di depan kelas Ronggo, Davina enggan untuk melepaskan genggaman tangan pria tercintanya itu. Ia kini terlihat sangat manja pada Ronggo, tak seperti biasanya yang terlihat garang dan pecicilan.
Eits, tapi itu hanya di depan Ronggo saja yah, kalau lagi kelupaan juga dia terkadang balik kedirinya yang semula, pecicilan dan somplak yang tak tertolong.
“Udah gak usah dipegangi terus, nanti dosen keburu datang kena somasi kamu.” Boy melepaskan genggaman antara sahabatnya dan juga Ronggo sedangkan Riris sudah memeluk lengan sebelahnya dan menariknya untuk segera ke kelas.
__ADS_1
“Iiih, kalian tuh rese banget deh,” protes Davina dengan suara yang dibuat semanja mungkin.
“Jijay banget sih, astogel Vin kamu lebay banget deh,” protes Riris yang mengedikkan bahunya karena geli mendengar ucapan sepupunya.
“Kamu maklumilah dia, kan tau ndiri segede gini dia baru ngerasain jatuh cinta, kamu juga nantinya kalo udah jadi sama si kanebo kering tuh pasti bakalan kek dia nih,” ucap Ronggo meminta Riris untuk memaklumi gadis tomboi yang sedang jatuh cinta itu.
“Nah cakep nih, pengertian banget dah jadi temen.”
“Dih, aku memang selalu pengertian kali.”
...
Pulang kuliah, mereka sudah berkumpul di depan kampus. Kini Davina membawa mobilnya sendiri tapi Ronggolah yang menyetirnya. Saat pulang dari Cafe selepas bekerja, Ronggo akan mengantar Davina ke mansion milik Bram dan pulang dengan menggunakan motornya, pagi hari ia akan datang dan mereka akan berangkat berdua.
Ronggo memutuskan untuk membeli motor dengan uang tabungannya, meski bekas tapi ia tak malu menggunakannya. Terkadang Davina dan Ronggo berangkat menggunakan motor tersebut tapi terkadang pula menggunakan mobil milik Davina.
“Kalian mau langsung pulang?” tanya Davina.
“Aku mah biasa, mau ikut kalian,” ucap Riris menaik turunkan alisnya sambil pamer senyum pepsoden.
“Sabar napa, intinya nanti nikahnya sama aku,” sahut Riris dengan penuh percaya dirinya.
“Astogel, dari mana rasa percaya dirimu itu muncul, Beb.” Davina menepuk jidatnya.
“Dari hati terdalamku.”
“Astaga, ayu dah Mas kita cus ke Cafe.” Davina masuk ke dalam mobil sambil menggelengkan kepalanya, sedangkan Boy dan Dan terkekeh.
“Boy, Dan, kami duluan yah,” pamit Ronggo dengan nada yang masih sedikit canggung.
“Oke, Bro.”
Mereka pergi dengan menggunakan kendaraan masing-masing. Dua puluh menit mobil yang dikendarai Ronggo sampai di tempat parkir. Mereka turun dan langsung menuju Cafe.
__ADS_1
Ketiganya berganti pakaian dengan seragam Cafe. Riris juga sudah beberapa bulan ikutan kerja paruh waktu. Bukan karena ingin belajar melainkan demi babang kanebo keringnya.
“Saya bantu, Mas.” Riris yang sudah berganti pakaian menghampiri Satria yang sedang menata makanan untuk customernya.
“Kamu antar kemeja nomor lima belas yah, tapi ambil minumannya dulu di meja barista,” titah Satria sedikit lembut berbicara pada Riris, beberapa bulan ini mereka selalu bersama membuat Satria sedikit melembut bicaranya karena Riris selalu berbicara lembut padanya.
“Oke, aku antar dulu yah.” Riris pergi membawa nampan berisi makanan yang baru selesai dibuat oleh Satria.
Davina dan Ronggo yang juga baru sampai langsung memegang pekerjaannya. Davina mencuci piring sedangkan Ronggo membersihkan yang kotor bekas masak.
Setelah selesai dengan sesi bersih-bersihnya, keduanya membantu Satria. Mereka bertiga memang ditugaskan untuk membantu Ronggo di sore hingga malam hari.
“Akhirnya selesai juga pekerjaan hari ini.” Davina yang selesai mencuci semua peralatan masak duduk dengan memijat bahunya yang terasa pegal.
Ronggo yang juga selesai dengan membersihkan dapur duduk di samping Davina. Sedangkan Riris bertugas membersihkan bagian luar dengan dibantu oleh beberapa pelayan lainnya.
“Cape?” tanya Ronggo.
“Hem.” Davina menganggukkan kepalanya manja.
“Sabar, sebentar lagi pulang, sampai rumah langsung istirahat,” ucap Ronggo dengan mengusap kepala Davina.
“Jangan pamer kemesraan di tempat kerja,” ketus Satria yang merasa risih dengan sepasang sejoli yang sedang dimabuk cinta tersebut.
“Mas sirik banget deh, kalau iri ya ikutan, tuh penggemar beratmu ada, kasian udah nungguin kepastian kamu dari lama tapi kamunya gak peka jadi pria,” dengus Davina kesal karena menganggap Satria sirik padanya, padahal Satria hanya bermaksud menggoda keduanya saja, tapi memang dasar kanebo kering yang mau bercanda atau tidak raut wajahnya sama saja, terlihat datar dan dingin.
“Dia masih kecil, masih sekolah, gak lucu kalau saya berhubungan dengan gadis belia, nanti saya dikiranya pe*of*l lagi. Ya sudah, saya pulang duluan, makasih buat hari ini, ketemu besok lagi,” pamit Satria yang memang sudah siap untuk pulang.
Saat keluar dari Cafe, ia berpapasan dengan Riris yang sudah selesai dengan pekerjaannya.
“Mas Satria mau pulang?” tanya Riris lembut.
“Hem.” Satria hanya ber hm ria.
__ADS_1
“Boleh aku ikut pulang dengan Mas Satria?” tanya Riris penuh harap.