
“Astaga!” seru Ronggo terkejut karena ternyata di dalam mobil di kursi samping kemudi ada Davina sedang tertidur.
“Pantas saja dicariin kunci gak ada, gak tahunya dia yang mengambilnya.” Ronggo menggelengkan kepalanya.
Setelah masuk ke dalam mobil, Ronggo tak langsung menyalakan mobilnya. Ia terdiam sejenak sambil memandangi wajah cantik Davina dengan senyum tipis alanya.
‘Kamu memang cantik, aku tak menyangkal kalau aku juga menyukaimu, tapi aku takut kecewa untuk yang ke sekian kalinya karena aku tak bisa memberikan apa yang kau mau nantinya meski kau bilang kalau kau bukanlah gadis yang seperti itu tapi dihati kecilmu nantinya pasti menginginkan aku memberi lebih seperti pria lain yang bisa memberikan apa saja pada kekasihnya, aku tak ingin kau membandingkannya dengan pria lain nantinya, maka dari itu lebih baik aku tak menanggapinya agar kau menyerah menyukaiku,’ batin Ronggo yang tanpa sadar membenarkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajah Davina.
Mata Ronggo tak berkedip untuk beberapa saat karena terpesona dengan kecantikan gadis tomboi yang sedang tidur di kursi sampingnya. Namun, sepersekian detik kemudian Ronggo tersadar dari rasa terpesonanya itu pada Davina dan menarik tangannya yang membelai rambut gadis tomboi tersebut.
‘Mikir apa sih aku ini, dasar gadis tak memiliki sikap waspada, coba saja kalau ada pria br*ngs*k yang masuk dan berbuat yang tidak-tidak, dasar ceroboh,’ gerutu Ronggo dalam hati.
Ronggo tak membangunkan Davina yang sedang terlelap karena memang terlihat sangat mengantuk sekali. Bagaimana tak mengantuk, Davina dan sahabatnya pulang ke apartemen Boy pukul tiga dini hari. Ronggo melajukan mobilnya untuk menjemput penumpang pertamanya setelah jam istirahat selesai karena sudah ada pesanan taksi masuk.
“Kamu sangat lelah sekali tidurnya yah, sampai aku masuk dan mobil jalan pun kamu tak terasa,” gumam Ronggo terkekeh karena Davina tak kunjung bangun padahal mobil sudah mulai melaju.
Mobil berhenti tepat di tempat yang diminta oleh customer, tak lama seorang wanita paruh baya masuk.
“Jalan C yah, Mas,” ucap wanita itu memberi tahu tujuannya.
“Baik, Mbak.”
Mobil melaju sesuai rute di ponsel Ronggo.
__ADS_1
“Loh Mas, kamu punya penumpang lain yah? Kenapa gak bilang?” tanya wanita itu.
“Dia bukan penumpang, Mbak. Dia adik perempuan saya, tadi sedang merajuk saya kira dia pergi eh ternyata malah tidur di mobil,” sahut Ronggo menjelaskan dengan sedikit dusta, ia tak mungkin mengatakan kalau Davina adalah pelanggan spesialnya.
“Oh, kirain penumpang. Sayang banget yah Mas sama Adiknya sampai tertidur di mobil tak dibanguni malah diajak narik.” Ronggo tak menjawab ucapan wanita itu, ia hanya tersenyum kaku yang dipaksakan.
Mobil masih melaju mengikuti arah yang ditunjukkan pada ponselnya, sekitar dua puluh lima menit lamanya akhirnya mobil berhenti di tempat tujuan.
“Jangan lupa ulasan dan bintang limanya yah, Mbak,” pinta Ronggo sebelum penumpang itu turun.
“Tenang saja, Mas. Kalau ada bintang sepuluh kukasih sepuluh malah. Masnya sayang banget sama Adiknya gitu masa aku gak kasih bintang lima,” sahut wanita itu dan kemudian ia turun.
Setelah membayar wanita itu pun turun dan Ronggo melanjutkan untuk menjemput penumpang lagi. Tiba-tiba saja Davina bangun, ia menggeliat k tubuhnya, mengangkat kedua tangannya, meregangkan ototnya yang terasa kaku dan seketika melongo saat menoleh ke sebelah samping yang ternyata ada Ronggo yang sedang mengemudikan mobil.
“Mau berapa lama lagi kamu memelukku seperti ini? Kalau masih lama aku mau tidur dulu, nanti kalau sudah selesai banguni aku,” tanya Ronggo seketika membuat Davina langsung melepaskan pelukannya.
“Maaf, hehe. Mas Ronggo mah pakai ngingetin ajah deh, coba kalau diam-diam ajah, kan aku bisa tidur lagi dalam pelukan Mas Ronggo, barusan tuh nyaman banget seriusan.” Davina terkekeh membuat Ronggo menggelengkan kepalanya.
“Kamu itu, kamu bisa gak sih jual mahal sedikit sama pria? Marah kek karena dipeluk tanpa izin, ini mah malah seneng, dasar kamu tuh,” sinis Ronggo tapi yang diocehin malah terkekeh.
“Aku akan jual mahal kalau sama pria yang tak Kusuka, tapi kalau sama Mas Ronggo aku jual mahal yang ada nanti keburu diambil orang. Mas, sudah ada rasa belum sama aku?” Davina malah bertanya pertanyaan konyol.
Ronggo tak menjawabnya, ia malah melakukan mobilnya kembali untuk menjemput penumpangnya. Sebenarnya bukan tak ada jawaban, hanya saja Ronggo memang tak ingin menjawabnya. Ia tak ingin menjawab karena jawabannya pasti membuat gadis tomboi itu bahagia, Ronggo tak bisa terus-terusan berkata dusta membohongi perasaannya yang sejujurnya mulai menyukai gadis tomboi tersebut.
__ADS_1
“Mas ih, jawab dong. Kamu suka gak sama aku, masa sedikit pun tak ada rasa suka sama aku sih, aku cantik loh meski sedikit tomboi, kalau didandani sedikit dan dipakaikan gaun pasti lebih cantik lagi.” Davina menggoyang-goyangkan lengan Ronggo yang sedang mengemudi mobil karena tak mendapatkan jawaban dari pria pujaannya itu.
“Kamu ingin kita celaka apa? Bisa dewasa sedikit gak? Aku sedang nyetir, kalau nabrak orang bagaimana?” bentak Ronggo seketika Davina yang terkejut langsung diam duduk manis menundukkan kepalanya persis seperti anak kecil yang sedang dimarahi oleh ibunya.
Melihat hal itu, Ronggo menepikan mobilnya dan meraih ponselnya untuk membatalkan pesanan penumpangnya dan mengatakan untuk mencari taksi lainnya karena ia beralasan mobilnya mogok dan membutuhkan waktu lama untuk memperbaikinya.
“Maaf, gak seharusnya aku membentak kamu, aku hanya takut kalau kita menabrak orang nantinya, kasihan mereka tak bersalah malah harus terkena dampak kamu yang merengek manja seperti anak kecil minta permen,” ucap Ronggo bermaksud untuk sedikit melucu, tapi sepertinya tak berhasil karena Davina masih diam tertunduk dan tak bergerak sedikit pun.
Lama Davina terdiam dan tiba-tiba saja terdengar isak tangis yang membuat Ronggo bingung juga merasa bersalah.
“Harusnya aku yang minta maaf karena hampir saja membuat orang lain celaka karena tingkahku yang seperti anak kecil, tapi aku takut, Mas Ronggo jangan bentak aku lagi dan jangan marahi aku, aku tak pernah dibentak dan dimarahi oleh orang tuaku meski hanya sekali.” Davina berucap dengan isak tangis yang terus terdengar disela ucapannya, Ronggo menjadi sangat bersalah karena sudah bersikap demikian pada gadis tomboi yang terlihat tegar tapi ternyata sangat lemah hatinya itu.
“Maaf, aku sudah keterlaluan sampai membentaknya. Ya sudah, aku akan mengantarmu pulang sekarang yah,” ucap Ronggo dengan nada lembut sambil memegang tangan Davina secara tak sadar.
“Mas Ronggo,” panggil Davina setelah ia sudah tenang, Ronggo menoleh.
“Kenapa?” tanya Ronggo yang bingung karena Davina menarik turunkan alisnya.
...
Rencana hari ini mau update 2bab tapi kok gak semangat banget karena masih sepi syekali😭
Selamat menjalankan hari dengan penuh semangat jangan lupa sarapan biar gak oleng yah😁
__ADS_1