Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)

Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)
BAB 49


__ADS_3

Hari berjalan begitu indah untuk mereka yang sudah menentukan tanggal pernikahan, Ronggo selalu membawa Davina pergi jalan-jalan menghabiskan waktu bersama setelah pulang kerja, hingga tak terasa mereka akhirnya harus dipingit karena waktu menuju pernikahan tinggal satu minggu lagi.


“Harus yah Mah seperti ini? Masa bertemu saja tak boleh sih? Kalau tak boleh bertemu izinkan aku video call deh sebentar saja,” rengek Davina karena sudah dua hari ini ia tak diperbolehkan keluar untuk bertemu dengan Ronggo, pergi ke Cafe pun ia tak boleh dan bahkan hanya sekedar video call saja pun tak boleh karena ponselnya disita oleh Aberlie.


“Tidak boleh pokoknya, titik.” Aberlie terkekeh dalam hati karena memberlakukan sistem pingit pada anak gadisnya.


Sebenarnya untuk jaman sekarang sistem pingit sudah tak banyak dipakai, tapi memang dasar Aberlie ingin membuat anak gadisnya diam di rumah selama satu minggu tanpa bertemu dan juga berkomunikasi dengan Ronggo.


“Ish Mamah kejam,” protes Davina mengatakan Aberlie adalah mamah yang kejam.


“Mamah tak kejam, Mamah hanya sayang padamu. Nanti saat kalian bertemu saat pernikahan maka perasaan rindu yang memuncak akan terbayar juga setelah kalian sah menjadi sepasang suami istri. Percayalah hal itu akan membuat terasa sangat istimewa nantinya,” ucap Aberlie mencoba memberi pengertian pada putrinya.


“Mamah bisa saja alasannya.” Davina berlalu menuju kamarnya setelah berucap demikian, ingin kabur diam-diam pun percuma karena Daddynya sudah meletakkan banyak penjaga di sekitar mansionnya dan akhirnya ia hanya bisa menghibur diri dengan menonton film saja di dalam kamarnya.


Davina tak bisa fokus dengan film yang ditontonnya karena ingin bertemu sang pujaan hati yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


Tak lama Devano masuk membawakan makanan, saat pukang dari kantor tadi ia membeli makanan dipinggir jalan karena ia tahu adiknya itu sangat menyukai jajanan jalanan.


Meski sudah menjabat menjadi seorang CEO Devano tak malu untuk turun langsung membeli makanan dipinggir jalan demi sang adik tercinta.


“Kak Vano, kamu sudah pulang? Apa yang kau bawa itu?” tanya Davina dengan penuh penasaran melihat apa yang dibawa oleh kakaknya.


“Makanan, tadi aku berhenti dipinggir jalan, saat melihat banyak pedagang kaki lima aku teringat kamu sangat menyukai jajanan pinggir jalan jadi yah aku membelinya khusus untukmu,” sahutnya memberikan kantong plastik yang dibawanya pada adiknya.


“Wah, Kak Vano memang Kakak terbaik sedunia. Terima kasih yah, Kak. Ayu kita makan bersama, ini enak banget deh,” ajah Davina yang ingin makan bersama dengan kakaknya.

__ADS_1


“Yakin? Nanti kamu kekurangan lagi,” goda Devano.


“Ah bilang saja Kak Vano gak selera memakan makanan seperti ini, jangan mentang-mentang lama hidup di Amerika jadi membuatmu gengsi memakan makanan seperti ini, Kak.” Davina balik menggoda sang kakak.


“Siapa bilang aku gengsi makan makanan seperti itu, ayu sini kita makan bersama, tapi kalau kurang jangan merajuk padaku yah.” Devano yang ditantang berniat menerima tantangan dari adiknya tersebut, ia mengambil satu bungkus makanan bernama batagor yang sewaktu kecil ia sering makan dan juga menjadi kesukaannya.


“Kau lihat, aku masih Kakakmu yang dulu yang juga suka makan jajanan pinggir jalan saat kita masih sekolah bersama dulu,” tutur Devano yang sedang menikmati batagornya.


“Ah Kakakku memang tak pernah berubah, Love you, Kak. Semoga setelah aku menikah nanti kau masih sama menyayangiku seperti saat ini.” Davina memeluk kakaknya dengan penuh haru, Devano pun membalas pelukan adiknya dengan penuh sayang, ia memang sangat menyayangi adiknya itu meski mereka lahir pada hari yang sama.


“Seharusnya aku yang berkata seperti itu, setelah menikah nanti jangan lupakan Kakakmu ini mentang-mentang sudah ada si Ronggo yang menemanimu. Lima tahun lebih aku berada di luar negeri jauh dari keluarga dan juga Adikku yang tomboi ini rasanya seperti separuh jiwaku yang telah pergi meninggalkanku,” tutur Devano mengatakan perasaannya yang kesepian berada jauh dari keluarga.


Davina melepas pelukannya. “Seperti itu pun kamu tak ingin kembali saat cuti, kamu memang jahat.” Davina merajuk kala mengingat kakaknya yang tak pernah kunjung pulang sekalipun meski sedang cuti, malah terkadang Aberlie dan Bram lah yang datang untuk melepas rindu pada sang kakak sedangkan dirinya harus stay di Cafe.


“Sekarang Kak Vano sudah kembali, jangan pernah pergi lagi, tetap berada disisiku dan beri aku ipar segera agar aku memiliki teman curhat,” pinta Davina dengan wajah memohon.


“Aku belum memikirkan akan hal itu, tapi jika untuk berada disisimu aku pasti akan lakukan. Menikah bukanlah hal yang bisa diucapkan dengan mudah, aku butuh wanita yang memandangku apa adanya bukan ada apanya. Kalau hanya tentang menunjuk wanita itu hal mudah tapi kalau untuk mencari cinta sejati seperti dirimu dan Ronggo itu hal yang sungguh sangat sulit mengingat siapa diriku saat ini,” sahut Devano yang belum ingin memikirkan tentang pernikahan.


“Baiklah Kakakku sayang, aku harap dirimu tak kelamaan melajang hingga menjadi pria tua,” goda sang adik.


“Hei, biarpun aku tua nantinya tapi pesonaku tak perlu diragukan lagi. Wajahku sangat tampan, tak mungkin ada wanita yang akan menolaknya meski aku sudah tua, hanya saja aku yang tak ingin menerima wanita yang mengejarku,” sangkal Devano tak terima dibilang tua.


“Hahaha, tua tetaplah tua, Kak. Mau kau memiliki pesona yang terpancar ke seluruh penjuru dunia pun kalau tak memiliki pendamping yah sama dengan bujang lapuk, hahaha.” Davina malah menertawakan sang kakak.


“Awas kamu yah, sudah pandai menggoda Kakakmu kamu. Tak kuberi uang jajan nanti kamu.” Devano menggelitik adiknya yang terus saja menggoda dirinya.

__ADS_1


“Ahahaha, hentikan Kak, ini sangat geli, ahahaha,” tawa Davina sangat kencang hingga membuat Aberlie yang sedang berada di dapur menggelengkan kepalanya.


“Mereka itu kalau sudah bersama pasti berisik sekali,” gumamnya dengan gelengan kepala.


“Tuan kecil dan Nona kecil sangat akur dan saling menyayangi sedari kecil, Nyonya. Saya sangat salut dengan mereka, mereka tak saling iri,” sambung Sri yang sedang membantu nyonyanya itu memasak untuk makan malam.


“Yah kamu benar, Mbak. Aku sangat bersyukur mereka saling menyayangi dan tidak saling berebut kedudukan, yang paling membuat aku bangganya lagi mereka tak memandang rendah orang di sekitarnya yang kedudukannya lebih rendah darinya. Sifat mereka sangat mirip dengan Bram, apalagi Devano tak ada yang dibuang sedikit pun dari Daddynya itu,” ucap Aberlie tersenyum menyamakan kedua buah hatinya dengan suami tercintanya.


“Nona kecil juga sangat mirip dengan Anda, Nyonya. Tak pernah ingin dilihat orang lebih tinggi dan selalu merendah.”


Mereka membicarakan sepasang adik kakak kembar yang sedang bercanda ria.


Sedangkan di tempat lain, Ronggo yang juga merindukan Davina lebih mengisi waktu luangnya dengan membuat makanan yang rencananya akan ia kirimkan pada pujaan hatinya.


“Kamu sibuk sekali, apa yang kau buat?” tanya Nenek yang menghampiri cucunya di dapur.


“Eh Nenek, aku hanya sedang membuat camilan untuk Vina, Nek,” sahutnya yang sedang membuat kue bawang kesukaan Davina.


“Kamu sungguh sangat mencintainya?” tanya Nenek.


“Iya, Nek. Aku sangat mencintainya, tapi bukan karena dia memiliki kedudukan, melainkan karena dia menerima aku apa adanya. Dia tak pernah menuntut yang macam-macam padaku, dia selalu menerima apa yang kuberikan tanpa memprotesnya, malah dia selalu menghargai pemberian dariku padahal yang kuberikan tak berarti apa pun tapi buat dia pemberianku adalah simbol rasa sayangku padanya. Itu yang membuatku sangat mencintainya, Nek. Dia putri dari pengusaha terkaya di kota ini, tapi dia tak pernah memandang rendah orang lain yang berada di bawahnya,” sahut Ronggo sambil tersenyum kala mengingat kenangannya bersama dengan Davina. Kenangan indah yang sederhana tapi sangat berharga.


“Nenek pun menyukainya, keluarganya tak memandang kita dengan sebelah mata, kamu bahkan disekolahkannya. Nenek sangat bersyukur sekali, semoga kehidupan kamu dengannya ke depannya berjalan dengan bahagia tanpa ada yang berniat jahat,” doa Nenek mengharapkan yang terbaik.


Ronggo menyelesaikan kue bawangnya, setelah selesai ia meminta orang suruhan Bram yang menjaga rumahnya untuk mengantarkannya pada Davina.

__ADS_1


__ADS_2