
“Mas Ronggo,” panggil Davina setelah ia sudah tenang, Ronggo menoleh.
“Kenapa?” tanya Ronggo yang bingung karena Davina menarik turunkan alisnya.
“Mas Ronggo mau sampai kapan menggenggam tanganku terus? Kalau masih lama aku mau tidur dulu, nanti kalau sudah selesai banguni aku yah,” dengan senyuman nakal membalikkan kalimat yang sering diucapkan oleh Ronggo membuat pria itu langsung melepaskan genggaman tangannya pada tangan Davina.
“Itu kan kalimatku,” protes Ronggo dengan tak percayanya kalau Davina menjiplak kalimatnya, gadis tomboi itu hanya terkekeh melihat ekspresi pria pujaannya.
“Hehe, Mas aku gak ingin pulang, aku ingin ikut kamu bagaimana? Pulangnya nanti malam saja,” ucap Davina mengatakan kalau ia tak ingin pulang.
“Memang tak ada yang mencarimu? Aku takut nanti kalau pulang malam kamu dicariin sama orang tua kamu,” ucap Ronggo bertanya.
“Tenang saja, hari ini aku cuti orang rumah gak akan ada yang cari aku, lagian aku sudah izin sama Ibu kok, mereka tak akan mencariku,” sahut Davina meyakinkan Ronggo.
“Baiklah kalau begitu, tapi jangan merepotkan yah. Nanti malam sebelum pulang aku traktir kamu makan,” ucap Ronggo pada akhirnya menyetujui keinginan Davina, toh bukankah tadi ia juga yang mengajaknya.
“Asyik, nanti traktir aku makan enak yah, aku suka makan ayam goreng,” seru Davina seperti anak kecil memberitahu kesukaannya membuat Ronggo terkekeh tipis sambil menggelengkan kepalanya.
Mobil melaju untuk menjemput penumpang berikutnya, Davina duduk menghadap Ronggo sambil kakinya ia masukkan dan bersila. Tangannya kirinya ia tumpangi pada kaki menyangga kepalanya, matanya terus menatap Ronggo dengan senyum lebar, ia sangat bahagia karena bisa sedekat ini dengan pria pujaannya.
‘Memang benar-benar gadis tomboi, gaya duduknya saja sudah mirip seperti pria, dia tuh gak ada jaim-jaimnya sama sekali padahal katanya dia suka sama aku tapi gak ada tingkah malu-malu gitu di depan aku, gak seperti wanita lain yang mendekatiku yang selalu bertingkah manis kalau di depanku demi membuat aku terpesona, dia tak perlu berbuat seperti itu tapi pesonanya sudah terpancar,’ gumam Ronggo yang terkekeh tipis dengan tingkah Davina.
Mobil berhenti, Ronggo membuka kaca mobil sisi Davina dan bertanya pada seorang wanita yang berdiri di samping mobilnya seperti sedang menunggu sesuatu.
__ADS_1
“Dengan Mbak Putri?” tanya Ronggo.
“Iya betul, Mas Ronggo yah?” sahut gadis bernama Putri itu tersenyum dan Ronggo hanya menganggukkan kepalanya sedangkan Davina masih sibuk menatap wajah Ronggo yang sedikit lebih dekat karena Ronggo maju sedikit untuk bertanya pada gadis di luar.
Tak lama Putri masuk di kursi belakang dengan senyum yang dibuat semanis mungkin, Ronggo merasa beruntung ada Davina yang duduk di sampingnya karena gadis bernama Putri itu berpakaian sedikit terbuka, kalau tak ada Davina sudah dipastikan gadis itu bakalan duduk di sampingnya.
“Mas, kamu hobi dekat-dekat aku terus yah,” bisik Davina karena Ronggo masih belum kembali seperti semula.
Mata Ronggo melirik pada gadis tomboi yang sedang nyengir kuda itu, ia menarik tubuhnya perlahan dan menepuk kening Davina tanpa aba-aba.
“Aduh, Mas Ronggo. Kamu rese banget sih main belum jidatku ajah, mana gak pake pengumuman dulu lagi, kalo jidatku jadi jenong kayak ikan lohan bagaimana,” pekik Davina memegang keningnya yang ditepuk Ronggo.
“Berisik, suara kamu bikin aku sakit kepala tahu.”
Ronggo melajukan mobilnya untuk mengantar penumpang yang sedang duduk di kursi bagian belakang. Tak lama mobil berhenti di sebuah cafe yang sangat Davina kenal, Davina langsung menoleh ke belakang dan menatap gadis cantik yang berpakaian serba minum itu dengan tak percaya.
“Me-memangnya ke-kenapa, Mbak? Ini kan cafe, kenapa aku tak boleh mengunjunginya saat masih terang?” tanya gadis itu dengan nada yang gugup.
“Kamu kenapa sih? Memangnya kenapa dengan datang ke Green Sky saat masih terang?” Ronggo yang tak tahu tempat apa Green Sky itu ikut bertanya bingung.
“Kamu serius gak tahu tempat apa itu, Mas?” tanya Davina yang tak percaya kalau Ronggo tak tahu tempat apa Green Sky yang berwajah cafe itu.
Saat Davina dan Ronggo sedang sibuk dengan percakapan mereka, gadis bernama Putri itu memberikan ongkos taksinya lalu pergi dengan segera.
__ADS_1
“Mas, ini uangnya yah, makasih.” Putri keluar dengan segera dan berjalan menuju Green Sky.
Kembali ke percakapan Davina dan Ronggo.
“Memangnya itu tempat apa? Bukankah itu hanya sebuah cafe?” tanya Ronggo yang penasaran.
“Kamu pingin masuk? Aku punya akses VIP di sini, kalau kamu hanya tahu dari ucapannya saja takutnya kamu gak percaya dan ngakak menganggap aku berbohong dan bercanda,” tanya Davina memberi saran agar Ronggo percaya.
“Jawab dulu, itu memangnya tempat apa? Kalau aku gak percaya baru kita masuk.” Ronggo masih ingin jawaban dari Davina.
“Oke, tapi kamu jangan ketawa yah kalau tak percaya, kalau kamu ingin bukti nanti aku bisa bawa kamu masuk ke sana,” akhirnya Davina memutuskan untuk memberitahunya.
“Asal masuk akal saja.”
“Green Sky itu bar, Mas. Dibalik cafe yang ramai ini, ada pintu masuk menuju bar yang mana yang boleh masuk hanya orang yang memiliki akses VIP ajah, kalau kamu belum pernah ke sana dan ingin ke sana tapi gak memiliki aksesnya dan gak ada yang mengajak kamu gak akan bisa masuk. Orang yang tak tahu hanya akan menganggap tempat itu hanya cafe biasa saja, tapi kamu bisa lihat dari ekspresi gadis tadi yang menjawab ucapan dengan gugup itu menandakan kalau dia tahu tempat apa itu, terlebih lagi pakaiannya yang seperti itu sudah dipastikan kalau dia bukan mau makan di cafe melainkan mau ke bar,” jelas Davina dengan serius, Ronggo mendengarkan dengan serius pula, tapi tiba-tiba.
“Hahaha.” Ronggo tertawa dengan belinya mendengar penjelasan dari Davina, membuat Davina greget dan memukul lengannya. “Aduh, sakit tahu,” pekik Ronggo mengusap lengannya.
“Habisnya Mas Ronggo malah tertawa,” dengus Davina kesal.
“Habis lucu saja, masa dibalik cafe mewah gitu ada bar tersembunyi sih, kan seperti tak masuk akal,” ucap Ronggo menggelengkan kepalanya.
“Kan aku sudah bilang, kalau kamu gak percaya aku bisa membuktikannya,” protes Davina yang kesal.
__ADS_1
“Oke-oke, kapan-kapan bawa aku ke sana, hari ini aku gak bisa karena harus cari uang.” Ronggo melajukan mobilnya untuk menjemput penumpang selanjutnya karena pesanan sudah masuk. Hari itu Davina benar-benar diajak narik taksi oleh Ronggo hingga malam.
“Kita makan dulu, setelah itu aku akan mengantarmu pulang, kamu tadi bilang suka makan ayam goreng kan, makan di sini gak masalah kan? Kamu gak pilih-pilih tempat makan kan?”