Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)

Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)
BAB 30


__ADS_3

Di dalam mobil, Davina masih saja menekuk wajahnya, ia bukan masih kesal karena Satria tapi kesal karena kedua orang tuanya dan juga kedua karyawan sang mamah terus saja menggoda dirinya.


“Jadi, apakah pria yang tadi datang ke Cafe bersamamu itu adalah calon menantu masa depan Mamah dan Daddy?” tanya Aberlie tanpa menoleh pada kursi belakang di mana Davina duduk.


“What! Pria apa? Putri tomboi kita membawa seorang pria?” Bram yang terkejut mengajukan banyak pertanyaan, tapi Aberlie hanya menganggukkan kepalanya dan mengedikkan bahunya setelah itu.


“Apaan sih, Mah, Dad. Dia tuh pria super duper dingin dan cuek banget sama aku, dia sopir taksi pengganti Pak Paijo. Aku sama dia belum sampai tahap menjadi sepasang kekasih, orangnya ajah bolong-bolongan kelakuannya. Kadang jutek, kadang cuek dan dingin sampe kalau aku ngomong ajah dia hanya ber hm ria doang, tapi kadang kalau lagi bolong dia akan menjadi hangat dan penuh perhatian seperti hari ini yang bersedia aku ajak belanja dan ajaibnya dia juga bersedia membawakan belanjaanku. Kupikir tadinya dia akan menolak ajakanku makan di Cafe, eh dia bersedia, tumben banget sikapnya seperti itu,” ucap Davina tanpa sadar menjelaskannya dengan panjang dan lebar.


Aberlie yang mendengar penuturan putrinya itu hanya tersenyum.


“Oh seperti itu toh,” ucap Aberlie dengan perlahan.


“Jadi, pria itu yang bikin putri kita galau terus nih,” kini Bram ikut bersuara.


“Ish, Mamah dan Daddy pasti sengaja kan, nyebelin banget sih kalian ngeledekin aku mulu,” gerutu Davina tapi kedua orang tuanya malah terkekeh.


“Dia lulusan apa? Kalau lulusan bisnis suruh masuk kantor Daddy saja, dari pada jadi sopir taksi online,” tanya Bram menawarkan Ronggo untuk masuk ke kantornya.


“Dia hanya lulusan SMK, Dad. Lagi pula cita-cita dia bukan menjadi bisnis man, tapi jadi Koki seperti kanebo kering,” sahut Davina memberitahu sampai tahapan apa Ronggo sekolah dan mengatakan kalau cita-cita pria pujaannya sebagai koki.


“Wah cocok tuh jadi pasangan kamu, kan cita-cita kamu juga jadi koki,” goda Aberlie kembali.


“Mah, please deh.”


“Hehe, maaf-maaf, habis seru tahu menggoda kamu.”


“Kenapa dia gak lanjut kuliah?” tanya Bram melanjutkan pertanyaannya.

__ADS_1


“Dia bukan dari kalangan yang mampu seperti kita, Dad. Dia yatim piatu yang ditemukan Neneknya sewaktu masih bayi dipinggir jalan,” jelas Davina.


“Kalau dia mau melanjutkan, Daddy bisa kok membantunya, tapi dengan syarat kalau dia harus belajar dengan giat dan harus bisa capai cita-citanya menjadi seorang koki,” ucap Bram memberikan penawaran untuk Ronggo pada Davina, seketika raut wajah Davina yang tadinya masam berubah menjadi ceria.


“Seriusan, Dad?” tanya Davina ingin memastikan.


“Serius dong, kapan Daddy pernah bohong sama putri Papah yang cantik ini, meski tomboi,” sahut Bram dengan godaan di akhir kalimatnya.


“Ish Daddy nih sama saja kayak Mamah, suka sekali menggodaku,” protes Davina. “Tapi Dad, dia tahunya aku bekerja dengan Daddy dan Mamah loh, dia tak tahu kalau aku putri dari pengusaha sukses dan pemilik Cafe mewah di kota ini. Tak mungkin kan aku bilang kalau Daddyku menawarkannya kuliah dengan tiba-tiba, yang ada dia malah membenciku,” sambungnya memberitahu kalau Ronggo hanya mengetahui kalau dirinya bukanlah anak dari Mamah dan Daddynya.


“Yah tinggal kamu bilang saja kalau saat dia datang ke Cafe hari ini tuh Mamah tertarik padanya dan ingin menyekolahkannya untuk mencapai cita-citanya, atau kamu bisa beralasan apa kek biar dia mau menerima bantuan dari Daddy,” ucap Bram memberikan solusi.


“Oke deh, aku pikirkan alasannya dulu, dan kalau aku sudah bicarakan dengannya aku akan kabari Daddy lagi.”


...


Esok paginya, Davina sudah siap untuk berangkat ke kampus. Setelah sarapan ia berpamitan pada Aberlie dan Bram.


“Nanti Vina coba pikirkan alasan apa yang tepat yah, Dad. Soalnya aku juga bingung mau gimana ngomongnya,” sahut Davina yang ternyata belum menemukan ucapan yang tepat untuk dikatakan pada Ronggo terkait tawaran sang Daddy yang bersedia menguliahkannya ke perguruan tinggi.


“Kamu bisa bicarakan dengan teman-temanmu, Sayang. Siapa tahu mereka memiliki solusi yang tepat untuk mengatakannya pada pujaan hatimu itu,” saran dari Aberlie yang terselip godaan pagi hari.


“Saran sih saran, Mah. Tapi gak perlu meledekku juga kali, ini masih pagi loh, Mah,” protes Davina. “Sudah ah, aku berangkat dulu, nanti coba kubicarakan pada geng somplak sesuai saran Mamah. Bye Mah, Dad.” Davina pergi setelah berpamitan pada kedua orang tuanya.


Sampai di tempat biasa, mobil yang biasanya menjemput dirinya sudah siap untuk mengantarnya. Ia segera membuka pintunya karena memang tak dikunci dan masuk ke dalamnya.


“Pagi,” sapa Davina dengan senyum manisnya.

__ADS_1


“Pagi,” sahut Ronggo dengan wajah datar tanpa menoleh pada lawan bicaranya, tak lama setelah Davina selesai memasang sabuk pengamannya ia melajukan mobilnya.


“Mas,” panggil Davina dengan ragu.


“Hm,” yang dipanggil hanya ber hm ria seperti biasa.


‘Ish, kalau cueknya udah kumat jawab ajah Cuma hm doang,’ gerutu Davina dalam hatinya.


“Kamu kalau punya biaya kira-kira niat buat lanjut kuliah gak?” tanya Davina perlahan karena takut keceplosan.


“Kalau aku memiliki cukup uang pastinya aku akan melanjutkan kuliahku untuk mencapai cita-citaku menjadi seorang koki yang hebat,” sahut Ronggo.


Ronggo sebenarnya bukanlah tipe pria yang dingin dan cuek, ia bersikap seperti itu karena sudah saking terlalu banyak wanita yang mengecewakannya. Ia hanya mencoba menjaga jarak saja karena tak ingin terbawa perasaan dan pada akhirnya ia harus menerima kekecewaan lagi.


“Memangnya kenapa?” sambungnya bertanya.


“Ah tidak, aku hanya ingin tahu saja,” sahutnya dengan gugup.


‘Ada apa dengannya, biasanya dia tak pernah bertingkah canggung dan gugup seperti ini, kenapa hari ini dia terlihat seperti tak nyaman bicara denganku, apa mungkin bulannya sedang datang,’ batin Ronggo mencoba menebak-nebak.


“Nenek bilang makanannya terima kasih,” ucap Ronggo mengalihkan pembicaraan karena ia merasa kalau Davina tak nyaman dengan pertanyaannya sendiri.


“Ah iya, sama-sama,” sahut Davina dengan senyum yang kaku karena dipaksakan.


“Sudah sampai,” ucap Ronggo kembali, Davina hanya celingukan keluar kaca mobil.


Mobil sudah berhenti di tempat biasa Davina turun.

__ADS_1


“Aku masuk ke dalam dulu, jemput aku kayak biasa saja, bye.” Davina turun dengan segera, ia hari ini merasa gugup karena takut keceplosan kata.


“Sikapnya benar-benar aneh pagi ini, kenapa dengannya,” gumam Ronggo yang merasa bingung.


__ADS_2