
Hari yang dinanti pun tiba, Davina dan Nenek akan berangkat menuju pedesaan dengan diantar oleh kedua orang tuanya dan juga suami teecinta.
“Maafkan Kakak gak bisa mengantarmu yah, siang ini Kakak ada rapat penting. Tapi kamu tenang saja, Kakak akan sering-sering telepon kamu, dan jika kamu butuh apa pun segera hubungi Kakak oke,” ucap Devano sebelum sang adik pergi.
“Tak perlu merasa bersalah, ada Mamah dan Daddy yang menemaniku ke sana, ada Mas Ronggo juga. Kak Vano fokus pada pekerjaan Kakak saja, nanti kalau aku butuh sesuatu, aku akan menghubungimu,” balas Davina menenangkan sang kakak.
“Esok aku akan menyuruh Kris untuk mengirim suplemen, vitamin dan susu hamil untukmu supaya kamu tak kekurangan nutrisi. Dad, carikan Adikku dokter kandungan terbaik di sana, kalau tak ada minta Tante Sandra menjadi dokter kandungan pribadi Vina,” titahnya beralih pada sang Daddy.
“Putramu memang sudah berubah menjadi Bos, By,” gerutu Bram.
“Bukankah dia sangat mirip denganmu?” kekek Aberlie.
“Kamu tenang saja, Mamah akan mencarikan dokter kandungan terbaik untuk adikmu ini sebelum kami kembali ke sini. Kamu jaga diri dengan baik, jangan terlalu lelah dengan pekerjaan. Kris, jika Vano lupa istirahat kamu bisa mewakilkanku untuk menghukumnya,” sahut Aberlie beralih pada Kris.
“Anda tenang saja, Nyonya. Dia aman bersama dengan saya,” ucap Kris dengan tegas.
“Cih, dasar gunung es, pergi saja kamu ke antartika sana,” gerutu Devano mencibir asistennya yang sangat dingin melebihi kutub utara.
“Ya sudah, kami berangkat, mumpung masih pagi agar tak macet. Kamu jaga diri baik-baik, jangan pergi terlalu lelah, carilah wanita juga agar ada yang menemanimu,” pesan Aberlie sambil terselip godaan.
“Cukup Kris yang menemaniku, Mam,” selalu saja kalimat itu yang terlontar saat Aberlie meminta Devano mencari pendamping hidup.
“Saya bukan kekasih pujaan hati Anda, Tuan. Jadi stop membawa saya sebagai alasan,” protes Kris membuat Devano berdecih.
Aberlie dan yang lainnya pun pergi setelah berpamitan pada Devano. Setelah kepergian keluarganya untuk mengantar adik tercinta, Devano langsung bergegas berangkat ke kantor.
...
Malam hari, mereka sampai di pedesaan. Asih dan Asep sudah menunggu kedatangan mereka. Saat mereka tiba, Asih dan Asep langsung menyambutnya dengan hangat dan membantu membawa barang bawaan.
“Selamat datang Tuan dan Nyonya besar,” sapa Asih dengan penuh sopan santun.
“Hm.” Bram hanya ber hm ria seperti biasa.
“Terima kasih, Bi. Bagaimana kabar kalian?” sahut Aberlie bertanya kabar.
“Kami baik, silakan Nyonya. Kamar Anda dan Tuan besar sudah saya bersihkan.” Asih langsung mempersilakan majikannya itu untuk masuk.
Setelah semua barang masuk, mereka istirahat karena sudah lelah dan juga malam sudah semakin larut.
Tiga hari Aberlie dan Bram berada di pedesaan, setelah bertemu dokter kandungan terbaik di pedesaannya keduanya memutuskan untuk kembali ke kota J terlebih dulu karena Cafe tak ada yang menghandle.
“Mamah dan Daddy pamit yah, kamu jaga kesehatan, dengarkan apa kata Nenek untuk kesehatanmu dan calon cucu Mamah,” pamit Aberlie seraya menyampaikan pesan.
__ADS_1
“Mamah tenang saja, aku akan selalu mendengarkan apa kata Nenek. Mamah dan Daddy hati-hati yah, katakan pada Kak Vano untuk mengunjungiku jika ia tak sibuk,” sahutnya berharap sang kakak bisa mengunjunginya.
“Kakakmu sangat sibuk, tapi kamu harus percaya kalau dia pasti akan sangat merindukanmu. Jangan pikirkan sesuatu yang tak penting, selalu heppy dan konsumsi makanan bergizi jangan membuat Nenek kesulitan.”
“Siap Mamahku yang cantik.”
“Ronggo, Mamah titip Vina selama kamu belum berangkat ke kota. Jangan pulang terburu-buru, Cafe ada Mamah yang handle,” pesan Aberlie pada menantunya.
“Mamah tenang saja, begitu Vina siap ditinggal aku baru akan kembali.”
“Nek, titip anak-anak yah. Maaf merepotkan, jika ada sesuatu langsung hubungi saya saja,” kini Aberlie beralih pada Nenek.
“Anda tak peelu mengkhawatirkannya, saya akan menjaganya dengan baik.”
Aberlie dan Bram pergi setelah berpamitan pada semua orang, Ronggo tak ikut kembali karena menunggu Davina siap ditinggal olehnya.
...
Hari-hari berlalu begitu cepat dan tak terasa kini Davina sudah lima bulan berada di pedesaan, Ronggo juga sudah kembali lagi ke pedesaan karena kehamilan Davina sudah jatuh pada bulannya dan hanya tinggal menghitung hari saja. Ronggo ingin menjadi suami siaga yang berada disisi sang istri saat melahirkan buah cinta mereka. Selama lima bulan ini Nenek menjaga Davina dengan sangat baik, tak ada keluhan apa pun selama kehamilannya.
“Dia menendangku, Sayang,” seru Ronggo saat tiduran di pangkuan sang istri sambil menciumi perut buncit Davina, mereka saat ini sedang berada di kebun belakang untuk menikmati pemandangan sore.
“Dia pasti berjenis kelamin laki-laki, karena selalu saja hobi menendang,” sahut Davina yang menebak jenis kelamin calon anaknya, Davina memang tak menanyakan jenis kelaminya karena biar menjadi kejutan saja untuknya dan untuk suami.
“Terserah kamu saja, aku nurut saja,” sahut Davina menyerahkannya pada sang suami.
“Bagaimana kalau kita minta Kak Vano untuk mencarikan nama yang bagus.” Ronggo malah menyarankannya untuk bertanya pada Devano.
“Boleh juga, nanti kita tanya dia yah.”
Saat sedang asyik mengobrol tiba-tiba saja perut Davina terasa sakit melilit luar biasa, semakin lama rasa sakit itu semakin bertambah.
“Ah, perutku Mas. Perutku sakit,” pekik Davina memegang perutnya.
“Apakah dia sudah akan lahir, ayu aku bawa kamu masuk ke dalam untuk berbaring sebentar.” Ronggo membantu Davina berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah, Devano mencoba setenang mungkin agar Davina tak panikmeski sebenarnya dirinya sedang panik.
“Kamu tunggu di sini, aku panggilkan Nenek untuk menemanimu sementara aku menyiapkan mobil,” titah Ronggo.
Ronggo pun bergegas memanggil Neneknya untuk menemani sang istri.
“Nek, Vina Nek,” ucap Ronggo dengan nada ngos-ngosan.
“Kenapa Vina?”
__ADS_1
“Vina sepertinya mau melahirkan, perutnya sakit katanya. Nenek tolong temani dia aku mau menyiapkan mobil,” pinta Ronggo.
“Kamu pergilah siapkan mobil, Nenek akan menemaninya.”
“Bi, tolong siapkan kebutuhan istri saya yah, istri saya akan melahirkan,” titah Ronggo ketika melewati dapur hendak menuju garasi.
“Oalah, siap Tuan.” Asih bergegas menuju kamar Davina dan Ronggo untuk mempersiapkan keperluan yang dibutuhkan.
Nenek sudah menemani Davina yang sedang menikmati proses melilitnya, sedangkan Ronggo menyiapkan mobil yang akan digunakan untuk mengantar sang istri ke rumah sakit.
Mobil siap, perlengkapan pun siap, Ronggo membawa sang istri menuju rumah sakit terdekat untuk proses persalinan. Di rumah sakit, mereka langsung disambut oleh dokter yang menangani Davina selama ini karena Nenek sudah menghubunginya terlebih dulu. Davina langsung dibawa ke ruang persalinan dengan Ronggo yang ikut menemaninya karena permintaan sang istri.
“Wah, ini sudah pembukaan sempurna yah, Bu. Tinggal menunggu ketubannya pecah saja, jika terasa ingin buang air besar katakan saja, kami akan menuntun Ibu untuk mengejan,” ucap sang dokter wanita yang menangani Davina.
Davina menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan untuk menetralisir rasa sakitnya.
“Sakit, Mas,” ucap Davina lirih sambil mencengkeram tangan Ronggo.
“Sabar, Sayang. Dia sedang mencari jalan untuk lahir, ada aku di sini. Kamu pasti kuat demi anak kita.” Ronggo mencoba menguatkan Davina agar tak panik.
“Dok, saya merasa ada yang ingin keluar dari bawah, dan juga banyak air yang mengalir,” ucap Davina lirih.
“Baiklah, saya bantu yah. Saya akan memberi aba-aba, jika mulas dan ada yang ingin keluar maka mengejan sesuai aba-aba. Ini air ketubannya yang baru pecah,” titahnya membuka kaki Davina.
“Ih kepalanya sudah kelihatan, dorong dengan kuat yah,” titahnya dan Davina menurutinya untuk mengejan.
Satu kali... dua kali... bayi belum kuncung keluar juga, saat kali ketiga akhirnya tangis bayi yang berlumuran darah pun memenuhi ruang persalinan membuat Davina dan Ronggo menitikkan air mata bahagianya.
“Selamat yah, anak kalian laki-laki, sangat tampan seperti Papahnya,” ucap sang dokter setelah membersihkan bayi tersebut, ia memberikannya pada Davina yang juga sudah bersih.
“Terima kasih yah, Dok.”
“Sama-sama, Ibu sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang rawat.”
...
Dua hari setelah persalinannya Davina sudah diperbolehkan pulang, Aberlie dan Bram pun sudah datang setelah diberi kabar oleh Ronggo, tapi sayangnya Devano tak bisa ikut datang karena sedang perjalanan bisnis keluar negeri. Empat puluh hari kemudian Davina dan Ronggo beserta putranya yang belum diberi nama memutuskan untuk kembali ke kota J. Mereka ingin Devanolah yang memberi nama bayi mungil berjenis kelamin laki-laki tersebut.
“Kak, siapa nama yang bagus untuk keponakanmu ini?” tanya Davina setelah Devano pulang dari perjalanan bisnisnya.
“Milan Putra Hanoraga.”
~TAMAT~
__ADS_1