
Pagi hari Ronggo sudah bangun dari tidurnya, ia membiarkan sang istri yang masih terlelap karena mungkin sangat kelelahan dengan perjalanan panjang dan aktivitas satu minggu sebelum berangkat yang sangat melelahkan di Cafe setelah pernikahannya.
Yah, dua hari setelah menikah Davina memutuskan untuk membereskan pekerjaannya terlebih dulu di Cafe karena ia sudah memutuskan untuk pergi berbulan madu bersama dengan suaminya. Dibantu oleh Ashana, Davina mengecek pemasukan dan pengeluaran serta laba yang diperoleh selama satu bulan belakangan karena memang sudah mendekati akhir bulan, mereka mengerjakan dan menyelesaikannya dalam waktu tiga hari karena Davina harus segera bersiap untuk bulan madunya.
Ronggo memutuskan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dulu, setelahnya ia menuju dapur untuk membuatkan makanan agar saat bangun nanti istrinya sudah langsung bisa menyantapnya.
Di dapur, Asih sudah bersiap memasak makanan untuk sarapan kedua majikannya, tapi Ronggo menghentikannya karena ia yang akan memasak untuk sarapan bersama dengan sang istri.
“Biar saya saja, Bi yang masak,” ucap Ronggo dengan sopan.
“Apa Tuan bisa memasak?” tanya Asih ragu, ia tak tahu kalau Ronggo adalah seorang kepala Chef di Cafe milik sang istri.
“Saya seorang koki.” Ronggo menanggapinya sambil tersenyum.
“Ah maaf, Bibi tak tahu kalau Tuan seorang koki. Kalau begitu Bibi akan membantu,” serunya tak enak hati.
“Tak perlu, Bibi bisa mengerjakan yang lainnya saja, jika pekerjaan Bibi sudah selesai Bibi bisa istirahat, biar saya yang siapkan ini,” tolak Ronggo secara halus.
“Baiklah kalau begitu, Bibi akan ke belakang saja untuk merawat kebun,” ucap Asih yang akhirnya memilih untuk ke belakang rumah.
Ronggo dengan lihainya memilih bahan masakan yang mau ia olah, ia berencana akan membuat nasi goreng seafood untuk menu makan siang. Tak lama ia sudah selesai dengan menu sarapannya, ada empat piring nasi goreng seafood yang ia buat.
“Bi, ada dua piring nasi goreng di atas meja makan, nanti dimakan bersama dengan Mang Asep yah,” ucap Ronggo saat akan membawa nampan berisi dua porsinya lagi menuju kamar.
“Tuan, Anda mengapa repot-repot segala membuatkan untuk saya dan suami saya, saya jadi merasa tak enak jika Tuan seperti ini,” keluh Asih merasa tak enak hati, Ronggo tersenyum.
“Tak perlu merasa tak enak, kan saya yang bersedia. Lebih baik panggil Mang Asep dan ajak sarapan bersama mumpung masih hangat. Saya ke atas dulu untuk sarapan bersama dengan istri saya.” Ronggo bergegas untuk menuju kamarnya.
“Terima kasih, Tuan,” seru Asih sebelum majikannya berlalu jauh.
“Oke, Bi sama-sama.”
Di dalam kamar, Davina masih bergelung dengan selimut yang tebal, hawa dingin pedesaan membuatnya enggan untuk membuka selimut yang menutupinya, matanya masih dengan asyiknya terpejam meski ia sudah terbangun dari tidurnya.
Pintu dibuka dan Ronggo pun masuk membawa nampan berisi dua piring nasi goreng seafood, satu gelas jus jambu dan juga secangkir kopi hitam. Ronggo yang melihat istrinya masih bergelung dengan selimut hanya tersenyum, setelah meletakkan nampan di atas meja ia menghampiri istrinya dan mencium keningnya.
“Pagi, Sayang!” sapa Ronggo membuat Davina mau tak mau membuka matanya.
__ADS_1
“Hm, pagi juga, Sayang. Rasanya aku tak ingin bangun, udaranya bikin ingin selalu selimutan seperti ini,” sahutnya dengan suara serak khas bangun tidur.
“Makanya aku tak membangunkanmu pagi tadi. Tapi sekarang kau harus bangun karena nasi goreng seafood buatan suami tercinta sudah siap untuk disantap, cepat cuci muka dan sikat gigi atau nanti makanannya keburu dingin.” Ronggo menyibakkan selimut yang menutupi tubuh istrinya lalu membantu Davina untuk bangun.
“Baiklah, karena perutku juga sudah kukuruyuk jadi terpaksa aku harus bangun, kasihan kalau mereka menungguku terlaku lama.” Davina berjalan menuju kamar mandi untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh suaminya.
Setelah keluar dari kamar mandi, keduanya sarapan bersama.
“Setelah ini mau ke mana?” tanya Ronggo disela makannya.
“Aku hari ini mau istirahat ajah, esok saja kita pergi jalan-jalan, rasanya tubuhku lelah sekali dari kita nikah sampai saat ini aku belum istirahat yang cukup,” sahut Davina yang masih menikmati nasi goreng seafood buatan suami tercintanya.
“Baiklah kalau begitu, terserah kau saja kapan ingin pergi jalan-jalannya, aku menuruti perintah dari permaisuri saja,” ucap Ronggo dengan sedikit candaannya.
Selesai makan Davina membersihkan tubuhnya karena sudah menjelang siang, sedangkan Ronggo membereskan bekas makan mereka di dapur.
“Kau mau ke mana?” tanya Ronggo yang melihat istrinya suda cantik dan wangi karena habis mandi.
“Kita duduk di kebun belakang yuk, sepertinya suasananya adem deh,” sahutnya mengajak sang suami untuk duduk di kebun.
“Baiklah, ayu kita bersantai untuk hari ini.”
Suasananya memang terlihat asri, dari belakang Villa terlihat jalanan yang banyak rumah yang ditempati oleh penduduk desa karena memang Villa tersebut berdiri di samping jalan dekat perumahan warga jadi saat berada di depan maupun di belakang pasti akan terlihat rumah warga.
“Kalau menetap di sini sepertinya akan sangat betah,” ucap Davina membayangkan ia dan sang suami menetap di tempat tersebut.
“Apakah kau ingin menetap di sini?” tanya Ronggo.
“Jika aku menetap, lalu yang menangani Cafe siapa? Kasihan Mamah sudah tua, sudah seharusnya dia beristirahat dan menikmati hidup bersama dengan Daddy. Aku memang ingin menetap di sini ketika melihat tempat ini yang begitu asri dan betah, tapi tidak sekarang, mungkin nanti saat hamil aku ingin tinggal di sini sampai melahirkan,” sahutnya menyusun skenario yang berharap akan terwujud, karena mengingat dirinya harus menangani Cafe yang kini sudah menjadi tanggung jawabnya ia tak bisa mengambil keputusan yang sepihak.
“Kalau inginmu seperti itu, aku akan bicarakan pada Mamah dan Daddy nanti saat kita kembali ke kota.”
Mereka duduk menikmati pemandangan hingga siang menjelang dan jam makan siang tiba.
“Mau makan apa? Biar kumasakan untukmu,” tanya Ronggo.
“Bagaimana kalau kita masak bersama saja, ada apa saja di lemari pendingin nanti aku akan putuskan mau masak apa,” saran Davina yang juga ingin masak menu makan siang.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu, cus kita eksekusi dapurnya.”
Keduanya menuju dapur dan melihat ada apa saja di dalam lemari pendingin.
“Ada udang, Mas. Aku ingin makan udang asam manis buatanmu sepertinya enak,” ucapnya setelah menemukan udang di dalam freezer.
“Baiklah, kamu bersihkan udangnya aku akan buatkan bumbunya,” sahut Ronggo dan mereka pun mengerjakan tugasnya masing-masing.
Udang sudah dibersihkan, bumbu sudah siap dan Ronggo langsung memasaknya sedangkan Davina menyiapkan nasinya yang masih berada di dalam alat penanak nasi.
Udang matang Ronggo membaginya menjadi dua piring, satu piring dibawa oleh Davina menuju meja makan dan satu piring diberikan pada Asih.
“Aduh, Tuan. Jika kalian butuh sesuatu bisa minta tolong saja pada saya, ini malah repot-repot membuatkan makanan pula untuk Bibi dan Mang Asep. Terima kasih banyak yah, Tuan,” seru Asih yang sebenarnya merasa tak enak hati karena anak majikannya selalu saja mandiri tak seperti Bram dan Aberlie yang selalu memerlukan bantuannya saat memasak ketika datang mengunjungi Villa.
“Bibi tak perlu sungkan seperti itu, kami sudah biasa kok, kami ini koki jadi biasa masak sendiri. Bibi tinggal nikmati saja sama kerjain yang lain saja, urusan memasak biar saya dan istri saya yang kerjakan.” Ronggo mencoba mencairkan suasana canggung pada Asih.
“Baik, Tuan. Sekali lagi terima kasih.”
“Bi, di kebun belakang ada pohon singkong, apakah ada isinya? Kalau ada besok saya mau menggalinya untuk dibuat comro, istri saya pasti belum pernah makan comro jadi saya mau membuatkan untuknya,” tanya Ronggo sebelum Asih pergi.
“Ada kok, Tuan. Sudah besar-besar, sudah siap dipanen juga. Besok akan saya minta Mang Asep untuk menggalinya, ada Ubi juga apa mau sekalian?” sahut Asih menawarkan Ubi.
“Boleh, Bi kalau tak merepotkan.”
“Tidak merepotkan kok, Tuan. Ya sudah, saya permisi dulu.”
Setelah Asih pergi Ronggo dan Davina mulai menyantap makanan yang sudah menunggunya.
“Kamu mau buat apa tadi?” tanya Davina yang penasaran sama nama makanan yang sepertinya terdengar aneh.
“Oh comro, kamu belum pernah makan kan? Besok aku buatkan comro, isinya sambal oncom, besok bangun pagi kita sekalian pergi ke pasar buat beli oncomnya,” sahut Ronggo memberitahu nama makanan yang terbuat dari singkong diparut tersebut, seketika Davina bergidik saat mendengar kata oncom.
Dalam pikiran Davina oncom yang sering ia lihat dan dengar adalah oncom yang bulukan dan dipenuhi lalat.
“Ih kok jorok sekali sih pakai oncom,” protesnya membuat Ronggo terkekeh.
“Kamu belum tahu oncom? Kok bisa berasumsi kalau oncom itu jorok?” tanya Ronggo yang masih terkekeh.
__ADS_1
“Yah jorok ajah, kata orang oncom itu bulukan dan juga dihinggapi lalat, pokoknya jorok deh,” tutur Davina dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan.
“Hahaha, kamu tuh lucu banget sih, mana ada begitu. Dia memang bulukan tapi gak dihinggapi lalat juga kali, Sayang. Makanya besok kita ke pasar biar kamu tahu bentuk oncom dan buktikan sendiri apakah dia dihinggapi lalat atau tidak.”