Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)

Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)
BAB 34


__ADS_3

“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Bram, saat ini Ronggo sudah duduk di kursi di hadapan Bram, Davina juga sudah duduk di sampingnya.


Ronggo saat ini sangat gugup, pasalnya ia saat ini sedang berhadapan dengan pengusaha sukses yang terkaya di kotanya. Sedari kecil ia sudah mengagumi sosok Bram, ia sering melihatnya disurat kabar dan majalah. Ronggo juga bertekad ingin menjadi orang sukses seperti Bram suatu hari nanti, tapi apalah daya ia hanya seorang yatim piatu yang kebetulan beruntung dipungut oleh Nenek yang saat ini menjadi Neneknya.


“Be-begini Tuan muda, Vi-Vina bi-lang katanya Anda ber-berniat untuk membiayai-membiayai.”


“Saya akan membiayai kuliah kamu tapi dengan satu syarat, kamu harus berjanji untuk belajar yang giat dan menggapai cita-citamu.” Bram tak menunggu Ronggo untuk selesai bicara, ia sangat tak sabar.


“Anda serius, Tuan muda? Apa yang Anda lihat dari diri saya? Sa-saya hanya pemuda yang tak punya, dan Anda pun tak mengenali saya tapi mengapa Anda begitu percaya dan ingin membiayai kuliah saya. Bagaimana kalau kelak saat saya sudah sukses tak mengingat jasa Anda?” tanya Ronggo yang masih tak percaya.


“Saya tak bingung kalau kamu tak mengingat jasa saya, lagi pula itu hanya jumlah yang tak seberapa. Saya hanya ingin membantumu saja karena kamu memiliki cita-cita seperti Vina. Kelak jika kamu lulus aku akan memintamu untuk menjadi koki handal di Cafe istriku,” sahut Bram dengan nada yang dingin seperti biasa ia berbicara pada orang lain selain keluarganya sendiri.


“Jadi, apa jawabanmu?” tanya Bram kembali.


Ronggo diam sejenak, ia menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan sangat perlahan.


“Saya mau, Tuan. Saya berjanji akan belajar dengan giat untuk mencapai cita-cita saya. Saya juga tak akan mengecewakan Anda,” ucap Ronggo dengan tegas dan mantap.


“Baiklah, beberapa bulan lagi akan penerimaan mahasiswa baru, aku akan meminta Haris untuk mengurus semuanya. Saat sudah mulai kuliah nanti, aku mau kamu keluar dari pekerjaan kamu dan fokus pada kuliah kamu. Kalau kamu membutuhkan pekerjaan kamu bisa bekerja di Cafe istri saya bersama dengan Vina. Kamu bisa sambil belajar di sana dengan Satria,” sambung Bram meminta Ronggo untuk berhenti menjadi sopir taksi online.


“Baik, Tuan muda. Saya akan menuruti perkataan Anda, saya sungguh sangat berterima kasih karena Anda peduli dengan saya yang rakyat jelata ini. Kalau begitu saya permisi dulu karena saya harus mengantar Vina ke kampus.” Ronggo berpamitan pada Bram setelah mengucapkan rasa terima kasihnya.

__ADS_1


“Baiklah, kalian boleh pergi,” sahut Bram, Davina mengedipkan sebelah matanya memberi isyarat senang pada sang Daddy.


Ronggo dan Davina pergi setelah mereka berpamitan.


“Huh, aku baik hati padanya karena putri kesayanganku sangat menyukainya, dan juga aku baru melihatnya menyukai pria setelah sekian lama dia tumbuh dewasa,” gerutu Bram ketika pasangan yang belum memulai hubungannya itu pergi.


“Kenapa kamu tak mengatakannya saja secara langsung, Bro. Dari pada kamu ngedumel saat mereka sudah pergi, bikin telingaku sakit rasanya,” ucap Haris yang risih dengan ocehan Bram.


“Baiklah-baiklah, sekarang beritahu jadwalku, kau jangan ngoceh saja seperti emak-emak arisan,” sahut Bram yang tak nyadar diri.


‘Sebenarnya siapa sih uang gak nyadar diri, dasar Tuan muda oleng, dari dulu oleng sama bucinnya gak ilang-ilang, dia yang dari tadi ngedumel dia yang repot, kalo ajah bukan Bos udah kusangkuti kamu ke pohon toge,’ gerutu Haris dalam hati, ia tak berani berucap melebihi batas jika sedang dalam jam kerja, tapi kalau dalam lingkup keluarga dia akan seperti layaknya saudara dan sahabat bagi Bram.


...


“Vin, makasih banget yah, karena kamu aku bisa melanjutkan kuliah dan bisa berharap menggapai mimpiku,” ucap Ronggo berterima kasih pada Davina.


“Makasih doang nih?” tanya Davina seakan mengharapkan sesuatu.


“Aku akan traktir kamu makan gimana? Terserah kamu mau makan di mana, aku ounya tabungan kok kalau buat ajak kamu makan di resto mah, tapi jangan bintang lima tabunganku tak cukup, hehe,” sahut Ronggo terkekeh menawarkan akan mentraktir Davina makan.


“Aku gak mau ditraktir makan sama kamu, lagi pula kalau makanan mewah aku bosan, di Cafe dan di resto sama saja,” ucap Davina menolak ajakan traktiran Ronggo.

__ADS_1


“Terus kamu mau apa dong? Atau kamu ingin aku belikan sesuatu gitu? Katakan ajah kamu mau apa? Nanti aku belikan,” tanya Ronggo bingung karena Davina menolak tawarannya.


“Aku bukan gadis matre yang hobi belanja,” sahut Davina semakin membuat Ronggo bingung.


“Terus?”


“Aku mau hati kamu, aku mau cinta kamu, aku mau kamu menjadi kekasihku,” ucap Davina membuat Ronggo diam seketika, ia menghentikan mobilnya dipinggir jalan membuat Davina bingung dengan perubahan sikap pria pujaannya yang duduk di samping dirinya.


“Kenapa?” tanya Davina lagi.


“Aku kan sudah bilang, jangan suka sama aku, aku bukanlah pria kaya yang bisa memenuhi keinginanmu, aku gak mau membuatmu kecewa karena kemiskinanku dan juga aku takut dikecewakan lagi,” sahut Ronggo yang tak ingin memberikan hatinya pada gadis tomboi yang sebenarnya ia sukai itu, ia mencoba membunuh perasaan yang terus tumbuh dan bersemi tersebut.


“Aku kan sudah bilang, aku bukan gadis matre seperti yang kamu pikirkan. Kamu tahu aku bekerja paruh waktu dan memiliki penghasilanku sendiri, jadi kalau aku ingin apa pun aku bisa membelinya sendiri, untuk apa alu merengek minta ini itu padamu, kecuali kelak jika kamu sudah menjadi suamiku baru aku akan menuntut hak nafkah darimu. Cobalah buka hatimu sedikit saja untukku, aku tulus cinta sama kamu, Mas. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, apakah kamu tahu? Perasaan ini terkadang membuatku g*la karena aku selalu ingin bertemu denganmu. Aku mohon, kita jalani saja dulu oke, nanti kamu bisa menilai seperti apa diriku,” ucap Davina seakan memohon agar Ronggo mau membuka hatinya sedikit saja untuk dirinya, ia juga meyakinkan pria pujaannya kalau ia tak seperti wanita yang pernah ia temuinya.


‘Apakah kamu tak menyadarinya kalau aku sudah lama membuka hatiku untukmu, gadis tomboi? Aku hanya tak ingin mengungkapkannya saja padamu. Kelak jika cita-citaku sudah tercapai aku akan langsung memintamu untuk menjadi pendamping hidupku, kuharap kau belum bersama dengan pria lain,’ batin Ronggo yang ternyata memiliki rencananya sendiri.


“Kenapa kamu diam ajah, jawab aku, Mas,” ucap Davina kembali karena Ronggo tak memberinya jawaban.


...


Kira-kira apa jawaban yang akan diberikan Ronggo untuk Davina yah🤔

__ADS_1


Ah othor yakin kalia sudah bisa menebaknya deh


__ADS_2