
“Bagaimana? Apakah kamu sudah mengatakan padanya? Lalu, apa jawaban darinya?” tanya Bram, saat ini mereka sedang berada dalam mobil sepulang dari Cafe.
“Dia bilang akan memikirkannya dulu, esok baru beri jawabannya. Dia awalnya gak percaya sih kalau Daddy beneran mau biayain dia kuliah, tapi setelah aku yakinkah dia akhirnya dia setuju, meski masih dalam tahap memikirkannya terlebih dulu,” sahut Davina menjelaskan dengan keseluruhan.
“Baiklah, Daddy tunggu kabar selanjutnya, dan semoga berhasil yah,” goda Bram, pasangan bucin itu lalu terkekeh membuat Davina kesal.
“Ish, kalian itu senang sekali menggodaku sih,” gerutu Davina dengan wajah cemberutnya.
“Kami tak menggoda, kami hanya mendukung agar kamu lebih semangat lagi ngejar dia, ia kan Dad?” ucap Aberlie mengajak suaminya bekerja sama.
“Daddy sih iya-iya saja kalau Mamahmu oke,” ucap Bram yang tak menyangkal.
“Dia bukan anak orang kaya seperti kita loh, Dad. Apa kalian bakalan izinin aku berhubungan dengannya?” tanya Davina mencoba ingin mengetahui reaksi dari orang tuanya.
“Memangnya kalau dia dari keluarga tak mampu kenapa? Asalkan dia mau bekerja keras dan bertanggung jawab bagi Daddy dan Mamah gak masalah, dari pada dari keluarga terpandang tapi selalu mengandalkan orang tuanya dan gak mau bekerja. Daddy lebih suka dia yang dari keluarga gak mampu tapi pekerja keras,” sahut Bram memberikan penilaiannya.
“Seriusan Daddy bakalan izinin aku buat berhubungan sama dia? Biasanya orang tua bakalan gak setuju kalau anaknya dapat pria yang statusnya gak selevel, kok Daddy sama Mamah malah ngizinin sih?” Davina masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Daddynya.
“Sayang, bagi Papah asalkan kamu bahagia bersama dengannya kelak dan dia bertanggung jawab juga mampu membahagiakan kamu kenapa Daddy harus menghalangi hubungan kamu, kan kamu yang menjalankannya jadi Daddy dan Mamah hanya akan mendoakan agar kamu bahagia. Daddy gak mau menjodoh-jodohkan anak-anak Daddy karena Daddy gak mau kalau nantinya anak-anak Daddy tak bahagia dengan pilihan Daddy. Dan kalau itu terjadi maka Daddy akan sangat merasa bersalah sekali,” sahut Bram membuat istri dan putri tomboinya terharu.
“Uuuh Daddy, Vina sayang sekali sama Daddy, love you Dad. Daddy memang benar-benar cinta pertama Vina.” Davina memeluk Bram dari kursi belakang membuat Aberlie tersenyum bahagia karena pria yang selama ini dicintainya begitu penyayang pada keluarganya.
“Daddy juga sayang kamu, Sayang.”
...
Di tempat lain, di dalam kamar, Ronggo sedang memikirkan apa yang dikatakan oleh Davina.
“Apa dia serius, masalahnya ini Tuan muda Hanoraga loh yang dia katakan, apa dia sedekat itu dengan Tuan muda Hanoraga sampai Tuan muda berniat ingin membiayaiku kuliah.” Ronggo galau dengan keputusan yang ingin diambilnya.
Satu sisi Ronggo memang ingin melanjutkan kuliah tapi tak memiliki biaya untuk melanjutkannya. Disisi lain ia merasa ragu dengan apa yang dikatakan oleh gadis tomboi yang saat ini tengah bertakhta dihatinya.
Hingga larut malam Ronggo masih terjaga karena memikirkan apa yang akan ia katakan pada Davina sebagai jawabannya. Sekitar pukul tiga dini hari, Ronggo sudah tak sanggup lagi untuk menahan matanya dan akhirnya mata itu terpejam juga, Ronggo memasuki alam mimpinya yang indah.
...
“Aku berangkat yah, Mam, Dad.” Davina berpamitan pada kedua orang tuanya, seperti biasa ia akan mencium pipi Bram dan Aberlie.
“Jangan lupa, Daddy masih menunggu jawabannya loh, nanti kabari Daddy kalau dia sudah memberikan jawabannya,” ucap Bram mengingatkan.
__ADS_1
“Siap Bos.” Davina bergaya hormat seperti anak sekolah yangsedang melakukan upacara bendera setiap hari senin.
Davina pergi setelah berpamitan menuju tempat biasa Ronggo menunggunya.
“Pagi,” sapa Davina saat ia masuk ke dalam mobil, tapi tak ada jawaban dari Ronggo.
“Astaga, dia tertidur gara-gara menungguku,” gumam Davina terkekeh. “Mas, bangun.” Davina menepuk pundak Ronggo hingga pria itu membuka matanya.
“Eh, maaf aku ketiduran. Kita jalan sekarang kan,” ucap Ronggo dengan gugup karena baru bangun.
“Kamu tumben banget Mas, memang semalam gak tidur sampai sekarang ketiduran begini?” tanya Davina yang heran dengan pria pujaannya yang ketiduran karena menunggu dirinya.
“Aku tidur sudah larut semalam, gak bisa tidur gara-gara mikirin yang kamu bilang kemarin,” sahut Ronggo jujur.
“Astaga Mas, kamu sampai ke pikiran begitu, hehe. Jadi-jadi, apa jawaban kamu?” tanya Davina yang penasaran menunggu jawaban dari pria pujaannya.
“Aku sebenarnya masih belum percaya ajah sama ucapan kamu kemarin. Kalau aku ingin memastikannya dengan bertemu Tuan muda Hanoraga bagaimana? Apakah dia mau bertemu denganku ini?” tanya Ronggo ragu untuk berucap.
“Bentar yah, aku kirim pesan dulu ke Tuan muda.” Davina mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu di ponselnya.
“Sudah aku katakan tinggal nunggu balasan saja, ayu berangkat siapa tahu nanti sambil jalan sudah dibalas,” ajak Davina dan Ronggo pun mulai melajukan mobilnya.
“Kira-kira Tuan muda mau tak yah bertemu denganku, atau.”
Ronggo mengerem secara mendadak.
“Aduh!” pekik Davina karena terkejut Ronggo mengerem mendadak.
“Ada apa sih, Mas? Kenapa pakai rem mendadak? Mana aku lupa pakai sabuk pengaman lagi,” tanya Davina mengusap dahinya yang terbentur dasbor.
“Maaf-maaf, aku gak sengaja. Sakit yah, sini aku lihat.” Ronggo meraih kepala Davina dan mengusap dahinya yang memerah karena terbentur dasbor sambil meniup-niupnya.
Tanpa sadar mereka berada dalam kedekatan yang tanpa jarak. Jantung Davina seketika langsung berdegup sangat cepat dan matanya melihat wajah Ronggo yang bibirnya masih meniup dahinya. Davina terbengong dan tersenyum meski jantungnya sedang beradrenalin.
‘Rasanya begitu nyaman, oh jantung kamu baik-baik saja kan di dalam sana? Tak pernah sedekat ini dengannya,ini momen yang sangat langka sekali, aku berharao waktu berhenti saat ini juga agar aku bisa menikmati momen ini lebih lama,’ batin Davina yang masih terus menatap pada Ronggo yang sibuk meniup dahinya yang memerah.
Triiing...
Davina terkejut karena ponselnya berdering tanda pesan masuk, ia menjadi salah tingkah.
__ADS_1
“Ah, ponselku bunyi,” ucap Davina terbata-bata, ia mengambil ponselnya untuk memeriksa isi pesannya, Ronggo kembali ke posisi semula duduk.
“Apakah masih sakit?” tanya Ronggo yang masih memperhatikan dahi gadis tomboi yang duduk di sampingnya, Davina memegang dahinya dan tersenyum tipis, ia mengingat momen saat Ronggo meniup keningnya beberapa detik lalu.
“Sudah tidak, kan kamu sudah nyembuhinnya,” sahut Davina dengan terus tersenyum.
“Maaf yah, kamu jadi terbentur dasbor gara-gara aku,” ucap Ronggo merasa bersalah.
“It’s oke, gak masalah kok.”
“Kalau begitu kita lanjut ke kampus.” Ronggo melajukan mobilnya kembali, tapi baru saja mobil melaju beberapa senti Davina menghentikannya.
“Mas, kita gak ke kampus,” ucapnya menghentikan Ronggo.
“Lah terus?”
“Kita ke kantor Da, ehm maksudku kita pergi ke kantor Tuan muda. Dia sudah balas chat aku katanya sekarang menyuruh kita untuk ke sana,” sahut Davina memberitahu setelah membaca isi pesan yang ternyata balasan dari Bram.
“Apa, jadi Tuan muda setuju buat bertemu aku? Aku gak mimpi kan? Kamu gak lagi prank aku kan? Terus kuliah kamu gimana?” tanya Ronggo yang tak percaya.
“Serius, Mas. Ayu kita ke sana sekarang, nanti aku chat Riris untuk absenin aku buat kelas pagi,” sahut Davina dan akhirnya Ronggo mengemudikan mobilnya untuk menuju gedung Emerald Jewelry, perusahaan milik keluarga Hanoraga.
Sampai di area parkir, Ronggo merasa gugup karena akan bertemu dengan pengusaha sukses nomor satu di kotanya.
“Ayu turun,” ajak Davina karena Ronggo masih belum beranjak dari kursinya.
“Aku gugup banget nih, ini seriusan kan kita bakalan ketemu sama Tuan muda?” tanya Ronggo ingin memastikan, tak lama kaca pintu sisi Davina duduk diketuk dari luar, Davina melihat siapa yang mengetuknya dan ternyata Haris, Papah dari Riris.
“Serius lah, tuh Om Haris, Papahnya Riris sudah datang menjemput kita,” sahut Davina menunjukkan ke arah luar di mana Haris masih berdiri.
“Vin, aku deg-degan banget deh, apalagi dijemput langsung sama orang kepercayaan Tuan muda, berasa sangat istimewa banget gak sih,” ucap Ronggo yang tiba-tiba menjadi lebai.
“Mas, kamu kok jadi lebai gini sih, mana Mas Ronggo yang dingin dan selalu cuek padaku itu? Sudah ayu turun, Tuan muda sedang menunggu kita.” Davina turun meninggalkan Ronggo yang masih deg-degan.
Tak lama Ronggo keluar dan berjalan menghampiri Davina juga Haris.
“Pagi, Tuan Haris,” sapa Ronggo dengan ramah.
Sebenarnya kakinya gemetaran tapi ia mencoba untuk menahannya karena tak ingin membuat Bram menunggu terlalu lama. Tak tahu saja ia kalau gadis tomboi yang bersama dengannya adalah putri dari Bram Hanoraga.
__ADS_1
“Pagi, ayu saya antar kalian, Tuan muda sudah menunggu kedatangan kalian,” sahut Haris mengajak keduanya untuk segera menuju ruangan Bram, Haris sudah tahu kalau anak Bos besarnya itu menutupi identitasnya malanya ia bersikap biasa saja pada Davina.
Mereka berjalan mengikuti Haris menuju ruang kerja Bram. Sampai di depan pintu, sebelum Haris membuka pintunya, Ronggo terus saja berkomat-kamit seperti membaca mantra.