
"Pantas saja wajah si cowok urakan itu tampan dan nyaris tanpa jerawat, skincarenya juga produk berkelas," ucap Syana tidak sadar bahwa dia baru saja memuji wajah Syahdan.
Belum puas dengan penemuan produk skincare di laci lemari Syahdan, Syana masih berusaha mencari petunjuk lain yang lebih akurat. Laci kedua dari lemari itu perlahan dia buka. Kali ini perasaan Syana mendadak deg-degan, jantungnya berdebar dan hatinya berdesir.
Ada beberapa kertas-kertas yang entah apa isinya, juga sebuah map berwarna kuning yang covernya merupakan bangunan megah sebuah mall besar, yakni **Syaidar Mall**. Syana tidak curiga atau ingin tahu dengan isi map tersebut. Dia pikir, semua orang yang pernah ke **Syaidar Mall**, wajar memiliki map atau goodiebag bergambar bangunan megah gedung Syaidar Mall. Bisa jadi Syahdan pernah belanja di mall itu dan diberi map atau goodiebag bergambar gedung Syaidar Mall.
Masih belum menemukan petunjuk yang akurat, membuat Syana dilanda putus asa. Syana menghembuskan nafasnya kasar, dia menyerah dan kehilangan ide untuk melanjutkan mencari tahu siapa sebenarnya Syahdan. Menghabiskan rasa penasarannya, Syana mengangkat lagi tahapan di bawah map bergambar gedung Syaidar Mall. Lagi dan lagi. Saat tiba di tahapan paling bawah, Syana menemukan kertas foto yang terbalik. Syana sangat penasaran dan meraihnya. Benar saja, itu sebuah foto.
Foto itu ia amati, sepertinya itu sebuah foto keluarga. Sebab ada Syahdan di dalamnya dan tiga orang lagi, yakni kedua orang tua dan satu lagi seorang laki-laki muda yang kira-kira usianya dua tahun di atas Syahdan. Syana menduga mereka berempat adalah satu keluarga, Syahdan, kakak laki-laki, serta ayah dan ibunya. Tepat diujung kiri bawah foto, terdapat tulisan Syaidar Family; Papa, Mama, Kakak, Aku. Wajah kedua saudara itu mirip, tapi yang lebih mirip ke Papanya di foto itu adalah Syahdan.
"Syaidar family? Apakah foto ini adalah keluarga Syaidar pemilik Syaidar Mall itu, atau keluarga cowok urakan ini sedang di foto di studio foto Syaidar Mall?" duga Syana penasaran.
"Tidak mungkin, mereka tidak mungkin keluarga Syaidar yang kaya raya itu, ini pasti mereka hanya sedang di foto di studio Syaidar Mall. Jadi, tidak mungkin cowok urakan ini keluarga Syaidar, tidak mungkin," ucap Syana menyangkal dugaannya.
"Apanya yang tidak mungkin?" Syana terkejut mendengar suara laki-laki yang tiba-tiba terdengar menyela ucapannya? Syana membalikkan badan, dia kenal suara itu. Dia Syahdan yang datang dan sudah ada di belakang Syana. Rupanya Syana tidak menyadari kedatangan Syahdan tadi, sebab dia terlalu asik memikirkan foto keluarga Syahdan yang di foto di studio Syaidar Mall.
Syana masih memegang foto keluarga Syahdan dengan wajah yang masih kaget. Syahdan menghampiri lalu meraih foto yang dipegang Syana dengan sedikit terburu-buru.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan dengan lemariku, kamu mengutak-atik isi di dalamnya, kan?" tanya Syahdan menuding.
"Ti-tidak, Kak, saya hanya memeriksanya apakah isi lemarinya berantakan atau tidak," jawab Syana sedikit gugup.
"Kalau hanya memeriksa isi lemariku berantakan atau tidak, kenapa kamu bisa mendapatkan foto ini dari laci lemariku? Apa yang kamu cari? Jangan-jangan kamu mau mencuri," tuding Syahdan membuat Syana meradang dan kesal dituding mau mencuri.
"Tidak, saya bukan mau mencuri, tapi, tapi .... "
"Tapi apa?"
"Saya penasaran dengan Kakak, siapa Kakak, juga latar belakang Kakak. Dan yang lebih penting, saya ingin tahu, alasan Kakak memaksa menikahi saya dengan dalih pelecehan dan mengakui melakukan hubungan mesum sebelum menikah pada Ibu dan Bapak saya." Akhirnya Syana mengungkapkan alasan dia mencari tahu siapa Syahdan sebenarnya, yaitu hanya ingin tahu alasan kenapa Syahdan menikahinya?
"Apa yang kamu pikirkan tentang foto itu?"
"Keluarga kecil yang bahagia yang sedang di foto di studio Syaidar Mall. Kakak hanya berfoto saja, kan di sana? Kakak tidak mungkin keluarga Syaidar yang kaya raya itu, kan?" tanya Syana masih menyimpan rasa penasaran.
"Ya tidak mungkin dong, aku dan keluargaku hanya berfoto di studio Syaidar Mall," sangkal Syahdan meyakinkan.
"Tapi, kenapa rasanya Kakak punya ikatan kedekatan dengan pihak Syaidar Mall. Saat itu ketika saya meminta Kakak untuk memintakan ijin saya untuk tidak masuk kerja, Leader saya yang biasanya bawel dan judes saat saya tidak masuk, suka menghubungi saya dan menanyakan \*\*\*\*\* bengek kenapa saya tidak masuk, tapi saat itu Leader saya sama sekali tidak menghubungi saya. Dari situ, saya menjadi penasaran siapa Kakak sebenarnya?" ungkap Syana menceritakan rasa penasarannya terhadap Syahdan.
__ADS_1
"Kenapa mesti penasaran? Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan keluarga orang kaya itu. Kebetulan aku kenal beberapa orang berpengaruh di Syaidar Mall, jadi gampang saja untuk aku memintakan surat ijin tidak masuk untuk orang-orang yang aku kehendaki," tukas Syahdan menjelaskan.
Syana manggut-manggut paham dan menurutnya masuk akal apa yang diungkapkan Syahdan barusan.
"Foto itu, keluarga Kakak?" tanya Syana ragu, menunjuk foto yang masih dipegang Syahdan.
"Yap, dia keluarga aku. Ahhhh, sudahlah. Kamu jangan banyak tanya perihal keluargaku. Aku datang ke sini hanya mengantarkan sarapan pagi untukmu. Kamu pasti sudah sangat lapar dan haus, kan? Terlebih setelah membersihkan apartemen ini?" Syahdan berusaha mengalihkan perhatian Syana dengan menawarkan makanan untuk sarapan Syana yang hampir kelewat ini.
Syana berbinar bahagia sebab dia sejak pagi memang sudah haus dan lapar.
"Kamu yang membersihkan semua ruangan ini?" heran Syahdan sembari menggiring Syana ke arah dapur.
"Iya," sahutnya pendek.
"Nah, begitu dong tugas perempuan, apalagi kamu sudah menyandang gelar istri. Harus bisa bersih-bersih, bukan tidur dan duduk diam sambil main HP," tukas Syahdan meledek membuat Syana kembali merengut. Bukannya terimakasih tapi malah meledek.
"Saya tidak duduk diam, lihatlah semua ruangan ini, jadi bersih karena saya. Kakak jangan sekali-kali menyepelekan hasil kerja saya," ucapnya merengut.
"Ok, ok, baiklah. Sebagai bentuk penghargaanku sama kamu, maka aku hadiahkan makanan ini. Satu lagi, sudah aku ingatkan jangan panggil aku Kakak, aku risih mendengarnya. Dan rubah kebiasaan kamu menyebut dirimu 'saya' saat bicara denganku, sebab kedengarannya kaku dan aku tidak suka," tandas Syahdan memberi peringatan pada Syana. Syana melotot mendengar semua aturan baru Syahdan.
"Lantas saya, ehh aku harus panggil Kakak apa? Mas, Mamang, Bapak atau Kakek?" tanya Syana sembari menjulurkan bibir bawahnya mengejek Syahdan tanda kesal.
__ADS_1
"Ok, Ok, deh terserah kamu mau panggil aku Kakak atau apa. Yang penting jangan yang kau sebut barusan." Akhirnya Syahdan menyerah dan mengajak Syana makan pagi yang hampir kesiangan.