Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor

Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor
Bab 15 Menggagahi Kamu, Istriku


__ADS_3

Syahdan sudah kembali bersih dengan badan yang wangi. Sampo merek Syaidar juga sabun dengan merek yang sama membaur di tubuhnya, wanginya menguar sampai masuk ke dalam kamar yang di tempati Syana.



Syana tersadar dari kesedihannya. Sejak kepergian Syahdan pagi tadi, Syana belum berhenti menangis, matanya kini bengkak sudah. Syana benci cowok urakan yang sudah semena-mena merenggut kesuciannya. Syana semakin menenggelamkan wajahnya di antara dua kakinya. Dia tidak peduli dengan keberadaan Syahdan di luar sana.



"Syana, buka pintunya, aku mau masuk," pinta Syahdan sembari mengetuk pintu kamar Syana. Syana tidak peduli, semakin Syahdan mengetuk semakin sakit rasa di dada.



"Syanaaaa, kalau dalam hitungan tiga detik kamu belum membuka pintu, maka aku akan dobrak pintu ini," ancam Syahdan serius.



"Satu, dua, tiga, .... " Syahdan mulai menghitung, namun pintu belum juga dibuka. "Syanaaa, tolong buka pintunya, aku mau bicara," pinta Syahdan berharap pintu itu segera dibuka. Namun masih saja belum dibuka oleh Syana.



"Ok, jangan salahkan aku jika pintu ini benar-benar aku dobrak. Maka nanti malam kamu tidur dengan pintu terbuka," ancamnya lagi sungguh-sungguh. Syana yang berada di dalam merasa takut jika pintunya benar-benar didobrak. Maka dengan terpaksa Syana berdiri dan membuka pintu itu perlahan.



Pintu terbuka, perlahan tubuh Syana semakin kelihatan. Syahdan masuk setengah mendorong pintu yang baru terbuka setengahnya. Syahdan langsung berhadapan dengan wajah Syana yang berbalut mukena, mukena yang lima hari lalu menjadi sebuah mas kawin di pernikahannya. Syana belum sempat menghindar, sehingga tatapan mata Syahdan tembus menuju retina mata Syana.



Mata yang bengkak dan hidung yang merah menjadi tanda bahwa sejak tadi Syana menangis. Tatapan Syahdan beralih ke bawah menuju mukena yang melekat di tubuh Syana. Dia sedikit terharu, ternyata mukena pemberiannya dari sejak diberikan sebagai mas kawin, selalu Syana pakai. Bagaimana tidak? Syana menggunakan mukena itu hampir tiap saat, tiap kumandang adan diperdengarkan. Sedangkan Syahdan sudah lama tidak lagi hirau dengan suara adan. Sejak hidupnya selalu diatur Papanya, Syahdan berontak dan hidupnya tanpa arah. Bahkan Syahdan lupa kapan dia terakhir sholat.


"Ayo keluarlah, aku ingin mengajakmu makan. Hari ini aku menang lagi balapan liar, dan uangnya bisa kita pakai untuk senang-senang," ujarnya tanpa memikirkan perasaan Syana yang sakit hati oleh Syahdan.

__ADS_1


"Bukalah mukenanya, aku lihat di dapur tidak ada makanan, aku tahu kamu belum makan. Aku tidak ingin kamu kelaparan dan sakit karena tidak makan," rayu Syahdan seraya meraih tangan Syana yang langsung ditepis gadis cantik di hadapannya.



Syana kembali meneteskan air matanya. Kejadian tadi pagi masih saja membayanginya. Dan tanpa tahu dirinya Syahdan tidak mengucapkan sepatah kata maaf padanya. Itu sangat menyakiti hati Syana.



Syahdan melihat dengan jelas saat wajah Syana basah dengan air mata. Air mata itu semakin deras. Wajah cantik nan ayu itu kini berubah sendu seakan mendung kesedihan tidak mau beranjak dari wajahnya.



"Aku minta maaf, aku tahu kamu seperti ini karena ulahku tadi pagi. Tapi, aku harap kamu memaafkan aku. Aku marah saat kamu berulang kali menyebutku **sampah masyarakat**. Sedangkan kalimat itu adalah kalimat yang paling aku benci dan aku akan marah jika mendengarnya. Sebab, orang yang seharusnya meraihku dengan kasih sayang, tega menyumpahiku dengan sebutan yang sama seperti yang sering kamu ucapkan itu, sampah masyarakat," jelasnya menceritakan sedikit alasan kemarahan Syahdan saat mendengar kalimat 'sampah masyarakat'.



Syana masih diam, dia tidak peduli Syahdan bicara apa, yang jelas yang dirasakan Syana saat ini adalah rasa sakit hati atas perlakuan Syahdan tadi pagi.




"Sah secara agama maupun negara, tapi apakah Kakak pikir aku mencintai Kakak? Kita menikah saja karena terpaksa dan atas tindakan pelecehan yang Kakak timpakan padaku. Aku sama sekali tidak mencintai Kakak, itu makanya aku merasa ini adalah pemerkosaan, karena aku tidak mencintai Kakak," tandas Syana setelah sebelumnya diam tanpa kata.



"Kamu tidak mencintai aku? Lihat saja, akan kubuat kamu jatuh cinta padaku. Jangan katakan tidak mencintai, kamu akan menyesal setelah kamu menyadari bahwa kamu benar-benar mencintai aku," tegas Syahdan penuh penekanan.



"Pergilah Kak, pergi. Biarkan aku terkurung di sini, dan jangan hiraukan keadaan aku yang terpuruk ini," usir Syana mendorong tubuh Syahdan supaya keluar.

__ADS_1



Syahdan menahan tubuhnya di muka pintu, lalu secepat kilat dia menyambar pinggang Syana dan memeluknya erat dan berhasil melabuhkan ciuman di bibir Syana. Syana sekuat tenaga ingin melepaskannya, namun tidak bisa. Pelukan Syahdan dan ciumannya malah semakin erat dan dalam.



Syahdan melepaskan tautan bibirnya di bibir Syana, setelah ruang oksigen dirasa semakin berkurang.



"Setidaknya tidak seperti ini Kak, Kakak perlakukan aku. Aku sah di mata agama dan negara, tapi cara salah. Kakak terlalu memaksa dan menyakiti hatiku dan perasaanku. Tidakkah Kakak punya perasaan untuk bisa meluluhkan seorang perempuan yang notebene telah sengaja Kakak paksa masuk dalam kehidupan Kakak? Jika seperti ini, cara Kakak sama saja pemerkosaan dan itu satu kejahatan," ujar Syana akhirnya, setelah tautan bibirnya dilepaskan Syahdan. Sebutan 'saya' yang selalu disematkan untuknya kini tidak ada lagi. Syana sudah terlanjur kecewa dengan Syahdan.



Syahdan melihat kesedihan yang dalam dari raut wajah sendu yang kini seakan memohon padanya untuk dijaga dan dihargai perasaannya. Perlahan Syahdan melepaskan pelukannya. Sejenak dia berpikir dan merasa berdosa, karena apa yang dikatakan Syana ada benarnya. Dia telah memperkosa istrinya sendiri tanpa meminta baik-baik. Tangis Syana kian pecah dan tidak terbendung.



"Maafkan aku. Aku melakukannya karena aku marah. Aku tidak suka dengan kalimat sampah masyarakat yang kamu ucapkan itu. Karena itu sangat menyakitkan hatiku," tegasnya dan diawal Syahdan sempat minta maaf. Tapi percuma, hati Syana terlanjur sakit hati dan kecewa.



"Kalau boleh aku minta. Kembalikan aku ke rumah orang tuaku dan katakan yang sejujurnya apa yang membuat Kakak memaksaku menikah dengan cara menjebak? Dan mulai detik ini, aku mohon talak aku. Talak tiga sekalian supaya Kakak tidak bisa menggangguku lagi," pinta Syana tegas.



Syahdan terbelalak dengan permintaan Syana barusan. Jangankan talak tiga, talak satu saja tidak akan dia berikan. Bukankah tujuan dia menjebak si cewek tengil ini adalah untuk membuktikan pada Papanya, bahwa tanpa menerima perjodohan Papanya dia bisa berubah lebih baik dan masih ada perempuan baik-baik yang mau menerimanya.



"Tidak. Dan itu tidak akan terjadi," tegas Syahdan menatap tajam wajah Syana.

__ADS_1


__ADS_2