Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor

Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor
Bab 48 Didatangi Pak Syaidar


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, keadaan Syana kini mulai membaik. Rasa sakit di perut akibat sayatan belati yang ditimbulkan Syaira, kini tidak terlalu sakit lagi. Hanya rasa nyelekit sesekali saja yang dia rasakan.



Melihat Syana semakin membaik, membuat Syahdan merasa bahagia dan sedikit lega. Dia bersyukur sampai saat ini masih bisa berkumpul bersama Syana.



Berita Syaira yang masuk penjara juga kini mulai santer dibicarakan. Syaira mendapat vonis penjara selama enam bulan kurungan dan denda yang entah berapa. Keluarganya shock berat dan tidak menyangka nama baik yang sudah dijaga selama ini tercoreng oleh ulah Syaira.



Ketika Pak Syaidar sempat mendatangi Pak Syahri untuk sekedar ikut bersimpatik atas yang menimpa Syaira, Pak Syaidar juga sengaja menanyakan perihal kebenaran rumor yang mengatakan bahwa Syaira mau dijodohkan dengan Syahdan tidak lain karena sebuah taruhan.



Pak Syahri tidak menjawab saat mendapatkan pertanyaan dari Pak Syaidar sepert itu. Dia hanya terlihat gugup dan berkelit untuk mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain. Pak Syaidar mencium gelagat yang mencurigakan dari sikap yang diperlihatkan Pak Syahri itu.



"Rupanya Anda sepicik itu Pak Syahri. Ingin menjodohkan Syaira dengan anak saya dengan iming-iming setengah harta Anda akan diberikan pada Syaira. Tadinya saya tidak percaya. Namun setelah melihat gelagat Anda yang aneh, saya jadi yakin dengan rumor itu. Saya kecewa dengan Anda." Pak Syaidar pergi dengan sebuah kekecewaan yang begitu besar. Pak Syahri menatap kepergian Pak Syaidar dengan perasaan yang menyesal dan hancur. Bisa jadi keakraban dan persahabatan yang dibinanya akan hancur setelah ini.


**


Sementara itu di apartemen, Syana kini yang semakin pulih berniat akan pergi bekerja membantu Syahdan. Namun Syahdan melarangnya, untuk seminggu ke depan Syana harus istirahat total tanpa aktifitas yang berat. Syana terpaksa mengikuti apa yang dikatakan Syahdan.



Syana sebetulnya bosan berada di dalam apartemen terus tanpa aktifitas. "Kak, ijinkan aku bekerja dan mencari kesibukan di bengkel Kakak. Lihatlah aku sudah sangat baikan kok," ujar Syana merayu Syahdan. Akan tetapi Syahdan tidak bisa dirayu.



"Mau bantuin apa? Kasir sudah ada Syala yang jaga. Sudah, kamu duduk diam di rumah. Ini tidak akan lama kok hanya beberapa hari saja," bujuk Syahdan tidak mau mengalah. Akhirnya Syana yang mengalah dan patuh apa yang Syahdan katakan.



Baru saja sehari Syana ditinggal di apartemen, Syana kedatangan tamu yang tidak terduga. Syana kedatangan Papanya Syahdan. Saat pintu apartemen berbunyi tanda orang bertamu, Syana merasa khawatir siapakah yang bertamu siang-siang begini. Sejenak Syana mengintip dari kaca pengintai siapa yang datang, dan hasilnya mengejutkan.


__ADS_1


Tadinya Syana bingung harus membuka pintu atau jangan. Namun dengan bismillah Syana akhirnya membuka pintu apartemennya. Saat bertatap-tatapan dengan lelaki yang merupakan Papanya Syahdan itu, ada ragu yang terpancar dalam wajah Syana. Namun Syana berusaha bersikap hormat sebagaimana seorang anak menghargai orang tuanya.



"Silahkan masuk Pak, maaf tempatnya kecil," ujar Syana mempersilahkan.



Sejenak Pak Syaidar menatap Syana dan sekeliling apartemen itu sebelum berbicara.



"Tidak, saya tidak akan masuk, bagaimana saya bisa masuk sementara kamu di dalam apartemen ini sendiri dan saya sendiri? Saya tidak ingin mendapatkan berita miring bahwa saya masuk ke apartemen anak saya dan berduaan dengan perempuan muda yang tidak lain istri dari anak saya?"



"Deggggg." Mendengar ucapan Pak Syaidar begitu, Syana sedikit terenyuh. Syana berpikir ucpan Pak Syaidar ada benarnya juga. Kenapa Syana tidak berpikiran sampai ke sana tadi, dia malah mempersilahkan masuk pada mertuanya itu tanpa menaruh curiga.



"Kamu ikut saya sebentar," ajaknya tiba-tiba. Syana heran kenapa Pak Syaidar ingin mengajaknya, dan mau kemanakah Pak Syaidar mengajaknya?




Pak Syaidar menatap Syana sejenak. "Saya tahu, tapi saya mengajakmu karena ada suatu hal yang penting, lagipula saya bukan mengajakmu jauh dari apartemen ini. Kita minum di kafe dan ngobrol sejenak," bujuknya meyakinkan Syana. Syana nampak masih ragu.



"Tapi, Pak ...." ucapan Syana menggantung saat tangan Pak Syaidar memberi kode supaya Syana tidak beralasan lagi.



"Bukankah kamu adalah menantuku, jadi anggap saja ini sebuah ajakan dari orang tuamu yang ingin menraktir minum," bujuknya lagi kukuh. Syana tidak bisa menolak lagi. Dengan terpaksa dia memenuhi ajakan Pak Syaidar, meskipun harus melanggar larangan. Syahdan untuk tidak keluar.



Tiba di sebuah kafe yang tidak jauh dari apartemen itu. Pak Syaidar mempersilahkan Syana duduk dan memesan muniman.

__ADS_1


. "Kamu mau pesan apa?" Syana langsung mengeleng karena dia memang tidak ingin pesan apa-apa.


"Tidak, Pak. Saya kebetulan sudah sarapan tadi di apartemen," alasannya.


"Baiklah kalau begitu, tapi alangkah baiknya kamu pesan minuman apa saja, biar kafe ini tidak merasa rugi telah membiarkan kita hanya duduk gratis tanpa pesan apa-apa," jelasnya yang akhirnya memaksa Syana harus memesan sebuah minuman. Akhirnya Syana memilih kopi latte sebagai minuman yang dipesannya.



"Ada hal apa yang ingin Bapak bicarakan dengan saya?" Syana mencoba memberanikan diri untuk memulai bertanya.



"Kamu pasti sangat mencintai anak saya, bukan? Maka, kamu bujuk dia supaya dia mau kembali pada keluarganya dan menjadi pemimpin tertinggi Syaidar Mall. Tidakkah kamu tahu bahwa Syahdan merupakan satu-satunya pewaris tunggal dari klan Syaidar Mall?" ujar Pak Syaidar sembari menyodorkan sebuah amplop tebal yang diduga isinya uang puluhan juta.



"Untuk apa ini, Pak?" tanya Syana heran dan mendorong kembali amplop berisi uang tebal itu ke hadapan Pak Syaidar.



"Ini sebagai imbalan atas usahamu nanti jika bisa membuat Syahdan kembali pada keluarga Syaidar. Ambillah, jangan sungkan," sodornya kembali ke hadapan Syana.



"Tidak, Pak. Jangan menganggap remeh sikap Kak Syahdan bisa luluh hanya karena Bapak menyodorkan segepok uang ini pada saya. Saya tidak yakin saya bisa rayu dengan cara apapun supaya Kak Syahdan mau kembali pada Bapak, kecuali Bapak sendiri yang membujuk langsung dan memberi perhatiannya pada Kak Syahdan. Sepertinya dia akan luluh hanya dengan ketulusan dan kasih sayang kedua orang tuanya. Bapak dan Ibu tentunya," tukas Syana membuat Pak Syaidar sedikit tertampar.



Anak kemarin sore berani mengajarkannya sebuah kasih sayang dan ketulusan padanya, yang selama ini dia pikir perhatian dan kasih sayangnya pada Syahdan sudah melebihi dari apapun yang orang lain berikan. Hanya Syahdan saja tidak siap dengan segala bentuk kasih sayang yang diberikannya, Syahdan malah jadi pembangkang dan tidak mau ikut aturannya.



"Kak Syahdan hanya akan luluh jika Bapak memberikan kasih sayang dan perhatian yang tulus. Maka Insya Allah dia akan bisa diluluhkan dan kembali pada kelurga Bapak. Jika tidak ada yang akan Bapak bicarakan lagi dengan saya, ijinkan saya pergi," ucapnya tegas seraya minta pamit.



Sebelum berpamitan Syana tiba-tiba meraih tangan kanan Pak Syaidar dan menciumnya sebagai bentuk hormat. "Terimakasih atas kopi latte paginya, Pa," ujarnya sembari berlalu. Pak Syaidar terlongo melihat sikap ramah tamah dan beradab yang ditunjukkan Syana.


__ADS_1


"Anak itu seperti menumbuhkan rasa kasih sayang di dalam hatiku," gumannya pelan. Entah kenapa tiba-tiba dia merasakan perasaan aneh seperti itu ketika Syana menyalaminya takzim.


__ADS_2