
Hari ini rencananya Syana akan berbicara pada kedua Bosnya tentang pengunduran dirinya bekerja di toko buku itu. Dengan hati yang bulat, Syana sudah menyusun kata-kata supaya tidak menyinggung perasaan sang Bos.
Kebetulan kedua Bosnya kompak ada di toko, sehingga Syana akan senang banget bisa langsung bicara pada keduanya. Syana mendekat lalu meminta ijin untuk duduk.
"Bu Syara, Pak Syamil, bolehkan saya bicara?" ujar Syana hati-hati. Kedua Bosnya kompak menatap Syana heran.
"Iya, ada apa, Sya?" tanya Bu Syara lebih dulu.
"Anu, kalau saya mengundurkan diri dari pekerjaan ini apakah tidak apa-apa?" Syana mulai menyampaikan maksudnya.
"Keluar dari toko ini?" tanya Pak Syamil memastikan.
"Iya, Pak," ucapnya seraya mengangguk.
"Memangnya kenapa kamu mau keluar?" tanya Bu Syara penasaran.
"Anu, Bu, saya ada pekerjaan baru di bengkel suami saya. Kebetulan dia membutuhkan tenaga Kasir, berhubung Kak Syahdan tidak mudah percaya sama orang lain, jadi akhirnya saya yang ditarik." Syana memberi alasan.
"Oohhhhh, mau bekerjasama dengan suaminya, seperti saya mungkin ya? Saya juga kasir di toko suami saya ini," respon Bu Syara seraya mengalihkan pandangan pada suaminya meminta pendapat.
"Boleh kok, Sya. Kita sebetulnya masih butuh tenaga kamu. Tapi jika begitu alasanmu, kami berdua tidak bisa menahanmu. Namun, kasih kami waktu seminggu menahan kamu sampai kami menemukan penganti kamu," tukas Pak Syamil meminta jeda.
"Oh, iya, Pak, tidak apa-apa. Saya siap. Sebelumnya saya ucapkan terimakasih dan maaf jika selama saya bergabung di sini ada banyak kekurangan saya dalam bekerja," tutur Syana meminta maaf sebelum benar-benar keluar.
"Kami juga sama, minta maaf jika kami pernah menyakiti kamu baik disadari maupun tidak disadari. Kita saling memaafkan saja. Dan kami juga mengucapkan terimakasih atas dedikasi kamu selama ini," ujar Pak Syamil membalas ucapan yang serupa dengan Syana.
"Baik Pak, Bu, sebelumnya saya ucapkan terimakasih," pungkas Syana sembari tersenyum. Kedua Bosnya membalas dengan anggukan dan senyuman yang kompak.
Hari semakin siang, Syana dan Pelayan toko yang lainnya masih melayani pembeli yang semakin siang semakin banyak.
"Sya, Syarif mana, ya?" Bu Syara tiba-tiba menghampiri dan menanyakan Syarif salah satu pelayan laki-laki di toko buku miliknya.
__ADS_1
"Syarif tadi ijin ke belakang kayaknya, Bu. Sepertinya sakit perut, sebab sudah dua kali bolak-balik kamar mandi," duga Syana melaporkan. "Ada apa, ya, Bu. Bisa saya bantu?" tanya Syana heran.
"Sebetulnya ini tugas Syarif ngantar pesanan pelanggan, tapi Syarifnya masih di belakang," ujar Bu Syara nampak bingung.
"Ohhh, mungkin Syarif sebentar lagi datang, Bu. Ditunggu saja sebentar," usul Syana. Bu Syara setuju atas saran Syana. Nanum sudah ditunggu sepuluh menit, Syarif belum kembali. Raut muka bingung langsung melanda Bu Syara.
"Sya, bisa tidak, ya, kamu saja yang menggantikan Syarif?" tanya Bu Syara ragu.
"Ohhh, boleh, Bu. Tapi tugas seperti apa yang Ibu maksud." Syana penasaran.
"Mengantar barang pada pelanggan," jawab Bu Syara pendek.
"Wahhhh, harus pakai motor dong, Bu?"
"Tidak juga, Sya. Tugas kamu cuma mengantar ke sebrang jalan sana, dia menunggu di sana. Tadi pelanggan yang di sebrang jalan itu pesan barangnya lewat WA. Dia sudah bayar juga via rekening. Katanya sih dia tidak sempat datang ke toko. Sekarang saja dia masih ada urusan katanya di toko sebrang sana, sehingga belum bisa mampir ke toko kita. Saya pikir alangkah baiknya diantarkan saja, ya, toh dia sudah bayar lunas dan barang yang dia cari ada semua," terang Bu Syara panjang lebar.
"Ide bagus itu, Bu. Biar saya saja yang antar. Kalau nunggu Syarif sepertinya masih lama. Lagian pelanggan ini sudah bayar kok. Oh, iya karena ini masuk jam istirahat, saya sekalian istirahat saja, ya, Bu. Mau mencari makan sebentar di dekat bengkel suami saya."
"Baiklah, Bu. Kalau begitu saya pamit dulu, ya," ujar Syana pamitan seraya bergegas menuju jalan hendak menyebrang.
"Hati-hati, Sya. Jangan lupa lihat-lihat kalau nyebrang," peringat Bu Syara sebelum Syana menjauh dan berhasil nyebrang.
Setelah jalanan mulai lengang di sisi kanan, akhirnya Syana berhasil nyebrang. Kini tinggal satu lajur jalan lagi yang harus dia sebrangi, kini giliran sisi kiri yang benar-benar harus lengang dari kendaraan. Jalanan di kawasan Jalan Sudirman ini memang jalannya dua jalur persis jalan tol. Jadi Syana harus nyebrang dua kali dengan hati-hati.
Syana mendekati sebuah mobil mewah berwarna merah jambu yang ditunjukkan Bu Syara tadi. Dengan langkah pasti Syana menuju mobil itu dan semakin dekat.
"Permisi, awwwww," dua kata itu beruntun diperdengarkan setelah Syana tiba di depan pintu mobil mewah warna merah muda itu.
"Awwww, sakitttt," raung Syana tiba-tiba. Bersamaan dengan itu mobil berwarna merah jambu melaju dan menjauh dari lokasi kejadian di mana Syana kini terhuyung menahan sakit. Darah segar mengucur segar dari sekitar perutnya.
__ADS_1
Syana tersungkur seketika. Orang-orang sekitar ruko sebrang jalan itu berhamburan menghampiri tubuh Syana yang sudah tersungkur.
"Gadis ini terluka. Ayo, kita larikan saja ke RS Syalala," usul salah satu penolong yang segera mengangkat tubuh Syana dan dimasukkan ke dalam mobil salah pemilik ruko yang diparkir di sana.
Syana nampak lemah, sementara darah segar masih mengalir di perutnya membasahi kaos panjangnya. Wajahnya semakin pucat dan bibirnya juga sama.
"Percepat jalannya," titah si penolong risau. Mobilpun melaju kencang membelah jalan menuju RS Syalala. Tidak lama dari itu mobil sampai di RS Syalala, RS yang termasuk dekat dari lokasi kejadian.
Syana segera di turunkan dari mobil dan langsung dibawa ke IGD rumah sakit tersebut. Syana ditangani di sana untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Beberapa saat kemudian seorang Perawat keluar dari ruang IGD dan memanggil siapa keluarga sang pasien.
"Keluarga pasien yang terkena luka sayat!" panggilnya cempreng. Salah satu penolong tadi menghampiri Perawat yang memanggil.
"Saya Suster yang membawa gadis itu kemari, karena tadi saat di pinggir jalan, dia tiba-tiba tersungkur dengan darah yang sudah mengucur," jelas si penolong apa adanya sesuai apa yang dilihatnya.
"Ohhhh, jadi Bapak bukan anggota keluarganya?" tanya Perawat itu lagi nampak bingung.
"Begini saja Suster, kebetulan saya memegang tasnya. Di dalam tasnya pasti ada HP, saya akan periksa HPnya dan mencari tahu siapa orang yang akhir-akhir ini sering dia hubungi," usul si penolong yang disetujui Perawat itu.
"Boleh, Pak. Cepat cari HPnya dan cari tahu siapa orang terdekat Mbak ini," titah sang Perawat terlihat was-was.
Setelah merogoh tas dan Hp Syana ketemu, si penolong segera membuka dan mengutak-atik HP Syana yang untungnya tanpa dikunci. "Nasib baik," bisiknya.
Si penolong itu membuka WA, dan di sana dia menemukan salah satu nomer yang kerap Syana hubungi, bahkan pagi tadi Syana sempat berbalas pesan WA bersama Syahdan. Nama Syahdan dicarinya dan terdapatlah nama Kak Syahdan tertera di sana.
"Ketemu tidak, Pak?" tanya sang Perawat tidak sabar.
__ADS_1
"Sudah Sus, ini sedang berusaha saya hubungi," jawabnya sembari sibuk mendengar nada sambung di HP Syana.