Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor

Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor
Bab 39 Kemajuan Bengkel Syahdan


__ADS_3

Motor berkapasitas 300 cc yang dijalankan Syahdan berjalan kencang dan gesit membelah kemacetan kota. Motor masih sekelas sport ini di beli Syahdan dari sisa pengobatan anak yang saat itu pernah ditabraknya sehingga patah tulang. Beruntung segera ditangani di luar medis, yakni pengobatan ke ahli patah tulang. Setelah rutin berobat, anak itu sembuh total meskipun kalau dibawa jalan masih terasa ngilu.



Syana memeluk Syahdan dengan erat saking takutnya, karena kecepatan motor Syahdan sangat tinggi menurutnya. Akhirnya motor Syahdan tiba dengan selamat di parkiran apartemen. Syana cukup lega setelah tadi melewati drama yang menegangkan di jalan raya.



Tiba di depan pintu apartemen yang terbuka otomatis, Syana masuk terlebih dahulu dan langsung menuju kamar mandi. Kemarahan Syahdan kembali memuncak setelah pagi tadi sepulang dari memperbaiki mobil Syaira di jalan, Syana ternyata tidak ada di apartemen. Namun Syahdan tidak kalah informasi, hari ini dia tahu kemana saja Syana pergi. Syahdan membiarkan Syana sampai Syana merasa puas diluaran sana bersama keluarganya.



Syahdan tidak mempermasalahkan Syana yang menemui keluarganya. Yang jadi masalah adalah, kenapa Syana pergi tanpa pamit dan tidak mematuhinya saat dia mewanti-wanti supaya Syana tidak pergi dari apartemen.



"Sya, aku mau bicara," serobot Syahdan saat Syana baru keluar kamar mandi sembari menarik tangannya menuju kamar. Syana paham dengan gelagat Syahdan. Dia kali ini siap dimarahi Syahdan karena dia merasa salah.



"Sya, kenapa kamu pergi, padahal aku tadi sudah ingatkan jangan pergi dari apartemen ini? Kamu sudah mulai membantah?" Beberapa pertanyaan muncul dari bibir Syahdan dengan penuh tekanan. Syana menundukkan wajahnya tanda bersalah.



"Aku minta maaf, Kak. Aku tadi hanya berniat jalan-jalan saja mencari angin pagi," balas Syana sedikit berbohong.



"Bohong, kamu bohong Sya. Niat kamu sebenarnya ingin meninggalkan aku, kan? Pergi tanpa pamit, dan yang jelas kamu berdosa karena sudah tidak ijin dari aku keluar apartemen," tandasnya kecewa sembari melempar sesuatu di atas meja dan berhamburan. Syana terkejut, rasa bersalahnya kian menjadi.



"Kalau kamu mau pergi, pergi saja sesuka hatimu. Aku bisa bebas kembali ke jalanku yang dulu, menjadi ketua geng motor dan menjalani balapan liar tanpa laranganmu atau siapa saja," lanjut Syahdan memanas. Untuk sejenak Syana tersentak mendengar ucpan Syahdan barusan.

__ADS_1



"Jangan Kak, aku mohon jangan. Aku minta maaf, aku salah," ujar Syana tiba-tiba, lalu memeluk Syahdan dari belakang. Syahdan terbawa perasaan lalu memutar tubuhnya dan meraih bahu Syana. Dilihatnya Syana sudah meneteskan air matanya. Wajahnya nampak basah.



"Kamu jangan berbohong Sya, karena aku tahu niat kamu. Setelah melihat aku berubah dan mendengar aku ini anak siapa, kamu perlahan menjauh. Sikap kamu berubah dan tidak hangat atau ceria lagi. Kamu kini berpura-pura baik di depan aku," tuding Syahdan sembari menggoyang-goyang bahu Syana.



Syana tercengang sejenak, rupanya Syahdan mampu menebak jalan pikirannya. Lantas dia mendongak dan menatap wajah Syahdan lekat.



"Tapi, itu karena aku begitu sangat mencintai Kakak. Kakak berhak bahagia bersama keluarga Kakak. Sedangkan jika Kakak bersama aku terus, maka Kakak tidak akan dapat apa-apa. Aku orang biasa sedangkan Kakak anak orang kaya. Jadi, perbedaan kita jauh Kak, kita bagaikan langit dan bumi," jelas Syana dalam.



"Pikiranmu itu picik Sya, kamu terlalu mikir yang jauh tapi itu salah. Aku tidak perlu statusku anak orang kaya. Aku hanya butuh bahagia dan bahagiaku adalah bersamamu," seloroh Syahdan seraya meraih dagu Syana dan menatapnya.



"Aku mencintai kamu, Kak. Aku sungguh-sungguh mencintai kamu," ujar Syana menatap tajam wajah Syahdan lekat untuk beberapa detik, lalu meraih wajah Syahdan dan mencium bibir lelaki muda yang memang benar-benar sangat dicintainya ini. Syahdan sedikit terperanjat mendapat pagutan spontan dari Syana. Lalu untuk sementara dia lepas pagutan itu untuk melihat kesungguhan di mata Syana.


"Aku juga mencintaimu Sya, aku mencintaimu dan perlu kamu tahu, aku sangat merindukanmu," ungkapnya seraya melabuhkan kembali ciuman itu dan dinikmatinya dengan penuh perasaan. Lalu dengan sekejap Syahdan sudah membawa tubuh Syana ke atas ranjang. Sepertinya Syahdan memang benar-benar merindukan Syana yang kini sedang merasakan lembutnya pagutan bibir Syahdan. Akhirnya, merekapun larut dalam emosi dan kerinduan yang mendalam.



Syahdan tersenyum picik, Syana tidak akan pergi darinya begitu saja, sebab Syahdan sudah mengganti pil KB yang suka diminum Syana dengan vitamin yang bentuknya mirip dengan pil KB. Syahdan berharap saat Syana akan memutuskan pergi, dia berharap Syana keburu hamil lalu mengurungkan niatnya.



"*Mestinya kamu jangan kemana-mana, Sayang*," bisik Syahdan dalam hati seraya memeluk Syana sangat erat.

__ADS_1


**


Seiring berjalannya waktu, beberapa bulan kemudian bengkel otomotifnya Syahdan berkembang pesat. Para pelanggannya berdatangan dari berbagai kalangan. Ditambah lagi pelayanan yang super gesit dan memuaskan dari Syahdan maupun para montir lainnya, membuat para pelanggan pulang dengan puas.



Kemajuan bengkel otomotif Syahdan sampai juga ke telinga Pak Syaidar dan Bu Syarimi. Mereka sedikit terhenyak mendengar kemajuan yang didapat Syahdan. Pak Syaidar hanya menanggapinya dengan diam. Dalam hatinya sebenarnya tersimpan bahagia. Namun dia sedih, sebab Pak Syaidar terlanjur menyakiti anaknya dengan kata-kata yang tidak pantas 'sampah masyarakat'. Pak Syaidar menginginkan Syahdan kembali ke pangkuannya. Akan tetapi Pak Syaidar sadar, anaknya itu keras kepala dan tidak mudah dibujuk. Terlebih sudah pernah sakit hati dengan ucapan Pak Syaidar, maka akan begitu sulit baginya membujuk Syahdan.



Pak Syaidar akan mencoba cara lain untuk bisa membawa Syahdan kembali ke istana ini. Menjadikannya pemegang tertinggi Syaidar Mall di kota ini.



"Pa, Mama akan menemui Syahdan. Mama sudah kangen dengannya dan mantu kita. Perubahan Syahdan, Mama yakin ini ada campur tangan dari perempuan muda itu. Papa bisa lihat dan dengar perubahannya. Dia tidak lagi bergabung dengan balapan liar yang sering meresahkan dan mengancam nyawanya. Bahkan sekarang Mama tidak mendengar lagi berita tentang ketua geng motor yang melukai sesama temannya dan berita lainnya yang meresahkan," ucap Bu Syarimi dengan senyum di wajahnya.



"Tidak, jangan dulu Ma!" cegah Pak Syaidar membuat kali ini Bu Syarimi meradang.


"Untuk kali ini jangan pernah halang-halangi Mama, Pa. Mama sudah kangen dan tidak peduli lagi dengan tujuan Papa yang ingin menjodohkan Syahdan dengan Syaira. Lagipula Syahdan sekarang nampak sudah bahagia. Jadi jangan halangi Mama untuk menemui Syahdan, anakku," tukas Bu Syarimi sudah tidak bisa dicegah lagi.


Pak Syaidar pasrah, dia memang selalu menghalang-halangi istrinya untuk menemui Syahdan, padahal istrinya sudah sangat merindukan Syahdan.



"Lendra, antar Mama menemui adikmu, Syahdan," tegas Bu Syarimi kepada Syailendra di sambungan telpon.



Kali ini Bu Syarimi tanpa rasa takut benar-benar membantah larangan Pak Syaidar. Namun untuk kali ini juga Pak Syaidar hanya diam melihat istrinya melawannya.


__ADS_1


"Mama pergi dulu, Pa. Assalamualaikum," ucap Bu Syarimi tidak lupa mencium tangan suaminya. Bu Syarimi melenggang penuh senyum ke depan rumah saat mobil Syailendra sudah sampai dan membunyikan klakson. Mobil Syailendra meninggalkan kediaman Pak Syaidar, membelah jalan Ibu Kota yang memang *crowded*.


__ADS_2