
Syahdan menyudahi belanja martabaknya, lalu menyalakan kembali CBRnya menuju apartemen. Motornya masih melaju sedang merasakan angin sepoy yang menerpa wajahnya.
Tiba di parkiran apartemen Syahdan seperti melihat seseorang yang dia kenal. Syauki, ya dia Syauki. Syauki sempat dekat dengan Syaira dan pernah naksir Syaira. Namun Syaira menolaknya karena Syauki bukan orang kaya yang menurut Syaira bukan levelnya.
Syauki akhirnya mundur setelah terang-terangan Syaira menolak dan mengatakan bahwa ia mau dijodohkan dengan Syahdan. Namun sebelum pergi dan menghina Syauki, Syaira sempat membuka rahasianya sendiri. Saat itu sepertinya Syaira keceplosan bahwa dia mau dijodohkan dengan Syahdan karena taruhan. Syaira mengatakan bahwa orang tuanya akan memberikan setengah hartanya jika dia bisa menikah dengan Syahdan.
Dari Syaukilah akhirnya Syahdan tahu niat licik Syaira di sebalik keinginannya yang ingin dijodohkan dengannya. Syahdan sangat bersyukur diberitahu oleh Syauki.
"Ki, lu ngapain di sini malam-malam?" Syahdan bertanya penuh curiga.
"Wahh elu, Syah? Elu nggak tahu jika Abang gua tinggal di sini? Tadi gua habis nganterin anaknya yang habis main di tempat gua," sahut Syauki.
"Mampirlah ke tempat gua Ki, gua juga tinggal di sini, di lantai lima," jelas Syahdan.
"Sejak kapan Syah, lu tinggal di apartemen sederhana ini, bukankah lu .... "
"Gua sudah lama Ki di apartemen ini, tapi karena sekarang gua sudah menikah, jadi gua menetap di sini bersama bini gua."
"Menikah? Kapan lu menikah?" heran Syauki tidak percaya.
"Enam bulan terakhir ini, Ki."
"Wahhhh, syukurlah. Berubah elu sekarang, ya, Syah? Setelah menolak dijodohkan dengan Syaira, rupanya elu dapat penggantinya lebih cepat."
__ADS_1
"Ngomong-ngomong tentang Syaira, apakah Elu tahu bahwa Syaira sekarang sudah dibebaskan atas jaminan Papanya?" Syauki mengungkit tentang Syaira sangat hati-hati dan takut menyinggung perasaan Syahdan.
Syahdan sudah tidak heran lagi Syaira bisa dengan cepat dikeluarkan dari penjara. Papanya pasti melakukan apa saja demi anaknya.
"Gua baru tahu dari elu, Ki. Lagipula gua sudah tidak peduli lagi dengan kabar Syaira. Terlebih gua sekarang sudah menikah, jadi tidak ada gunanya gua sekarang mikirin orang lain," tukas Syahdan tidak peduli.
"Kejarlah Syaira Ki, bukankah elu menyukainya?" lanjut Syahdan. Syauki hanya tertawa merasa lucu dengan saran Syahdan yang menyuruhnya mengejar Syaira.
"Ahhh sudahlah Syah, daripada kita membahas hal yang tidak penting, mending gua cabut. Gua balik, ya," pamitnya seraya menuju motornya yang terparkir di sana.
Menyudahi pertemuan tidak sengajanya dengan Syauki, Syahdan segera naik lift menuju apartemennya.
Pintu lift terbuka, Syahdan segera memasuki apartemennya dan beranjak ke dapur menyimpan kantong kresek berisi martabak yang tadi dia beli. Sia-sia dia membeli martabak itu, sebab Syana dipastikan sudah tidur.
Sejenak Syahdan menyandarkan tubuhnya di kursi meja makan, lalu menyulut sebatang rokok dan mengisapnya. Untuk sementara dia melupakan sejenak segala penat beban pikiran yang seharian ini menyesakinya. Dapurpun kini berubah pekat dengan asap rokok yang ditimbulkan Syahdan.
Tiga batang rokok berhasil dia isap dalam waktu setengah jam. Sedangkan waktu semakin bergulir menunjukkan ke angka 12 malam. Syahdan segera menyudahi aktifitasnya, lalu ke kamar mandi membersihkan diri dan gosok gigi.
__ADS_1
Syahdan menuju kamar dengan perlahan. Dia yakin Syana tidak mungkin tidur di kamarnya melainkan di kamar sebelah jika sedang merajuk seperti ini. Namun saat memasuki kamar, Syahdan heran. Lampu kamar sudah diganti dengan lampu yang temaran, itu artinya ....
Benar saja dugaan Syahdan, di atas ranjang sudah ada tubuh Syana yang terbungkus selimut dengan wajah menghadap tembok. Deru nafasnya teratur. Syahdan menatap sendu perempuan muda yang kini selalu memenuhi relung hatinya. Tanpa sepengetahuan Syahdan, rupanya Syana hanya pura-pura tidur. Sejak kepergian Syahdan tadi, Syana sama sekali tidak bisa tidur.
Syahdan menaiki ranjang, lalu masuk ke dalam selimut yang sama. Tanpa ragu Syahdan memeluk Syana dari belakang seraya mencium pipi Syana penuh kasih sayang. Syahdan menyesal, tadi sore sudah berbicara keras pada Syana saking kesalnya. Tapi kini saat melihat Syana terbujur tidur, rasa sesal itu datang.
Merasa tubuhnya berat, Syana melakukan pergerakan dan pura-pura bangun.
"Kakak!" kejutnya dibuat sekaget mungkin. Syahdan terkejut dan mengurai pelukannya lalu memberi sedikit jarak. Syana menatap redup ke arah Syahdan yang sedikit menjauh.
"Kak, kenapa menjauh?" tanyanya seraya mendekat dan tiba-tiba memeluk Syahdan dan Syana menangis di sana.
"Kak, jangan tinggalkan aku lagi. Aku tidak mau kehilangan Kakak lagi," ucapnya sendu dengan pelukan yang semakin erat. Isak tangis juga kini terdengar.
"Aku minta maaf," lirihnya dengan wajah menelusup di dada Syahdan. Syahdan tersentak melihat Syana yang memeluknya dan minta maaf penuh sesal. Dalam hal ini Syahdan merasa beruntung dua kali lipat, yakni Syana yang meminta maaf dan juga memeluknya.
"Sya, tidurlah, sepertinya kamu lelah dan ngantuk. Besok kita bahas lagi urusan kita," putus Syahdan yang melihat Syana sepertinya sangat lelah setelah menangis tadi.
Syahdan melabuhkan ciuman mesra di kening Syana dan memeluk tubuh ramping sang istri. Kalau begini, besok saat bangun pagi sikap keduanya dipastikan kembali mesra dan hangat.
__ADS_1
"Tidurlah Sya," ujarnya seraya tidak henti-hentinya mencium kening dan pipi Syana. Mereka tertidur dalam dekapan malam yang semakin larut.