
Syana kembali ke apartemen setelah dia menyudahi obrolannya dengan Papanya Syahdan. Rasa sedih langsung menyesaki dadanya setelah menyaksikan sendiri bahwasanya Pak Syaidar hanya menilai sebuah kasih sayang dengan uang.
Syana merebahkan sejenak tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Dia menjadi sangat bingung jika suatu saat Syahdan kembali pada kedua orang tuanya, apakah Syahdan masih akan tetap mencintainya? Namun Syana akan ikhlas jika suatu saat dia akan dilupakan Syahdan jika Syahdan kembali pada kedua orang tuanya.
"Tidak ada hal yang akan memberatkan kita untuk berpisah atau saling melupakan. Akan tetapi, aku sesungguhnya mencintai Kak Syahdan, dan bisa saja rasa cinta ini tidak bisa terkikis begitu saja. Namun jika itu terjadi, maka aku harus siap mengubur dalam-dalam rasa cintaku pada Kak Syahdan," ujarnya lirih sembari menatap foto Syahdan di galeri foto itu, sedih.
Seminggu kemudian, Syana sudah merasa benar-benar pulih. Rasa sakit di perut akibat sayatan belati Syaira sudah tidak terasa lagi. Hari ini dia ingin ke bengkel membantu Syahdan. Berhubung Syala harus ke kampus karena ada tugas dadakan dari Dosennya, jadi hari ini Syala tidak datang ke bengkel. Dan Syana kini yang akan menggantikan Syala di bengkel.
Namun sebelum Syana menyelesaikan dandanannya yang hanya tinggal menggunakan kerudungnya, tiba-tiba saja Syana merasa mual dan tidak enak badan. Syana menduga dia masuk angin. Sejenak Syana mencari minyak kayu putih untuk dibalur ke sekujur perutnya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka disaat Syana membalur perutnya dengan minyak kayu putih dengan diurut-urut memutar sekeliling perutnya.
Syahdan merasa terpanggil hasrat kelelakiannya saat Syana membuka blusnya sampai dada, dia pikir Syana sedang menggoda imannya sehingga Syahdan sekali tangkap telah melabuhkan pelukan eratnya di tubuh Syana, dengan tangan kekar yang melilit perut. Wajahnya bergelayut manja sembari melabuhkan ciuman di pipi kiri Syana.
"Kakak, jangan seperti ini! Aku sedang tidak enak badan, Kak. Perut aku mual dan badanku rasanya pegal-pegal. Sepertinya aku masuk angin, deh, Kak," cegah Syana sembari berusaha melepaskan tangan Syahdan yang tidak ingin lepas.
"Habisnya kamu menggoda aku, Sya. Aku jadi pengen," rayu Syahdan masih mengusap perut Syana.
"Tidak, Kakk. Dan tolong, jauhkan tubuh Kakak dari punggung aku. Parfum Kakak baunya menyengat," ujar Syana mengusir Syahdan yang semakin liar.
"Berbaringlah, Sya," titahnya yang segera dipatuhi Syana karena Syana memang merasa tubuhnya perlu mendapat pijatan lembut di perut maupun di sekitar punggungnya yang terasa mual dan pegal.
Syahdan membuka blus keseluruhan Syana sehingga yang tersisa hanya kaos dalam dan Bra. Syahdan mulai mengusap daerah perut dan dada Syana sesuai permintaan.
"Kak, jangan pijat lain-lain, aku benar-benar sedang sakit lho!" cegah Syana menepis remasan liar Syahdan di tempat sensitif.
"Tadi perut aku saat Kakak usap, terasa enakan," puji Syana sunguh-sungguh.
"Sya, kamu mulus banget dan kepunyaanmu sangat bagus," puji Syahdan sambil tersenyum usil.
"Kakak, aku lagi sakit dan mual, jangan usil begitu. Awas, rasanya aku mau muntah," ujar Syana seraya bangkit dan berlari ke kamar mandi dan mual di sana. Syahdan heran, kenapa dengan Syana?
Syana kembali ke kamar dengan tubuh yang lemas. Dia berbaring dengan tubuh menelungkup.
"Sya, kamu kenapa? Apakah kamu salah makan?" tanya Syahdan khawatir sembari mengusap punggung Syana yang terlihat mulus. Bukannya memijat tapi kini Syahdan malah tergiur dengan punggung mulus Syana.
__ADS_1
"Sya, punggung kamu mulus. Aku ingin merabanya dan kita ulang kejadian semalam, ya," ujarnya berhasrat.
"Kak, jangan bercanda, aku benar-benar merasakan masuk angin," kilah Syana jujur.
"Tidakkah Kakak lihat wajah aku lemas seperti ini? Apakah Kakak masih tega ingin melampiaskan keinginan Kakak?" ujarnya bangkit dan membalikkan badannya lalu menatap Syahdan.
Syahdan nampak kaget melihat Syana yang kini pucat dan mendadak lemas.
"Sya, kamu sakit?"
"Kakak gantilah bajunya dan jangan pakai parfum, aku mohon!" pinta Syana memohon. Syahdan semakin dibuat heran dengan Syana yang aneh.
"Kakakkkk, ganti bajunya!" titah Syana kesal yang masih melihat Syahdan belum beranjak mengganti bajunya.
Dengan terpaksa Syahdan beranjak menuju lemari dan berniat mengganti kaosnya yang tadi sudah ia semprot parfum.
"Awas, Kakak jangan pakai parfum sebab aku mual dan ingin muntah saat Kakak memakai parfum Kakak itu," larangnya kembali serius.
"Tapi Sya, ini parfum favorit aku." Syahdan beralasan.
"Kalau Kakak masih ngeyel, aku tidak mau malam ini tidur sama Kakak. Kakak tidur di sofa," marahnya membelalakkan mata.
"Terus kalau sekarang kamu tidak enak badan, lebih baik kamu tidak usah ke bengkel," cegah Syahdan.
"Aku tetap ke bengkel, sebab aku pengen beli rujak di pengkolan Sudirman," ujarnya mendadak sumringah. Syahdan semakin heran dan aneh dengan sikap dan perubahan Syana yang begitu cepat.
"Kak, apakah tawaran tadi masih berlaku?" tanya Syana seraya memeluk Syahdan dengan genit. Syahdan mengerutkan keningnya bingung.
"Tawaran apa, Sya?"
"Tawaran main film biru kita berdua," jawabnya berkias. Syahdan tertawa, dia paham maksud Syana. Syana sepertinya ingin mengulang keindahan semalam yang sempat heboh itu.
"Sayang, sekarang sudah telat. Coba tadi saat aku ingin. Kenapa kamu pengen dadak-dadakan begini?" tanya Syahdan semakin heran.
"Kak, Kakak tega," ujarnya manyun sembari berlalu. Syahdan mengejar Syana yang menuju pintu.
"Sya, jangan marah dong. Kamu kok tiba-tiba seperti ini? Biasanya aku yang selalu minta," ujar Syahdan seraya mengangkat tubuh Syana masuk ke dalam kamar.
Tanpa berdrama queen lagi Syahdan akhirnya melaksanakan keinginannya yang tadi sempat terpendam gara-gara penolakan Syana. Namun kini Syana tiba-tiba memintanya lagi disaat Syahdan harus ke bengkel. Gara-gara Syana manyun dan memintanya, akhirnya keinginan Syahdan bangkit lagi dan kini keduanya saling berbagi kasih sayang memberikan rasa indah yang tiada tara yang membuat mereka berdua melayang di udara.
__ADS_1
"Cupppppp." Kecupan panjang dilabuhkan di bibir dan pipi Syana. Syahdan gemas dibuatnya setelah pertautan pagi ini yang sama-sama menyerang. Entah kenapa pagi ini Syana begitu menggebu dan penuh tenaga padahal tadi sempat mual dan lemas.
**
"Pegangan, ya, Sya," titahnya yang dipatuhi Syana. Syana memeluk erat punggung Syahdan. Kali ini dia benar-benar tidak ingin sama sekali jauh dari Syahdan. Sebelum tiba di bengkel, Syana mampir ke tukang rujak pengkolan dan membeli rujak dua bungkus untuknya.
"Sya, kamu tidak sedang hamil, kan?" tanya Syahdan tiba-tiba diiringi senyum bahagia. Syana mengerutkan keningnya heran, mana mungkin dia hamil, selama ini dia selalu minum pil KB tiap hari.
"Kakak jangan ngawur, aku tidak mungkin hamil. Aku selama ini rutin minum pil KB kok," sanggahnya. Mendengar sanggahan Syana seperti itu Syahdan hanya diam dan berpikir keras.
"*Jangan-jangan Syana hamil, dan pil KB yang dia maksud sebenarnya bukan pil KB, melainkan vitamin*," katanya dalam hati.
Syahdan tiba-tiba menerbitkan sebuah senyuman bahagia. Dia yakin Syana sedang hamil.
"Sya, bagaimana kalau nanti pulang dari bengkel kita periksa kamu ke Dokter kandungan?" usul Syahdan. Syana menggeleng sembari menyantap satu persatu rujak buah yang berada di tangannya.
"Aku bukan hamil, Kak. Aku tadi hanya mual dan sebal saja dengan wangi parfum yang Kakak pakai, lebih baik mencium pewangi pakaian daripada parfum Kakak yang mahal itu," sergahnya.
"Tapi parfum ini biasanya kamu suka, Sya?"
"Iya, tapi sekarang baunya seperti solar yang nempel di baju Kakak," tukasnya kesal. Syahdan terperanjat saat mendengar parfumnya disamakan dengan bau solar.
"Ok, terserah kamu deh, Sayang. Yang penting aku tidak diusir tidur dari kamar," ujarnya cengengesan.
***
Syahdan terbelalak mendengar penjelasan Mamanya mengenai ciri-ciri spesifik orang hamil yang ngidam. Sepertinya yang menimpa Syana merupakan sebagian kecil dari ciri-ciri orang hamil. Syahdan suatu kali iseng menanyakan keanehan yang menimpa Syana. Dan jawaban Mamanya membuat dia terkaget-kaget penasaran
"Benarkah Syana hamil?" senangnya sembari melonjak di depan Mamanya.
"Tapi kalian harus pastikan periksa dulu, Syah. Apakah istrimu benar-benar hamil atau bukan," usul Mamanya.
"Betul sekali, Ma. Aku harus pastikan kalau Syana hamil." Syahdan berbinar.
"Sepertinya kamu senang jika istrimu hamil," timpal Bu Syarimi penasaran.
"Senang, Ma. Dengan begitu Syana tidak akan pernah berani meninggalkan aku," ujar Syahdan sembari menerawang jauh.
Bu Syarimi menatap tatapan jauh anaknya itu. Sepertinya dia menangkap kesedihan yang dalam jika suatu saat harus kehilangan Syana. Bu Syarimi sadar selama ini Syahdan memang kurang kasih sayang dan kelembutan baik darinya maupun suaminya.
"*Bisa jadi perempuan muda itu mampu memberikan kasih sayang yang tulus sehingga anakku sepertinya takut jika kehilangan Syana*," batin Bu Syarimi menduga.
__ADS_1