Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor

Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor
Bab 44 Syana Masuk RS


__ADS_3

Sambungan terhubung. Si penolong harap cemas menantikan orang yang dihubunginya segera mengangkat telponnya.



"Halo, Sya. Ada apa? Kenapa kamu belum datang ke bengkel?" Syahdan menerima panggilan dari Syana yang sejak jam 12 tadi ditunggunya. Terpaksa dia dan Syala makan siang duluan tanpa Syana.



"Halo, maaf, saya memberanikan diri menghubungi nomer ini. Berhubung yang punya nomer sedang mengalami musibah, jadi terpaksa saya mencari orang yang sering dihubungi gadis yang punya HP ini," jawab si lelaki yang menghubungi Syahdan di ujung telpon sana serius.



Sejenak Syahdan termenung, dan mengerutkan keningnya heran, dia belum paham apa maksud dari si penelepon yang menggunakan HP Syana itu.



"Halo, Pak. Maksud Bapak bagaimana, saya belum paham," tanya Syahdan penasaran dan mulai risau.



"Jadi begini Mas, gadis yang punya HP ini tadi di depan ruko spare part Jalan Sudirman, tiba-tiba tersungkur dan jatuh dengan perut yang bersimbah darah. Sepertinya dia kena luka sayat menurut pengakuan Suster. Jika Mas kenal, tolong segera datang ke RS Syalala tepatnya ruang IGD. Kami tunggu." Sambungan telpon terputus.



Syahdan terkesima tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Bagai petir di siang hari, bagai disambar Elang si anak ayam, sang induk kebingungan. Syahdan hanya berdiri mematung seakan masih mencerna apa yang baru saja didengarnya.



"Kak Syahdan," tegur Syala yang sejak tadi melihat Syahdan seperti orang bingung setelah menerima telpon dari seseorang.



Syahdan seperti baru tersadar dari rasa terkejutnya. Dia langsung memburu motornya dan menghidupkannya. "La, titip bengkel. Kakak pergi dulu," pamit Syahdan tanpa memberitahu kemana akan pergi. Syala melihat Kakak iparnya itu nampak khawatir dan buru-buru.



"Tumben Mbak Syana belum datang ke bengkel Kak Syahdan, ada apa, ya?" Sejenak Syala merasa heran dengan ketidakhadiran Syana tepat di jam 12 siang ini. "Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Mbak Syana," harapnya was-was.



Syahdan melajukan motor CBRnya dengan kencang, tidak peduli lagi dengan umpatan orang sekitar, yang penting dia segera menuju RS Syalala .



Tidak berapa lama, Syahdan tiba di RS Syalala tepat di depan ruang IGD. Dua orang sudah berada di depan ruangan itu. Salah satunya tengah menenteng tas Syana dan Syahdan mengenali tasnya.



"Maaf, Pak, itu tas milik istri saya. Kenapa dengan istri saya?" tanya Syahdan penasaran dan was-was.


__ADS_1


"Lho, Den Syahdan?" serunya mengenali Syahdan juga heran kenapa Syahdan berada di RS ini?


"Maaf, saya bukan Den Syahdan," sangkalnya sengaja menyembunyikan identitas dirinya dan menenggelamkan kepalanya dengan topi. Si penolong itu menilik-nilik lagi wajah Syahdan seakan memastikan. Mirip Syahdan tapi bukan. Akhirnya Bapak si penolong tidak peduli, yang penting tugas dia beres dan menyerahkan pasien pada keluarga.



"Ini tasnya dan Hpnya sudah ada di dalam sini," ujar si penolong sembari menyodorkan tas Syana.


"Kenapa Syana sampai berada di sini dan terluka?"


"Terimakasih Pak, karena Anda sudah mengantar istri saya ke RS ini secepatnya. Sekali lagi terimakasih," ucap Syahdan sebelum si penolong yang merasa kenal padanya pergi dari RS.



"Sama-sama, Mas. Kalau begitu kami permisi dulu," ujar si penolong dan salah satu yang menjadi supir berpamitan lalu beranjak.



Belum habis pikiran kalut Syahdan, tiba-tiba sebuah suara memanggil. "Kelurga pasien yang mengalami luka sayat!" panggil seorang Perawat membuat Syahdan terperanjat dan langsung menghampiri Perawat.



"Sus, benarkah pasien yang ada di dalam, terkena luka sayatan pisau?" tanya Syahdan meyakinkan.


"Betul sekali, Mas. Kalau dilihat jenis lukanya sepertinya pasien terkena luka sayatan pisau. Masnya masuk saja dan periksa apakah itu benar keluarga Anda," ujar Perawat seraya kembali ke IGD.




"Sya, Syana, kenapa kamu, Sayang?" panggil Syahdan bergetar ketika dia yakin bahwa pasien yang berada di atas brangkar adalah Syana.



"Mas, kalau sudah yakin ini keluarganya, silahkan kembali keluar. Semetara pasien mau dipindahkan ke ruangan operasi untuk dijahit lukanya," ujar seorang Perawat memberitahukan.



Syahdan mengikuti apa yang menjadi prosedur rumah sakit tersebut. Dia keluar dari ruangan IGD sembari membawa banyak tanya.



Dari ruangan IGD, tubuh Syana dibawa ke ruangan operasi untuk dijahit luka di perutnya. Nasib baik luka itu tidak sampai melukai organ dalam tubuh Syana, sehingga keadaan Syana tidak begitu mengkhawatirkan.



"Siapa yang berani melukaimu, Sya? Akan aku cari sampai dapat siapa yang berani menyentuhmu, dan tidak akan aku beri ampun. Lihat saja nanti," ancamnya penuh amarah.



Di dalam ruang tunggu Syahdan menyempatkan menghubungi orang-orang kepercayayaannya untuk menyelidiki kasus penusukan Syana.

__ADS_1



"Rami, coba kamu cek CCTV dekat kawasan Jalan Sudirman tepat di ruko spare part," perintah Syahdan pada Rami di ujung telpon.


"Rama, awasi bengkel jangan sampai ada pengacau," titahnya. Tidak sampai di situ, Syahdan masih menghubungi seseorang untuk melancarkan pencariannya dan menangkap orang yang telah berani melukai Syana.



Tidak butuh wakta lama, setelah Syahdan menghubungi kedua bodyguardnya, Rama dan Rami berhasil mengetahui siapa sebenernya dibalik dalang penusukan Syana.



"Den, kami sudah mengetahui siapa dalang di balik kena tusuknya Nona Syana." Sebuah pesan WA masuk ke dalam HP Syahdan. Syahdan geram mendengar berita diketahuinya siapa orang yang telah mencelakai Syana.



"Kamu tidak akan bisa lari dariku, lihat saja nanti," ancamnya mengepalkan tangan.



"Keluarga Nona Syana," panggil seorang Perawat membuyarkan fokus Syahdan. Syahdan berdiri dan menghampiri Perawat itu.



"Pasien yang bernama Nona Syana, sudah kami tangani luka sayatnya. Sekarang pasien sudah kami pindahkan ke ruang perawatan. Silahkan Anda menunggu di ruang perawatan," beritanya membuat Syahdan sedikit lega.



Syahdan segera bergegas menuju ruang perawatan tempat Syana dirawat. Hatinya dilanda perasaan campur aduk yang susah dijabarkan. Yang jelas Syahdan merasa sangat sedih.



Sementara itu di tempat lain, Syaira yang melajukan mobil mewahnya setelah tadi berhasil melukai Syana dengan menyayatkan belati di perutnya.



"Sialan, pasti dia masih hidup. Sungguh bodoh, kenapa tadi aku pelan banget menekan pisaunya." Syaira merutuki kebodohannya karena tidak berhasil melukai sampai Syana terluka parah. Dia tadi hanya melihat Syana meraung kesakitan.



"Jika aku tidak bisa memiliki Syahdan, maka kamu juga tidak boleh memilikinya. Lebih baik kamu mati," sungutnya tanpa rasa takut.



Ketika Syaira bersungut dengan sombongnya, sebuah berita di salah satu stasion TV tidak sengaja dilihatnya.



"Pelaku penusukan di jalan Sudirman dipastikan seorang perempuan. Sebuah mobil mewah berwarna merah muda melaju cepat setelah kejadian penusukan itu. Dan pelaku berhasil tertangkap kamera CCTV."


__ADS_1


Jedarrrrr ... Sungguh berita yang sangat menyentuh ulu hati Syaira. Sehingga Syaira kini benar-benar terkejut.


__ADS_2