
Karena Syana tidak menjawab pesan WA darinya. Syahdan menghubungi Syana dengan Vidio Call. Namun Syana enggan mengangkat panggilan itu. Syana akan membiarkan Syahdan kesal. Syana pun kesal sebab Syahdan tidak pernah mau mendengarkannya. Padahal keselamatan nyawanya sudah beberapa kali terancam.
Panggilan itu berhenti dan diulang lagi, namun lagi-lagi Syana tidak mau mengangkat. Dan akhirnya diam, sepertinya Syahdan kesal dan marah.
"Aku tahu kamu di mana, awas jangan coba-coba pergi dariku, karena aku bisa saja bertindak kasar padamu," ancam Syahdan melalui pesan WAnya. Syana sedikit terkejut dengan ancaman Syahdan. Akan tetapi Syana berusaha tidak peduli. Dia harus tega dan memberikan pelajaran pada Syahdan, supaya Syahdan mau mendengar nasihatnya.
Setengah jam di Taman Cinta, Syana mulai berdiri dan berjalan di sekitar taman. Sebetulnya dia bukan tidak berniat pulang, Syana akan memberi terapi shock buat Syahdan. Dengan pergi saat dijemput, Syana harap bisa membuat Syahdan berpikir bahwa dia akan ditinggalkan. Dan Syana ingin tahu reaksi Syahdan.
Syana kembali duduk di bangku kosong yang dia dapati saat berjalan tadi. Kini dia merogoh tasnya dan meraih HPnya. Pesan WA dari Syahdan ngebrebet, lagi-lagi Syana tidak membalas.
Dan kini panggilan vidio call dari Syahdan kembali diperdengarkan. Syana diamkan lagi beberapa saat. Namun dengan berat hati dan kesal Syana mengangkatnya. Akan tetapi Syana tidak memperlihatkan dirinya. Hpnya dia arahkan ke atas langit demi menutup penglihatan Syahdan di mana dirinya sebenarnya.
"Sya, ayo pulang," tiba-tiba lengan Syana diraih dan suara Syahdan benar-benar terasa dekat. Syana terkejut ketika melihat Syahdan sudah ada didekatnya.
Syana menurunkan HPnya, kemudian panggilan Vidio Call itu berakhir. Syana benar-benar kaget dan dia hanya bisa melongo.
"Ayo pulang, tidak udah melongo seperti itu. Kamu masih punya kewajiban, dan kewajiban kamu ada di depan kamu sendiri," tukasnya seraya menarik tangan Syana menuju motor Repsolnya yang terparkir rapi di parkiran taman.
"Lepaskan dong, Kak. Aku ke taman ini hanya cuci mata dan untuk melepas lelah sehabis kerja." Syana memberikan alasannya.
"Kalau kamu mau cuci mata dan istirahat, kamu bisa lakukan di rumah. Buat apa istirahat di sini, lebih baik di apartemen. Aku tahu kamu mau sekalian mencari mangsa yang bisa diajak kencan, kan?" tuding Syahdan membuat Syana meradang dan berusaha melepaskan cekalan tangan Syahdan si cowok urakan.
"Kakak jangan sembarangan tuding aku tidak benar, aku ke taman ini hanya ingin benar-benar cuci mata dan jalan-jalan," sangkal Syana kesal.
__ADS_1
Syahdan tidak peduli dengan alasan Syana, yang jelas dia terus menarik tangan Syana menuju motor. Syahdan memerintahkan Syana naik, dan Syana tidak bisa membantah. Lagipula di taman itu banyak orang yang ternyata ada yang melihat perilaku Syahdan dan dirinya.
"Naik!" titahnya. Syana naik dengan kesal dan menggunakan helmnya dengan asal. Syahdan yang mengetahui, lantas berbalik dan meraih helm yang dipasang Syana asal. Syahdan memakaikan helm itu di kepala Syahda. Perbuatan Syahdan ini tidak luput dari pengawasan dua orang yang kini sedang di dalam mobil mewah.
"Syahdan, Pah," serunya sembari mencolek orang di sampingnya yang dipanggil Pah. Perempuan paruh baya ini melihat sedih ke arah Syahdan, kerinduannya begitu membuncah dan ingin rasanya **Bu Syarimi** menghampiri Syahdan, namun dihalangi **Pak Syaidar**.
"Jangan, Ma. Kita biarkan saja dia hidup di jalanan. Mungkin saja perempuan muda yang bersamanya kini adalah perempuan liar yang sedang dipelihara Syahdan. Hanya kepalanya saja yang ditutupi, tapi kelakuannya Papa yakin tidak benar. Lihat saja, semakin menjadi saja tingkah si Syahdan," ujar Pak Syaidar dengan amarah yang membuncah saat melihat Syahdan bersama Syana menaiki motor dan boncengan.
"Kita suruh orang saja untuk membuntutinya," tukas Pak Syaidar sembari menghubungi seseorang untuk membuntuti Syahdan. Pak Syaidar kembali menjalankan mobil mewahnya menyusuri jalanan di Taman Cinta itu. Bu Syarimi nampak kecewa, walaupun dia rindu dengan Syahdan akan tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Motor Repsol Syahdan kini menuju apartemen sederhananya, Syahdan tidak tahu kepulangannya ke apartemen telah diawasi seseorang.
"Jangan tutup, kita harus bicara." Syahdan membawa Syana duduk dengan sedikit dipaksa. Syana mengalah dia akhirnya menurut.
"Kenapa kamu tadi tidak ada di tempat saat aku jemput?" Syahdan mempertanyakan ketiadaan Syana tadi di depan toko buku.
"Sudah aku bilang, aku cuci mata dan jalan-jalan," alasan Syana.
"Kamu pasti merencanakan sesuatu untuk kabur, kan? Kamu tidak akan bisa Sya, karena aku akan selalu menemukanmu," tukas Syahdan percaya diri.
"Kalau memang benar aku akan pergi dan meninggalkan Kak Syahdan, lantas kenapa? Lagipula buat apa aku harus bertahan dengan cowok berandalan seperti Kakak, tidak ada masa depannya."
"Apa kamu bilang, jangan bohong dan bodoh, kamu itu khawatir denganku karena mencintaiku, kan? Tapi kamu tidak mau mengakuinya karena malu dan gengsi," tuduh Syahdan mengena, sebab apa yang dikatakan Syahdan benar adanya.
__ADS_1
"Tidak, buat apa aku mencintai Kakak yang tidak bisa menjamin masa depanku lebih baik? Yang ada aku akan sengsara dan malu karena hanya hidup bersama sampah masyarakat yang tidak berguna," tandas Syana menyakiti hati Syahdan. Lagi-lagi kalimat itu membuat Syahdan meradang dan emosi.
Syana menyadari kesalahan ucapannya. Dia keceplosan dengan mengatakan Syahdan sampah masyarakat, Syana tahu Syahdan akan sangat marah dan sakit hati.
Syahdan menatap Syana marah, wajahnya kini merah padam seperti kepiting rebus.
"Apa kamu bilang? Berulang kali kamu katakan itu, maka berulang kali akan menyakiti hatiku. Terima balasan dariku," ancam Syahdan seraya meraih tangan Syana dan menariknya ke kamarnya.
Di sana Syana dihempas di atas ranjang. Syahdan marah dan melucuti semua pakaian Syana dengan brutal. Syana berontak karena perlakuan Syahdan kasar. Dia seperti kesetanan.
Syahdan lagi-lagi melakukan itu dengan brutal dan kasar, sehingga Syana kewalahan dan kesakitan. Syana menangis dan kecewa dengan perlakuan kasar Syahdan.
Syahdan menatap Syana puas sembari tersenyum angkuh. "Tidak ada yang berhak mengatai aku sampah masyarakat, termasuk kamu," tunjuknya pada Syana. Syahdan keluar kamar dengan senyum mengembang dan puas.
Tiba-tiba pintu apartemen Syahdan berbunyi, pertanda seseorang bertamu. Syahdan kesal dan membiarkan bel itu berbunyi, asap rokok kini menghiasi ruangan tengah. Sepertinya bel itu tidak mau berhenti, Syahdan berdiri, dengan malas dia menghampiri pintu dan mengintip kaca pengintai.
Syahdan heran, di luar sana ada seorang wanita tua pemilik warung di apartemen ini. Tanpa curiga, Syahdan membuka pintu apartemen dan terbuka lebar secara otomatis.
"Di sini rupanya, apa yang kamu lakukan dengan perempuan liar itu di dalam sana?" tanya seorang pria bersuara berat menyelidik ke dalam. Syahdan terkejut dengan tamu yang tidak diundang ke apartemennya ini.
Sementara Syana yang ada di dalam kamar yang kebetulan mendengar suara berat lelaki dewasa, segera menggunakan bajunya dan heran siapa yang datang.
__ADS_1
Syahdan menatap benci ke arah lelaki bersuara berat itu. Lantas siapa lalaki bersuara berat itu?