Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor

Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor
Bab 57 Kedatangan Pak Syaidar


__ADS_3

Kabar kemajuan bengkel Syahdan sampai di telinga Pak Syaidar dan Bu Syarimi. Bu Syarimi jelas senang mendengar berita ini. Dia beberapa kali mengusap dada diiringi senyum yang mengembang.


"Sekarang Papa bisa lihat bukan, Syahdan bisa berubah berkat menantu kita. Ternyata Syahdan tidak salah pilih istri. Menantu kita bisa membuat arah jalan anak kita kembali di jalur yang benar," tukas Bu Syarimi memuji Syana karena telah mengubah Syahdan menjadi lebih terarah dan semakin sukses.


"Sejak bersama perempuan muda itu, perkembangan Syahdan cukup baik dan signifikan. Tidak pernah lagi terdengar ketua geng motor dikejar-kejar Polisi karena mengganggu kenyamanan fasilitas umum. Beruntung Syahdan segera mengenali perempuan muda itu, jika tidak tawuran dua bulan yang lalu antara sekelompok geng motor dan massa bisa jadi Syahdan salah satu anggotanya," lanjut Bu Syarimi merasa bangga dengan kemajuan pesat yang dialami Syahdan, baik kehidupan pribadinya maupun dalam bidang usahanya.


"Papa tahu, Ma. Maka dari itu, Papa ingin Syahdan kembali pada keluarga ini mengelola perusahaan kita serta menjadi pemimpin tertinggi di Syaidar Mall. Papa akan mengajak kembali Syahdan ke rumah ini," tukasnya sembari menerawang jauh membayangkan anak semata wayangnya akan kembali ke rumah ini dan berkumpul lagi.


"Jangan lupakan istrinya, Pa, menantu kita. Mama rasa Syahdan tidak akan mudah begitu saja bisa diajak kembali ke rumah ini. Dia sudah punya keluarga dan usaha sendiri. Jadi, mama rasa Syahdan akan lebih mementingkan keluarga barunya daripada perusahaan kita," jelas Bu Syarimi mengingatkan. Pak Syaidar tersentak dengan penuturan istrinya itu, dia baru menyadari tidak semudah itu merayu Syahdan untuk kembali ke rumah bak istana ini, sementara Syahdan sudah memiliki keluarga baru.


Pak Syaidar menghela nafasnya dalam, bayangan penolakan Syahdan kini seakan menari-nari di kepalanya, sehingga membuat kepalanya sakit.


"Akan Papa buktikan pada Mama, bahwa papa bisa bawa Syahdan kembali," tukasnya menggebu. Bu Syarimi hanya bisa tersenyum melihat suaminya yakin bisa membawa Syahdan kembali ke rumah ini.


***


Bu Syarimi tidak bisa membendung lagi rasa rindunya pada Syahdan dan menantunya. Sejak Syahdan menolak bantuannya dan kini bengkelnya pindah tempat usaha, Bu Syarimi belum bertemu lagi dengan anak menantunya itu.



Hari ini dia ingin menemui keduanya. Rasa rindu sepertinya sudah begitu membuncah.



"Lendra, antar Mama ke bengkel adikmu," titah Bu Syarimi. Syailendra menoleh dengan tatapan patuh.



"Tidak usah, Ma. Biar Papa yang antar Mama. Papa juga ingin bertemu Syahdan." Pak Syaidar menginterupsi ucapan istrinya.



"Apakah Papa tidak ingin bertemu dengan menantu kita juga? Ingat Pa, menantu kita berperan besar dalam membentuk anak kita berubah menjadi lebih baik. Sepertinya Papa belum mau menerima menantu kita dengan ikhlas. Jika Papa masih bersikap seperti itu apalagi di hadapan Syahdan, maka Mama yakin Syahdan tidak mungkin mau bicara sama Papa," tukas Bu Syarimi menegur sikap suaminya yang seakan belum bisa terima bahwa Syana adalah menantunya.



"Bukan begitu, Ma. Papa hanya lupa kalau Syahdan itu ternyata sudah menikah," kelit Pak Syaidar membela diri. Bu Syarimi hanya tersenyum simpul mendengar pembelaan suaminya itu.


__ADS_1


"Ayo, Pa, kita harus berangkat sekarang mungpung masih siang," ajak Bu Syarimi mengingatkan. Pak Syaidar segera keluar istananya menuju pintu yang ternyata sudah disambut sebuah mobil mewah.



"Lendra, jalan duluan di depan kami," titah Bu Syarimi pada Syailendra supaya Syailendra jadi penunjuk jalan. Syailendra tidak membantah, dia sigap dan segera menyalakan mesin mobilnya, kemudian mobilnya keluar dari gerbang istana milik Pak Syaidar.



Beberapa saat kemudian, mobil Syailendra sudah tiba di depan bengkel Syahdan, diikuti mobil mewahnya Pak Syaidar. Bengkel yang kini disulap menjadi bengkel yang elegan dan tertata rapi dengan lahan parkir yang luas dan memadai, sehingga para pelanggan tidak ketar-ketir lagi memarkirkan lagi kendaraannya di sembarang tempat.



Nampak Bu Syarimi dan Pak Syaidar menatap takjub penampakan bengkel Syahdan yang elegan dan luas. Terbersit di dalam hati Pak Syaidar mengakui keberhasilan Syahdan. Namun dia tidak mau memperlihatkannya.



Syailendra membawa kedua orang tuanya memasuki lobi bengkel. Bengkel yang luas ini rupanya selain memiliki lobi, juga memiliki ruangan khusus untuk pemilik bengkel.



Syailendra tiba di sebuah pintu otomatis yang terbuka sendiri. Syailendra masuk dan mendapati Shahdan sedang menerima tamu. Sepertinya itu kliennya Syahdan yang sudah menjadi pelanggan tetap di bengkelnya.




Syailendra mempersilahkan Mama dan Papanya menghampiri Syahdan yang masih duduk tenang di sofa sembari melihat laptopnya yang masih menyala beberapa saat setelah kliennya berpamitan. Syahdan belum sadar bahwa dia kedatangan kedua orang tuanya. Dia berpikir yang datang hanyalah Syailendra, Kakaknya saja.



"Syahdan," seru Pak Syaidar tidak sabar. Rasa rindu yang membuncah sepertinya sangat tidak bisa ditahan lagi sehingga saat melihat Syahdan duduk serius menatap laptop, Pak Syaidar segera menghampiri Syahdan dan memeluknya.



Syahdan tersentak setelah melihat siapa yang datang yang kini sudah ada ditengah-tengahnya.


"Papa," serunya terkejut dan tidak menduga atas kedatangan sang Papa. Pak Syaidar menghampiri dan memeluk Syahdan secara spontan. Keduanya larut dalam suasana rindu yang sama-sama telah lama memendamnya, meskipun sebenarnya Syahdan merasa canggung.


"Syah, anakku. Sepertinya apa yang pernah Papa katakan dulu sebagai sumpah serapah padamu tidak akan pernah terjadi sebab kamu telah mematahkannya. Papa minta maaf telah berkata yang tidak pantas saat itu. Papa menyesal," ujar Pak Syaidar menundukkan kepalanya penuh penyesalan.

__ADS_1



Syahdan mengurai rangkulan Papanya, meraih bahunya lalu menatap dalam wajah Papanya. Dia menelisik adakah sebuah sandiwara penyesalan dalam mata sang Papa? Akan tetapi Syahdan sepertinya tidak menemukan sandiwara itu.



"Pa, duduklah," serunya seraya membawa tubuh Papanya duduk di sofa.



"Syahdan!" Bu Syarimi yang sejak tadi berdiri terpaku menyaksikan kedua orang kesayangannya saling bercengkrama, kini ikut larut dalam kebahagiaan itu dan menghampiri Syahdan lalu memeluknya.



"Mama," ucapnya memeluk erat sang Mama. Mereka berdua sama-sama larut dalam sebuah kerinduan yang sangat besar. Bu Syarimi sampai menangis meneteskan air mata, terharu melihat perubahan Syahdan yang signifikan.



Syahdan mengurai pelukan Mamanya dan menatap sang Mama penuh kerinduan. Dari sejak dulu dia memang merindukan tatapan teduh sang Mama seperti yang diperlihatkan sang Mama saat ini.



Sementara itu, Syailendra perlahan keluar dari ruangan Syahdan. Dia tidak ingin mengganggu kebersamaan keluarga kecil itu yang kini saling menumpahkan kerinduan.



"*Kalian seharusnya dari sejak dulu seperti ini, penuh kasih sayang dan bersama*," desahnya dalam hati seraya menatap kebahagiaan keluarga kecil itu dari balik pintu kaca otomatis.



"Duduklah, Ma." Syahdan mempersilahkan Mamanya duduk. Dan kini mereka mulai terlibat obrolan ringan yang kadang diselingi rawa.



Namun dalam hati Syahdan masih tersimpan prasangka yang mengatakan bahwa kedatangan Papanya bukan sekedar ingin meminta maaf atas perkataan yang sering dilontarkan dulu.



Obrolan ringan itu kini perlahan berubah menjadi lebih serius dan sedikit menegangkan saat Pak Syaidar secara langsung meminta Syahdan kembali ke rumah.

__ADS_1



"Syahdan sudah punya keluarga, Pa. Jadi, tidak mungkin Syahdan kembali ke rumah Papa. Terlebih kini Syahdan tengah merintis usaha." Mendengar penolakan Syahdan seperti itu, Pak Syaidar sejujurnya merasa sedih. Namun dia kini tidak bisa memaksakan keinginan Syahdan lagi seperti dulu.


__ADS_2