Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor

Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor
Bab 22 Terluka Setelah Turun Podium


__ADS_3

Syahdan melesat melewati garis finish dan dinyatakan sebagai pemenang dengan poin tertinggi. Juri dan panitia mengumumkan kemenangannya, termasuk pengumuman siapa yang mengalami kecelakaan saat di putaran akhir tikungan ke tiga.



Syana keluar dari hiruk pikuk euforia kemenangan para pembalap liar itu. Setidaknya Syana sudah mengetahui keadaan Syahdan selamat tanpa kurang satu apapun.



Ketika Syana mulai melangkah menjauhi kerumunan itu, dengan jelas Syana melihat salah satu pembalap yang mengalami kecelakaan. Kaki dan sikunya berdarah, dengan keadaan motor body depannya pecah. Hal ini mirip sekali dengan keadaan motor Syahdan tempo hari yang tidak bisa terkendali dan akhirnya menabrak pembatas jalan.


"Ini sepertinya salah satu pembalap yang di warung tadi," kata hati Syana sembari beranjak meninggalkan arena balapan liar itu.


Sementara itu, Syahdan yang sedang merayakan kemenangan bersama timnya, sesekali matanya bergulir mencari sosok Syana yang tadi sempat dilihatnya sekilas. Dia menjadi tidak fokus saat namanya dipanggil ke podium.



Pembagian hadiah berupa uang sudah dibagikan panitia kepada ketiga pemenang. Syahdan segera menuruni podium. Dengan mata yang terus dipasang mengawasi setiap orang yang berada di situ. Namun sosok Syana yang ia cari benar-benar luput. Sama sekali tidak ditemukan. Syahdan kecewa, sejenak ia berdiri sembari berkacak pinggang melampiaskan kekecewaannya.



"Syam, kurang ajar!" dengusnya ketika matanya sejurus tertuju pada satu sosok yang tadi hampir saja mencelakainya.


Syahdan berjalan dengan cepat menuju kerumunan tim lawan, yang ketua gengnya mendapatkan kekalahan telak, dan mengalami kecelakaan akibat ulahnya sendiri yang ingin mencelakai Syahdan, namun entah bagaimana caranya semua justru berbalik pada Syam.


"Bugh, bugh." Dua tinju mengenai muka dan perut Syam, Syam terjungkal seketika dengan luka berdarah di sudut bibirnya. Bertambahlah sudah luka di tubuh Syam, luka bekas kecelakaan tadi ditambah luka tinju akibat pukulan Syahdan.



Syahdan sudah menyiapkan tinju berikutnya untuk memukul Syam lagi, namun kali ini gagal. Bahkan kini giliran Syahdan yang dipukuli tiba-tiba oleh beberapa orang yang ternyata gengnya Syam.



Syahdan mencoba melawan dan berusaha menepis pukulan lawannya, beberapa pukulan mampu ditepisnya, namun karena terlalu banyak lawan yang harus dia hadapi, maka Syahdan ambruk seketika. Darah mengucur dari sudut bibir dan pelipisnya. Belum lagi perutnya yang menahan beberapa kali tendangan dan sayatan belati dari seseorang yang tentunya orang-orang Syam.


__ADS_1


Beruntung panitia dan timnya Syahdan mengetahui pengeroyokan ini walaupun sedikit terlambat. Pengeroyokan ini berhasil dibubarkan bahkan beberapa orang dari masing-masing tim saling membalas dan kini berkelahi. Suasana menjadi ricuh.



Syahdan masih terkapar dengan menahan perutnya yang berdarah karena sabetan pisau belati lawan, nasib baik luka itu tidak dalam.



Panitia masih berusaha membubarkan perkelahian antar tim yang masih bertikai. Sementara Syahdan yang kini berusaha berdiri dan sudah diamankan oleh panitia, masih saja mencari sosok Syana.



"Syana," gumannya. Dalam keadaan terluka begini dia justru lebih mengkhawatirkan keselamatan Syana, yang notebene Syanalah sosok penyelamat yang sesungguhnya, yang berhasil memberitahu semua siasat lawan yang ingin mencelakainya kepada Rami, sang Bodyguard. Untungnya Rami sigap dan segera memberitahu Syahdan bahwa nyawanya sedang terancam. Karena lewat pesan WA Syanalah di putaran terakhir dan tikungan ketiga, dia mampu menghindari bahaya yang ditimbulkan seseorang dari tim lawan.



Nasib baik pada saat itu, Rami yang sudah berada di posisi di mana kecelakaan itu di setting oleh pihak lawan, sudah mengalihkan bahaya ke arah lawan, sehingga kecelakaan itu berbalik dan mengarah pada tim lawan yang berada di belakang Syahdan. Dan akhirnya Syam yang kena jebakannya sendiri.




Melihat Tuannya berdarah dan terluka, Rama dan Rami segera mengeksekusi Syahdan dan membawanya keluar dari trek balapan liar itu. Karena mereka tahu sebentar lagi Polisi akan tiba, sebab Rami sesaat sebelum tiba di trek, telah mengetahui bahwa seseorang dari pihak penduduk setempat telah melaporkan kejadian pengeroyokan dan perkelahian ini.



Rama dan Rami berhasil memberi isyarat dengan tangannya berupa kode rahasia pada tim geng motor Kalajengking untuk segera menghindar dan meninggalkan trek balapan liar itu. Kalau sudah menyangkut pihak berwajib, tim mereka sangat solid untuk saling lindung melindungi.



Motor Syahdan dikendarai Rami melesat meninggalkan arena balapan liar menuju jalanan ibu kota, untuk mengantarkan Syahdan ke apartemennya dan segera mengobati lukanya.



"Syana, apakah kamu berhasil menemukannya?" tanya Syahdan pada Rami yang kini berada di depannya mengendarai Repsol miliknya. Syahdan berkali-kali meringis menahan sakit akibat luka yang dideritanya. Namun begitu, dia tetap mengkhawatirkan keberadaan Syana dan keselamatannya. Karena bagaimanapun Syanalah orang pertama yang berhasil menyelamatkan dirinya dari bahaya yang direncanakan tim lawan.

__ADS_1



"Kami kehilangan jejaknya, Den. Tadi saat Den Syahdan sedang melakukan euforia atas kemenangan Aden, Nona Syana diam-diam pergi dan menghindar. Sepertinya dia pergi saat tahu bahwa Den Syahdan selamat dan tidak mengalami kecelakaan seperti apa yang didengarnya," jawab Rami seraya tidak henti melesatkan Repsol milik Syahdan menuju apartemen.



Syahdan berhasil tiba di apartemen, lalu segera diobati luka di sekujur tubuhnya maupun di pelipis dan sudut bibirnya oleh Rama dan Rami dengan kompak.



Sepanjang diobati, Syahdan teringat Syana yang kini entah di mana. Dia khawatir tentang keselamatannya.



Satu jam kemudian Syahdan berhasil diobati oleh Rama dan Rami. Hampir semua luka di tubuhnya dibalut kain kasa. Melihat sang majikan sudah teratasi semua lukanya, kedua bodyguard itu segera berpamitan dan keluar apartemen Syahdan.



Sepeninggal Rama dan Rami, Syahdan yang masih meringis karena luka diperutnya, berusaha bangkit dan mencari HPnya yang tadi disimpan di dalam tas Doraemonnya. Syahdan berhasil menemukan HPnya lalu dengan cepat membuka WAnya.



Beberapa panggilan tidak terjawab tertera di sana termasuk dari Syana. Syahdan mendengus kesal dengan dirinya yang sempat melewatkan panggilan Syana.



"Syana, apakah kamu tidak akan kembali? Aku menyesal karena telah membiarkanmu kembali pada orang tuamu. Tapi, aku janji tidak akan pernah mengucapkan talak untukmu, kamu akan menjadi istriku selamanya, sampai kapanpun," janjinya penuh tekad dan ambisi.



Syahdan kini termenung dan bersedih di ruang tengah memikirkan Syana yang tidak ada di sampingnya, ditemani sebungkus rokok. Wajah prustasi dan penuh sesal kini menderanya. Kepulan asap rokok memenuhi seisi ruangan sehingga asapnya mampu menghalangi pandangan.


Syahdan membuka kembali Hpnya dan berusaha menghubungi Syana. Panggilannya tersambung, Syahdan sangat bahagia dan berharap Syana segera mengangkat panggilannya.


__ADS_1


Sementara itu di kediaman **Pak Syakil** dan **Bu** **Syaina**, orang tua Syana. Suasana di ruang tengah masih nampak bernyawa, sebab di sana sudah ada Syana yang pulang. Kepulangan Syana disambut gembira oleh kedua orang tuanya maupun Syala, adiknya. Mereka rela bercengkrama sampai larut malam demi kebahagiaan mereka menyambut Syana.


__ADS_2