
"Kamu pikir aku ini binatang, setelah menghamili lantas pergi begitu saja dan tidak bertanggungjawab? Apa yang kamu pikirkan, Sya? Sepicik itu pikiran kamu. Kamu pikir aku mau kembali pada keluargaku lalu mencampakkan kamu begitu saja? Tega kamu berpikiran seperti itu? Jadi selama ini, kamu menganggap aku hanyalah seorang lelaki pengecut yang menjadikan kamu pelarian saja disaat aku kurang kasih sayang dari kedua orang tuaku?" sungut Syahdan tidak percaya.
Syahdan tidak menduga selama ini Syana berpikiran untuk meninggalkannya jika dia kembali pada keluarganya.
"Jadi, selama ini kamu merencanakan untuk pergi dariku, Sya? Setelah aku menemukan orang yang mampu mengubahku pada jalan yang lebih baik, lalu sekarang kamu mau pergi setelah aku mau hidup bersamamu dan MENCINTAIMU?" ucapnya menekankan kata mencintaimu dengan jelas.
Syana tercengang tidak percaya, benarkah Syahdan mencintainya. Sedangkan selama ini dia berpikir bahwa Syahdan tidak mungkin bisa serius mencintainya mengingat siapa Syahdan sebenarnya. Terlebih jika Syahdan kembali pada keluarganya, bukan tidak mungkin Syahdan bisa dengan mudah melupakannya.
"Aku, aku, hanya tidak yakin jika Kakak akan tetap bersamaku jika suatu saat Kakak kembali pada keluarga Kakak," tuturnya gugup dan tidak berani menatap Syahdan.
"Tatap wajah aku, Sya. Apakah ada di wajah aku guratan seorang pecundang? Apakah kamu menganggap aku lebih mementingkan harta daripada kasih sayang seorang perempuan yang tulus yang memberikan cintanya padaku? Aku tidak setamak itu, demi harta aku meninggalkan orang yang selama ini mampu merubah jalan hidupku menjadi lebih baik. Apakah setelah apa yang kita lewati, kamu dengan mudahnya melupakan kebersamaan kita begitu saja tanpa ada bekas? Kalau kamu menganggap aku serendah itu, dan tidak mau hamil anak dariku, maka bertahanlah sampai sembilan bulan, lalu melahirkan, setelah melahirkan kamu boleh pergi jauh dariku dan biarkan anakku bersamaku, aku yang akan merawatnya," tukas Syahdan panjang lebar sembari berlalu dan keluar dari apartemen.
Kepergian Syahdan diliputi amarah yang sewaktu-waktu bisa meledak kapan saja dan di mana saja. Syana menyesal telah berprasangka buruk selama ini pada Syahdan. Padahal Syahdan sebenarnya sudah sangat mencintainya.
Syana mengejar Syahdan menuju pintu dan membuka pintu itu dengan kode. Namun ternyata kode itu sudah tidak berfungsi dan pintu tidak bisa terbuka otomatis lagi. Kapan Syahdan mengganti kode pintu apartemen, Syana bertanya-tanya.
"Kak tungguuuu, bukan begitu maksudku. Dengarkan aku," teriak Syana terisak. Syana benar-benar menyesal telah meragukan Syahdan dan dia kini menangis sedih setelah pertengkaran yang baru saja terjadi.
"Kembalilah Kak, aku menyesal telah meragukan cinta Kakak. Aku kini percaya, bahwa Kakak tidak akan meninggalkan kami," bisiknya lirih diiringi isak tangis sembari mengusap perutnya yang masih rata.
Syana mencoba menghubungi Syahdan berulang-ulang. Namun HP Syahdan tidak aktif. Sebagai jalan terakhir, Syana mengirimkan pesan WA dan meminta maaf berulang-ulang atas prasangka buruknya selama ini. Dengan penuh sesal Syana menangis meratapi kebodohannya.
__ADS_1
Hari semakin malam, Syahdan yang ditunggu belum muncul juga. Syana semakin khawatir dengan keberadaan Syahdan. Dia mencoba menghubungi kembali, tapi gagal lagi.
"*Kamu ke mana Kak? Apakah Kak Syahdan tidak khawatir meninggalkan aku sendirian yang sedang hamil*?" batinnya bertanya dalam hati.
**
Jam Sebelas malam sudah. Hari semakin larut. Namun Syahdan masih betah duduk termenung di apartemen mewah Kakaknya. Syailendra menghampiri Syahdan dan meraih bahunya.
"Syah, pulanglah. Ini sudah malam. Kasian istrimu sendiri di apartemen. Jangan terlalu terbawa emosi. Dia masih muda dan kadang pikirannya sedang tidak stabil, kamu harus maklum Syah," peringat Syailendra membujuk Syahdan supaya pulang ke apartemennya karena khawatir dengan Syana.
"Tapi, Kak. Aku tidak suka dengan prasangkanya, biarkan dia berpikir bahwa aku memang sangat marah dan tidak memaafkan dugaannya," tukas Syahdan membela diri.
"Baiklah, di sini kamu ingin memberi dia pelajaran atas sikapnya, kan? Tapi jangan lama-lama dibiarkan dia menyesal berkepanjangan. Ingat, dia sedang hamil dan orang hamil setahuku tidak boleh stress lama-lama," peringat Syailendra tidak bosan-bosannya mengingatkan Syahdan.
"Baiklah karena Kakak ngusir aku, aku pulang, ya." Akhirnya Syahdan memutuskan pulang dan Syailendra senang mendengarnya.
"Pulanglah, perbaiki hubungan kalian. Kalau kamu masih marah, sebaiknya kamu diamkan saja istrimu," pesan Syailendra bijak. Syailendra memang seorang Kakak yang sangat pengertian dan peduli padanya, maka dari itu Syahdan berani mencurahkan perasaannya pada Syailendra tanpa rasa malu.
"Sebentar, apakah tawaran pinjamanku akan kamu terima? Aku meminjamkan bukan memberimu bantuan cuma-cuma jika memang kamu tidak mau aku bantu cuma-cuma. Bengkelmu semakin maju, Syah. Dan orang-orang banyak yang menyervis kendaraannya di bengkelmu. Tidakkah kamu ingin bengkelmu lebih rapi dan banyak pengunjung yang berdatangan dengan nyaman? Mereka kadang kurang nyaman dengan parkiran yang sempit, masa iya kamu menggunakan trotoar untuk memperbaiki kendaraan pelanggan?" tutur Syailendra menahan langkah Syahdan yang akan menuju pintu.
Syahdan berhenti dan perlahan membalikkan badan. "Besok, aku pikirkan," sahutnya sembari membalikkan badan kembali dan keluar apartemen dengan pintu yang sudah terbuka otomatis.
__ADS_1
Motor Syahdan melaju dengan kecepatan sedang, membelah pekatnya malam. Pekat dengan berbagai kendaraan maupun manusia yang masih bersliweran dengan tujuan masing-masing.
Syahdan sengaja mengulur waktu dan memperlambat laju motornya. Sebenarnya dia masih kesal dengan Syana yang berprasangka buruk padanya. Jadi, malam ini biarlah Syahdan menikmati kesendiriannya dengan caranya sendiri, berharap saat tiba di apartemen rasa kesal pada Syana akan keburu menghilang.
Syahdan menghentikan motornya tepat di warung tenda pinggir jalan yang menjual martabak manis dan asin. Kebetulan dua makanan itu kesukaan Syana. Walaupun dia masih kesal pada Syana, akan tetapi dia ingat betul dengan makanan kesukaan Syana dan dibelikannya sebagai oleh-oleh.
Bersamaan dengan itu, di simpang empat tepat di bawah lampu merah. Sebuah mobil mewah yang masih menunggu lampu merah berubah menjadi hijau, secara kebetulan melihat ke arah Syahdan yang sedang membeli martabak di warung tenda.
"Syahdan," seru wanita paruh baya menatap lurus ke arahnya. Ternyata dia adalah Bu Syarimi, Mamanya Syahdan. Sedangkan di sampingnya adalah Pak Syaidar yang tiba-tiba kaget saat istrinya berguman menyebutkan nama Syahdan barusan.
"Mana Syahdan, Ma?" tanyanya penasaran.
"Itu, Pa, dekat warung tenda yang menjual martabak," sahut Bu Syarimi menunjuk ke arah Syahdan. Pak Syaidar ikut mengamati ke arah yang ditunjukan istrinya.
"Kapan Papa akan merangkulnya kembali dan mengajaknya pulang? Papa jangan sama keras kepalanya dengan anak kita. Mama tidak mau anak Mama terlunta-lunta di jalanan," keluhnya sedih.
"Papa sudah menyuruh perempuan muda itu untuk merayunya supaya Syahdan kembali pada keluarga kita dan menjadi pemimpin tertinggi di Syaidar Mall. Perempuan itu sepertinya sedang berusaha, tapi dia menolak pemberian amplop dari Papa," tukas Pak Syaidar sembari menerawang kejadian beberapa hari yang lalu ketika dirinya menemui Syana.
Pak Syaidar terbayang kembali saat pertemuan dengan Syana yang sengaja dia datangi ke apartemennya ketika Syahdan tidak ada. Tatapan ramah Syana menyiratkan kelembutan dan kasih sayang yang besar. Juga sikap tegasnya membuat Pak Syaidar timbul rasa takjub dan ada gelenyar aneh yang tiba-tiba dia rasakan. Rasa kasih sayang yang muncul seiring sikap yang ditunjukkan Syana. Bisa jadi kehadiran Syana akan mampu meluluhkan keegoisan Pak Syaidar yang selama ini tidak bisa dibantahkan.
"Buat apa Papa memberinya amplop? Sudah Mama katakan menantu kita itu tidak gila harta. Kalau cuma sekedar membujuk anak kita supaya kembali pada kita, dia tidak butuh uang untuk sogokan. Tapi Mama rasa Syahdan akan sulit kita raih, sebab di luar sana justru dia menemukan kenyamanan bukan tekanan," tandas Bu Syaira menohok. Pak Syaidar mengusap wajahnya kasar. Dia sadar Syahdan belum tentu bisa diluluhkan dan kembali padanya mengingat dirinya sudah begitu keras mengatur hidup Syahdan.
__ADS_1
Lampu merah berubah hijau, mobil mewah Pak Syaidar melaju kencang membelah jalan Sudirman, yang tidak pernah surut oleh kendaraan maupun pencari nafkah.