
Syana memutuskan ke rumah orang tuanya. Dari Taman Cinta butuh dua kali naik angkot. Syana keluar dari Taman Cinta, kemudian menunggu angkot nomer 15, angkot yang akan mengantarnya pada pertigaan Revolusi. Di pertigaan Revolusi, Syana harus naik lagi angkot lain yang akan benar-benar mengantarnya ke rumah orang tuanya.
Akhirnya angkot nomer 15 yang ditunggunya datang. Syana segera mencegatnya dan duduk dekat pintu keluar, sebab di pertigaan Revolusi dia harus turun kembali.
Angkotpun berjalan dengan sedang, sembari sesekali sang Sopir menghentikan angkotnya untuk sekedar mencari penumpang. Setengah jam, akhirnya angkot tiba di pertigaan Revolusi.
"Kiri, Pak!" Syana menyetop angkotnya dan turun di sana lalu membayar ongkos angkot. Pertigaan Revolusi, memang selalu sepi meskipun dilewati angkutan umum. Tiba-tiba kejadian saat dia disekap dan dilecehkan Syahdan terbayang kembali. Di pertigaan inilah akhirnya Syana berubah status dari gadis lajang menjadi istri. Namun istri yang dipaksa karena jebakan.
Awal yang menyakitkan baginya kini sudah berubah. Dari benci menjadi cinta yang semakin besar untuk Syahdan. Syana pun tidak menduga jika dirinya akan secepat itu mencintai cowok urakan, begitu dia sering menyebut Syahdan. Kini kerinduan selalu ada di dalam hatinya. Meskipun dia berusaha menutupinya. Namun sia-sia, perasaan cintanya malah semakin dalam untuk Syahdan.
Namun semakin Syana mencintai Syahdan, maka semakin kentara perbedaan antara dirinya, bagai langit dan bumi. Meskipun belum ada pengakuan dari bibir Syahdan langsung, siapa sebenarnya dirinya? Akan tetapi obrolan yang sempat terdengar Syana antara Syahdan dan Kakaknya malam itu, cukup memberinya kejelasan siapa sebenarnya Syahdan. Dan hal inilah memicu Syana lebih baik mundur teratur daripada harus di sampingnya.
Angkot nomer 16 yang ditunggu Syana muncul. Syana kemudian menaiki angkot itu. Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi dengan perpisahan dirinya dengan Syahdan. Sehingga angkot yang ditumpanginya tidak disadari kini sudah tiba di tempat tujuan. Syana turun, tidak lupa membayar ongkos angkot.
Kedatangan Syana disambut bahagia oleh keluarganya. Syana melangkah dengan kaki yang mantap memasuki rumah kedua orang tuanya dengan penuh kerinduan.
"Assalamualaikum," ucapnya sembari masuk.
"Waalaikumsalam, Mbak Syana ...." teriak Syala senang seraya menghampiri Syana dan memeluknya. Pak Syakil dan Bu Syaina yang sedang berada di dapur kaget mendengar nama Syana disebut Syala. Lantas mereka beranjak dari dapur dan bergegas ke dalam.
__ADS_1
"Syanaaa," teriak Bu Syaina bahagia, lantas menghampiri Syana dan memeluknya. Pak Syakil yang baru datang juga ikut memeluk anaknya dengan rasa rindu dan bahagia yang membuncah.
Setelah acara peluk-pelukan yang mengharukan, mereka sekeluarga duduk di ruang tamu untuk saling menumpahkan rasa rindu satu sama lain.
"Suami Mbak Syana nggak ikut?" tanya Syala hati-hati dengan wajah yang didongakan ke luar rumah dengan maksud mencari Syahdan, suami Shana. Sejenak Syana menggeleng lalu berkata.
"Dia tadi pergi karena ada kerjaan mendadak. Ada orang yang mobilnya tiba-tiba mogok di jalan, dan suami Mbak yang diminta langsung menangani mobilnya yang mogok," jawab Syana sedikit tidak jujur masalah kepergian dia dari apartemen. Sebab Syana pergi dari apartemen tanpa sepengetahuan Syahdan.
Obrolan mereka berlanjut dengan topik yang lain dan berubah-ubah. Namun sayang, Pak Syakil tidak bisa melanjutkan, sebab dia harus segera ke toko untuk membuka toko kelontongnya.
"Ya, sudah kalian lanjut ngobrolnya, Ibu juga mau melanjutkan pekerjaan di dapur. Ada pesanan nasi uduk dari tetangga sebelah untuk acara arisan keluarga," ujar Bu Syaina seraya berdiri dan bergegas menuju dapur.
"Bu, kita bantuin, ya," ujar Syana menawarkan bantuan.
"Tidak usah, ini sebenarnya sudah selesai. Hanya tinggal merapikan di baki besar saja. Sudah, kalian lanjutkan ngobrol saja," tukas Bu Syaina mencegah Syana untuk membantu.
Beberapa saat setelah Bu Syaina meninggalkan ruang tamu, Syana dan Syala terlibat lagi sebuah obrolan.
"Mbak, suami Mbak itu aku curiga dia anak orang kaya, deh. Bisa dilihat dari penampilannya, walau kata Mbak urakan, tapi aku merasa dia anak orang kaya, lho. Wajahnya saja lumayan tampan. Kok Mbak Syana pinter banget nyari laki yang wajahnya mirip aktor Korea?" ujar Syala membuat Syana geleng kepala. Adiknya ini seperti lupa bahwa pernikahan mereka terjadi saja karena jebakan Syahdan. Tapi Syala ada benarnya juga, Syahdan memang tampan dan dugaan Syala tidak meleset, Syahdan memang anak orang kaya. Anak pemilik mall terbesar di kota ini.
__ADS_1
"Ada-ada saja kamu La, mentang-mentang tampan kamu menyimpulkan bahwa suami Mbak anak orang kaya. Bahas yang lain deh," ujar Syana tidak suka. Dia sebenarnya bukan tidak ingin jujur tentang siapa Syahdan. Namun sepertinya bukan sekarang waktunya. Syana akan ceritakan sejujurnya jika nanti Syana benar-benar sudah mengantarkan Syahdan pada keluarganya. Setelah itu Syana akan pergi menjauh dari Syahdan.
"Ya Allah, sisain juga cowok tampan dan kaya, baik, juga tidak sombong buat hamba, biar hidup ini tidak hambar. Minimal mirip Choi Jin Hyuk, biar ada yang ngawal kalau mau pergi ke mana saja," ujar Syala dibarengi mengusap wajahnya tanda amin.
"Ya ampun, La. Apa-apaan sih? Nanti kalau dapat benaran, mau gitu hidupnya dikintilin suaminya tiap hari, kemana saja?" sergah Syana tidak suka dengan candaan Syala.
"Kalau pengawalnya mirip Jin Hyuk, sepertinya tidak masalah deh Mbak," jawabnya asal sembari senyam-senyum.
"Ini nih, kalau sudah kena racun aktor Korea. Jadi ekpektasinya terlalu tinggi," ucap Syana meremehkan. Syala yang diremehkan hanya senyam-senyum tidak karuan dan sepertinya Syala memang demam aktor Korea.
**
Hari menjelang sore, Syana memutuskan untuk kembali ke apartemen setelah tadi siang dia berpikir keras di dalam kamar adiknya. Syana bingung, jika hari ini memutuskan untuk meninggalkan Syahdan karena sudah mengetahui siapa Syahdan sebenarnya, bagaimana menjelaskan semua pada orang tuanya, kenapa dia tiba-tiba ingin meninggalkan Syahdan?
Namun setelah berpikirn keras, dengan hati dan tekad yang bulat, Syana memutuskan untuk kembali pada Syahdan dan membersamainya sampai dia benar-benar meraih kesuksesan di dunia barunya yaitu di bengkel otomotifnya.
Syana berpamitan dengan alasan sudah ditungguin Syahdan di rumah. Saat Syana beberapa langkah meninggalkan rumah, tiba-tiba sebuah motor menghadang di depannya. Syana merasa kenal dengan motor itu. Dan tidak salah lagi dia Syahdan sang suami urakannya. Untung saja kedatangan Syahdan tidak diketahui keluarga Syana yang sudah masuk ke dalam rumah.
Syahdan menatap tajam ke arah Syana. Walau dari balik kaca mata hitamnya, Syana mampu merasakan kemarahan di mata Syahdan. Tanpa bicara Syahdan memberikan helm yang harus dipakai Syana sendiri, tidak seperti biasanya yang selalu Syahdan pasangkan.
__ADS_1
"Naik dan pegangan tangan," titahnya seraya melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Walau bukan motor berkapasitas 1000 cc lagi. Namun di saat marah seperti ini, kecepatan motor yang dijalankan Syahdan tidak beda jauh dengan motor berkapasitas yang sama.