Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor

Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor
Bab 8 Aparteman Buluk Bau Apek


__ADS_3

"Apa-apaan sih, aku yang geli tahu. Jari kamu itu menyentuh dadaku," tepis Syahdan melepas paksa tangan Syana. Syana bukannya melepas tangannya, dia malah semakin erat memeluk saking gelinya. Syana bukan takut akan kecoa, namun dia geli saat merasakan gerakan kaki kecoa yang menyentuh kulitnya langsung.



Syana menghentak-hentak lantai berusaha mengeluarkan kecoa dari kakinya. "Kamu ini geli sama kecoa atau memang pada dasarnya pengen meluk aku yang wangi ini?" ejek Syahdan membuat Syana tersadar dari shocknya karena geli dengan kecoa. Lalu dengan wajah kaget Syana melepaskan pelukannya. Syahdan nampak tersenyum mengejek.



"Kamu ini penakut, kecoa saja ditakuti. Dasar cewek tengil, cemen," ejeknya lagi.


"Saya bukan penakut, tapi saya geli. Nih lihat seberapa berani saya menumpas kecoa yang bau ini," sangkalnya seraya menekan kuat kecoa yang berada di dalam rok dan celana panjang dalamnya, lalu perlahan celana panjang dalamnya dia singkap dan nampaklah kecoa yang sudah koyak dengan isi jeroannya terburai. Syana meringis jijik saat mendapati telur-telur kecoa yang terburai, baunya pun bau khas kecoa yang persis di got-got itu.



"Nah, lihatlah, ini bukti saya bukan penakut," ucapnya seraya mengangkat kecoa itu tinggi-tinggi ke atas. Syahdan menganggap hal itu biasa, keberanian Syana membunuh kecoa yang masuk ke dalam kakinya, bukan hal yang membanggakan baginya.



"Lagian kenapa sih Kakak ini jorok banget, gaya saja persis raja jalanan, nggak takut mati, tapi bersih-bersih di rumah sendiri saja malas," ledek Syana sembari berjinjit menghindari sampah yang tergeletak di lantai.



"Sudah, jangan banyak ngoceh, jika kamu memang perempuan dan rajin bersih-bersih, kenapa tidak kamu saja yang bersihkan apartemen ini, dan ingat jangan lagi panggil aku Kakak karena aku bukan Kakakmu, aku hanya ingin dipanggil kakak sama cewek yang aku suka, bukan cewek tengil seperti kamu" tunjuk Syahdan pada Syana membuat Syana meradang.



"Ihhh, dasar tidak waras. Siapa juga yang menyukai kamu, saya manggil kamu Kakak karena terpaksa, hanya bingung saja harus manggil kamu apa. Dan ingat pernikahan kita terjadi bukan karena kemauan saya, tapi atas paksaan kamu yang sudah melecehkan saya dan mengaku telah melakukan perbuatan hina sebelum nikah. Lagipula kamu sama sekali bukan tipe suami idaman saya, jadi jangan harap saya akan suka sama kamu, kamu ini kan urakan, jadi mana mungkin saya suka kamu," sungut Syana penuh penekanan. Syahdan menatap Syana remeh. Dia bersumpah omongan Syana suatu saat akan dibaliknya, Syana akan dia buat mencintainya.

__ADS_1



Syahdan tersenyum sinis ke arah Syana. "Suatu saat omongan kamu ini akan terbalik. Lihat saja nanti," ucap Syahdan seraya menunjuk muka Syana yang kini memerah.



"Sudah, sebaiknya kamu bersihkan apartemen ini jika kamu memang merasa perempuan, aku akan keluar sebentar ada urusan. Di apartemen ini kamu aman dan tidak bisa kabur, kalaupun mau kabur kamu tinggal loncat saja lewat jendela dan aku yakin kamu pasti hanya tinggal nyawa."



Syana merengut mendengar ocehan Syahdan barusan yang baginya sebuah ledekan. Dia sangat kesal dan kecewa dengan Syahdan, bukankah dia yang memaksa mengajak nikah, tapi tempat tinggal saja tidak layak seperti ini.



"Kenapa kita tidak tinggal di rumah yang kemarin saja Kak, di sini apek dan bau, saya tidak akan betah," keluh Syana akhirnya.


Syana kembali merengut mendengar penjelasan Syahdan. Dia lebih suka di tempat kemarin saat dirinya disekap dan dijaga dua penjaga beberapa hari yang lalu sebelum pernikahan ini terjadi.



"Sudah, jangan banyak alasan dan ngoceh. Aku mau pergi. Duduk diam saja di dalam apartemen ini. Dan ingat, jika kamu merasa cewek bersihkan tempat ini." Setelah mengatakan itu, Syahdan segera berjingkat menuju pintu.



"Kak, tunggu! Kalau saya lapar, bagaimana? Saya makan apa? Terus, kalau boleh saya minta, ijinkan saya keluar untuk bekerja seperti biasa. Saya masih butuh pekerjaan, sudah lima hari saya tidak bekerja karena Kakak sekap, lama-lama saya bisa dipecat," tahan Syana memohon. Syahdan diam, dia termenung dengan apa yang Syana katakan barusan. Dia tahu, Syana bekerja di mall terbesar milik Papanya di kota ini yang digadang-gadang akan menjadi miliknya suatu saat. Tapi itu dulu sebelum Syahdan diusir dari rumah dan belum membangkang.


__ADS_1


Syahdan tidak boleh Syana tahu bahwa mall itu adalah milik Papanya, dan dia merupakan pewaris dari mall tersebut. Tapi kini Syahdan bukan lagi pewarisnya, Kakaknyalah yang berhak karena Syailendra tipe anak yang patuh dan taat akan aturan Papanya, jadi dia wajar mendapatkannya. Dan Syahdan tidak merasa iri, karena dia ingin lepas dari bayang-bayang nama besar Papanya.



"Kamu tenang saja, akan aku usahakan kamu masih bisa bekerja di sana," ucap Syahdan menjamin, sembari beranjak lalu pergi entah kemana. Sejenak Syana terpana atas ucapan Syahdan. Dia heran dengan Syahdan yang seakan ada hubungan dekat dengan HRD mall tempat dia bekerja. Sebab sudah dua kali Syahdan berhasil memintakan ijin dirinya untuk tidak masuk bekerja, dan pihak Leader sepertinya tidak mempermasalahkan. Biasanya Leadernya orang paling cerewet dan judes jika ada timnya yang ijin tidak masuk.



Beberapa menit Syahdan berlalu, Syana merasa lelah dan ngantuk. Sejenak Syana melihat isi apartemen milik Syahdan ini. Ruangannya lumayan, ada dua kamar tidur, ruang tamu, tengah, dapur dan kamar mandi. Walaupun ukurannya tidak terlalu luas tapi lumayan untuk ukuran Syana yang dirasanya tidak terlalu sempit.



Syana memasuki salah satu ruangan, yakni kamar tidur. Melihat di sana ada kasur, Syana mendadak ngantuk dan lelah. Sepertinya dia ingin melepas lelah. Namun melihat keadaannya yang pengap dan bau apek, Syana merinding dan kantuknya seakan sirna. Tapi tetap saja dia perlu istirahat, sebab kaki Syana terasa pegal akibat lama berdiri tadi di ruang tengah apartemen ini.



"Ya ampun bau banget kamar ini, benar-benar cowok urakan ini jorok nomer wahid. Ihhhh, dasar menjijikan," dengusnya merasa jijik dengan keadaan kasur yang seprenya hitam-hitam dengan handuk yang tergeletak di atasnya.



"Memangnya cowok urakan ini betah tinggal di tempat beginian? Ya ampun, ini sangat tidak layak," omelnya lagi dengan sesekali terbatuk karena debu yang bersliweran di udara.



Walaupun begitu, Syana bergerak cepat meraih sapu lidi dan ijuk serta pel untuk membersihkan ruangan itu. Kasur yang seprenya buluk dan menjijikan dia angkat dan diganti dengan sepre yang bersih yang berada di dalam lemari merek kuno milik Syahdan. "*Nasib baik ada sepre bersih, walaupun sudah kusam minimal bersih dan tidak gatal saat aku tiduri*," batinnya bersyukur.


__ADS_1


Lima belas menit kemudian, kasurnya sudah beres dan terlihat sedikit bersih, lalu Syana menyapukan lantai dan mengepel ruangan itu. Sehingga ruangan itu sedikit bernyawa dan bersih serta layak untuk ditinggali. Syana dengan tergesa menghampiri kasur dan menghempaskan tubuhnya. Tidak berapa lama, karena lelah, rasa kantuk itu timbul kembali dan beberapa menit kemudian Syana sudah tidak ingat apa-apa lagi.


__ADS_2