
Syana menghampiri dengan membawa dua gelas di baki. Lalu Syana kembali ke dapur, dia tidak percaya diri harus berada di antara dua lelaki tampan dan kaya. Syana sudah tahu siapa Syahdan dan siapa mereka berdua. Tidak ada bandingan dengan dirinya. Duduk sekursi saja sepertinya tidak layak. Syana kini merasa minder, dirinya hanya akan menjadi pungguk merindukan bulan apabila dia terus bersama Syahdan.
Syana masuk ke kamar setelah matanya dipenuhi bulir bening yang siap jatuh. Dia menangis. Menangisi nasibnya nanti setelah pergi dari Syahdan, sedangkan cinta dia pada Syahdan sudah sangat besar. Dia bahkan tidak ingin kehilangan Syahdan.
Sementara itu Syahdan dan Syailendra, Kakaknya sepertinya sedang melanjutkan kembali obrolan di taman tadi.
"Syah, bagaimanapun juga kamu harus kembali ke rumah. Ingat Papa, cuma punya anak laki-laki kamu. Dan kamu adalah penerus Papa satu-satunya," ujar Syailendra membuat Syahdan terperanjat.
"Anak laki-laki satu-satunya Papa? Kakak jangan ngaco, kalau aku satu-satunya, lantas Kakak siapa dan mau di kemanain Kakak?"
"Memang betul anak Papa hanya satu dan itu kamu Syah, aku hanya dipungut Mama dan Papa atas kebaikan beliau berdua. Aku hanya anak dari Kakak perempuannya Mama yang sudah meninggal. Aku hanya sekedar Kakak sepupu bagimu. Dan bukan pewaris Papa. Aku tidak berhak sama sekali," tegas Syahdan seraya menatap Syahdan sendu.
"Apa Kakak bilang, lelucon apa yang sedang Kakak ceritakan? Jangan bicara yang tidak-tidak saat kita baru berjumpa yang harusnya merayakan kebersamaan dan kerinduan dengan suka cita! Kakak malah memberi lelucon yang membuat suasana jadi keruh," sergah Syahdan tidak suka.
Syailendra meraih bahu adiknya dan menatapnya tajam. "Dengar aku, dan tatap kedua mata aku. Sekarang aku mau tanya sama kamu, kenapa Papa selalu menomorsatukan kamu? Dan kenapa Papa selalu mengarahkan kamu harus sesuai keinginannya? Lantas ketika Papa ingin menunjuk kamu sebagai pemegang tertinggi Syaidar Mall, logikanya kenapa? Karena kamu adalah anak kandung satu-satunya Papa dan tidak ada yang lain," tegas Syailendra berkaca-kaca.
"Kakak jangan berdusta, Kakak jangan menghancurkan kebersamaan kita yang baru kita rayakan ini. Kakak pasti bohong, kan?" sergah Syahdan marah. Syailendra menahan tubuh adiknya yang berdiri.
"Tenang Syah, walaupun aku bukan kakak kandungmu, tapi aku akan tetap ada di sampingmu. Mendukung dan membelamu. Karena aku adalah Kakakmu walaupun kita tidak lahir dari rahim yang sama," tegas Syailendra seraya meraih tangan adiknya membawa duduk kembali.
__ADS_1
"Kakak itu bohong. Kalau kita bukan Kakak dan adik sedarah, kenapa wajah kita banyak kemiripan?" Syahdan mencoba menelisik kebohongan di wajah Kakaknya.
"Aku tidak bohong, Syah. Dengan kita sering bersama, terlebih lagi Ibuku dan Mamamu kakak adik, otomatis kemungkinan mirip itu besar. Jadi mulai sekarang tidak usah menyangkal lagi. Kamu anak kandung Mama dan Papa. Jadi pundakmulah akan jadi sandaran Papa untuk jadi pewaris," tegas Syailendra lagi meyakinkan.
"Kalau begitu, kenapa tidak Kakak saja yang menjalankan perintah Papa. Kakak selama ini penurut dan tidak pernah membantah Papa, jadi apa salahnya Kakak yang pegang?"
"Sekali lagi itu bukan hak aku, Syah. Kalau aku mau, bisa saja aku iyakan kemauan Papa. Tapi masih ada kamu pewaris sah, aku tidak berwenang. Dan perlu kamu tahu, aku tidak gila harta. Dengan kasih sayang Papa dan Mama serta disekolahkan tinggi, aku sudah sangat berterimakasih. Dan aku tidak mau jadi penjilat," tegas Syailendra menggebu-gebu.
"Tidak menjilat Kak, tapi Kakak memang punya hak juga karena selama ini sudah banyak membantu Papa."
Syahdan diam tidak menyahut. Dia masih belum bisa percaya dengan apa yang Kakaknya baru saja ungkapkan. Tentang mereka yang bukan kakak beradik, tentang perusahaan yang banyak diincar musuh.
"Tapi Kak, aku masih belum siap untuk kembali. Aku terlanjur kecewa dengan ucapan Papa yang menyumpahi aku sampah masyarakat. Aku akan berdiri tanpa bantuan Papa. Kakak lihat buktinya nanti. Aku tidak akan kembali sebelum aku sukses. Dan mengenai semua usaha Papa, sebaiknya Kakak tangani saja, karena aku tidak tertarik," pungkas Syahdan berkaca-kaca.
"Aku lebih baik kehilangan darah pewaris dari Papa daripada aku harus kehilangan kamu, Kak. Aku pasrahkan semua padamu Kak. Karena aku percaya Kakak bisa, dan Kakak bisa diandalkan."
"Tidak Syah, walaupun Papa melimpahkan beban di pundakku tapi tetap pewaris itu kamu. Aku tidak berhak, aku janji sebagai Kakak kamu, aku akan bantu dan dukung kamu. Percayalah dari sejak dulu aku sangat menyayangi kamu, Papa dan Mama, jadi aku tidak akan lepas tangan begitu saja," tegas Syailendra seraya berdiri.
__ADS_1
"Kak."
"Aku harus pulang Syah, hari hampir malam. Dan jika kamu bisa bagi satu yang tidak jauh beda dengan istrimu, berikan padaku. Akan segera aku jadikan istri." Syailendra berbisik di telinga Syahdan serius, mengulang permintaannya tadi.
"Jangan gila, Kak. Kakak menyukai istriku?"
"Kamu yang gila, masa iya aku suka sama istri orang terlebih ini istri adikku. Maksudku cari yang seperti dia, sebab aku mempunyai tipe cewek yang mirip seperti dia," tegas Syailendra masih di telinga Syahdan. Suasana sedih dan penuh drama tadi kini berubah dengan tawa canda.
"Kakak serius mencari yang seperti itu?" yakin Syahdan masih ragu.
"Aku serius, 1000 rius malah. Aku mencari perempuan yang tidak neko-neko yang mau mendampingiku dengan segala kekuranganku," ujarnya merendah.
"Ok. Kalau begitu aku nanti sengaja akan carikan buat Kakak." Syahdan tersenyum, tidak seperti tadi sedih dan tegang.
"Oh, ya, hampir lupa. Syaira, aku heran apa yang dikatakannya tadi apakah serius atau memang benar-benar salah bicara?" Syailendra menahan sejenak langkahnya menuju pintu karena dia teringat tentang Syaira.
"Iya, dia sebetulnya menerima perjodohan dengan aku karena dia dapat taruhan, taruhan untuk mendapatkan setengah harta Papanya jika dia berhasil menikah denganku. Tapi aku sudah tahu siasatnya, selain aku memang tidak menyukainya, siasatnya sangat licik. Itu makanya aku menolak bahkan jika Syaira dijodohkan sama Kakakpun aku tidak rela. Lebih baik aku bunuh Kakak," tegas Syahdan berapi-api.
"Istighfar Syah, kalau aku mati lantas siapa yang akan selalu mendukung dan menyayangimu?"
"Ya sudah, aku pulang. Tidak akan ada habisnya jika harus ngobrol denganmu. Datanglah sekali-kali ke apartemenku, ajak istrimu," lanjut Syailendra berpamitan dan kali ini benar-benar pamit betulan.
__ADS_1
Syana yang mendengar di samping tembok ruang tengah tentang segala kebenaran semua latar belakang Syahdan dan Syailendra, terhenyak menahan dadanya yang kini seakan sesak. Jadi yang sedang bersamanya kini, adalah seorang pewaris dari Syaidar Mall?