
Sepeninggal Mamanya, Syahdan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Pembeli mulai berdatangan, juga pelanggan yang ingin memperbaiki motor maupun mobilnya sudah antri. Para Montir sudah sigap dan menangani kendaraannya masing-masing.
Syahdan cukup sibuk dan kewalahan melayani pembeli yang membayar barang di Kasir. Sebab hanya Syahdan seorang yang menangani bagian Kasir. Kali ini Syahdan harus benar-benar menarik Syana untuk dijadikan Kasir di bengkelnya.
"*Syana pasti bisa*," bisiknya yakin.
Sorenya, jam empat tiba. Bengkel Syahdan masih ramai dengan pelanggan. Padahal biasanya Syahdan akan tutup jam empat sore. Berhubung pelanggan hari ini lebih banyak dari hari biasanya, terpaksa Syahdan membuka bengkelnya sampai jam enam sore. Jadi jika ada pelanggan datang melebihi jam enam sore, maka Syahdan sudah tidak menerima lagi.
Tanpa Syahdan sadari, Syana kini sudah ada di depan bengkelnya. Syana pura-pura menjadi seorang pelanggan yang datang, dia mencoba mengerjai Syahdan dengan menyuruh salah seorang pegawainya untuk memanggil Syahdan ke depan.
Salas satu pegawai Syahdan yang masih belum kenal siapa Syana, mengikuti keinginan Syana untuk memanggilkan Syahdan. Pegawai itu lantas berjalan dengan tergesa menghampiri Syahdan dsn memberi tahu bahwa di depan ada pelanggan yang mencari. Tanpa berlama-lama Syahdan segera menghampiri ke depan seraya mencari pelanggan yang dimaksud pegawainya tadi.
"Ehh, Sayang. Kamu kok datang sini?" herannya sembari melihat jam tangan. "Ya, ampun, rupanya ini sudah jam empat. Maafkan aku, Sayang, ya. Aku sibuk hari ini, sehingga lupa bahwa ini sudah jam empat sore," ujarnya baru menyadari bahwa waktu sudah menunjukkan jam empat sore. Syana hanya tersenyum menyaksikan wajah bingung Syahdan yang tetap tampan meskipun dilanda bingung dan banyak bekas oli yang membuat wajahnya cemong.
"Pelanggan yang dimaksud Syamad tadi mana, ya?" tanyanya heran sembari melihat ke samping kiri dan kanan bengkel.
"Mad, Syamad! Pelanggan yang kamu bilang tadi, mana?" tanyanya.
"Itu Bos, di samping Bos," tunjuk Syamad ke arah Syana. Syana yang ditunjuk hanya ketawa persis kuda kawin.
"Sya, kamu ngerjain aku, ya? Awas nanti di rumah, aku balas, ya. Ayo, masuk. Bantu aku sebentar di Kasir." Syahdan menuntun tangan Syana ke dalam dan menempatkan Syana di meja Kasir. Syana ngeri-ngeri sedap mendengar ancaman Syahdan barusan.
"Ini, aku ngapain, Kak?" tanya Syana heran.
"Kamu menerima pembayaran dan kembalian uang jika pelanggannya pakai uang cash, dan melayani pembayaran kartu debet jika ada pembeli yang bayarnya pakai kartu ATM," jelas Syahdan sembari sedikit menjelaskan jika ada pelanggan yang membayar dengan kartu debet.
"Ok, paham, Sayang?" tanya Syahdan memastikan Syana.
__ADS_1
"Apa, Sayang?" Syana malah keheranan dipanggil sayang oleh Syahdan.
"Iya, emangnya kenapa? Kamu, kan, Sayangnya aku?" yakin Syahdan seraya mencubit hidung Syana.
"Sya, awas, ya! Karena tadi kamu telah ngerjain aku. Maka malam nanti giliran aku yang ngerjain kamu. Akan aku jadikan kamu pelanggan tetap dalam dekapan siang dan malamku," ancamnya ladi diulang. Syana kembali meringis mendengar ancaman Syahdan yang membuatnya merinding jika harus membayangkan nanti malam.
"Sya, sepertinya kamu mulai besok harus berhenti kerja di toko buku temanku itu. Sebab, aku membutuhkan tenagamu," pinta Syahdan tiba-tiba. Syana berhasil mengkerutkan keningnya sesaat setelah Syahdan menyampaikan maksudnya.
"Maksud Kakak, aku harus berhenti bekerja di toko buku, lalu jadi Kasir di sini?" tanyanya mencoba meyakinkan. Syahdan mengangguk dalam.
"Bagaimana, apakah kamu mau?"
"Bukan tidak mau, tapi jika Kakak mintanya besok, itu tidak mungkin. Sebab Bu Syara sepertinya akan kekurangan orang. Bagaimana kalau minggu depannya saja?" Syana memberi tawaran lain sebagai solusi yang tepat. Syahdan sejenak berpikir. Namun akhirnya dia setuju dengan usul Syana. Jika dia berhenti besok, kemungkinan besar tidak akan mudah di kabulkan.
"Tapi, solusi buat besok gimana dong? Pasti besok aku akan kewalahan lagi menghadapi pelanggan yang melakukan pembayaran di Kasir." Syahdan akhirnya mengeluh untuk besok.
Tiba-tiba saat sedang asik mikir, nama Syala adiknya membayang. Syana seperti diberi ide yang cemerlang.
"Nah, aku ada ide Kak. Gimana kalau untuk sementara Syala saja yang membantu Kakak di bagian Kasir. Dia kebetulan saat ini sedang liburan semester dari kampusnya yang lumayan lama. Dia juga tidak diragukan lagi kemampuan hitung menghitungnya. Bagaimana, apakah Kakak setuju?" ujar Syana memberikan pendapatnya sembari menatap Syahdan meminta persetujuannya.
"Bagaimana Kak?" tanyanya sembari menatap lekat wajah tampan Syahdan, yang kini selain tambah tampan juga tambah lucu. Sebab cemong di wajahnya makin memanjang dari kening hingga tulang pipi. Syana anteng tersenyum memandang Syahdan yang masih sibuk.
"Sya, apa pendapatmu tadi?"
"Syala, apakah untuk sementara Syala bisa diterima kerja di bengkel Kakak sebagai Kasir? Bayarnya berapa saja terserah Kakak, dia pasti mau kok," yakin Syana merekomendasikan adik semata wayangnya.
__ADS_1
"Ok, besok jam delapan adikmu boleh datang ke sini. Ngomong-ngomong Syala naik kendaraan apa dari rumah?"
"Motor."
"Ok, Sya. Pastikan besok adikmu datang tepat waktu," tekan Syahdan. Dia tidak mau besok kewalahan lagi di bagian Kasir, makanya Syahdan sangat menekan supaya Syala besok tidak telat.
Hari yang dijanjikan tiba. Besoknya sebelum jam delapan teng, Syala adiknya Syana sudah tiba di depan bengkel Syahdan. Tidak susah mencari bengkel Kakak iparnya ini. Karena si sekitar jalan Sudirman tidak ada bengkel lain selain milik Syahdan.
Lima menit kemudian Syana dan Syahdan tiba di depan bengkel. Mereka bahagia saat didapatinya Syala sudah berdiri di depan bengkel Syahdan.
"Syala, kamu sudah datang?"
"Iya, Kak," sahutnya sembari menyalami tangan Syana dan menangkupkan kedua tangan di hadapan Syahdan.
"Baiklah, masuklah," ajak Syahdan mengajak Syala ke dalam bengkel. Syana mengikuti Syahdan dan Syala ke dalam sebelum dia masuk ke toko buku tempatnya bekerja.
Syahdan sedikit menjelaskan apa saja tugas Syala. Sebentar saja Syala paham dengan penjelasan Syahdan. Baginya hitung menghitung adalah perkara yang mudah.
Dan akhirnya perjalanan Syala di dunia pekerjaan yang baru saja didapatinya dimulai sudah. Syala nampak semangat dan bahagia.
"La, kalau tidak ada yang kamu pahami, tanyakan Kakak saja atau pegawai yang lain, ya?" Syala mengangguk paham.
"La, Mbak permisi dulu, ya. Soalnya jam kerja sudah dimulai. Kamu baik-baik di sini. Kalau tidak ada yang kamu mengeti, tanya Bos Syahdan saja," ujar Syana sembari meninggalkan bengkel Syahdan diliputi perasaan bahagia.
__ADS_1
Di hari pertama Syala bekerja cukup menguras tenaga dan melelahkan, untung ada Kakak iparnya yang dengan sabar saling bekerjasama membantu Syala.
Ada kejutan apa di bab selanjutnya? Yuk tuungguin dan kepoin kisahnya....