Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor

Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor
Bab 55 Akhirnya Menerima Bantuan Syailendra


__ADS_3

Syailendra menaruh kantong kresek yang tadi dibawanya, di meja ruang tamu. Berbagai cemilan dia beli dari swalayan. Entahlah, apa yang akan dilakukan Syailendra di apartemen sederhana milik Syahdan ini sehingga dia membeli makanan begitu banyaknya.



"Kak, apaan banyak banget?" Syahdan heran melihat kantong kresek yang diletakkan di atas meja dengan isi berbagai macam cemilan.



"Lihatlah sendiri," tukasnya. Syahdan melihat banyak sekali cemilan yang Kakaknya beli. Ada minuman kemasan dan cemilan, sampai Syahdan geleng-geleng kepala.



"Di sini juga ada cemilan Kak," tukas Syahdan.


"Paling cemilan orang hamil," ejek Syailendra sembari mengeluarkan satu per satu belanjaannya.



Beberapa saat kemudian, Syana keluar kamar, lalu menggiring adiknya ke dapur. "Duduk, La," titahnya sembari duduk hadap-hadapan.



"Kenapa kamu tidak ke bengkel lagi, La? Padahal Mbak nungguin kamu." Syana memberi pertanyaan duluan sebelum Syala mulai bicara.



"Sibuk Mbak, Dosen aku memberi tugas dadakan untuk persiapan skripsi nanti. Tapi besok kayaknya aku free deh. Mungkin besok bisa main ke bengkel Kak Syahdan lagi." Syana mengangguk-anggukan kepalanya.



"Bagaimana kabar Ibu dan Bapak?"


"Alhamdulillah sehat. Ibu dan Bapak titip salam buat kalian berdua dan juga janin yang Mbak kandung. Ibu dan Bapak senang banget saat mendengar kabar Mbak Syana hamil. Lantas, apakah keluarga Kak Syahdan sudah tahu kalau Mbak mengandung?" Pertanyaan Syala dijawab gelengan kepala oleh Syana.



"Mbak saja baru tahu kemarin kalau Mbak hamil. Biar saja keluarganya tidak dikasih tahu dulu, biar mereka mengetahuinya sendiri," ujar Syana lemah. Syala seperti menangkap kegundahan di hati Syana, Kakaknya. Namun Syala tidak bisa menyimpulkan apa-apa dulu. Sejauh ini Syala hanya memantau saja.



"Oh, ya, Mbak aku bawa asinan buah sama salak buat Mbak. Ini titipan dari Ibu," ujar Syala sembari menyodorkan dua toples asinan salak dan mangga.



"Wahhh, kayaknya enak nih. Mbak cobain deh." Syana antusias dan membuka toples yang berisi asinan mangga. Kebetulan dia saat ini ingin makan yang segar-segar.



"Cobain saja Mbak. Segar tuh untuk yang hamil muda," celoteh Syala sembari matanya melirik ke arah lain. Kebetulan Syana yang tanpa sengaja melihat ke mana arah mata Syala. Syana sepertinya paham apa yang sedang dicari adiknya itu.



"La, ada apa sih matanya muter begitu, ada yang kamu cari, ya?"



Merasa ketahuan, Syala langsung menundukkan kepala dan menggeleng. "Ah, tidak mencari apa-apa. Hanya heran saja dengan Kakaknya Kak Syahdan, ada apa datang kesini?"



"Mbak, nggak tahu. Mungkin saja Kak Lendra ada hal penting sama suami Mbak. Ngomong-ngomong kalian sudah kenal, bukan? Bukankah saat ke Rumah Sakit Syalala, kalian datang bersamaan?" selidik Syana ingin tahu.


__ADS_1


"Nggak kok, Mbak. Cuma kenal begitu saja. Saat itu Kak Lendra kebetulan mau ke RS juga, lalu melihat aku yang mau ke RS , tiba-tiba dia ngajak bareng sama aku. Ya sudah akhirnya aku terpaksa nebeng dan ikut mobilnya," terang Syala mengenang kembali masa saat dirinya berdekatan satu mobil bersama Syailendra.



"Tapi kamu senang, kan?" godanya sambil tersenyum. Syala tidak menjawab dia hanya menunduk dengan wajah yang diliputi rasa malu.



"Ingat tidak, La. Saat kamu berdoa sama Allah untuk disisain cowok tampan, kaya, baik, dan tidak sombong? Itu semua ada di Kak Lendra, lho. Semua tipe laki-laki idaman kamu ada di Kak Lendra. Kebetulan usianya juga jauh lebih dewasa dari kamu, kamu suka yang lebih dewasa, kan? Dan lagi, dia tipe pengawal persis aktor Korea yang kamu kagumi itu Choi Jin Hyuk," beber Syana seakan mengetahui isi hati adiknya.



Syala nampak terkejut, tapi hatinya sejujurnya senang mendengar penjelasan Syana tentang Syailendra yang kini sedang ditaksirnya.



"La, kamu naksir Kak Lendra, ya?" Tiba-tiba Syana bertanya seperti itu membuat Syala terkejut. Syala langsung tersipu malu dan membuang muka ke arah lain.



"Sudah, deh, ngaku saja," desak Syana masih menggoda adik semata wayangnya yang sedang jatuh cinta.



"Nggak kok, Mbak," sangkalnya malu.


"Daripada malu-malu begitu, lebih baik kita masak saja untuk makan malam kita." Syala setuju dan akhirnya mereka berdua sibuk di dapur memasak untuk makan malam.



Sementara di ruang tamu, Syahdan dan Syailendra sedang terlibat pembicaraan yang kadang dibarengi tawa. Melihat keakraban dua Kakak beradik ini, bisa jadi membuat iri siapa saja yang melihatnya. Mereka sama-sama tampan dan saling mendukung satu sama lain.



"Bagaimana Syah, apakah tawaran aku tempo hari akan kamu terima? Aku cuma memberi pinjaman bukan bantuan cuma-cuma." Sepertinya obrolan dua tampan ini sengaja dialihkan oleh sang Kakak. Tujuan Syailendra mendatangi Syahdan tidak lain ingin menawarkan bantuan untuk kemajuan bengkel Syahdan.




"Syah, jangan terlalu lama berpikir. Kamu mau atau tidak menerima pinjamanku? Kalau kamu nunggu tabunganmu cukup sampai tahun depan, maka tempat dan lahannya akan keburu diserobot orang lain. Coba bayangkan, bengkelmu saat ini banyak pelanggannya yang datang dari mana-mana. Namun para pelanggan bingung mau parkir di mana. Masa iya, kendaraan mereka diparkir di trotoar jalan, bahkan bahu jalan yang sebenarnya tidak boleh dipakai parkir sembarangan, kini jadi semrawut karena dipakai parkir liar," cetus Syailendra serius.



Alangkah perhatiannya Syailendra sampai dia mengetahui detail para pelanggan bengkel Syahdan yang terpaksa harus parkir sembarangan, malah bahu jalan saja dipakai untuk parkir saat antri untuk dilayani di bengkel Syahdan.



Syahdan termenung mencerna omongan Syailendra barusan. Dia berpikir keras dan ceramah Syailendra barusan banyak benarnya. Para pelanggan yang antri sembarangan, lambat laun akan menimbulkan berbagai masalah dikemudian hari.



"Bagaimana, Syah? Masih mau berpikir? Kelamaan, sekali lagi ini penawaran terakhir dari aku. Kamu mau menerima pinjaman dari aku atau tidak? Aku hanya meminjamkan bukan memberimu cuma-cuma. Perlu kamu tahu uang yang aku pinjamkan bukan uang Papa atau uang haram. Itu murni uang pribadi aku yang selama ini aku kumpulkan dari jerih payah keringat aku selama bekerja di perusahaan Papa. Jadi kamu jangan takut dengan bantuanku," seloroh Syailendra bersungut-sungut, sebab Syahdan begitu keras kepalanya tidak mau menerima bantuannya, walaupun sekedar meminjamkan.



"Aku sedang berpikir, Kak. Tenanglah dulu. Jika Kakak bicara terus, maka aku tidak bisa berpikir jernih," respon Syahdan bikin gemas Syailendra.



"Ahhhhhh, percuma aku bicara panjang lebar sama kamu. Sudahlah, masa bodoh. Sebaiknya aku menikmati cemilan ini." Karena putus asa, akhirnya Syailendra menumpahkan kekesalannya dengan menikmati cemilan yang dia beli tadi.


__ADS_1


"Syah, ngomong-ngomong adik iparmu, Syala, apakah dia akan menginap di sini atau pulang?" tanya Syailendra disela menikmati kacang tanah yang tadi dibelinya. Syahdan menyunggingkan sebuah senyuman yang memahami kemana arah pembicaraan Kakaknya itu.



"Syala pasti pulang. Kita lihat saja nanti." Mendengar itu, hati Syailendra bersorak gembira dan berdoa supaya Syala minta pulang. Ada rencana apa dengan Lendra?



Waktu menunjukkan jam sepuluh malam. Setelah makan malam yang tadi disajikan oleh Syana dan Syala. Syala berpamitan untuk pulang. Karena sudah malam, Syana dan Syahdan melarang Syana untuk pulang dan memintanya menginap. Namun Syala menolaknya.



"Aku pulang saja, lagipula jalanan masih sangat ramai kok," tolaknya memberi alasan. Diwaktu yang sama Syailendra kebetulan akan pamit pulang juga. Kesempatan ini tidak disia-siakannya. Dia berjalan di depan Syahdan dan Syana seraya ijin pulang.



"Aku juga pulang, ya. Sudah malam," ujar Syailendra berpamitan.



"Kak, kalau begitu alangkah baiknya Syala ikut nebeng saja di mobil Kakak. Aku khawatir Syala kenapa-kenapa di jalan," usul Syahdan yang diangguki Syana.



"Tidak, aku pakai motor saja, lagipula jalanan masih ramai kok," ujarnya menolak.


"Jangan nolak, La. Alangkah baiknya nebeng Kak Lendra saja. Ini sudah malam, tidak baik sendirian. Apalagi di jalan pertigaan Revolusi yang sepi itu, malam-malam begini selalu dipakai berkumpulnya preman-preman," jelas Syana melarang adiknya pulang naik motor sendiri.



"Kak Lendra, tebengin Syala tumpangan, ya. Kalau tidak keberatan, antar sampai rumah," pinta Syana pada Syailendra.



"Boleh, Sya. Itupun jika adikmu mau. Bagaimana, apakah kamu mau bareng saya? Demi kenyamanan kamu, saya akan mengantar sampai rumah." Syailendra menawarkan bantuannya dengan hatinya yang bersorak.



Syala terlihat malu-malu dan akhirnya mengangguk menyetujui penawaran Syailendra.



"Ok, deh. Karena ini sudah malam, kami bukan maksud mengusir. Kalian harus segera pulang, dan untuk Kak Lendra, antarkan Syala sampai tujuan," ujar Syahdan berpesan pada Syailendra.



Syala dan Syailendra akhirnya berpamitan keluar dari apartemen Syahdan. Mereka berjalan beriringan menuju lift apartemen.



"Tapi, motor aku, Kak?" Syala membalikkan badan dan mempertanyakan motornya yang ditinggal.



"Tenang saja, nanti ada Rami atau Rama yang akan mengantar ke rumah," jawab Syahdan membuat Syala sedikit tenang.



"Ok, kami pulang, ya." Syailendra akhirnya benar-benar berpamitan.



"Titip adik iparku, ya, Kak. Mengenai tawaranmu itu, aku setuju dan menerima tawaranmu," teriak Syahdan sebelum Syala dan Syailendra menjauh. Syailendra membalikan badan sejenak dan mengangkat tangannya tanda ok diselingi senyuman gembira.

__ADS_1



"*Coba dari tadi kamu katakan itu, Syah. Kamu memang keras kepala sekeras batu*," batin Syailendra gembira dan segera menjauh dari apartemen Syahdan.


__ADS_2