
Di tempat lain, Syaira yang kini sudah berada di apartemennya, mengamuk dan kesal atas perjumpaannya tadi dengan Syahdan. Dia melihat dengan mata dan kepalanya sendiri bagaimana kemesraan Syahdan dengan cewek berhijab di Taman Cinta tadi. Darahnya bergolak, kini kesempatan untuk mendapatkan setengah harta dari Papanya musnah sudah. Sebab pada kenyataannya Syahdan kini sudah memiliki istri seperti apa yang diakui Syahdan tadi.
"Lihat saja apa yang bisa aku lakukan. Walau kamu tidak bisa aku dapatkan, tapi aku akan membuatmu bisa aku dapatkan," dengusnya penuh ambisi seraya meremas sebuah kertas menjadi bulatan lalu dilemparkannya ke luar jendela apartemen.
"Dan cewek berhijab itu seharusnya aku lenyapkan saja supaya jalanku lebih gampang." Syaira meraih pisau lipatnya dengan wajahnya yang penuh amarah.
Hari ini Syahdan tidak membuka bengkelnya berhubung hari Minggu. Karena pada hari libur Syahdan memang menutup bengkel untuk memberikan waktu pada para pegawainya berlibur juga.
Rencananya Syahdan akan membawa Syana jalan-jalan sepuasnya hari ini dan menyenangkan hatinya. Setelah tadi malam perjumpaan dengan Kakaknya dan berbicara banyak, perubahan sikap Syana pun kentara. Syana sering kedapatan bersedih walaupun berusaha menyembunyikannya di depan Syahdan. Namun Syahdan tetap bisa melihat dari sorot matanya, ada sebuah kesedihan yang entah apa.
"Sya, nanti siang aku akan ajak kamu jalan-jalan. Kamu bersiaplah nanti ya," berita Syahdan seraya menghampiri Syana yang tengah sibuk di dapur.
Syana tidak menjawab, dia hanya menoleh sekilas ke arah Syahdan lalu melanjutkan kembali aktifitasnya. Syahdan bisa merasakan sikap Syana yang tidak sehangat sebelumnya. Ini membuat Syahdan teringat ucapan Syana di Taman Cinta.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Sya. Dan aku juga akan terus mencintaimu dan melindungimu," tekad Syahdan berkobar.
Tidak lama dari itu HP Syahdan berbunyi. Syahdan segera meraih HPnya dan melihat siapa yang memanggilnya. Di sana nama Rami memanggil.
"Halo Rami, ada apa?" sahutnya.
"Den, ada pelanggan, mobil mewahnya mogok, dia menghubungi dan mobilnya ingin ditangani langsung oleh Den Syahdan," lapor Rami di telpon.
__ADS_1
"Kamu tangani dulu Rami, aku hari ini ada acara dengan istriku," tolak Syahdan.
"Tapi Bos, dia bilang jika Bos tidak mendatanginya, maka dia akan menunggu sampai Den Syhadan datang," ujar Rami masih di ujung telpon.
Syahdan sejenak mengkerutkan keningnya dan bertanya dalam hati siapa sebenarnya pelanggan yang ingin diperbaiki mobilnya yang kini sedang mogok?
Syahdan mempersiapkan diri, mungpung hari masih pagi dia akan menemui pelanggan yang mobilnya mogok dan memperbaiki dengan cepat kerusakan mobilnya. Lalu segera kembali dan mengajak Syana jalan-jalan.
Syahdan menghampiri Syana yang masih sibuk dengan aktifitas dapurnya. Lalu meraih pinggangnya dari belakang.
"Sya, aku keluar sebentar, ada pelanggan yang mobilnya mogok dan ingin aku yang menghampirinya ke sana. Kamu baik-baik di sini, ya. Jangan ke mana-mana sampai aku kembali," ujarnya sembari mencium Syana dari belakang.
"Hanya sebentar, Sya."
"Tapi, kenapa harus Kakak?"
"Mereka hanya percaya sama aku, sebab aku montir yang handal," tukasnya diiringi cand.
"Maksudnya kenapa tidak ditemani Paman Rama atau Paman Rami?" usul Syana.
"Itu pasti dong Sya, nanti Rami nyusul ke tempat mobil yang mogok. Dia sedang mempersiapkan semua alatnya dulu. Aku harus segera meluncur?" ucap Syahdan sambil bersiap-siap.
"Hati-hati, Kak," ucap Syana seraya menatap kepergian Syahdan.
__ADS_1
Syahdan melajukan motornya menuju alamat yang diberikan Rami. Beberapa meter lagi sampai di mobil yang diduga mogok tadi. Syahdan menghentikan motornya perlahan. Sebuah mobil mewah tersungkur pada pembatas jalan tepat di bawah jembatan rel kereta api.
Syahdan memarkirkan motornya terlebih dahulu dengan baik, kemudian dengan hati-hati dia mendekati mobil mencari si pemiliknya.
"Halo, siapakah pemilik mobil ini?" teriaknya lantang. Beberapa menit belum muncul orang yang di sapa. Namun sedetik kemudian seseorang muncul mengejutkan.
"Halo Syah, apakabar?" Syahdan terkejut dan tidak menduga siapa orang yang menjadi pelanggannya kali ini.
"Syaira?"
"Ya, aku Syaira. Mobilku mogok dan bamper depanku menabrak pembatas jalan. Jadi, aku harap kamu bisa memperbaikinya di sini, supaya aku bisa kembali melanjutkan perjalanan," jawabnya dengan senyum misteri di wajahnya.
"*Syaira, permainan apa yang sedang kau mainkan? Jebakan apa yang akan dia berikan padaku sampai dia membawaku ke sini? Baik akan kuikuti permainanmu sampai tuntas, sampai aku menjadi pemenangnya dan kamu akan gigit jari dibuatnya*," bisik hati Syahdan menebak gelagat Syaira yang sepertinya sengaja menjebaknya membawa ke tempat yang sepi ini.
"Oh, tentu saja aku akan membuat mobilmu kembali bagus seperti semula. Kamu tunggu saja dan lihat hasilnya nanti," tukas Syahdan enteng.
"Syah, minumlah dulu minuman ini. Kebetulan aku sudah membeli minum sejak tadi di supermarket sebelum terjadi kecelakaan ini," tawar Syaira. Syahdan melirik sejenak seraya tangannya sibuk menghubungi Rami yang belum datang.
"Sebentar, Ra. Aku selesaikan dulu yang ini nanggung," alasannya. Syahdan hanya mengulur waktu sampai Rami tiba. Dan beruntung Rami segera datang membuat Syahdan gembira.
"Siasatmu sudah terbaca Ra. Bersiap-siaplah masuk jebakanmu sendiri," batin Syahdan tersenyum puas.
__ADS_1