
"Aku keluar dulu, kamu tetap di dalam apartemen ini, aku masih ada urusan." Setelah selesai sarapan bersama yang hampir siang, Syahdan bangkit dan bermaksud untuk pergi lagi.
"Kak, mau kemana lagi? Pasti balapan liar? Apakah tidak ada hal lain yang lebih bermanfaat lagi selain balapan liar?" Syana mendongak dan menegur Syahdan supaya Syahdan tidak pergi untuk balapan liar.
Syahdan menatap Syana dengan tidak suka, dia merasa hobynya diusik orang baru yang masih asing baginya.
Kamu tahu apa tentang balapan liar dan kehidupanku? Kamu orang baru, jangan sok-sok melarang!" ketusnya seraya berlalu menuju pintu.
"Kak, tunggu. Mengenai pekerjaan itu bagaimana? Kapan saya sudah boleh bekerja?" Syahdan membalikkan badanya dan menatap Syana tajam.
"Kamu tidak perlu bekerja lagi di mall itu. Aku sudah mencarikan tempat kerja yang lain. Tapi tidak di tempat itu," jawab Syahdan beranjak menuju pintu.
"Kak, di dapur kita tidak punya apa-apa, jangankan beras, air galon untuk minum saja kosong. Saat Kakak pergi, jika saya ingin minum bagaimana?" tahan Syana lagi membuat Syahdan sakit kepala.
"Kamu itu bawel, ini membuat mood balapku berantakan. Sudah aku bilang, jangan panggil dirimu dengan sebutan saya, itu terdengar kaku dan formal tahu," ketusnya lagi kesal saat Syana masih terdengar menyebut dirinya saya dan saya, membuat Syahdan tidak suka.
Syana diam, dia kali ini malas berdebat, lagipula kepalanya kini terasa pusing gara-gara kemarahan Syahdan barusan. Syana juga bingung, dia masih belum terbiasa menyebut dirinya 'aku' di hadapan Syahdan, sebab Syahdan baginya masih orang asing.
"Sudahlah aku pergi dulu," ucapnya berlalu tanpa menoleh lagi Syana.
Seperginya Syahdan, Syana melangkah menuju kamar yang semalam dia tempati. Dia berbaring untuk mengistirahatkan sakit kepala yang tiba-tiba datang. Perdebatan kecil yang akhir-akhir ini terjadi dengan Syahdan, sejak Syahdan melecehkan dan akhirnya menikahinya dengan mengaku telah melakukan perbuatan mesum, menjadi pemicu sakit kepala Syana akhir-akhir ini. Ini diyakini akibat dari pertengkaran yang sering terjadi antara dirinya dan Syahdan.
Sebelum kenal Syahdan, Syana tidak pernah menegangkan otot maupun urat syarafnya dengan siapapun, dengan Leadernya sekalipun yang notebene bawel dan judes, Syana tidak pernah melawan atau meladeninya. Tapi kini, Syana sering tegang dan sakit kepala sejak kenal Syahdan.
__ADS_1
"Gara-gara sering berdebat dan bertengkar dengan cowok asing yang urakan itu, aku sering sakit kepala. Kenapa Allah pertemukan aku dengan dia? Sekarang ingin laripun, harus lari ke mana? Aku terkurung seperti ini?"
Akhirnya Syana tertidur di dalam kamar yang semalam dia tempati saking sakitnya kepala dan juga rasa kantuk yang mendera. Hawa dingin dari AC di dalam kamarnya seakan menina bobokan Syana sehingga dia lelap dalam tidurnya.
**
"Jedarrrr, brakkk." Motor 1000 cc yang dijalankan Syahdan tiba-tiba oleng dan menabrak pembatas jalan. Syahdan meringis, siku kanannya langsung keluar darah. Keningnya juga keluar darah karena kepalanya membentur setang motor sekeras-kerasnya.
"Sialan, motorku pecah body lagi," rutuknya kesel sembari memegangi keningnya yang sakit. Syahdan berdiri terhuyung, kakinya yang tertimpa body motor terasa sakit dan linu untuk dipaksa berdiri.
Beberapa saat kemudian, Rama dan Rami yang selalu setia mengawalnya, datang dengan sendirinya, karena sejak selesai balapan liar yang dimenangkan Syahdan tadi, Rama dan Rami masih setia mengikuti Syahdan.
Dua bodyguard itu terkejut melihat tuannya berusaha berdiri dari kecelakaan tunggal motornya. "Den, kenapa? Kok bisa Aden menabrak pembatas jalan? Apakah Aden sedang tidak fit? Aden tidak minum, bukan?" tanya Rama sembari mengangkat tubuh Syahdan yang masih berusaha mencoba berdiri.
"Ayo, Den. Saya antar pulang ke apartemen," ajak Rami sembari memapah tubuh Syahdan ke atas motornya bermaksud mengantarkan Syahdan pulang.
"Rama, bawa motor Den Syahdan ke bengkel biasa," titah Rami. Rama tidak membantah, dia pun segera menghubungi orang derek untuk menderek motor tuannya. Syahdan pun dibawa Rami menuju apartemennya.
"Bagaimana, apakah tugasmu tadi bersama Bi Rasih sudah beres?"
"Sudah, Den. Tapi, saat kami tiba di apartemen, Nona Syana sepertinya sedang tertidur lelap, dia tidak bangun saat saya dan Bi Rasih menyimpan perlengkapan dapur. Kami juga tidak membangunkannya, karena kasihan jika mengganggu Nona yang tidur pulas," lapor Rami mengenai perintah Syahdan tadi yang sudah dilaksanakannya untuk melengkapi perlengkapan dapur seperti yang diminta Syana tadi pagi.
"Baiklah, kerja yang bagus," puji Syahdan pada Rami yang masih melajukan motornya menuju apartemennya yang kini ditinggali Syana.
**
Syana terbangun dengan cucuran keringat di sekujur tubuhnya. Dia kaget dengan mimpi buruk yang mendatanginya. Syahdan mengalami kecelakaan, motornya sengaja ada yang mencuranginya.
__ADS_1
"Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa dengan cowok urakan itu. Semoga ini hanya mimpi belaka," harapnya. Setelah mengalami mimpi buruk tentang Syahdan, Syana segera ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Syana segera menyudahi aktifitas mandinya. Saat keluar kamar mandi, Syana merasa heran melihat dapur yang sudah berubah. Galon yang kosong tadi kini sudah terisi air. Dengan penasaran Syana membuka kulkas, kulkas juga sudah terisi dengan buah-buahan dan sayuran lengkap. Di lemari kichen set atas dan bawah juga sudah tersedia mie instan lengkap berbagai rasa. Beras, gula, kopi dan bumbu sudah lengkap di sana. Syana tersenyum lega, dia yakin Syahdan tadi pulang saat dia tidur lelap.
"Kapan cowok urakan itu menyiapkan semua ini? Mungkin dia datang saat aku tidur nyenyak," duganya sembari menuju kamar karena akan melaksanakan sholat Ashar.
Saat Syana masih melaksanakan sholat pada rakaat terakhir, terdengar suara seseorang memasuki apartemen. Syana segera menyudahi sholatnya dan berdoa sejenak. Setelah itu dia segera keluar kamar dan melihat siapa yang datang.
Syana melihat Syahdan dibawa masuk dan dipapah oleh salah seorang bodyguard yang pernah Syana lihat saat pertama kali bertemu.
"Kak Syahdan, kenapa?" Syana menghampiri dengan wajah risau. Syahdan dibantu Rami dibaringkan di ruang tengah di atas karpet yang sudah terpasang.
"Kenapa dengan Kak Syahdan, Paman?" Syana bertanya heran kepada Rami yang kini sudah membaringkan Syahdan di karpet. Sebelum mendapat jawaban dari Rami, Syana berlari menuju kamar Syahdan mengambil bantal dan kotak P3K. Dengan gesit dia menyiapkan apa yang diperlukan untuk mengobati luka Syahdan.
Rami membantu membuka baju yang melekat di tubuh Syahdan, saat bajunya terbuka semua, Syana melihat dengan tidak sengaja tubuh Syahdan yang bagus. Sixpack dengan kulit yang kuning mulus dan bersih.
"*Astaghfirullah*," ucapnya dalam hati. Sekilas di dekat dada kirinya, Syana melihat sebuah tato kalajengking, Syana berdecak menyayangkan keberadaan tato itu.
"Tolong diobati ya, Non. Den Syahdan luka di siku dan kening bahkan lututnya. Saya masih ada hal penting lain yang harus saya kerjakan," ucap Rami tegas.
"Nona bisa mengobati dan melihat sekujur tubuh Den Syahdan tanpa merasa ragu seperti itu, sebab Den Syahdan suami Non Syana. Saya pergi dulu," lanjut Rami menyindir sikap Syana yang merasa risih saat melihat tubuh Syahdan terbuka.
__ADS_1
"Saya permisi, Den," ucap Rami berpamitan pada Syahdan dan berlalu meninggalkan Syahdan dan Syana di apartemen sederhana yang kini nampak bersih dan kinclong berkat Syana.