
"Sya, aku janji setelah ini aku berhenti dari balapan liar dan geng motor," ucap Syahdan saat dirinya menyusul ke kamar Syana.
"Kakak mau berhenti dari dua hal yang menyebalkan itu setelah mengalami kecelakaan dan memakan korban? Lanjutkan saja sampai Kakak hilang nyawa sekalian." Syana benar-benar marah mendengar Syahdan menabrak seseorang.
"Sya, kamu tega bicara seperti itu," sergah Syahdan sedikit kesal.
"Setelah ada korban, Kakak baru mau berhenti," omelnya lagi sembari berdiri meninggalkan Syahdan dan ke dapur.
Syana bergegas menuju dapur, dia menuangkan air minum dari dispenser, kemudian meneguknya seperti kehausan.
"Sya, aku minta maaf dan sekarang aku menyesal. Benar katamu, aku harus meninggalkan geng motor dan balapan liar, aku benar-benar menyesal Sya," ucap Syahdan dengan wajah menyesal.
"Sudahlah, sekarang tidak ada gunanya menyesal. Aku juga bosan memberitahu Kakak. Mau Kakak begini atau Kakak jadi sampah masyarakat sekalipun, aku sudah tidak peduli sekarang." Saat Syahdan mendengar kembali kalimat sampah masyarakat untuk kesekian kalinya dari mulut Syana, Syahdan marah dan menghampiri Syana yang masih di dapur.
"Kenapa, Kakak marah gara-gara aku bilang sampah masyarakat? Kakak mau paksa aku untuk melayani Kakak?" tantang Syana tidak merasa takut. Biasanya setelah dia mengatakan sampah masyarakat, Syahdan akan marah dan beringas memaksanya dan melampiaskan hasratnya.
"Sya, kamu tega ucapkan itu sama aku. Berulang kali kamu katakan itu, berulang kali juga aku sakit hati," ucap Syahdan protes dengan ucapan Syana. Syana tidak peduli, lantas dia berjingkat meninggalkan Syahdan dan segera masuk kamar lalu menguncinya.
"Sya, buka, jangan kunci pintunya," gedor Syadan. Namun Syana tidak mau mendengar, dia menutup telinganya dengan bantal dan menenggelamkan dirinya di sana.
Sejak kejadian Syahdan menabrak anak kecil sehingga masuk rumah sakit karena patah tulang, Syahdan mengurung diri di apartemen. Namun sepertinya Syahdan tetap berhubungan di telpon dengan seseorang.
"Rama, Rami, tangani semua oleh kalian. Jualkan Repsolku untuk biaya anak itu. Sisanya kalian belikan saja motor GL." Perkataan Syahdan di telpon terdengar jelas oleh Syana. Syana sedikit prihatin dengan keadaan Syahdan. Sepertinya dia akan menjual motor untuk biaya pengobatan anak yang ditabraknya tadi.
"Sya, untuk beberapa hari ke depan, kamu jangan dulu bekerja, karena aku tidak bisa mengantarmu," tahan Syahdan saat Syana akan bersiap untuk bekerja.
__ADS_1
"Kan masih ada angkot untuk menuju kesana, jadi mulai sekarang Kakak tidak usah pedulikan aku," tukas Syana. Syahdan diam begitu mendengar ucapan Syana.
Syana pergi meninggalkan Syahdan tanpa permisi. Mungkin Syana sangat kesal dengan Syahdan.
Syahdan menatap kepergian Syana yang marah padanya, sekarang dia tidak bisa berkutik sebab dia merasa takut jika Syana meninggalkannya.
Sejak kejadian Syahdan menabrak anak kecil, Syahdan kini menjual motor Repsol kesayangannya. Penjualan motornya yang masih lumayan tinggi dia gunakan untuk mengobati patah tulang anak yang ditabraknya, dan sebagian dia belikan motor GL untuknya berkegiatan sehari-hari. Sejak saat itu Syahdan benar-benar tidak terlihat pergi untuk balapan liar. Dan Syahdan sepertinya memang akan berhenti dari balapan liar. Sebab dari kejadian musibah kecelakaan ini, dirinya sempat terseret Polisi untuk mempertanggungjawabkan semuanya. Namun Rami dan Rama yang selama ini setia pada Syahdan, berusaha keras membujuk keluarga korban untuk tidak meneruskan masalah ini pada pihak yang berwajib.
Akhirnya keluarga korban menerima damai asalkan menuntut pengobatan anaknya sampai sembuh. Dan kini perkembangan anak yang ditabrak Syahdan mulai membaik, selain berobat secara medis, Rama dan Rami juga mendatangkan ahli patah tulang ke rumah korban.
Syahdan mengambil pelajaran dari kejadian tabrakan ini, kini dia benar-benar meninggalkan balapan liar dan geng motor kalajengking.
"Kenapa Kakak tidak mendirikan usaha bengkel saja, bukankah Kakak mantan pembalap yang pastinya paham tentang otomotif?" ucap Syana suatu kali sekaligus seakan memberikan saran untuk Syahdan. Syahdan menyernyit, dia seakan mendapatkan ide yang cemerlang dari Syana.
"Saran kamu bagus Sya, aku sampai tidak kepikiran," puji Syahdan seraya memeluk Syana untuk pertama kalinya setelah kejadian tabrakan itu.
"Gimana Kak, apakah Kakak benar-benar sudah bisa melupakan hoby Kakak yang memacu adrenalin itu?" ujar Syana menggoda Syahdan disela hari senggangnya. Kebetulan hari itu Syana libur dan Syahdan juga tidak buka bengkel di hari Minggu. Jarak bengkel dengan tempat kerja Syana sedikit berdekatan, hanya berjarak kurang lebih 500 meter dari toko buku Syana bekerja.
Usaha bengkel motor Syahdan tidak lepas dari bantuan Rama dan Rami yang sampai kini masih setia pada Syahdan. Dan usaha bengkel otomotif Syahdan mulai memperlihatkan geliatnya dan banyak pelanggan yang datang untuk sekedar memperbaiki kendaraannya di sana. Tidak jarang Syahdan sendiri yang turun tangan untuk memperbaiki motor atau mobil pelanggan yang datang. Syahdan sudah sangat paham betul dengan dunia otomotif ini.
__ADS_1
Sore itu Syahdan yang sudah pulang ke apartemen bersama Syana, merencanakan malam nanti mengajak Syana jalan-jalan sambil menraktirnya.
"Memangnya Kakak sudah banyak uang mau traktir aku?" goda Syana meremehkan.
"Lumayan. Kalau tidak percaya, lihatlah ini," ucap Syahdan sembari memperlihatkan dompetnya yang berjejer uang merah. Syana tersenyum gembira melihat dompet Syahdan yang penuh dengan uang ratusan ribu.
Syahdan menghampiri Syana yang kini duduk di sofa. Tanpa ragu Syahdan berbaring di paha Syana dan bermanja sembari meremas jemari Syana..
"Seandainya aku tidak mengalami kecelakaan itu dan mengikuti usulmu untuk buka bengkel, bisa jadi aku sampai sekarang belum bisa bermanja di pahamu, Sya. Aku sangat beruntung memiliki kamu," ucap Syahdan lalu bangkit dan memeluk Syana.
Syana kegelian sebab Syahdan mulai merangsek menciuminya.
"Sya, sekali saja sore ini kita lakukan di sofa ini. Aku sudah tidak tahan." Rayuan maut dari mulut Syahdan tiba-tiba keluar. Syana tidak bisa menolak sebab tubuhnya sudah mulai dikuasai Syahdan.
"Kak, bukankah nanti malam kita akan jalan-jalan, aku takut lelah jika sore ini kita lakukan ini," protes Syana khawatir.
"Tidak Sya, tidak akan lelah. Justru ini adalah amunisi kita sebelum pergi," tukas Syahdan seraya melancarkan tangannya melepaskan apapun yang melekat di tubuh Syana.
Dan sore itupun menjadi saksi keduanya menjalin kasih asmara di atas sofa. Dan keduanya sangat menikmati kehangatan itu, sampai Syahdan melakukan untuk yang kedua kalinya Syana tidak menyadarinya melainkan menikmatinya.
Sekitar jam delapan Syahdan dan Syana keluar apartemen. Syahdan benar-benar membawa Syana jalan- jalan,
"Ayo, Sya, kita mejeng di kafe itu," ajak Syahdan menunjukkan salah satu kafe yang terbilang mewah, sebab yang datang ke sana kebanyakan orang-orang kalangan menengah ke atas.
"Tapi Kak, ini kafenya buat orang-orang berada," protes Syana ragu-ragu.
__ADS_1
"Sudah jangan ragu-ragu, aku cukup uang kok buat kita makan dan minum di sini," bujuk Syahdan seraya mengangkat tempat duduk untuk Syana lalu mempersilahkannya duduk. Gelagat seperti ini tidak luput dari pantauan seseorang yang menggeram marah. Siapakah dia?