Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor

Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor
Bab 28 Didatangi Pak Syaidar


__ADS_3

"Ada apa Papa kemari, bukankah Papa sendiri yang mengusir aku?" Syahdan bertanya dengan wajah tidak suka.



"Aku hanya ingin memastikan apakah sampah masyarakat ini masih bisa hidup tanpa bantuanku? Nyatanya kehidupanmu lebih parah. Menolak perjodohan tapi kini hidup dengan seorang perempuan liar yang tidak jelas dari mana asalnya," hinanya sampai terdengar ke kamar di mana Syana berada.



"Dan ingat, jangan panggil aku Papa selama kamu tidak mau kembali dan patuh sama aturanku," peringat lelaki itu yang ternyata Papanya Syahdan.



"Baiklah. Apakah Anda masih belum rela kehilangan aku, sampai aku dibuntuti dan disusul ke sini? Masih ada anak Anda yang lain yang patuh, kenapa masih menghiraukan aku yang sampah masyarakat ini?" tukas Syahdan geram karena orang yang disebut Anda ini sempat mengatai Syana perempuan liar dan memperingatinya supaya jangan memanggil Papa.



"Aku hanya miris dengan kehidupanmu. Lepas dari kami bukan menjadi lebih baik, tapi malah lepas kendali. Sejak kapan kamu memelihara peliharaan yang siap kamu jadikan pelampiasan nafsu kamu?" Syahdan merah padam dia tidak terima dengan hinaan laki-laki itu.



"Jangan sembarangan bicara Anda, dia bukan perempuan liar seperti apa yang Anda ucapkan. Dia perempuan baik-baik," bela Syahdan tegas.



Pak Syaidar tersenyum sinis dengan tatapan menghina. "Mana ada perempuan baik-baik yang mau sama kamu? Paling i


"Siapa Kak, kenapa ada tamu tidak Kakak persilahkan masuk?" Tiba-tiba Syana menghampiri Syahdan dan memeluk lengan Syahdan layaknya pasangan bahagia.


Pak Syaidar menatap remeh ke arah Syana dengan tatapan menghina.


"Oh, ini Sayang tamunya tidak mau masuk, katanya ada urusan sebentar." Syahdan memberi alasan seraya membalas rangkulan Syana.


"Pak, masuklah dulu," ucap Syana basa-basi.


Pak Syaidar menatap sekeliling apartemen milik Syahdan dengan tatapan mengiba. Lalu dengan sikap sombong dia bicara.


__ADS_1


"Tidak ada waktu untuk saya masuk ke apartemen yang di dalamnya ada dua orang yang melakukan perzinahan, bisa ikut hancur hidup saya," hinanya membuat Syahdan tersulut emosi. Namun dengan sigap Syana menahan tangan Syahdan dan memberi kode supaya Syahdan jangan bicara. Syana bergegas ke dalam kamar, lalu mencari buku nikah yang Syahdan simpan di dalam laci lemari. Syana membawanya ke depan dengan maksud memberitahukan tamu yang menemui Syahdan.



"Di dalam apartemen ini tidak pernah terjadi perzinahan seperti apa yang Bapak bilang. Kami punya bukti bahwa kami pasangan sah. Ini bukti bahwa kami tidak melakukan hubungan mesum seperti apa yang Bapak katakan," ucap Syana seraya memperlihatkan buku nikah miliknya juga milik Syahdan.



"Jadi tidak usah khawatir, jika Bapak masuk ke dalam apartemen ini, tidak akan mengakibatkan hidup Bapak hancur," ujarnya lagi masih memamerkan buku nikah.



"Paling akal-akalan kalian untuk mengelabui orang-orang sekitar, bahwa kalian menikah padahal itu buku nikah palsu," tuding Pak Syaidar membuat Syana kesal dalam hati. Tapi dirinya harus menahan semua tuduhan laki-laki paruh baya di hadapannya ini dengan tenang.



"Kami sudah ada hubungan yang serius sebelum Bapak mau menjodohkan anak Bapak dengan perempuan pilihan Bapak. Karena Kak Syahdan tidak mau dijodohkan, akhirnya dia memaksa mengajak nikah saya meskipun saat itu nikah alakadarnya."



"Kami saling mencintai, walaupun tidak ada pesta besar-besaran. Akan tetapi, dengan niat yang tulus akhirnya kami menikah karena kami saling mencintai," tukas Syana mengakhiri penjelasannya.




"Kamu itu bohong, kamu tidak tulus mencintai dia yang hanya seorang berandalan, kamu hanya bersandiwara. Mana mungkin ada perempuan baik-baik menerima sampah masyarakat," ucapnya tandas, sampai Syahdan menatap tajam Pak Syaidar saking kecewanya dengan kalimat terakhir.



"Akan aku buktikan omongan Papa tidak menimpa diriku, dan jika Papa sudah tidak peduli denganku, aku sarankan jangan pernah lagi Papa perintahkan orang-orang Papa mencari tahu tentang kehidupanku. Mau susah atau senang. Tapi sekarang terbukti, rupanya Papa masih merindukanku. Pergilah, Pa, jangan lagi cari diriku sampai kapanpun!" tegas Syahdan sembari menutup pintu apartemen yang tertutup otomatis.



Pak Syaidar menatap lekat pintu apartemen yang tertutup otomatis. Di balik kemarahannya, terselip rindu yang tersembunyi. Pak Syaidar menghela nafas dalam, di sudut matanya terlihat bulir bening yang hampir jatuh.


__ADS_1


Pak Syaidar menuruni tangga apartemen untuk kembali menjumpai istrinya yang masih menunggu di sana, di dalam mobil mewah yang terparkir di parkiran apartemen.



Bu Syarimi menangis saat Pak Syaidar tiba di dalam mobil. Kejadian Pak Syaidar menjumpai anak bungsunya di apartemen sederhana, tidak luput dari pantauan Bu Syarimi yang menerima hasil rekaman vidio tersembunyi dari suaminya ke HPnya, setelah tadi dilarang Pak Syaidar untuk ikut naik.



"Pa, mama sangat merindukan Syahdan. Mama ingin berjumpa dengannya. Kenapa Papa tadi terlalu kejam bicara padanya dengan menghinanya? Mama tahu Papa sangat merindukan Syahdan. Mama juga lihat, perempuan muda di vidio ini sepertinya baik dan sangat mencintai Syahdan. Selain cantik, Mama yakin perempuan muda tadi ngerti akan agama." Bu Syarimi memberondong dengan sebuah pertanyaan dan ungkapan kerinduan pada Syahdan pada Pak Syaidar.



Bu Syarimi masih menangis saat Pak Syaidar mencegahnya untuk menemui Syahdan yang sangat dirindukannya. Mobil mewah yang terparkir di parkiran apartemen itu, kemudian meninggalkan apartemen melaju membelah jalanan yang kini sudah mulai ramai dengan kendaraan lain.


**


Sesaat setelah kepergian Papanya yang meninggalkan luka di hatinya, Syahdan kembali masuk kamarnya menyusul Syana yang berlalu duluan. Di sana Syana menangis entah apa yang dirasakannya. Syahdan menghampiri lalu merangkul Syana dengan penuh kelembutan. Syahdan bangga bahwa Syana bisa mencintainya seperti apa yang dia ungkapkan tadi di depan Papanya.


"Sya," aku minta maaf dengan kata-kata orang tadi jika semua yang diucapkannya menyakitimu."


"Papa, kamu, kan, Kak? Kenapa kalian yang punya masalah tapi harus aku yang kena imbasnya? Papamu menyakiti aku dengan mengatakan bahwa aku perempuan liar yang jadi peliharaanmu," ungkap Syana mengungkit kembali ucapan kasar Papanya Syahdan tadi.



"Aku minta maaf, Sya. Itu diluar dugaanku. Aku juga tidak menduga kalau kamu akan keluar menemui Papa dan mengatakan segalanya."



"Aku tidak mau dihina dengan tuduhan yang tidak benar, itu makanya aku menemui Papamu yang terhormat itu," tukas Syana masih dengan linangan air mata.



"Sya, sekali lagi aku minta maaf. Gara-gara aku, kamu jadi tersakiti. Aku juga mau bilang makasih banyak atas pembelaanmu tadi sehingga Papa tidak terus berkoar-koar."



"Lalu kenapa kamu lakukan itu Sya, apakah kamu benar-benar mencintai aku?"

__ADS_1


"Cinta? Bukan cinta, tapi aku hanya tidak ingin kamu tambah terhina di mata Papa kamu yang terhormat itu," jelas Syana sembari melotot dengan air mata yang masih basah.


__ADS_2