Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor

Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor
Bab 6 Disekap dan Dilecehkan


__ADS_3

Syana termenung di dalam kamarnya, sejak pulang dari kerja tadi dia langsung mengurung diri di kamar. Pertemuan tidak sengaja dengan cowok urakan yang menyebalkan itu, merubah moodnya menjadi sangat buruk.



Tatapan tajam mata elang cowok itu seakan terbayang-bayang di pelupuk matanya. Ada getaran aneh dalam dadanya seketika. Terlebih saat Syana tadi mengatakan 'sampah masyarakat' pada cowok itu, dadanya sebenarnya bergemuruh dan sesak. Antara emosi dan takut berbaur di sana. Sebetulnya Syana tidak bermaksud demikian, dia hanya kesal dengan sikap urakan dan arogannya yang main kebut-kebutan di jalan umum sehingga hampir merenggut korban.



"Kenapa setiap bertemu dia, nasibku selalu ketiban sial?" bisiknya merengut seraya menatap jendela kamarnya yang mulai berdebu. Syana berdiri, dan baru ingat bahwa sudah satu bulan dia tidak membersihkan kaca jendelanya.



"Daripada memikirkan si urakan yang suka balapan liar dan menaruhkan nyawanya, lebih baik aku membersihkan kaca ini sebelum tiba Maghrib," bisiknya sambil berdiri dan beraksi untuk melap kaca jendelanya.



Di tempat lain di apartemennya yang sederhana, Syahdan menatap tajam ke luar jendela. Sikap cewek tengil tadi masih membayangi kepalanya hingga terasa sakit.



"Sialan, cewek tengil itu sudah berani menantangku. Lihat saja, akan kubuat dia menyesal karena telah menghinaku," tekadnya tegas sembari meremas seprei yang hampir sudah berwarna hitam bekas air malam dari handuk yang tidak pernah dijemur.



"Sampah masyarakat, beraninya kamu katakan itu padaku. Kamu tidak tahu siapa aku sebenarnya. Aku sang raja jalanan, tidak takut pada siapa-siapa. Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu ucapkan, cewek tengil," hardiknya geram.



"Papa, sama saja dengan cewek tengil itu. Mereka sama menyebalkan. Akan aku buat menyesal karena mereka telah menghinaku," tekad Syahdan sembari mengepalkan tinjunya ke atas kasur.



"Rama, Rami, susun rencana dan bergerak cepat. Siapkan semua. Aku ingin hari ini semuanya tuntas, dan cewek tengil itu menerima akibatnya," perintahnya di telpon pada dua bodyguardnya yang masih setia mendukung apa yang dititahkan Syahdan. Entah apa yang sedang direncanakan Syahdan pada cewek yang menurutnya tengil itu, yang jelas nasib Syana kini sedang terancam.

__ADS_1



Tepat jam empat sore, Syana keluar dari Syaidar Mall, mall terbesar di kota itu. Syana bekerja di mall itu sebagai Pengawas gudang. Gajinya lumayan besar menurut ukurannya. Sejak keluar SMA, Syana lebih memilih bekerja sambil kuliah di Universitas Terbuka. Tahun yang lalu dia sudah lulus wisuda tepat di usianya yang ke 21 sebagai sarjana ekonomi.



Dari hasilnya bekerja, Syana juga bisa membantu sedikit uang kuliah atau jajannya Syala, adiknya yang kini berkuliah di ITB. Syana sangat senang membantu kedua orang tuanya. Meskipun Bapaknya tidak pernah meminta, tetapi dengan kesadaran diri, Syana membantu adiknya. Sebetulnya usaha kelontong yang dirintis orang tuanya cukup untuk membiayai kuliah adiknya, terlebih Syala juga mendapatkan beasiswa dari jalur prestasi, sehingga biaya kuliahnya tidak terlalu berat karena terbantu dari beasiswa atas kecerdasan Syala.



Syana masih berjalan menuju pulang dengan hati girang, tepat di pertigaan jalan yang memang selalu sepi, tiba-tiba tubuh Syana ada yang membekap, kepalanya ditutup hingga leher. Syana berontak namun tidak bisa, sebab orang yang membekapnya sangat kuat menyumpal mulut dan memegang tangannya. Tubuh Syana dimasukan ke dalam mobil dan mobil melaju entah kemana.



"Masuk," teriaknya keras sembari membuka penutup kepala yang menutupi Syana. Lalu suara pintu yang tertutup terdengar. Syana terkejut, keselamatannya merasa terancam. Syana sejenak mengatur nafasnya dalam, karena dia merasa sesak.



"Kamu?" kejutnya tidak percaya. Di hadapannya ternyata cowok urakan yang kemarin bikin ulah dijalan dengan kebut-kebutan sehingga hampir saja menyerempet orang.




"Kurang ajar, rupanya kamu memang sampah masyarakat yang tidak berguna," teriaknya marah dan kecewa karena Syahdan berhasil melecehkannya dengan mencium bibir Syana.



Syahdan semakin tersulut emosi disebut sampah masyarakat untuk yang kesekian kali oleh cewek tengil di hadapannya kini. Dia merasa sakit hati, sama sakit hatinya saat disebut sampah masyarakat oleh sang Papa.



"Kurang ajar," ujarnya kasar seraya makin mendekat dan menguasai wajah Syana. Adegan ini berhasil didokumentasikan oleh kedua bodyguard Syahdan dari sisi belakang dan kiri.

__ADS_1



Syahdan melepaskan wajah Syana perlahan, sejenak dia menatap kecewa. Sebab selama ini dia tidak pernah berani menodai atau melecehkan seorang cewek. Syana menatap penuh amarah ke arah wajah Syahdan. Raut wajahnya diliputi amarah juga rasa takut.



"Puas kamu melecehkan aku? Alangkah lebih baiknya kamu bunuh saja aku. Aku tidak sudi kamu perlakukan sehina ini, jijik," jeritnya tidak terima dengan cucuran air mata, lalu menabrak tubuh Syahdan yang berdiri mematung.



Syana membenahi kerudung segi empatnya dengan wajah yang masih bercucuran air mata. Dia merasa terhina telah dilecehkan Syahdan. Dan kini Syana semakin ketakutan dan berpikir bahwa sebentar lagi tubuhnya pasti akan dilecehkan juga, yaitu dipaksa.



"Aku tidak akan sampai menodai tubuhmu, karena aku bukan tipe laki-laki yang bejat seperti apa yang kamu pikirkan. Lagipula aku tidak tertarik dengan tubuhmu sekalipun kamu merasa sok cantik dan menggiurkan. Ayo, siapkan diri kamu. Perbaiki kerudung kamu, aku akan mengantar kamu pulang," ujarnya membuat Syana heran. Ketakutan yang tadi dia pikirkan ternyata tidak terjadi. Pelecehan yang dilakukan Syahdan tidak berlanjut dan Syana sangat heran serta tidak henti-hentinya bersyukur dalam hati pada Yang Maha Kuasa.



"*Ada apa dengan cowok urakan ini, apakah penyebab dia berani melecehkanku karena tadi aku menyebutnya sampah masyarakat sehingga dia marah? Kalau begitu aku jangan sampai menyebutnya sampah masyarakat lagi, bisa-bisa aku dilecehkan dengan pelecehan yang lebih parah*." Syana berkata dalam hatinya dengan 1000 kebingungan sekaligus syukur.



"Mau dibawa kemana aku? Aku mau pulang, ini hampir Maghrib, Bapak dan Ibu pasti sedang mencariku," heran Syana bingung.



"Bukankah kamu mau pulang, cewek tengil? Aku akan mengantarmu pulang, dan persiapkan diri kamu dengan statusmu yang baru," tegasnya seraya menarik lengan Syana keluar dari ruangan itu. Syana mengikuti Syahdan walaupun rasa takut masih menghantuinya.



Syana dibawa dengan sebuah mobil Avanka, menuju jalan ke arah rumahnya. Karena merasa yakin ini jalan pulang dan Syahdan benar-benar mengantarnya, Syana sedikit tenang. Hanya saja kesedihan akibat pelecehan yang dilakukan Syahdan tadi di ruangan pengap, kini asik menari-nari di kepalanya. Syana kembali menangis dan merasa bernasib sial karena telah dipertemukan dengan cowok urakan di sebelahnya kini.


__ADS_1


Tiba di depan pintu rumah orang tuanya, sepertinya Syana telah disambut oleh ketiga anggota keluarganya dengan raut wajah kecewa. Syana berlari dan ingin memeluk sang Ibu namun ditepisnya. Ada apa dengan ketiga anggota keluarganya sehingga berubah marah pada Syana?


__ADS_2