Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor

Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor
Bab 42 Pandangan Pertama Syala-Syailendra


__ADS_3

Siang itu tepat di jam istirahat, Syailendra datang ke bengkel Syahdan, tanpa memberitahu Syahdan. "Mad, Bosmu mana?" tanya Syailendra pada Syamad salah satu Montir di sana.



"Di dalam, Kak. Tadi, sempat memberikan oli pada saya lalu masuk lagi," berita Syamad sambil mengutak-atik sepeda motor seorang pelanggan. Syailendra masuk, dia yakin adiknya ada di Kasir atau di belakang etalase.



Saat Syailendra tiba di meja Kasir, mendadak dia terkejut dengan sebuah penampakan. "*Mirip* *Syana, tapi bukan*," duganya yang langsung disangkalnya juga. Syailendra terus mengamati perempuan muda yang diperkirakan usianya masih muda 19 tahun.



"*Berhijab, masih muda, sederhana, cantik pula, apakah ini bidadari yang dikirim Tuhan untukku itu? Sepertinya sesuai dengan bayangan. Tapi kok dia berani-beraninya duduk di meja kasir, jangan-jangan dia mau mencuri uang Syahdan*?" Syailendra masih menduga-duga di dalam hatinya dengan berbagai dugaan pada gadis muda di depannya kini.



Syala yang diperhatikan tidak sadar bahwa dia jadi pusat perhatian seseorang. Dia malah anteng dengan komputernya, ngecek barang yang masuk dan keluar. Syala benar-benar serius tanpa gangguan.



"Heh, kamu siapa? Kenapa ada di meja Kasir adikku, apakah kamu sedang mencuri data atau mau mencuri uang di kasir ini?" tuding Syailendra tanpa filter. Syala yang dituding bukannya marah melainkan terpesona dengan penampakan yang baru muncul di hadapannya ini.



"*Ya Allah, ada pangeran datang, apakah ini mimpi yang menjadi nyata? Rasa-rasanya seperi pengawal Jin Hyuk aktor Korea itu. Usianya juga sudah lumayan dewasa, wahhh tipe aku banget. Nyata nggak, sih*?" Syala terbengong sembari menatap ke arah Syailendra tanpa kedip.



"La, La, kamu kenapa?" heran Syahdan seraya menepuk pelan bahu adik iparnya itu.


"Kak Syahdan, ini Kak ada pangeran. Ehhh, ini Kak ada orang datang," gugupnya sampai apa yang diucapkan Syala salah.



"Iya, ini Kakak aku," akunya sembari memberi kode supaya Syailendra ikut ke belakang ruko. Syahdan dan Syailendra beriringan menuju belakang menyisakan heran yang belum kelar di dada Syala.


__ADS_1


"Syah, cewek itu siapa, kok mirip Syana?" heran Syailendra.


"Iya memang mirip Syana, dia memang adiknya, kok. Kenapa, apakah Kakak naksir?" ujar Syahdan diakhiri tawa.



"Ah, tidak. Hanya heran saja tiba-tiba di meja kasir ada orang lain yang duduk. Bukannya kamu tidak pernah percaya sama orang lain masalah keuangan? Tapi hari ini tiba-tiba ada cewek ca--, maksudnya ada cewek di depan kasir," alasannya, hampir saja Syailedra keceplosan diakhir kalimat. Namun langsung diralatnya saat itu juga.



"Cewek cakep maksud Kakak?" ujarnya berhasil ngegap Syailendra yang pada saat itu juga merah padam mukanya.



"Biasa saja," kilahnya ngeles.


"Oh, ya, maksud kedatangan Kakak ke sini apa? Sepertinya Kakak ada hal penting?" Syahdan penasaran.



"Aku justru yang akan menyampaikan hal penting buat kamu, Syah. Aku mau memberikan kamu bantuan, tapi tidak cuma-cuma," jelasnya dengan wajah yang serius.




"Bantuan, tapi berupa pinjaman. Aku akan memberimu bantuan tapi kamu harus membayarnya tiap bulan tanpa bunga," jelas Syailendra memberi syarat.



"Bantuan? Pinjaman? Sejak kapan aku membutuhkan kedua hal itu? Aku juga tidak pernah ngajuin di mana-mana. Dan bagiku itu tidak perlu selama aku masih mampu."



"Ayolah Syah, aku tahu kamu butuh modal untuk membangun dan memperluas bengkel. Kemarin Mama ingin memberi bantuan, tapi kamu menolak mentah-mentah. Sekarang aku bukan memberikan bantuan cuma-cuma, melainkan meminjamkannya," tekannya.


__ADS_1


"Sama saja, itu hanya pinjaman berkedok bantuan. Kakak ingin aku menerima bantuan, lalu mendirikan bengkel yang lebih besar dengan parkiran yang luas. Lantas bengkel baruku dilihat oleh Papa dan Papa merasa bangga padaku, kan? Tidak, Papa tidak akan pernah bangga padaku walau aku melakukan sesuatu yang bisa membanggakannya," ucap Syahdan terlihat geram.



"Tidak, bukan seperti itu. Aku sungguh-sungguh ingin memberikanmu pinjaman. Percayalah, Syah. Aku hanya memberikan pinjaman dan kamu harus membayarnya tiap bulan," paksa Syailendra membuat Syahdan geleng-geleng kepala.



"Aku tidak mau menerima bantuan atau pinjaman apapun dari Kakak, titik. Bawalah kembali bantuan atau pinjaman itu. Atau kalau perlu, Kakak pakai duit itu buat pernikahan Kakak saja, aku rasa Kakak sudah ingin menikah, kan?" ujar Syahdan absurd. Bagaimana Syailendra bisa menikah, pasangan saja tidak ada?



"Jangan memberikan saran yang absurd, kamu tahu sendiri aku ini jomblo sejati dan tidak memiliki kekasih," seloroh Sayailendra tidak suka.



"Kalau Kakak mau, di meja kasir ada cewek cakep. Apakah Kakak tidak tertarik?" goda Syahdan sembari melihat lekat wajah sang Kakak yang memerah.



"Jangan ngejek kau Syah. Mentang-mentang aku jomblo sejati, kamu bicara seenaknya. Durhaka kamu terhadap Kakakmu," ujar Syailendra diikuti tinju kecil di lengannya.



Setelah merasa gagal membujuk Syahdan untuk memberinya pinjaman, Syailendra akhirnya menyerah dan tidak membujuk lagi adiknya yang keras kepala itu.



"Ingat, Syah. Jika kamu berubah pikiran dan memerlukan uang itu, maka aku siap membantumu," tekan Syailendra sebelum beranjak dari belakang ruko.



Syailendra berjalan pulang melewati meja Kasir dengan ujung mata menatap Syala. Pada saat yang sama, Syala menatap Syailendra. Tatapan keduanya bertemu dan pada saat itu Syala merasa bertemu pangeran impiannya.



"La, aku keluar sebentar, ya," pamit Syahdan membuyarkan lamunan Syala yang melambung tinggi di udara.

__ADS_1



"Iya, Kak," sahutnya gugup.


__ADS_2