Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor

Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor
Bab 17 Tidak Akan Pernah Aku Lepaskan


__ADS_3

"Aku akan melakukannya dengan lembut, minumlah ini. Daripada aku melakukannya dengan orang lain, lebih baik dengan kamu, kan?" tekannya lagi sembari menyodorkan sebuah pil. Walaupun Syahdan memintanya dengan baik-baik dan memberikan sebuah pil, rasanya Syana masih belum rela harus melakukannya lagi.



Syana memejamkan mata sebelum pil itu diraih tangannya. Tadi sudah terenggut dan sekarang diminta kembali, dan dia harus sukarela memberikannya. Memang dia tahu jika menolak akan dosa, tapi Syana sungguh-sungguh tidak mencintai cowok urakan di dekatnya ini. Meskipun berwajah tampan dan berbody kekar, tapi hati Syana belum bisa diberikan pada lelaki ini.



Syana meminum pil itu dengan satu kali tegukan. Dalam tegukan terakhir tiba-tiba bayangan orang tua dan adik satu-satunya Syana berkelebat dalam ingatannya. Syana sangat merindukan mereka.



Syahdan menatap Syana dengan kabut asmara yang bergelora. Entah kenapa sejak pagi itu, setelah dia merasakan madu kesenangan dunia yang baru saja diarunginya, Syahdan menginginkannya lagi. Dan dia ingin Syana melayaninya sebagai mana istri melayani suami.



Perlakuan Syahdan kali ini begitu lembut. Dia memintanya baik-baik. Pertama-tama penutup rambut Syana dia buka. Kemudian beralih pada baju yang melekat di tubuh Syana yang masih Syana tahan dengan tangannya sebagai bentuk keengganan.



"Aku ada sebuah permintaan yang harus Kakak kabulkan," tahan Syana sebelum Syahdan memulai kembali melucuti bajunya.



"Apa?"


"Bersihkan namaku di hadapan keluargaku. Dan katakan yang sebenarnya apa latar belakang Kakak memaksa menikahiku."



"Lalu, Kakak harus meminta maaf pada Ibu, Bapak dan Syala adikku," ucap Syana sebagai syarat dia mau melayani Syahdan dengan sukarela.



Syahdan diam sejenak dan menghentikan aksinya. Dia sedang berpikir, jika dia mengatakan hal yang sebenarnya, yang dia takutkan kedua orang tua Syana meminta Syana kembali, sementara misi dia untuk memperlihatkan dan membawa Syana ke hadapan Papanya ditakutkan gagal.



"Layani dulu aku dengan sukarela," ucapnya balik meminta. Syana tidak menjawab, dia ingin menolak, namun Syahdan sudah terlanjur menguasainya.



"Tapi Kakak harus janji menepatinya," ucap Syana lagi dengan tatapan memohon. Syahdan tidak menanggapi, dia melanjutkan aksinya dan memberikan sebuah sentuhan yang membuat Syana terpaksa pasrah melakukannya.


__ADS_1


Tato Kalajengking itu masih bisa dilihatnya naik turun, Syahdan menatap lekat wajah Syana yang sedang dalam kuasanya. Syana berkedip menyembunyikan rasa malu.



"*Sepertinya aku tidak akan pernah melepaskannya. Setelah apa yang aku rasakan darinya, aku tidak akan pernah melepaskannya*," batinnya penuh ambisi. Tanpa sadar sebuah kecupan dia labuhkan di kening Syana.



Pagi menjelang, kumandang adzan menggema. Syana terbangun dari lelapnya. Kelelahan semalam tanpa sadar membuainya dalam tidur yang lelap, dekapan tangan kekar yang memeluknya sangat sulit ia singkapkan.



"Syana," ucap Syahdan menyadari gerakan Syana. Syana berusaha menyingkirkan tangan Syahdan.



"Aku mau ke kamar mandi," ucapnya melepaskan tangan Syahdan. Syahdan melonggarkan pelukannya dan membiarkan Syana bangkit ke kamar mandi. Syahdan menatap kepergian Syana dengan senyum yang terukir di bibirnya.



"Kak, aku mau bekerja." Syana bicara setelah dia dan Syahdan menyudahi sarapan pagi. Pagi ini merupakan sarapan pertama antara Syana dan Syahdan. Dan pertama kali sarapan yang dibuat oleh Syana.



Syahdan diam, bukan apa-apa. Dia takut Syana melarikan diri jika sudah berada di luar sana.


"Menafkahi dari balapan liar? Aku tidak mau," tegas Syana menolak.


"Jika kamu aku biarkan berada di luaran, kamu pasti akan merencanakan kabur dariku. Tapi kamu tidak akan bisa kabur dariku sebab anak buahku akan selalu memantaumu."


"Aku tidak akan kabur darimu, asal Kakak menepati janji Kakak," ucapnya mengingatkan akan janji Syahdan semalam.



"Baiklah akan aku tepati. Lihat saja nanti, kamu akan segera mengetahuinya," yakin Syahdan seraya meneguk air putih yang sudah disajikan Syana di meja.



Syahdan baru kali ini merasakan nikmatnya dilayani oleh seorang wanita yang bergelar istri. Syahdan berkali-kali menyunggingkan senyum. Dia merasa lucu bisa mencintai wanita asing secepat ini.



"*Apakah aku sedang jatuh cinta? Kenapa tidak dia dulu yang jatuh cinta padaku? Sialan, aku kalah kuat darinya. Tapi, lihat saja nanti secepatnya aku akan buat dia jatuh cinta juga padaku*."


__ADS_1


Beberapa saat kemudian, setelah sarapan, Syahdan mengajak Syana keluar apartemen. Syana tidak tahu mau dibawa ke mana dia sama Syahdan.


"Ikut denganku. Dibalik gedung apartemen yang tinggi ini ada sebuah taman baca dan toko buku besar. Kamu akan bekerja di sana sebagai kasir," ucap Syahdan seraya menarik lengan Syana. Syana mengikuti Syahdan keluar apartemen dan menuruni lift apartemen. Di dalam lift hanya ada mereka berdua.



"Aku ingin kamu benar-benar kerja dan tujuanmu hanya kerja," tegas Syahdan seraya meraih jemari Syana. Syana menangkap ketakutan di dalam nada suara Syahdan. Dan rematan jemari Syahdan begitu kalut saat dirasakan Syana.



Pl"Naik, dan berpegangan dengan kuat. Jika kamu ingin bersandar, juga tidak masalah," titah Syahdan setelah berada di basement apartemen, memberi aba-aba supaya Syana menaiki Repsolnya di belakangnya.



Motor Syahdan melaju membelah jalanan kota itu. Jalan Revolusi berhasil terlewati, kini memasuki jalan Sudirman yang terbentang ruko-ruko besar berbagai bahan jualan. Saat motor Syahdan melaju, sepasang mata sedang mengamatinya di dalam sebuah mobil mewah.



"Ikuti dan laporkan padaku tentang keberadaanya," ucapnya dalam percakapan di telpon dengan seseorang.


"Akhirnya aku bisa menemukanmu," ujarnya menyunggingkan senyum.


***


"Turunlah, aku akan bicara sejenak dengan pemilik toko buku itu," ujar Syahdan. Syana turun dari motor Syahdan, dan menunggu sampai Syahdan kembali memanggilnya.



"Kamu sudah mulai bekerja di sini, nanti pulang jam empat, aku yang akan menjemputmu. Jangan kemana-mana sebelum aku datang," peringat Syahdan mewanti-wanti.



Syana pun kini mulai bekerja di toko buku yang cukup ramai dengan pengunjung. Hari pertama kerja sangat menyenangkan sekaligus melelahkan buat Syana.


**


Syahdan kini memasuki halaman rumah orang tua Syana. Ini kali kedua kakinya diinjakkan di rumah sederhana itu. Syahdan bertekad menepati janjinya pada Syana. Dan hari ini dia menepati janjinya bagaimanapun tanggapan keluarga Syana nanti.



Jam di tangan menunjukkan pukul empat sore, tiba saatnya pulang. Syana pun membereskan meja kasirnya. Sebentar lagi Syahdan pasti akan menjemputnya. Teman-teman Syana yang masih baru dikenalnya pun berhamburan keluar toko untuk pulang. Tepat dengan itu motor Repsol Syahdan dengan gagah berhenti di depan Syana yang sudah menunggu.



Beberapa pasang mata menatap ke arah mereka. Sepertinya pusat perhatian mereka adalah Syahdan yang memang penampilannya Syana akui sungguh tampan mempesona walaupun dia menggunakan helm dan kaca mata hitam. Aura gagah dan jiwa mudanya sangat kentara, pada dasarnya Syahdan memang masih muda di usianya yang kini baru menginjak 25 tahun.

__ADS_1



Syahdan dengan repleks memasangkan helm di kepala Syana, beberapa orang yang tadi menatap nampak cemburu dan berguman 'so sweet'. Syana menaiki motor yang dikendarai Syahdan menuju jalan pulang ke apartemen sederhana mereka.


__ADS_2