
Untuk yang kedua kalinya Syala bisa satu mobil dengan Syailendra, tanpa direncanakan. Gadis muda yang masih duduk di bangku kuliah semester empat ini, nampak canggung dan tidak nyaman. Di dalam hatinya menggebu-gebu perasaan senang bisa berdekatan dengan pria dewasa impiannya. Namun faktanya Syala sungguh canggung dan malu berdekatan dengan Syailendra.
Di pertengahan jalan kejadian yang tidak terduga terjadi. Tawuran antara geng motor dan masyarakat setempat sedang berlangsung, Syailendra menghentikan mobilnya secara mendadak. Mobil dan kendaraan lain yang tadinya akan melintasi jalan Revolusi, memilih putar balik dan mencari jalan alternatif lain menuju rumahnya.
"Ada apa ini?" herannya sembari mengawasi keluar. Syala juga heran dan was-was saat melihat segerombolan geng motor mengobrak-ngabrik massa yang kebetulan melawan. Sebagian massa masih melawan seraya mengacung-acungkan senjata berupa clurit dan lain sebagainya.
"Kak, sepertinya ada tawuran. Aku takut Kak. Putar balik saja. Orang-orang dan geng motor itu sebentar lagi pasti mendekat dan mereka bisa jadi salah sasaran pada pengguna jalan yang lain," ujar Syala was-was.
"Putar balik, Mas!" teriak salah satu pengguna jalan seraya melambaikan tangannya supaya putar balik.
Melihat situasi yang panas begini, Syailendra tidak tinggal diam. Dia mencari aman dengan memutar balik mobilnya. Sebab jika diteruskan akan bahaya, bisa jadi mobil dan nyawanya terancam gara-gara tawuran yang tidak diduga sebelumnya. Terlebih dirinya sekarang bersama orang lain, yang tanggung jawabnya besar untuk berusaha melindungi orang di sampingnya.
Syala masih terlihat takut dengan apa yang dilihatnya tadi. Tepat lima puluh meter dari kejadian tawuran tadi, Syailendra membelokkan mobilnya ke arah kiri, Syala menjadi heran dan semakin was-was.
"Kak, kita mau ke mana?" herannya.
"Ini menuju apartemenku." Syailendra fokus dengan kemudinya, sementara Syala dilanda bingung dan takut.
"Tapi, Kak. Aku harus pulang, kenapa dibelokkan ke apartemen Kakak. Memangnya apartemen Kakak sudah dekat?" Syala masih dilanda was-was dan takut.
"Jangan takut, aku hanya membawamu ke tempat yang dekat dan lebih aman. Tadinya aku mau bawa kamu kembali ke rumah Syahdan. Akan tetapi jaraknya lebih jauh. Lalu jika mau ke rumah kamu, cuma jalan itu satu-satunya. Terpaksa kita ke apartemen aku dulu. Jangan khawatir, aku bukan orang jahat yang mau nyekap kamu." Syahdan mencoba memberi pengertian pada Syala. Untuk sejenak Syala merasa sedikit tenang, walau dalam hatinya masih was-was.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian, mobil Syailendra sampai di sebuah apartemen mewah. Syala terbengong melihat hunian apartemen yang mewah di depannya. Jauh dengan apartemen milik Kakak iparnya yang sederhana.
"Ayo, masuklah!" ajaknya seraya mempersilahkan Syala masuk. Syala ragu-ragu, dia sejujurnya tidak berani masuk ke dalam apartemen orang asing terlebih ini laki-laki.
"Jangan takut, masuklah! Aku bisa saja menunggu di jalan tadi sampai aman. Namun apakah kamu tahu, jika kita masih berkeliaran di jalanan tadi maka pihak berwajib bisa saja menjadikan kita saksi atas kejadian tadi? Padahal kita hanya sekilas melihat kejadian tadi dan langsung menjauh, dan aku paling malas jika harus berhubungan dengan yang namanya pihak berwajib," papar Syailendra berusaha meyakinkan Syala.
Akhirnya Syala masuk, meski hatinya dilanda ragu.
"Kamu boleh menempati salah satu kamar di ruangan ini. Jika ada apa-apa kamu tinggal ketuk pintu kamar aku atau hubungi langsung HPku." Syailendra mengarahkan Syala untuk menempati salah satu kamar yang ada di ruangan itu. Sejenak Syala berdiri terpaku, selain rasa takjub melihat penampakan isi dari apartemen yang isinya benar-benar mewah, juga rasa ragu dan was-was masih menyelimuti dirinya.
"La," tegur Syailendra mengejutkan Syala yang termenung.
Beberapa saat Syailendra berpikir mencari jalan yang terbaik untuk Syala. Syailendra juga merasa bingung dengan situasi terjebak seperti ini.
"Begini saja, kamu hubungi orang tua kamu bahwa kamu malam ini menginap di rumah Syahdan karena kemalaman. Lalu kamu hubungi juga Kakakmu, bilang saja yang sejujurnya tentang kejadian yang sebenarnya. Mengenai motor kamu, biar Rama dan Rami bodyguard Kakak iparmu yang mengantar ke sini." Mendengar ide dari Syailendra demikian, Syala sedikit lega. Iapun masuk ke dalam kamar yang ditunjukkan Syailendra kemudian menguncinya dari dalam.
***
Dua bulan setelah Syahdan menerima pinjaman dari Kakaknya, kini dia sudah bisa membeli lahan dan tempat untuk bengkel barunya. Tempatnya luas dan untuk parkir juga memadai. Yang jelas bengkel baru Syahdan letaknya sangat strategis serta terjangkau dari mana-mana.
Walaupun pindah ke tempat baru, bengkel Syahdan tidak kehilangan pelanggannya. Malah di tempat baru, pelanggan baru juga berdatangan. Syahdan bersyukur di tempat baru dia seakan dimudahkan segalanya.
__ADS_1
Berkat pinjaman dari Syailendra, kini usaha bengkel Syahdan semakin luas dan maju serta makin dikenal. Syahdan merasa bersyukur dan berterimakasih pada Syailendra, berkat dukungan Kakaknyalah bengkel Syahdan semakin maju pesat.
"Kak, terimakasih, ya, atas pinjamannya. Nanti aku mulai nyicil bulan depan," ujar Syahdan bahagia seraya merangkul Syailendra.
"Santai sajalah, Bro. Tidak dibayarpun aku tidak masalah. Lihatlah, baru saja menempati tempat baru, bengkelmu sudah ramai, bahkan pelanggan baru juga berdatangan. Sepertinya ini berkah dan rezeki sang jabang bayi. Karena sebentar lagi kamu akan menjadi Papa," ujar Syailendra bahagia.
"Tidak begitu juga konsepnya, Kak. Aku pinjam dan itu pasti aku kembalikan," tegas Syahdan bersemangat.
"Terserah kamulah, Syah. Yang jelas aku ikhlas membantumu."
"Tapi, Kak. Jangan katakan pada siapapun kepindahan aku ke tempat baru ini adalah pinjaman darimu. Apalagi jika terdengar oleh Papa, maka Papa hanya akan menertawakan aku dan pastinya Papa tidak pernah menganggapku berguna. Aku janji, akan kubalas semua kebaikanmu suatu saat," ucap Syahdan sungguh-sungguh. Dia bersyukur memiliki Kakak yang sayang dan pengertian seperti Syailendra.
Seiring berjalannya waktu, kehamilan Syana yang semakin besar dan bengkel Syahdan yang semakin berkembang pesat, membuat Syahdan diliputi dua kebahagiaan sekaligus. Kehamilan Syana yang menginjak usia enam bulan tidak mengalami gangguan yang berarti, semua normal dan lancar. Sepertinya sang jabang bayi sangat mendukung usaha Papanya dan menjadi berkah buat Syahdan dan tentunya Syana.
Syana tersenyum bahagia sembari berjalan menuju Syahdan dengan secangkir kopi ditentengnya lalu diberikan lada Syahdan.
"Kak, ini kopinya. Kakak pasti akan rileks setelah minum kopi latte ini," ujar Syana menyodorkan secangkir kopi panas di hadapan Syahdan di sela-sela menikmati waktu santainya di apartemen.
"Makasih, Sya," sahut Syahdan seraya meraih Syana dan mengajaknya duduk di kursi yang sama. Syahdan membelai lembut perut Syana yang kini sudah terlihat buncit.
"Berapa bulan lagi kita akan kedatangannya?" tanya Syahdan menunjuk perut Syana.
__ADS_1
"Kurang lebih tiga bulan lagi, Kak. Dan kita akan jadi orang tua," sahutnya haru dengan mata berkaca-kaca.